Meninggalkan AirAsia Indonesia

08

Perjalanan panjang nyaris lima tahun ini menemui akhir. Banyak kenangan dalam kepala minta disebutkan. Pada akhirnya cerita berjalan ke depan, yang ada di belakang tidak bisa diganti.

Saya meninggalkan pekerjaan saya di AirAsia Indonesia. Ya, kamu tidak salah baca; saya mengundurkan diri dari sebuah rumah yang begitu dicintai.

Menulis tulisan ini tidaklah mudah. Saya bahkan harus membuat outline untuk memastikan bahwa seluruh kisah besar di dalam perjalanan empat tahun sebelas bulan ini terekam dengan baik.

Sepanjang karir profesional yang sudah berlangsung sekitar sepuluh tahun, AirAsia Indonesia adalah rumah yang paling lama saya tinggali. Kisah-kisah di dalamnya berlari kencang dan menembus banyak batasan akal sehat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Mari kita mundur ke tahun 2010, bulan Mei, tanggal 13.

Saya masih ingat dengan jelas momen-momen ketika mata saya menerawang ke angkasa lepas di pagi hari yang datang terlalu awal itu. Saya terbang dari Kota Lombok, pulang menuju Jakarta. Jika biasanya orang pulang liburan dengan santai, maka saya sedari awal sudah siap dengan kemeja dan setelan yang agak rapi. Rambutpun baru dipangkas seminggu-dua minggu.

Hari itu, 13 Mei 2010, adalah hari pertama saya bergabung dengan AirAsia Indonesia. Sebuah petualangan baru siap dimulai.

Kepala bagian HRD –kemudian di AirAsia Indonesia lebih dikenal sebagai PD— sewaktu proses akhir rekrutmen berpesan, “Kalau bisa, rambutnya dipotong yang rapi, mas. Namanya juga kita kerja kan?”

Pesan itu saya turuti. “Tidak apalah kompromi. Toh hanya rambut, bukan yang lain,” ucap saya pada diri sendiri. Bergabung dengan AirAsia Indonesia merupakan sebuah mimpi yang jadi kenyataan. Bukan apa, sedari kemunculannya di tanah Indonesia, sudah terlalu banyak hal yang terjadi di level personal karena kehadiran maskapai ini.

Bisa cek salah satu kisahnya di sini:
https://pelukislangit.wordpress.com/2009/08/16/bersahabat-baik-dengan-om-air-asia/

Bergabung dengan sesuatu yang kamu cintai adalah sebuah keberuntungan yang indah. Tanpa perlu belajar banyak, cara kerjanya sudah dipahami. Karena saya merupakan pelanggan setia yang tahu seluk-beluknya dengan baik.

Sewaktu diwawancara oleh salah satu orang yang paling dikagumi di perusahaan ini, Andy Adrian –dulu manajer marketing sekarang direktur komersial—, saya bahkan membongkar penemuan tentang strategi kursi gratis yang selalu dilakukan AirAsia Group. Kami berbicara panjang lebar tentang banyak hal yang dilakukan sehari-hari di dalam perusahaan dari kacamata pelanggan.

24

Ketertarikan yang luar biasa besar itu muncul dari hati, dari rasa terima kasih yang muncul karena banyak kisah yang diubah seperti contoh yang di link tadi.

Pekerjaan pertama di AirAsia Indonesia adalah Social Media Executive. Saya adalah orang yang pertama kali mengendalikan seluruh channel social media yang dimiliki oleh AirAsia Indonesia. Pekerjaannya mulai dari buat strategi, balas komentar orang, berencana membuat konten yang kadang membuat saya jalan-jalan ke banyak tempat serta bercengkerama dengan orang-orang di dalam perusahaan yang ingin tahu lebih dalam tentang social media.

Beberapa orang bilang bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang paling enak sedunia. “Iya lah, Lix. Elo nggak ada kerjaan, wong dibayar untuk Facebook dan Twitter-an,” kata bos saya suatu kali. Tentu saja, ia bercanda.

Karena memulai sesuatu, ada keuntungan untuk bisa mengendalikan seluruh barang asuhan dengan gaya pribadi. Gaya bicara, pemilihan konten serta strategi-strategi lain di keseharian benar-benar ditentukan dengan gaya hidup personal.

Yang juga menyenangkan adalah pengalaman bekerja seminggu dalam sebulan di markas besar grup di Kuala Lumpur. Itu berlangsung secara beberapa bulan. Bos regional saya waktu itu, Karen Chan Lye May –kini adalah Digital Commercial Manager untuk AirAsia Thailand— membutuhkan seluruh kaki tangannya untuk bekerja tidak jauh darinya. Supaya segala sesuatu jadi lebih mudah.

42

Pengalaman ini jadi hal baru. Bayangkan, dalam hitungan waktu yang cepat, saya jadi pelintas batas untuk urusan pekerjaan. Kadang malah hanya dalam hitungan jam; berangkat pagi buta dari Jakarta, meeting di Kuala Lumpur pukul sepuluh pagi, lalu pukul dua siang sudah siap-siap boarding untuk pulang lagi ke Jakarta.

“Oh, gini toh rasanya jadi business traveler yang keluar negeri tektok?” pikir saya suatu kali. Pengalaman ini, rasanya tidak enak. Bukan apa-apa, tapi letihnya berlipat-lipat. Belum kalau harus tinggal di kota itu, bosannya minta ampun. Tidak ada yang bisa mengalahkan hangatnya kota saya di Asia Tenggara ini. Hehe.

Walau secara resmi mengendalikan social media, tapi fungsi untuk memproduksi konten itu membuat saya juga melintas batas untuk berbagai macam urusan berbau jurnalistik yang dilakukan atas nama AirAsia Indonesia. Yang paling sering dilakukan adalah membahas banyak hal menarik tentang sebuah tujuan di mana pesawat AirAsia Indonesia terbang.

