Menang Banyak bersama Dewa19

Di tulisan ini, saya nulis begini: “Saya sih, sudah siap. Mencari satu titik baik untuk menyaksikan mereka bermain. Tidak perlu paling depan. Tapi cukup lokasi yang pandangannya enak dan bisa teriak sekencang mungkin.” Tadi malam, Dewa19 membuat saya menunaikan ikhtiar ini. Saya ada di tengah-tengah lapangan yang penuh dan bernyanyi sampai serak mengikuti set Dewa19Continue reading “Menang Banyak bersama Dewa19”

Advertisement

Jumpa Lagi dengan Dewa19

Saya dibesarkan oleh Dewa19. Album Format Masa Depan, merupakan album penuh pertama yang saya beli dengan uang sendiri. Itu terjadi tahun 1994. Yang namanya rekaman pertama, pasti tidak pernah bisa dilupakan. Ia menempel di memori. Sampai hari ini, dua puluh tiga tahun kemudian, rasanya saya memiliki lebih dari empat kopi Format Masa Depan-nya Dewa19. AlbumContinue reading “Jumpa Lagi dengan Dewa19”

Merdeka

Video ini mungkin bisa jadi awalan yang menjelaskan: Penyanyinya adalah Navicula, salah satu band senior dari scene independen Bali. Lagu ini berjudul Merdeka dan diambil dari kantong album terbaru mereka, Tatap Muka, yang dirilis dalam bentuk dvd beberapa bulan yang lalu. Liriknya begini: “Senang rasanya bila saatnya nanti Aku tak hanya sebatas mandiri saja MungkinContinue reading “Merdeka”

Untuk Ibu Irma dari Kolese Gonzaga

Teman-teman dan sejumlah cerita terbaik saya, kebanyakan berasal dari fase Kolese Gonzaga. Ia berlangsung antara 1998-2001. Menjelang dua puluh tahun berlalu, masih banyak yang bisa dikenang. Salah satunya adalah Ibu Irma Yanthi dan pelajaran Bahasa Indonesia yang ia asuh. Ide untuk menulis tulisan ini muncul ketika saya membonceng motor Raymundus Gifford –atau GP, panggilan akrabnya—,Continue reading “Untuk Ibu Irma dari Kolese Gonzaga”

Cikini’s Finest

Kualitas orang bisa dinilai dari bagaimana caranya mengatasi permasalahan. Output bisa apa saja; mengecewakan, main aman atau bahkan mencerahkan. Tapi bagaimana berkelakuan ketika tantangan datang kadang jauh lebih penting ketimbang memaksakan hasil akhir. Toh, meminjam istilah Homicide, papan skor tidak bisa diubah sesuai selera. Dan berbagai macam perundingan selalu bisa dibawa santai. Yang penting tertawaContinue reading “Cikini’s Finest”

Pagi

Jika pukul lima lewat dua puluh tiga adalah waktu yang dipilih untuk bangun dari tidur, maka bersyukurlah. Pagi hadir di sini dan ada opsi untuk menjalani atau tidak menjalaninya. Ia, bukan menjadi sebuah keharusan. Langit Jakarta tidak sumir. Ia penuh harapan. Mengaduk kopi dengan tangan kiri, menyapa tukang bubur ayam yang terlalu sibuk menuangkan taugeContinue reading “Pagi”

Untuk Majalah Hai

Sebuah janji percakapan ternyata membuat saya kembali menulis untuk Majalah Hai. Premis terakhir malah terjadi tanpa rencana. Seperti sudah bisa ditebak, ia selalu menyenangkan. Saya berhutang banyak pada Majalah Hai. Majalah remaja laki-laki paling legendaris di Tanah Indonesia ini, adalah media nasional pertama yang menjadi rumah bagi saya. Sepanjang 1999-2000, saya bekerja untuk majalah ini.Continue reading “Untuk Majalah Hai”

Mencatat Perjalanan ke Bromo dan Jazz Gunung

“People travel to wonder at the height of the mountains, at the huge waves of the seas, at the long course of the rivers, at the vast compass of the ocean, at the circular motion of the stars, and yet they pass by themselves without wondering.” – St. Augustine Melihat gunung adalah salah satu kegiatanContinue reading “Mencatat Perjalanan ke Bromo dan Jazz Gunung”

Meninggalkan AirAsia Indonesia

Perjalanan panjang nyaris lima tahun ini menemui akhir. Banyak kenangan dalam kepala minta disebutkan. Pada akhirnya cerita berjalan ke depan, yang ada di belakang tidak bisa diganti. Saya meninggalkan pekerjaan saya di AirAsia Indonesia. Ya, kamu tidak salah baca; saya mengundurkan diri dari sebuah rumah yang begitu dicintai. Menulis tulisan ini tidaklah mudah. Saya bahkanContinue reading “Meninggalkan AirAsia Indonesia”