Capital: Sedih tapi Tidak Cengeng

Capital

Mereka yang curiga bahwa cinta long distance itu buat menderita, mungkin bisa menemukan jawabnya dengan bertanya pada lima lelaki yang bermain di bawah nama Kaveh Kanes; tiga orang personil dan dua sisanya pemain tamu. Mereka terpisah di tiga kota, Jakarta, Cirebon dan Jogjakarta.

Band ini, mampu bertahan kendati jarak menjadi musuh. Klasik, kelas pekerja buatan Jogjakarta; harus meninggalkan kota cantik itu atas alasan masa depan setelah selesai belajar. Kemampuan bertahan itu jadi alasan untuk mempertanggungjawabkan Capital, debut album penuh mereka.

Bagi tiga orang personilnya, karya kolektif ini adalah sebuah pencapaian baru. Ini merupakan sebuah monumen baru setelah sempat lama tidak ada kabar. Label asal Jakarta, Kolibri Rekords –yang punya militansi aduhai— merilisnya di tahun 2015. Yang mungkin terdengar sekilas adalah gelora indiepop yang akut. Sesuatu yang mungkin telah terdefinisikan ulang di dekade ini.

Berkenalan dengan geng Kolibri Rekords berarti juga membuka paradigma baru untuk saya. Jika sebelumnya indiepop didefinisikan dengan Sarah Records, misalnya. Maka, kebanyakan dari mereka tidak mengenalnya. Yang mereka gunakan sebagai tolok ukur, mungkin DIIV, Haim atau Wild Nothing. Jaman berubah. Generasi berganti. Tapi musik tengtong-tengtong tetap ada dan hidup baik-baik saja.

Tapi, dalam kasus Kaveh Kanes, mereka ada di antara kedua jaman itu. Faktor umur. Jadi mengenal masa lalu sekaligus masa kini. Dan Capital mungkin menjadi salah satu rilisan terbaik Kolibri Rekords sepanjang masa.

Ada perjalanan nostalgia bagi saya. Mendengarkan musik dengan petikan gitar yang tajam bunyinya, suara mengalun sang vokalis serta lirik-lirik yang cenderung kontemplatif –pilihan kata yang cocok untuk menggantikan kata ‘gelap’—. Tengtong-tengtonglah, pokoknya.

Bertebaran pula di dalamnya elemen-elemen kekalahan yang digunakan untuk merekam perjalanan hidup. Jadi balada, tapi dalam bentuk yang lebih anggun; drum yang samar-samar di belakang, solo gitar jangly yang malu-malu kucing tapi diset dalam volume keras serta vokal yang begitu muram.

Capital adalah sebuah album yang sangat bagus.

Yang jadi favorit saya adalah track berjudul Night Shift. Kekuatan lirik jadi penyeimbang suara yang sudah saya deskripsikan di paragraf sebelumnya tadi.

Bayangkan, mereka bisa menulis renungan model begini:

Velvet touch gives some aches
All the promises goin’ by the wind
You will know who you are
In the night shift
To be worked and to be loved
To start some end
It’s always better at night

Album-album seperti Capital diperlukan ketika hidup kendur dan perlu dorongan untuk meratap untuk kemudian bangkit berdiri setelah melankolia pergi. Petikan gitar yang tajam itu seolah mengiris penderitaan untuk kemudian menyembuhkannya dalam hitungan jam.

Inilah kodrat indiepop sesungguhnya: Sedih tapi tidak cengeng.

Untungnya, Kaveh Kanes memilih untuk tidak jatuh dalam lubang yang sama dengan banyak band indiepop lain yang memutuskan untuk memasukan seluruh gundah gulana mereka dalam album. Keputusan populer itu, biasanya membuat sebuah album berakhir dengan total empat belas, lima belas atau bahkan dua puluh lagu dengan nada yang mirip. Membosankan bagi sebagian besar orang, tentu saja. Mereka memilih untuk merekam delapan lagu saja buat Capital. Bagus!

Ini adalah beberapa lagu dari Capital:

Tiger in Your Tank

Norwegian Woods

Karena dengannya, Capital jadi pas sesuai dengan kebutuhan. Durasi putar yang tidak panjang membuat pendengar mungkin tidak sadar bahwa rekaman sudah habis dan siap diputar ulang. Makanya bisa jadi adiktif karena kebanyakan diputar ulang.

Aksi dan reaksinya standar, tapi kualitas materi yang mereka rekam tidaklah standar. Capital sangat direkomendasikan buat mereka yang jatuh cinta sepanjang masa pada konsep indiepop.

Selamat menjadi muram dan melankolis! (pelukislangit)

Rumah Benhil
10 April 2016
12.47

*) Capital tersedia dalam bentuk CD. Bisa hubungi Kolibri Rekords untuk membeli cd mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s