31

Sedari awal, konten yang bagus adalah target pribadi yang harus disampaikan ke orang yang lebih banyak. Saya sadar bahwa penawaran promo satu hari nanti akan basi dan orang membutuhkan lebih dari sekedar harga untuk bisa membeli apa yang ditawarkan perusahaan. Menciptakan alasan adalah tugas yang juga diemban dan diimplementasikan kemudian.

Social media juga membuat saya berinteraksi dengan petinggi-petinggi grup. Tony Fernandes saya temui dalam beberapa minggu pertama saya. Sementara, ada di sekitar CEO AirAsia Indonesia dan pejabat tinggi lainnya sering mampir dalam hari-hari saya. Social Media, pada waktu itu, dipandang sebagai salah satu alat marketing yang ampuh dan inovatif serta murah. Ia pun masih menjadi salah satu hal paling keren yang pernah diciptakan oleh internet.

Fungsi pekerjaan membuat saya punya nyaris seluruh akses untuk masuk ke dapur perusahaan. Rasanya hanya hitungan rugi-laba saja yang tidak seliweran di hidup saya di masa-masa itu.

Tag social media guy, bahkan masih bertahan sampai hari ini. Di hari-hari terakhir saya, Desiree Bandal, seorang kolega baik di kantor yang berkebangsaan Filipina mengonfirmasi hal ini pada saya sewaktu kami pulang bersama, “Felix, kamu tahu nggak kalau Tony masih mengenali kamu dengan tag itu; the social media guy?”

19

Bisa bekerja dengan Tony Fernandes yang super iseng itu menyenangkannya luar biasa. Setidaknya ada tiga hal yang saya masih ingat dengan jelas; dikerjai via Whatsapp olehnya, dikirim ke London serta bisa memilih pertandingan QPR mana yang ingin disaksikan serta memaksanya menggunakan vest Seringai yang kebetulan ada di meja kerja saya.

Ia adalah nyawa perusahaan ini. Gayanya yang sangat dinamis membuat perusahaan ini berjalan dengan darah muda yang begitu membara. Bersamanya, hari esok terasa menyenangkan karena nyaris tidak bisa ditebak. Kendati kadang bebannya jadi berat, tapi setelah semua terjadi, selalu menyenangkan kalau diingat-ingat.

Social Media Guy yang Keliling-Keliling

Di pengalaman saya, jadi social media guy, ternyata bisa lari kemana-mana. Untuk urusan tugas kantor, saya melihat banyak tempat baru yang belum pernah dikunjungi sebelumnya gara-gara AirAsia Indonesia.

26

Kalau menguras memori, tugas yang pertama harus saya tulis adalah pergi ke Bangkok selepas tempat-tembakan antara kaos merah dan kaos kuning. Demonstrasi berdarah yang makan korban itu, merupakan salah satu penugasan yang menantang.

Untung saya orang Indonesia yang pernah terjebak di Kerusuhan Mei 1998, jadi yang namanya chaos itu sudah pernah mampir ke dalam pengalaman. Tapi, tetap saja tidak mudah. Penugasan itu obyektifnya adalah menggambarkan bahwa hidup sudah baik-baik saja di Bangkok selepas kerusuhan berdarah itu.

Saya berkeliling ke sejumlah titik di kota yang sudah mulai normal. Kebetulan, social media dijadikan salah satu senjata untuk kampanye #AALuvThai yang sedang berlangsung waktu itu.

33

Ada di jalanan, sebenarnya tidak begitu menyenangkan. Bukan apa, pekerjaan harian yang harus dikerjakan sehari-hari, juga masih harus dilakukan. Sementara, proses produksi konten tetap harus berlangsung. Kadang-kadang memerlukan perpindahaan yang masif.

Itu terjadi ketika saya mendapatkan tugas untuk membuat seri tulisan tentang Hongkong-Shenzhen-Macau. Dalam lima hari, saya harus melintas batas beberapa kali dan di saat yang bersamaan, juga masih harus mengerjakan pekerjaan harian. Untung bisa dijadwal pekerjaan hariannya. Sehingga mobilitas jadi lebih fokus.

34

Perjalanan ini punya drama tersendiri. Dulu, ketika melakukan perjalanan ini, saya belum menggunakan ponsel pintar. Masih menggunakan Nokia klasik yang hanya bisa telepon dan sms. Bayangkan saja, si social media guy ini, tidak menggunakan ponsel pintar untuk menjalankan pekerjaannya. Saya waktu itu masih terlalu percaya dengan cara tradisional. Menggunakan komputer adalah pilihan terbaik.

Untuk menjangkau Hongkong yang jadi pintu masuk dan keluar, saya harus terbang dulu ke Kuala Lumpur untuk kemudian menyambung penerbangan lain. Sesampainya di Kuala Lumpur, ketika sedang antri mengambil bagasi, tiba-tiba ponsel saya mati total. Ini berarti seluruh kontak yang dicatat di mesin itu, tidak bisa digunakan. Mati totalnya ponsel ini membuat saya wajib berimprovisasi. Termasuk bertualang mencari alamat hotel setibanya di Hongkong.

35

Keadaan ini membuat saya hidup seminggu tanpa ponsel. Semua koneksi hanya dilakukan dengan email dan social media. Dengan segala keterbatasan, seluruh pekerjaan bisa selesai sesuai rencana. Menarik juga, kalau diingat-ingat.

36

Bukan itu saja pengalaman dengan ponsel yang mampir ke kisah bekerja jalan-jalan saya. Suatu kali, saya ditugasi untuk membuat konten tentang Singapura. Agendanya adalah membahas sejumlah tempat di Singapura yang punya kategori underrated tapi menarik untuk dikunjungi. Setibanya di Bandara Changi, saya langsung memesan taksi untuk menuju hotel di kawasan Novena. Hotel ini akan menjadi tempat tinggal saya selama seminggu memproduksi konten di Singapura.

