Raksasa Itu Bernama Dewa19: Kata Pengantar untuk Sounds from the Corner

Malam itu, hidup berlangsung dengan begitu meriah. Energi ada di level penuh, siap teriak-teriak. Settingnya sebuah taman super besar yang sanggup menampung belasan ribu orang sekaligus. Raksasa akan bangun dari tidur dan siap membangunkan berbagai macam romansa lama yang pernah tercipta.

Raksasa itu bernama Dewa19.

Lasso

Setiap anak muda Indonesia yang hidup di 90-an, pasti pernah terpagut pada betapa indahnya musik yang mereka mainkan. Ahmad Dhani, ketika itu, punya kualitas yang bisa memengaruhi sebuah generasi, generasi yang tumbuh bersama mereka. Sebagai pemimpin band, ia mengatur arah perjalanan gerbongnya dengan sangat baik. Waktu itu.

Masing-masing teman pelengkap perjalanannya punya karakter yang hebat. Andra Ramadhan, yang kabarnya selalu punya hak veto di dalam band, selalu keluar dengan permainan khas yang revolusioner.

Sementara Ari Lasso, sang vokalis pertama, punya warna suara yang kelewat bagus, yang bisa melintasi jaman semena-mena dan relevan terus menerus bagi mereka yang mendengarkan.

Ok, kita perlu jujur, sejarah mencatat bahwa anggota lainnya hanya jadi pelengkap. Mereka punya kontribusi spesial, tapi tidak sebesar tiga orang ini. Dengan kata lain, kurang penting.

Tapi, bila mereka semua bersatupadu, kendati dengan nama Dewa19 feat. Ari Lasso, semua drama politik itu selesai sudah. Yang ada hanya kendaraan untuk bersenang-senang dan menghidupi kembali sebuah masa, periode yang indah dan pantas dikenang sepanjang hayat.

Yang tergambar di dalam video ini adalah rekaman proses bersenang-senang yang terjadi beberapa bulan lalu di Soundrenaline 2015. Dewa19 feat. Ari Lasso memainkan sebuah set nostalgia yang mampu menyantuni ribuan orang yang begitu rindu akan masa keemasan mereka. Setiap larik dinyanyikan dengan energi penuh dengan kepercayaan diri tinggi bisa setara dengan Ari Lasso yang memimpin ibadah.

Tidak apa, toh penggemar selalu punya hak ekskusif untuk merasa begitu. Maklum, namanya juga terpengaruh karya-karya si band.

Berada di dalam peristiwa malam itu, sungguhlah menyenangkan. Melihat sosok-sosok itu memainkan peran yang sama dan tampak berbahagia menjalaninya sesungguhnya sudah lebih dari cukup. Jika kemudian mereka menghadirkan performa papan atas, itu tidak lebih dari bonus yang didapatkan oleh penggemar yang memang telah menyediakan kapling permanen di dalam hidup untuk Dewa19.

Memori yang ditinggalkan oleh malam itu bertahan lama. Letih menunggu penampil sebelumnya yang jadi tampak kurang penting, pegal otot kaki karena berdiri dan mondar-mandir terlalu lama, serta panas kolektif yang ditimpulkan akibat begitu banyaknya orang, jadi tidak begitu teringat. Fisik bisa sembuh dengan sendirinya, tapi memori memahat dengan kuat.

Terima kasih, Dewa19 feat. Ari Lasso, kalian telah membawa kembali perjalanan mengenang itu.

Kalau boleh usul: Janganlah membuat karya baru. Tetaplah jadi masa lalu yang bisa ditengok sekali-kali. Rasanya adil; penggemar dapat perjalanan ke belakang, kalian dapat kompensasi finansial yang baik. Win-win. Karya baru, hanya akan memberikan warna gelap yang merusak. Bukan apa, Ahmad Dhani bukan lagi penulis lagu yang keren sekarang. Itu masalahnya. (pelukislangit)

00:00 Cukup Siti Nurbaya
04:52 Manusia Biasa
10:29 Satu Hati
16:15 Kirana
20:33 Cinta Kan Membawamu Kembali
25:55 Elang
30:34 Pupus
36:11 Roman Picisan
40:35 Arjuna
46:08 Separuh Nafas
51:33 Kangen
57:06 Drum duet
59:24 Kamulah Satu-satunya

6 thoughts on “Raksasa Itu Bernama Dewa19: Kata Pengantar untuk Sounds from the Corner

  1. Kalau dianalogikan, kualitas seorang Ahmad Dhani ditahun 90an dengan era millenium…bagai membandingkan Radiohead dengan Kangen band…..jauuuhhhh sekali perbedaan kualitas nya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s