Semiotika dan Ruang yang Mengubah Wajah Jambi

Semiotika

Ketika memutuskan untuk menulis tulisan ini, saya langsung teringat pengalaman pertama menjejakan kaki di Jambi. Kapal udara yang membawa saya, mendarat sedikit keras di landasan yang tidak panjang. Matahari bersinar terang. Kekagetan muncul karena kondisi pendaratan yang tidak sempurna.

Ruko-ruko kemudian melintas di pandangan. “Kota ini tidak spesial,” ucap saya dalam hati. Judgemental memang, tapi impresi pertama lumayan berpengaruh dalam cara saya melihat kota yang baru pertama kali dikunjungi. Pengalaman yang bicara, akhirnya.

Saya ke sana untuk urusan bisnis, harus mengunjungi sebuah tempat untuk kepentingan penulisan. Hotel yang dipilih, lokasinya juga sedang dikelilingi pembangunan konstruksi jalan, yang entah berkesinambungan atau sekedar menghabiskan anggaran. Waktu itu, akhir tahun. Sekitar bulan November. Debu mengepul dengan bebasnya. “Ah, benar rupanya, kota ini memang tidak spesial,” kata hati mengulang lagi.

Menu pekerjaan saya lebih gila, sebuah klub yang pertunjukannya baru dimulai pukul dua pagi. Padahal, pesawat kembali ke Jakarta menanti lepas landas pukul tujuh paginya. Luar biasa kan jadwal pekerjaannya? Sudah tidak spesial, salah pilih jadwal perjalanan karena tidak mengantisipasi jadwal pekerjaan dengan baik, harus bertempur dengan kantuk yang luar biasa hebat lagi. Kombo, Jambi di impresi pertama sama sekali tidak menyenangkan.

Pengalaman itu ingin segera dilupakan. Mungkin, kalau bukan karena tulisan ini, sudah tidak akan dikorek-korek lagi. Tapi, ketika sekarang harus bicara Jambi, mau tidak mau, cerita ini perlu untuk dikeluarkan sebagai awalan.

Jambi yang tidak impresif itu, ternyata kemudian memutar wajahnya dengan hebat. Di bulan Februari 2016, saya mendapatkan sebuah link internet. Lupa dari siapa, kalau tidak salah dari grup Facebook Deathrockstar. Ada sebuah band asal Jambi yang baru membuka tiga pertunjukan Under the Bright Big Yellow Sky (UTBBYS), band postrock asal Bandung, di Jambi, Pekanbaru dan Palembang. Namanya Semiotika.

Pada awalnya, saya lebih tertarik pada fakta bahwa UTBBYS menggelar tur pendek yang berkonsentrasi di Sumatera. Waktu itu, isu-isu tentang tur mandiri benar-benar sedang mengusik saya. Jadilah saya mengulik masing-masing band yang menjadi fondasi tur itu.

Ketika giliran Semiotika, saya langsung dibuat tercengang olehnya. Terlebih ada fakta bahwa mereka berasal dari Jambi, tempat yang sama sekali tidak diharapkan untuk menghasilkan band-band bagus. Judgemental nomor tiga. Maaf, tapi kenyataan memang merekam faktor sejarah yang model begitu kan?

Selepas selesai ketercengangannya dan diri sudah mulai bisa dilepaskan dari euforia, saya mendengarkan mereka dengan seksama.

Mereka merilis debut album Ruang. Di dalamnya ada tujuh track yang begitu rapi. Band ini dikelola oleh tiga kepala, yang kemudian membuat musiknya menjadi terdengar begitu rapat.

Ini single berjudul sama, Ruang:

Semua sisi penggarapan dilakukan di negeri mereka. Semuanya made in Jambi; rekaman, penulisan lagu dan proses final Ruang.

Semiotika membuat saya merasa bodoh sekali karena tidak mengetahui dengan pasti apa yang sedang terjadi di Jambi. Mendengarkan Ruang seolah jadi pencerahan mutakhir bagi saya. Secara spartan, ia menemani terus perjalanan mengerjakan hidup dua bulan belakangan ini.

Ketika jarak antara pengalaman pertama mendengar dan saat menulis tulisan ini tercipta, rekamannya masih terdengar bagus. Jadi, ini jelas bukan euforia. Album Ruang berhasil merampas waktu-waktu saya yang di sisi lain diserahkan begitu saja tanpa perlawanan.

Gitar, drum dan bas yang repetitif jadi menu utama. Layaknya musik postrock kebanyakan. Semiotika nampak matang mempertanggung jawabkan apa yang mereka cinta dan ciptakan. Dan itu rasanya jadi alasan kenapa saya menyukai rekaman mereka. Ada energi terpendam yang bisa dibuka pelan-pelan lewat sayatan gitar yang dilandasi dentuman bas penjaga ritem dan drum yang liar membelokan ketukan. Dan ketika repetisi itu dibiarkan masuk dan mengambil ruang, ada kenikmatan terbongkar di sana.

Perlu dicatat, bahwa mereka sama sekali tidak memasukan vokal manusia ke dalam lagu-lagunya. Sesuai dengan standar operasi postrock.

Tiga puluh lima menitan durasi Ruang kadang terasa kurang. Ketika kita larut pada lagu-lagunya dan mencoba memahami singkup pesan yang mereka tawarkan, eh albumnya sudah habis berputar. Mengulangnya, adalah pilihan yang wajar ditempuh. Sebagai ambience berkegiatan, album ini terbukti ampuh menjadi teman untuk bersandar.

Kematangan musikal mereka, juga rasanya di atas rata-rata mengingat band ini baru terbentuk tahun 2014 dan menghasilkan album pertamanya dua tahun kalender berikutnya. Ada musicianship yang enak untuk disimak di sana.

Sekarang tinggal satu yang ditunggu; menyaksikan mereka bermain live.

Musik Semiotika berbanding terbalik dengan kota mereka yang membosankan dan tidak spesial. Jambi, sekarang ada di peta musik lokal. Semoga ada banyak lagi talenta keluar dari tempat ini. Karena, kota yang membosankan seharusnya bisa menjadi pemicu untuk ledakan ide yang hebat, bukan? Mari kita tunggu bersama.

Anyway, album Ruang milik Semiotika bisa didapatkan dengan mengontak bandnya langsung di sejumlah kanal komunikasi dunia maya di bagian bawah tulisan ini. (pelukislangit)

Rumah Benhil
9 April 2016
09.36

Semiotika:
Facebook: https://www.facebook.com/semiotikajambi
Instagram: https://www.instagram.com/semiotika_/
Soundcloud: https://soundcloud.com/semiotikajambi

2 thoughts on “Semiotika dan Ruang yang Mengubah Wajah Jambi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s