Waktu itu, baru beberapa bulan menggunakan iPhone 4, ponsel pintar kedua saya. Sebelumnya, saya sempat menggunakan Blackberry paling dasar yang leletnya minta ampun. Perjalanan taksi tersebut awalnya biasa saja. Yang tidak biasa adalah ketika turun di lobi hotel.

kprhdh

Saya meninggalkan ponsel saya di sisi kiri jok belakang taksi. Hal ini baru disadari beberapa menit kemudian ketika harus melihat reservasi hotel pada waktu check in.

Apeknya minta ampun. iPhone 4 itu baru digunakan delapan bulan. Masih ada cicilan empat bulan lagi yang harus dibayar. Tapi ponselnya sudah hilang. “Benar-benar cobaannya,” ujar saya dalam hati sembari berharap bahwa akan ada rejeki pengganti yang sepadan nantinya.

Singapura juga memberikan kesempatan yang tidak bisa dibeli begitu saja; masuk ke kompleks paddock balap mobil paling bergengsi di jagad bumi ini, F1. Waktu itu, AirAsia Group mensponspori Tim Caterham yang berlaga di ajang ini. Pekerjaan sebagai social media guy membuat saya punya akses untuk masuk ke kompleks paddock dan melihat dari dekat proses perlombaan dan persiapan yang terjadi di belakang layar.

Saya bisa melihat bagaimana teknisi tetap bercanda ria menunggu waktu balapan. Atau melihat petugas catering yang kerjanya keliling dunia menjamin seluruh anggota tim memiliki asupan gizi yang tepat. Mahal pengalamannya.

F1 - Fewlix

Kalau itu yang mahal. Yang tidak bisa dibeli juga ada. Dua malah. Dan semuanya terjadi di tanah eropa.

Yang pertama adalah ajakan untuk ikut mengambil pesawat terbaru AirAsia Indonesia di pabriknya langsung di Kota Toulouse, Prancis Selatan. Waktu itu, saya pergi bersama rombongan besar wartawan dan sejumlah partner bisnis perusahaan. Airbus, vendor pesawat AirAsia Group, menjamu dengan baik.

09

Sifat kunjungan ini adalah a-money-can’t-buy-experience. Bukan apa, soalnya tur ke sejumlah fasilitas Airbus ini memang tidak pernah tersedia untuk publik luas. Hanya mereka yang menghabiskan uang banyak untuk membeli produk merekalah yang layak dijamu. Agak gila juga sih perasaannya.

“Bayangin, Bas, kalau kita nggak beli pesawat, nggak akan nih mereka buka pintu dan ngajak kita keliling-keliling melihat kota dan pelesir ke kawasan tua di sekitarnya,” ucap saya pada Baskoro Adiwiyono, yang dulu masih ada di tim komunikasi ketika perjalanan ke Toulouse itu terjadi. Sekarang, ia sudah pindah haluan karir.

10

Saya beruntung mendapat penugasan ini. Tidak semua orang di AirAsia Indonesia punya kesempatan model begini.

Yang kedua adalah ‘ganjaran’ atas kerja keras super express yang saya lakukan di Surabaya tahun 2012 yang lalu; menjadi project officer QPR Asia Tour 2012 yang hanya dipersiapkan dalam beberapa minggu saja. Waktu itu QPR, tim sepakbola Inggris yang juga dimiliki oleh Tony Fernandes, menjadwalkan sebuah pertandingan pre-season melawan Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bung Tomo.

Saya punya beberapa pengalaman bikin event. Tapi mengendalikan sebuah event dengan skala 50.000 orang, adalah sebuah tantangan yang luar biasa besar. Saya ditunjuk jadi project officer karena ketertarikan spesifik saya pada sepakbola.

28

Eventnya sendiri berlangsung dengan baik dan sesuai rencana. Semua orang puas, termasuk saya. Yang jadi luar biasa itu adalah kejadian setelahnya.

Tony Fernandes meminta seluruh rombongan dari Surabaya untuk pulang lebih cepat ke Jakarta karena ia akan mengadakan makan malam bersama sekaligus buka puasa dengan sejumlah pegawai AirAsia Indonesia. Ini momen tahunan di perusahaan, kebetulan kali ini ia bisa menghadirinya.

Di tengah-tengah speechnya, ia tiba-tiba mengeluarkan sebuah pertanyaan yang tidak pernah diduga sebelumnya.

“Siapa yang di sini pakai atribut QPR, tolong maju ke depan. Saya punya sesuatu untuk tiga orang pertama yang maju ke depan,” begitu kira-kira katanya.

Saya duduk di gugusan meja kedua dari depan ketika pertanyaan itu dilontarkan. Kebetulan, di lanyard saya, ada sebuah pin QPR yang saya dapat beberapa minggu sebelumnya di Kota Kinabalu. Tanpa banyak pikir, saya langsung loncat dan dalam tiga detik sudah berada di depannya. Setelah dilihat dengan seksama, ia mempersilakan saya untuk berdiri di sebelah kanannya. Begitu komplit orangnya, ia melontarkan pertanyaan lanjutan.

“Ok. Saya akan kirim kamu semua ke London untuk menyaksikan QPR bermain. Kalau boleh memilih, kamu mau nonton game yang mana?” tanyanya.

Saya persis ada di sebelah kirinya. Pertanyaan pertama ditujukan ke saya. “Liverpool, tentu saja,” ucap saya refleks. Beberapa orang lain kemudian mengiyakan hal yang sama.

Tony Fernandes lalu berkata, “Ok, kalian semua akan ke London dan menyaksikan QPR melawan Liverpool di Loftus Road.”

27

Karena Tony Fernandes dan AirAsia Indonesia, saya pergi ke Inggris Raya untuk kali kedua dan menyaksikan Liverpool, tim sepakbola favorit, bermain. Selain itu, saya juga bisa mengunjungi dua teman baik saya, Aditya Suharmoko dan Esther Samboh yang kebetulan sedang tinggal di Inggris pada waktu itu. Kami melakukan ziarah ke salah satu kota paling sakral di dalam hidup kami; Liverpool.

