Sungai dan Lelagu

Hari Senin (2/11) yang lalu, saya kembali ke Jogjakarta. Alam raya yang masih misterius, mempertemukan saya dengan Lelagu. Untuk kemudian jatuh cinta.

Kedai Kebun Forum, bukanlah tempat yang terlalu asing. Sudut-sudutnya yang hidup selalu bikin kangen. Yang berbeda kali ini adalah sebuah kesempatan berharga untuk bisa menyaksikan Sungai, salah satu band yang semakin membuat Jogjakarta menarik belakangan ini.

Sungai

Perkenalan pertama dengan Sungai beberapa waktu yang lalu ketika sedang mencari materi untuk siaran di program LOKALwisdom yang saya asuh di RURUradio. Proses berselancar membawa saya ke akun Soundcloud mereka. Ada satu lagu yang menarik hati. Judulnya Kelabu.

Bunyinya begini:

Saya mengunduh track itu. Karena terkesima begitu saja. Jadi, begitu ada kesempatan untuk membawa hubungan lebih jauh dengan menyaksikan mereka bermain live, tentu saja tidak akan dilewatkan begitu saja.

Kabar tentang Lelagu #17 diberitakan oleh kawan-kawan Silampukau yang memang kebetulan sedang tur di Jawa Tengah dan Jogjakarta dan dijadwalkan main di acara yang sama.

Kebetulan berikutnya, saya juga berada di Jogjakarta. Ini namanya konspirasi alam raya.

Lelagu

Sungai dan Silampukau berkontribusi pada sebuah ide besar yang akan diseriusi setahun-dua tahun ke depan untuk merekam kondisi sejumlah scene independen lokal di luar Jakarta. Menyaksikan mereka berdua malam itu, membuat ide ini siap digelontorkan. Tapi, mari bicara lain kali tentang ide itu, kita kembali dulu ke Lelagu.

Fakta bahwa ia telah berlangsung secara reguler selama tujuh belas kali menimbulkan kekaguman tersendiri. Setidaknya, seri ini telah bergulir lebih dari dua tahun. Dan komitmen untuk tetap bermain di skala dan sirkuit yang sama dalam waktu selama itu, harus diacungi jempol.

Pertunjukan kecil, merupakan jenis pertunjukan yang justru paling menyenangkan. Mandi cahaya dan tata suara menggelegar seolah tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan interaksi hangat yang mungkin tercipta dalam ruang yang kecil dan kuantitas penonton yang padat. Di sanalah perasaan komunal muncul dalam bentuk butiran keringat yang bergesekan, teriakan parau yang cacat nada atau mungkin tegukan-tegukan minuman yang dibagi dari sebelah ke sebelah, tanpa perlu mengenal satu sama lain.

Perasaan hangat itu purba. Dan pertunjukan kecil menyimpan seluruh sisi romantis manusia yang membagi ruang dan waktu untuk musik.

Lelagu, malam itu, menghadirkan hal yang sama. Berbagai macam pengalaman serupa dengan bangga mencatatkan dirinya di dalam memori yang saya punya di kepala, Lelagu mungkin menambah daftar sekaligus melestarikan kebiasaan yang selalu ingin diteruskan.

Di sanalah pula akhirnya saya bertemu dengan Sungai. Komposisi pemainnya begitu mentah. Pemain bas menghindari lampu tembak di sudut ruang yang gelap di sisi kanan sembari memandangi sepatunya –yang mungkin lebih ramah ketimbang muka penonton yang melihatnya dari atas ke bawah, termasuk saya—, pemain perkusi yang penuh semangat tapi sesekali bermasalah dengan sistem miking alatnya, dua vokalis yang mencoba ramah tapi belum punya jam terbang tinggi serta si gitaris yang nampak jelas punya peran besar membentuk musik band ini.

Sungai masih sangat mentah. Dan saya menikmati setiap detik kementahan itu. Ekstase melihat band baru yang sedang menjaring karir mereka, selalu menarik untuk diikuti. Ini darah baru yang harus disimak.

Decak kagum tidak henti muncul sepanjang set mereka. Sungai memilih untuk tidak memainkan Kelabu, salah satu lagu yang telah mereka rilis untuk publik. Saya tercekat ketika mengetahui bahwa set mereka telah usai.

“Lain kali deh ya, mas. Kita nggak latihan lagu itu, sudah bosan,” ujar salah satu vokalisnya ketika ditemui beberapa puluh menit kemudian ketika kami tidak sengaja berpapasan di area parkir Kedai Kebun Forum dan saya berusaha mempertanyakan keputusan mereka untuk tidak memainkan lagu itu.

“Gila!” pikir saya dalam hati. Bayangkan: Band baru, belum punya rilisan resmi, memiliki koleksi lagu yang sudah cukup untuk mini album, tapi bisa bosan dengan lagu yang bagus itu. Band ini punya karakter.

Karakter model begini, membuat mereka jadi hal terbaik dari Lelagu #17.

Yang harus dicatat juga adalah penonton Jogjakarta yang tidak berhenti bernyanyi bersama Silampukau sejak lagu pertama dimainkan. Malam itu juga jadi pembuka tur yang menyenangkan untuk mereka. Padahal, kita sama-sama tahu bahwa penonton kota ini tidak begitu ekspresif. Well, masih lebih mending ketimbang Bandung yang lebih suka melipat tangan sih. Haha.

Tanpa mengecilkan hal spektakuler yang dicatat oleh Silampukau, hal terbaik malam itu buat saya adalah menyaksikan Sungai bermain dan jadi bagian dari Lelagu. Semoga bisa dipersatukan kembali satu hari nanti. (pelukislangit)

6 November 2015
Kereta Sancaka; Jogjakarta-Surabaya
Ditulis dalam dua sesi; di Caruban dan dilanjutkan di sekitar Mojokerto

*) Video diambil dari akun Youtube Bioskop Semut Gajah
*) Foto Sungai diambil dari www.twitter.com/SungaiYK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s