Warna Segar Adhitia Sofyan di Album Keempat

Beberapa waktu yang lalu, saya kembali diminta untuk menulis press release bagi Adhitia Sofyan. Ia merilis album keempat berjudul Silver Painted Radiance. Tentu saja, kalau yang minta dia, tidak pernah bisa ditolak. Maklum, saya orang yang terkesima dengan dedikasi besarnya pada musik. Jadi, ya selalu dengan senang hati dikerjakan. Ini tulisannya. Selamat membaca. Albumnya sudah beredar di sejumlah kanal digital, versi fisiknya mulai tersedia 21 Maret 2016.

===

Adhitia Sofyan

Setelah tiga album minimalis, Adhitia Sofyan keluar dari kotak yang telah ia bangun pelan-pelan. Ia mencoba memindahkan apa yang terjadi sehari-hari dengan band pendukungnya ke dalam rekaman. Hasilnya? Album Silver Painted Radiance.

Selama lebih dari delapan tahun, Adhitia Sofyan telah ada di industri musik Indonesia. Ia meniti karir dengan terukur, mencoba berbagai macam kemungkinan yang ada, meniti kisah dengan berbagai macam ledakan kecil yang membuatnya punya tempat khusus di hati orang banyak dan memutuskan untuk menjadi musisi penuh waktu. Ia mendedikasikan waktu untuk musik, sesuatu yang selalu ia cintai luar dalam.

Komitmen menghasilkan ganjaran yang menyenangkan. Karyanya tinggal di banyak ruang hidup orang, penampilan panggung pun banyak ditanggap. Gayung bersambut, semesta mendukung pilihan.

Ada satu patahan baru yang ia coba perjuangkan sekarang: Sebuah album yang beda format. Ia yang sekarang, bukanlah Adhitia Sofyan yang dulu dikenal sebagai bedroom musician. Rumah, tidak lagi menjadi ruang masak untuk produk yang ia luncurkan.

Silver Painted Radiance adalah album keempat Adhitia Sofyan. Musiknya berubah, sekarang seluruh elemen band pendukungnya yang sehari-hari mengiringinya di atas panggung juga beraksi di dalam rekaman. Studio rekam yang layak jadi tempat penggarapan, bukan lagi ruang apartemen yang sunyi di malam hari.

“Karena belakangan ini sering bermain dengan band, saya jadi tertarik untuk merekam format ini. Format sendiri sudah terlalu sering didengar. Ada juga kebosanan dengan lagu-lagu mellow yang sering dibawakan di panggung. Bosan juga melihat penonton yang termenung diam, mimiknya selalu sama dari awal sampai akhir lagu,” jelas Adhitia Sofyan sembari berkelakar sesekali tentang alasannya muncul dengan pendekatan produksi yang berbeda.

Beberapa tahun terakhir, pendekatan berbeda dengan menggunakan jasa band pendukung sudah dilakukan olehnya. Ketika harus melanjutkan karir dengan album baru, nama-nama session player yang punya reputasi bagus itu pun berkontribusi di Silver Painted Radiance.

Seluruh kolaborator utama di bandnya mengambil peran. Andie Jonathan Palempung, pemain kibornya, juga menjadi produser album ini. Pemain drum Jessilardus Mates menjadi co-producer. Sementara Kristian Dharma juga mengisi seluruh track bas di album ini.

“Tidak ada yang baru sebenarnya. Rasanya sama seperti artis solo dengan session players-nya. Sama seperti ketika kita latihan di studio. Yang terasa berbeda hanya porsi permainannya saja. Sebelum ini, gitar saya selalu di depan, lalu instrumen yang lain mengikuti. Karena memang secara konstruksi lagu, bagian gitar sudah jadi dan terekam duluan. Kali ini, karena hasil dari urun rembug, jadinya ketika rekaman harus bagi-bagi porsi main,” ujarnya panjang lebar.

Pembagian kapling ini, membuatnya punya pendekatan yang baru.

“Saya harus membiarkan piano lewat duluan, drum lewat duluan. Bahkan ada bagian-bagian lagu yang saya sama sekali tidak main karena memang kebutuhannya seperti itu,” tambahnya.

Secara sadar, pendekatan produksi album yang berbeda juga dikejar.

“Sebelumnya, para kolaborator itu hanya menambal materi yang sudah jadi. Sekarang tidak. Saya biasanya datang dengan materi gitar dan vokal lalu kita bahas bersama-sama. Gitar saya bukan lagi jadi pemain utama sekarang ini. Lagu dan kepentingan suaranya yang lebih diutamakan. Senang sih akhirnya bisa keluar dari gua bernama bedroom musician itu dan mencoba hal baru,” terang Adhitia Sofyan lagi.

Kemasan musik dalam bentuk band yang terdiri dari beberapa pemain, memang menjadi sesuatu yang dikejar untuk ditampilkan di Silver Painted Radiance.

Hasilnya adalah sebuah album dengan pendekatan musik yang berbeda ketimbang tiga album sebelumnya. Album ini berisi sepuluh lagu yang memberi warna baru di karir musikal Adhitia Sofyan.

Musiknya tetap renyah, bisa dinyanyikan bersama, punya lirik dalam, kontemplatif –kalau tidak mau dibilang punya lirik gelap— dan dinyanyikan sepenuh hati. Kisah-kisahnya masih berasal dari sekitar.

“Sejujurnya, sekarang saya sedang merasa tidak punya ambisi apa-apa dalam bermusik. Seperti pilot yang sudah ada di atas awal dan berjalan di jalurnya lalu dia menyalakan tombol auto pilotnya. Tugas saya hanya glide and see,” paparnya.

Bagi yang telah mengikuti musiknya lewat beberapa album sebelumnya, ia punya sedikit pesan, “Saya ingin memperlihatkan bahwa musik yang dimainkan bersama band pendukung ini bisa dikembangkan sedemikian rupa. Kalau mereka kangen dengan versi Adhitia Sofyan yang lama, tinggal mendengarkan album pertama sampai ketiga. Atau kalau ini semua gagal, saya selalu bisa membuat album yang serupa di masa yang akan datang. Tapi pertanyaan paling penting adalah bagaimana album ini bisa menarik pendengar-pendengar baru yang ingin berkenalan dengan musik saya.” (pelukislangit)

One thought on “Warna Segar Adhitia Sofyan di Album Keempat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s