13

14

Hal-hal model begini, sangat mungkin terjadi di AirAsia Indonesia. Perusahaannya sangat dinamis dan agak terbuka pada ide-ide baru. Bersamanya, saya juga melintas batas membawa banyak ide di dalam kepala ini.

Hampir seluruh tujuan AirAsia Indonesia sudah pernah saya datangi. Kalau mau disebutkan satu demi satu, rasanya bisa jadi terlalu panjang tulisan ini. Padahal ini sudah terlalu panjang. Haha.

30

Ini beberapa saja: Saya terlibat di proyek White Shoes and the Couples Company ke Darwin Festival di Kota Darwin, mensponsori The SIGIT main di Surabaya, melihat indahnya Kota Kinabalu beberapa kali, bisa pulang dengan hemat ke kota tempat nenek tinggal di Delhi, menjadi saksi terakhir operasi Bandara Polonia di Medan, makan steak mahal di Champ Ellyses, Paris, foto bersama pahlawan remaja Steve McManaman dan Robbie Fowler atau mengunjungi Phuket sendirian yang ujung-ujungnya mendapatkan pandangan baru tentang kota pulau itu.

21

18

Kalau dikenang, hal-hal seperti inilah yang membuat berat untuk pergi.

Pindah ke Communications

Kalau diingat, perubahan beberapa kali mampir ke karir saya di AirAsia Indonesia. Ia, satu-satunya yang tidak diam. Kata Hieroclatus, salah satu filsuf Yunani, “The only constant is change.”

Pertama kali, ketika masih mengurus social media, saya diparkir di bawah departemen IT. Tapi punya fungsi marketing karena berurusan dengan sejumlah materi promosi perusahaan untuk menjual produk.

Setelah kurang lebih satu tahun, saya sepenuhnya ditransfer ke departemen marketing. Masih mengurusi hal yang sama.

Di tahun 2012, saya ditransfer ke departemen communications atau PR. Ini terjadi karena perusahaan merasa bahwa fungsi social media dan content production yang sudah mulai saya lakukan akan lebih maksimal jika berada di sini.

07

Perpindahan ini, harus diakui menjadi momen terbaik saya selama bergabung di AirAsia Indonesia. Kalau boleh memilih, inilah tempat paling nyaman yang pernah saya hidupi. Lebih seru lagi karena tidak ada target jualan yang mengikuti. Kolega di departemen ini juga memberi keleluasaan untuk berkarya dan mengejar banyak ide.

Jumlah perjalanan makin meningkat dan peluang untuk melakukan banyak hal-hal seru juga membesar. Terlebih, saya berkesempatan untuk merekrut salah satu teman terbaik saya, Satria Ramadhan.

41

Satria Ramadhan bergabung untuk membantu saya memproduksi konten. Kami membentuk partnership yang lumayan memberikan kepuasan. Dari dia, saya belajar membuat video solo; mengambil gambar, menjadi sutradara, sekaligus produser di saat yang bersamaan.

Ini contohnya:

Dan ini:

Dan ini juga:

Yang kami lakukan adalah cetak biru in house content production yang dilakukan oleh AirAsia Indonesia sekarang ini. Ya, kami punya tim internal untuk membuat banyak coverage menarik tentang apa yang sedang terjadi di perusahaan ini.

Melakukannya jadi lebih mudah karena sedari detik pertama, Saya dan Satria sudah bisa bekerja dengan ritme kencang. Maklum, kawan lama dan sudah sama-sama paham bagaimana cara bekerjanya. Jadi, sama sekali tidak perlu penyesuaian.

Yang juga penting di era ini adalah bertambahnya ruang lingkup pekerjaan saya. Di perusahaan ini, memang seseorang dituntut untuk bisa mengerjakan banyak hal sekaligus. Ibaratnya, para pekerjanya wajib untuk jadi pemain sepakbola ala turnamen. Mereka yang bisa memainkan sejumlah posisi sekaligus, lebih diprioritaskan ketimbang mereka yang hanya bisa bekerja di dalam satu kotak saja.

38

Saya juga kemudian bertanggung jawab untuk sponsorship dan mengerjakan kampanye PR untuk Australia, terlebih Darwin.

Darwin adalah salah satu kota paling mahal di Australia. Letaknya yang sedikit terisolir dari ‘pusatnya’ Australia, membuat segala sesuatu jadi lebih mahal. Kotanya tidak besar tapi putaran ekonominya kencang.

40

Sepanjang 2013, saya tiga kali bolak-balik Darwin untuk mengerjakan sejumlah kampanye. Menyenangkan sebenarnya bisa kembali ke Australia. Sebelum 2013 itu, saya mengunjungi negara itu tahun 1997.

Tapi ternyata kesempatan berkarya di bidang ini tidaklah lama. Di penghujung 2013, ada sebuah produk baru diluncurkan; Travel 3Sixty Indonesia.

Jadi Editor Majalah

Travel 3Sixty Indonesia adalah majalah inflight AirAsia Indonesia. Sebelumnya, sudah ada majalah inflight bernama Travel 3Sixty yang sifatnya regional. Ditulis dalam Bahasa Inggris dan dipukul rata peruntukannya untuk seluruh negara di dalam jaringan AirAsia Group.

16

Karena potensi bisnisnya besar dalam menjaring iklan, maka perusahaan memutuskan untuk menjalankan versi Indonesianya. Lagipula, kalau bicara dengan Bahasa Indonesia, majalahnya jadi lebih relevan karena sesuai dengan pasarnya.

Saya ditunjuk untuk menjalankan majalah ini. Pekerjaannya editor; sedikit menulis, tapi mengawasi isi dan memastikan gaya bahasa halaman ke halaman terjaga dengan baik. Ya, memang saya punya karir sebagai penulis, tapi menjadi editor? Itu tantangan yang menarik.

Sebelumnya, saya belum pernah menjadi editor. Ini kesempatan pertama. Saya dipilih karena dirasa paling punya persentuhan dengan dunia tulis-menulis serta mengerti luar dalam brand AirAsia.

Dicemplungin. Mungkin itu kata yang paling dekat untuk menggambarkan keadaan waktu itu. Tentu saja, karena memang punya pengalaman di bidang jurnalistik, saya merasa senang menikmati proses dicemplungin itu.

06

Membuat sebuah majalah ibaratnya membangun jaring yang belum menyatu jahitannya. Seluruh lini dipahami, tapi bagaimana menggabungkannya tetap menjadi sebuah pertempuran hebat di dalam.

Referensi yang diambil adalah Majalah Femina. Majalah perempuan itu berhasil melintas batas kelas sosial, daerah dan umur selama bertahun-tahun. Penyatunya adalah perempuan. Dan gaya seperti itu yang harus diadopsi oleh majalah ini.

Kalau Majalah Femina bicara untuk perempuan, maka Travel 3Sixty Indonesia harus bicara dengan bahasa yang sama untuk kelas menengah ngehe yang terbang Jakarta-Bali dan lae-lae yang terbang Jakarta-Medan dengan banyak kardus. Tantangannya berat kan?

01

Untungnya, bangsa ini punya Bahasa Indonesia yang bisa menyederhanakan tantangan ini. Menggunakan Bahasa Indonesia menyatukan tantangan itu. Semakin sederhana, semakin baik. Karena, sifat majalah inflight ini memang tidak perlu berbahasa ribet. Siapa yang mau baca majalah yang bahasanya nyeni dan ribet ketika sedang terbang? Majalah itu difungsikan untuk membunuh waktu, bukan menambah masalah ketika dibaca.

Penyemplungan itu membuat saya melupakan cuti untuk beberapa saat. Tahun 2014 kemarin, saya bahkan tidak mengambil liburan akhir tahun sama sekali. Majalah, harus dipastikan naik ke pesawat untuk pertama kalinya. Pergantian tahun baru itu saya lalui di apron Bandara Soekarno-Hatta Jakarta.

04

Perjalanan awalnya terasa menyenangkan sekali. Semua yang terlibat di dalam pengerjaan majalah itu masih mencari celah. Ambisi masih besar. Pelan-pelan fungsi kerjanya mulai terbentuk. Karenanya saya dipindah lagi, dilepaskan dari departemen communications.

Habis Bensin?

Ada satu paradoks terjadi di dalam hidup saya beberapa bulan setelah menjalani peran sebagai editor majalah. Saya bekerja sendiri dan dibantu oleh tim vendor yang memproduksi tulisan yang pada akhirnya terbit. Saya hanya memastikan bahwa tulisan sesuai dengan gaya yang diinginkan oleh majalah ini dan melakukan proses edit. Beberapa kali juga masih menulis karena memang ingin menulis tentang topik tertentu.

Ketika dijalani, ada satu hal yang hilang: diskusi. Proses ngobrol, ternyata mengambil peran penting di dalam kehidupan saya. Kalau diingat, baru sekali ini saya bekerja benar-benar sendiri. Bukan masalah beban kerjanya, tapi lebih ke cara kerjanya.

02

Keadaan ini menguras tenaga. Harus diakui, saya sulit untuk bermain tuhan. Sendirian. Kalau orang dari luar melihat, mungkin pikirannya begini, “Apa sih Felix ini? Pekerjaan nggak ada lawan politik kantor, bayaran bagus, kebebasan besar karena menentukan ini-itu, tapi kok punya keresahan?”

Tidak semua orang mengerti. Bukannya juga tidak bersyukur dikasih kehidupan yang minim konflik, tapi pertempuran di dalam diri sendiri ternyata begitu menguras energi. Itu akhirnya menggerogoti motivasi besar di dalam diri.

Sejak memulai karir profesional beberapa tahun yang lalu, saya selalu menempatkan passion di dalam permainan pekerjaan. Karena keterbatasan, saya wajib untuk mengerjakan sesuatu dengan hati. Karena saya mengenali diri sendiri dengan lumayan baik; itu adalah resep untuk mendapatkan sisi terbaik seorang Felix Dass. Uang, fasilitas dan hal-hal yang sifatnya penerimaan itu sudah tidak lagi penting.

03

Keresahan itu juga mengundang banyak drama. Ada beberapa adegan yang membuat saya jadi pesakitan dan dengan sendirinya juga punya kontribusi tidak baik terhadap kehidupan pribadi saya. Drama-drama itu sebenarnya, kalau dipikir-pikir, hanya letupan kecil. Tidak begitu penting terhadap keseluruhan fragmen keputusan yang diambil.

Ada beberapa usaha yang telah dicoba untuk memperbaiki keadaan. Saya berbicara dengan banyak orang dengan berbagai macam pola pikir, termasuk dengan orang-orang di kantor tentang keadaan ini. Berbulan-bulan ini menggelayut sampai pada akhirnya saya melempar bendera putih.

Pikiran untuk berhenti mulai mengudara di dalam kepala. Berbulan-bulan, perasaan itu coba dikelola. Tapi ia terus menerus berontak.

Kata Leila S. Chudori di novel Pulang begini:

Antitesa

Dan itulah saya. Tantangan atau disederhanakan jadi motivasi, harus selalu ada di dalam kisah yang dijalani. Agak brengsek sih, “Kalau tidak punya motivasi lagi, kenapa harus dijalani?”

Pikiran sederhana itu jadi landasan kenapa saya mengundurkan diri setelah kehabisan bensin. Pergi meninggalkan zona nyaman bukanlah perbuatan yang mudah untuk dijalani. Perlu banyak keberanian untuk melangkah ke depan. Belum lagi serakan kenangan yang minta diperhatikan.

Salah satu yang paling berat adalah meninggalkan majalah yang saya saksikan detik-detik kandungan dan kelahirannya. Ini seperti meninggalkan anak yang baru belajar jalan dan mengejar obsesi lain.

Mungkin saya masih akan memantaunya tumbuh berkembang dan menikmati setiap tingkah polahnya dari jarak jauh.

Hidup berjalan ke depan. Kata Iwan Fals di lagu Satu-Satu begini:

Fals-Satu

Menemukan Pelabuhan Baru

Pertanyaan berikutnya, Felix Dass akan pindah kerja ke mana?

Jujur, ketika memutuskan untuk menuruti opsi berhenti beberapa waktu yang lalu, saya sudah siap dengan kemungkinan terburuk. Berpikir tentang hal terburuk apa yang bisa terjadi itu, sejujurnya malah membuat seluruh kemungkinan terpaparkan dengan baik.

Sekarang, apa sih kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada seorang manusia? Apa kebutuhan dasar untuk tetap bertahan hidup? Ini mungkin agak ekstrim, tapi yang begini layak untuk dibagi.

15

Kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup adalah makan. Salah satu menu favorit saya adalah kangkung cah dan tempe orek yang bisa dibuat dengan modal sepuluh ribu rupiah untuk makan satu hari. Berarti, biaya dasar saya untuk terus meneruskan napas akan tidak lebih dari lima ratus ribu rupiah untuk sebulan. Dan itu sifatnya makanan favorit, bukan asal makan.

Lalu tempat tinggal. Rumah saya sewanya akan habis tahun depan. Kalau belum punya uang, masih ada rumah orang tua saya yang bisa ditumpangi.

Transportasi juga tidak sulit. Saya terbiasa mengakali keadaan dengan angkutan umum dan beberapa pilihan kendaraan pribadi. Punya pilihan membuat kita lebih cerdik menjalani keadaan. Plus, tempat tinggal saya di tengah kota. Busway atau kereta api bisa dijangkau dengan berjalan kaki satu kilometer.

Pergi dari AirAsia Indonesia dengan masa kerja yang lumayan lama, memberikan saya uang pesangon yang lumayan. Mungkin saya bisa hidup enam bulan tanpa melakukan apa-apa. Belum lagi aset-aset yang bisa diuangkan untuk menyambung napas.

39

Tapi, apa benar saya akan ongkang-ongkang kaki tidak melakukan apapun untuk mengisi hidup? Tidak juga kan. Jadi, rejeki pasti akan datang lagi selama kita mau bekerja keras mencarinya. Berpikir yang terburuk hanya akan menampar keras pipi kita bahwa ada kemungkinan lain di luar zona nyaman yang sedang kita hidupi.

Dari pemikiran-pemikiran itu saya menarik sebuah kesimpulan penting yang selaras dengan prinsip hidup yang dipegang teguh; idealisme wajib diperhatikan. Belum tentu harus dituruti, tapi harus diperhatikan. Harus ada alasan penting untuk melakukan sesuatu. Masing-masing orang berbeda-beda, tapi di dalam kasus saya, buat apa menghidupi sesuatu kalau tidak lagi punya motivasi?

Toh, proses peyakinannya sudah melalui sejumlah protokol standar yang ada di dalam diri. Perpisahan dengan AirAsia Indonesia sebanding dengan putus cinta.

Berpisah dengan sesuatu yang kita sayangi tidak pernah mudah. Begitu juga berpaling darinya untuk sesuatu yang dianggap membuat keadaan lebih baik; dalam hal ini pergi.

Sepanjang proses melelahkan yang telah berjalan beberapa bulan tadi, saya juga berbicara dengan banyak orang. Salah satunya adalah Anthony Reza, adik teman baik saya Aditya Suharmoko.

Reza bersama partnernya Patrick Searle melakukan sebuah tindakan yang inspiratif untuk saya; meninggalkan zona nyaman mereka dan membangun sebuah start up konten yang punya misi membuat scene konten Indonesia lebih baik dari segi kualitas.

Topik-topik seperti ini menarik untuk saya. Selain menjadi penulis, saya juga punya ketertarikan pada dunia media dan bagaimana kehidupan di dalamnya berlangsung. Tata cara media di Indonesia hidup itu menarik. Walaupun masih banyak kekurangan di sana-sini. Keunikan pasar yang besar dan ketidakpastian yang mengikuti membuatnya jadi begitu dinamis.

Kami berbicara banyak dan diskusinya jadi menarik. Setelah berbulan-bulan, level kesepakatannya masih sama. Kami punya visi yang segaris. Jadi, ketika pada akhirnya mereka memberi tahu bahwa ada satu posisi kosong yang cocok untuk saya di dalam perusahaannya, tawaran itu datang.

Perusahaan yang masih kecil ini bernama GetCraft. Bisa dicek bisnisnya seperti apa di http://www.getcraft.asia. Saya belum bisa bicara banyak karena memang belum ada di dalamnya. Tunggu tanggal mainnya.

Tantangan baru mengikuti. Scene startup di Indonesia pun masih menggeliat. Ini seperti menarik diri kembali ke era di mana saya bekerja untuk FFWD Records di Bandung dulu. Kembali ke sirkuit independen dengan landscape ekonomi yang jauh lebih baik.

AirAsia Goodbye

Timnya masih di bawah sepuluh orang dan saya mendapat jaminan bahwa akan ada banyak diskusi berlangsung di dalamnya. Perannya apa, sekali lagi, tunggu tanggal mainnya.

Itulah perhentian selanjutnya. Menjawab tantangan yang disorongkan ke depan muka saya rasanya lebih membuat saya hidup ketimbang membohongi diri sendiri untuk tetap melakukan sesuatu yang ada di zona kenyamanan yang saya miliki di AirAsia Indonesia.

Selain kemampuan untuk melihat kemungkinan terburuk, kejujuran juga mengambil peran di dalam keputusan penting ini. Mungkin, tidak akan menyenangkan semua pihak lewat keputusan yang berat ini. Tapi, ini kan saya semua yang menjalaninya. Jadi, saya harus membuat diri sendiri nyaman dan punya bensin untuk menjalani tantangan selanjutnya.

So here I am, preparing myself for a new journey. Doakan semoga hidup berjalan maju ke depan dan baik-baik saja. (pelukislangit)

Rumah Benhil – 29 Maret 2015// 22.17
Kantor Cengkareng – 31 Maret 2015 // 16.27
Goedkoep – 1 April 2015 // 16.34

65 thoughts on “Meninggalkan AirAsia Indonesia

  1. Pertama kali ketemu Felix adalah ketika di Travel Fair. Kesan nyentrik adalah kesan pertama yang terlintas di pikiranku. Berawal memanggil Pak Felix, rasanya kurang pas didengar, yang akhirnya lebih enak dipanggil ‘Om Felix’🙂
    Good Luck ‘Om Felix’. Will be miss you and your fantastic desk.
    God Bless Your Journey.

    Cheers,
    Sis Lena (the way you call me)

  2. Mas Felix… 😭😭 yaaah gak ada yang unik2 lagi doonk di airasia.. Pantesan terakhir kita ketmu Mas Falix agak pendiem.. Gak taunya mau move on.. 😩😩 we are gonna miss you.. Sukses terus yaah perjalanan karirmu mas, Maaf klo ada salah n khilaf selama kita kerja bareng atau ngumpul2.. Hehehe.. Next time kita nongkrong2 bareng lagi yaah.. Kita tunggu cerita seru selanjutnya.. See you Brother..

    • Hehe. Waktu terakhir ketemu itu emang sedang bimbang-bimbangnya. It’s been tough for the past few months. But yeah, I managed to be honest with myself. See you when I see you!

  3. Ga nyangkaaa….kok? 😐..karena Felix…gw jadi tau majalah, belajar walaupun kulitnya….
    mohon maaf jika ada kata” atau perilaku gw yg kurang berkenan selama kerja bareng ya…
    Sukses ya Felix…. keep contact…
    GBU

  4. Good luck on your new journey Felix Dass.
    Mereka yang tak pernah kehabisan cerita, hidupnya pasti lebih panjang dari mereka yang berlimpah harta🙂

  5. Salut akan pilihannya om Felix,setuju dgn salah satu komennya

    Kita tidak akan akan dgn harta tp cerita,terimkasih sdh menginspirasi.suksess terus di perjalanan selanjutnya

  6. Perjalanan panjang yang ditulis secara apik. Semoga sukses di perjalanan berikutnya.

    Saya sendiri juga sedang mengembangkan startup media, cerita Oom Felix membuat saya lebih bersemangat lagi. Makasih, Oom.

  7. Reblogged this on I'm 'me' when you know it and commented:
    Menarik sekali membaca kisah perjalanan seseorang yang bekerja dengan passionnya. Akhir-akhir ini saya selalu kecantol sama tema ini. salah satu from among other things sih, but I want to talk about Om Felix. Entah itu ketika saya sedang berada di toko buku, lalu mengambil sebuah buku random yang rupanya bertema passion, atau seperti sekarang, saat browsing, eh, malah mampir ke tulisan Om Felix (iye, emang sok akrab manggilnya). Yah, topik ini salah satu from among other things sih, but for now I want to talk about Om Felix.

    Om Felix salah satu dari sekian banyak orang yang berani jujur dengan dirinya sendiri. Dan salah satu dari segelintir orang yang berani mengejar mimpinya. Habis bensin, katanya. Setelah kehilangan motivasi untuk pekerjaan ini (which he did extremely great, btw), ia pun menggapai obsesi baru.

    Saya pernah menanyakan kepada kurang lebih 100 ask.fm user yang saya follow, “Do you think to dream is the ultimate dare?”

    Kebanyakan dari mereka menjawab, bermimpi itu mudah, mengejar mimpi itu lah tantangan sesungguhnya. It’s true.

    Jadi, apakah kalian sudah berani bermimpi? Apakah sudah siap dengan segala konsekuensinya? Kalau jawabannya, iya. Then, go follow your dream. Mumpung masih muda, you have nothing to lose.

  8. Oh my Godness.

    Jujur saja mas, bagi kami yang melihatnya sekilas dari luar. Kata per kata, paragraf per paragraf. Seksama. You had a dream job!

    Tapi benar kata Mas ; “… Jadi rejeki pasti datang lagi selama kita mau kerja keras mencarinya.”
    I wish you luck on that.

    Semoga langkah berikutnya sanggup beri warna baru dan menambah corak dari episode hidup yang tertulis di sini.Thanks for a worth sharing article like this!

    Salam kenal
    @nando_nurhadi

    • I had a dream job. But yeah, the beginning is the end is the beginning katanya The Smashing Pumpkins. So here I am, leaving an end to start a new beginning. Terima kasih sudah membaca ya, mas. Salam kenal.

  9. wew…hampir sama dgn saya yg memilih brpisah dgn dunia radio,zona nyaman yg slm hampir 5 tahun sy geluti, trims mas, tulisannya top markotop

    • Seru ya keluar dari zona nyaman? Saya baru keluar saja nih. Belum resmi pindah. Masih beberapa minggu lagi resmi mencoba hal yang baru. Hehe. Bagi tipsnya dong, mbak.😉

  10. Teman saya mentag postingan ini karena baru tadi pagi saya berbicara keinginan move on saya setelah 16 tahun bekerja (kelamaan yah) dan banyak hal yang hilang seiring perjalanan waktu. Yang membuat saya bertahan adalah anak-anak dan saya tidak ingin mereka menderita karena keinginan saya untuk move on. Tapi nggak sehat juga buat semua kalo saya kerja tos saayana wae… So, jangan-jangan beberapa saat yang akan datang saya ketularan buat postingan seperti ini juga hahahhahahahhaah. Hatur nuhun untuk pencerahannya….

    • Nggak pernah ada kata terlambat katanya. Salah satu yang menginspirasi dalam proses pengambilan keputusan ini adalah ibu saya yang sepanjang karirnya berbakti di satu perusahaan. Dia mengambil posisi mendukung untuk melihat anaknya mengejar apa yang ia mau. Dalam kasusnya, ibu saya terbentur pada beberapa keterbatasan, tapi dia selalu bisa melakukan apa yang ia inginkan di dalam kepala. Cerita kan berulang. Kalau saya bisa, bisa jadi besok Mbak Junita yang melakukannya. Kita kan orang-orang biasa dengan cerita yang biasa juga. Masalah berani atau tidak saja. Terima kasih sudah mampir ya.

  11. Kantor AirAsia Indonesia, Terminal 1A BSH, medio Agustus 2010.
    (Saya waktu itu masih calon karyawan AirAsia, Felix sudah mulai duluan beberapa bulan sebelumnya. Naskahnya sih nggak persis begini, tapi cukup menggambarkan lah..)

    Baskoro: Felix yang temennya Nindha (@mialegria) ya?
    Felix: Iya.
    B: Gue kemarin nonton konser Stone Roses, rame-rame, bareng dia juga.
    F: Ian Brown kali’..
    B: Iya ding.. Buat gue sih agak sama aja sebenernya. Hehe..
    F: (ekspresi 3/4 senga’) Beda lah.. Kan dia nggak maen bareng si John dan kawan-kawan (lalu melengos masuk ruang kerjanya CEO kami yang dulu).

    Felix Dass, ladies and gentlemen, at his best.

  12. good bless you mas felix, pertama kali baca ceritanya menginspirasi orang-orang seperti saya yang mempunyai mimpi dengan anggapan banyak orang berkata ‘tidak mungkin’. buat sebuah buku aja mas perjalanan hidupnya pasti amazing hehe

  13. hehe…
    mau komen ttg link youtube yg dikasih,,
    capture-an yg gw kira “iseng2” pake SLR/Ipad berbuah satu video yg nongol di channel resmi perusahaan..
    keren…🙂
    pas liat status di fb, gw kira lu bakal pindah ke airline yg berbasis di timur tengah..
    ternyata bukan…
    soo.. sukses untuk passion baru nya🙂

    • Boleh ya hasil videonya. Nggak pernah main-main kita mah, Dit. Kelihatannya aja main-main. Hehe. Satu hari nanti kita pasti cross path lagi. Thanks for stopping by, man.

  14. Wahhh, nice story om. Beberapa kali liat lo di kejauhan (termasuk pas konser 2 jari), lumayan sering baca blog & tulisan lo. Anyway dinanti update startupnya, karena gw juga belom lama nyemplung ke media yang fokusnya di startup, maybe someday kita bakal ngobrol-ngobrol soal GetCraft🙂

  15. Halo Kak Felix, saya sering baca tulisan di sini dan pas liat judul ini stop scrolling, kaget, dan baca sampe beres. Kisah pengunduran diri zona nyaman yang banyak jadi inceran orang :’) Anyway, sukses selalu kak! Terima kasih atas tulisan yang mencerahkan ini.

  16. Pingback: cerita fajar, tempatku memaparkan

  17. Meng-INSPIRASI ! baca tulisan mas Felix ini rasanya bagai “ditabokin”. ninggalin zona nyaman buat sy adalah sebuah perjuangan tanpa akhir, karena ngga punya satu senjata yang namanya “keberanian”….

    Sukses mas di project selanjutnya !

  18. Tahun 2010 pernah ketemu Mas Felix di travel fair di Tunjungan Plasa Surabaya terus nekat ngajak salaman sambil bilang “saya ngikutin Mas Felix dari jaman Multiply …” Mas Felixnya cuma cengo hehehe. Sukses terus!

  19. kereen,,, kereen… sukes terus om felix dan makasih banget udah buat anak-anak cargo airasia yang masuk ke majalah 3sixty.. hehehe thanks om felix

  20. Kesan saya the very first time ketemu Felix: a very passionate man of what he does
    Kesan saya sekarang setelah bbrp tahun: a very passioante man of what he does. – it’s the same thing!🙂. The man doesn’t hide things.
    Good luck, Felix. Keep your passion. Light up everyone around you with it. And thanks that you have lighted up my passion somehow with yours.

  21. Sukses terus ya Lix… aku kenal felix bahkan sebelum beneran kenal.. karena Fadli sering cerita sosok cowok satu ini.. such an inspiring person…🙂. Seneng akhirnya bisa kenal beneran sama sosok Felix hehehe.. wish u nothing but the best… jalan masih panjang, sobat.. masih banyak bakal2 cerita untuk dibagi kepada dunia…

  22. pertama ketemu ya di majalah, bisa ketemu pertama tatap muka langsung di rest area red house membuat hati bergetar ini orang dibelakang mejalah yang kehadirannya selalu saya tunggu-tunggu ,senantiasa saya nanti- nanti sambil menghitung hari di akhir bulan. yang jelas saya kehilangan anda Bung terima kasih untuk inspirasi dan pencerahannya ,yang penting dimanapun Bung berada jadilah selalu sumber inspirasi seperti cahaya bulan cukup lembut tapi cukup teranguntuk menemani perjalanan di malam hari , salam seribu kata kebaikan @ yunus451

  23. gw cabut dr kantor karena baca tulisan ini.. skrg gw kejar passion buat kerja di cruise, juni ini gw start sekolah cruise dr agent… ninggalin zona nyaman emg susaaahhh.. bgitu cabut dr kantor byk pro kontra..LOL..

    gw udah ga peduli deh omongan org, jalan idup gw cm gw yg tau dan cm gw yg mau… mantap ni tulisan

  24. Mas Felix,

    saya baru aja di kasi kepercayaan dr kantor utk handle corporate affair, PR dan marketing.
    walo passion saya disitu, tp sy kyknya bth ilmu jg nih dari mas felix sbg “Suhu”.
    blh sy tau email mas felix? ada sedikit pertanyaan yg akan sy layangkan perihal bgmn membuat marketing kit agar menjadi menarik dan tepat sasaran.
    Dgr2 berbagi ilmu itu berpahala dobel kan ya?🙂
    Terima kasih sebelumnya lho mas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s