Jogja Jogja Jogja

Venue kepayahan menampung minat orang yang datang. Lebih dari seratus orang tidak kebagian tiket. Jogjakarta kali ini, di luar dugaan.

Setelah Semarang, rombongan #RadioOfRockTour berpindah ke kota berikutnya, Jogjakarta. Kota ini punya banyak cerita untuk saya pribadi. Sampai hari ini, ada respek tertentu untuk seniman-seniman musik yang berbasis di kota ini. Terutama dalam hal mengapresiasi mereka yang memproduksi karya di dalam ruang-ruang kota. Mereka yang ada di kota ini paham persis bahwa pendekatan artistik sangatlah penting dalam memproduksi karya.

Sentuhan orang-orang Jogjakarta itu berbeda dengan kota-kota lain. Mereka, khas.

Mampir dan menyaksikan pertunjukan di kota ini nyaris selalu spesial. Termasuk leg kedua ini. Di Jogjakarta, amunisi bertambah banyak dengan keterlibatan Goodnight Electric yang menambah line up #RadioOfRockTour.

Langgeng Art Foundation (LAF) menjadi venue. Tempatnya tidak sebesar Auditorium RRI di Semarang. Jadi, kapasitas dengan sendirinya jadi lebih kecil. Itu mungkin menjelaskan kenapa lebih dari seratus orang tidak kebagian tiket.

Antrian mulai terjadi ketika jam makan siang tiba. Dan sekitar pukul tiga atau empat sore, tiket gelombang pertama sudah habis terjual. Ada sejumlah tiket tambahan yang memang dengan sengaja akan dilepas sekitar periode magrib. Itu juga dengan mudah ludes disantap calon penonton yang sudah mengantri.

Antusiasme luar biasa besar. Padahal, tiket tidak terlalu murah. Bandrolnya Rp.50.000,00. Itu jumlah yang lumayan tidak biasa untuk ukuran Jogjakarta.

Membiasakan tontonan berbayar adalah isu penting yang harus terus digulirkan. Membeli tiket adalah sebuah upaya untuk membuat ekosistem scene yang lebih sehat dari segi ekonomi. Bukannya materialistis, tapi dengan membuat organizer punya hitungan ekonomi yang waras, dengan sendirinya akan mendorong terciptanya banyak pertunjukan-pertunjukan seru di masa yang akan datang.

Kita, sekarang ada di dalam momentum yang bagus. Ekonomi membuat sebuah pertunjukan bisa didefinisikan dengan sangat baik. Organizer jadi punya pemasukan untuk membayar sound system, band yang main, orang-orang yang bekerja di dalam pertunjukan ini dapat honorarium untuk mengganti waktu yang mereka dedikasikan.

Semua jadi bisa senang bersama-sama.

Scene yang baik adalah lingkaran yang punya kadar take and give bagus. Itu yang terjadi dengan Jogjakarta. Saya datang ke LAF untuk makan siang. Tapi ternyata antrian sudah ada. Beberapa orang menunjukan niat yang besar untuk menyaksikan band-band ini tampil.

Sesungguhnya, venue memang tidak ideal. Kurang besar. Tapi, dengan segala keterbatasan itu, hari justru jadi super seru.

White Shoes and the Couples Company memulai pertunjukan. Di leg sebelumnya, mereka mengakhiri pertunjukan. Menyaksikan mereka main pertama sesungguhnya menjadi sebuah pengalaman yang seru. Band dengan jam terbang luar biasa tapi diletakan sebagai pembuka pertunjukan.

Alasannya sederhana. White Shoes and the Couples Company sedang berada di dalam rangkaian tur yang super padat. Selepas memainkan dua pertunjukan di Helsinki, band langsung meluncur dengan jalan darat untuk menyambangi Semarang dan Jogjakarta. Selang sehari, mereka harus main di Palembang dan lusanya berangkat ke Bali untuk beraksi di Soundrenaline 2015. Lumayan mampus kan?

Jadi, meletakkan mereka sebagai pembuka acara adalah sebuah kompromi untuk sedikit menghemat tenaga.

Setelahnya, beraksilah Goodnight Electric. Mereka sudah lama tidak bermain. Tapi, ya namanya juga band besar, pasti peminat banyak. Masih punya kemampuan untuk mengaduk-aduk perasaan orang yang datang.

Jagoan lokal, Sangkakala, ada di urutan berikut. Saya masih ingat, dulu pertama kali menyaksikan band ini lokasinya juga di LAF. Auranya memang bahaya sih band ini. Kemampuan mereka untuk menguasai panggung luar biasa bagus. Belum lagi efek bermain di depan crowd lokal yang memang akrab dengan materi-materi mereka.

Tidak heran crowd surfing ada di mana-mana. Begitu juga dengan intervensi orang pada sejumlah microphone yang ada di atas panggung. Brutal. Tapi indah.

The Upstairs ada di antrian selanjutnya. Pertunjukan magis yang disajikan di Semarang, dilanjutkan lagi. Malah lebih dahsyat. Beruntung juga mereka tampil setelah Sangkakala. Crowd sudah gila. Crowdsurfing juga berlanjut di sesi mereka.

Acara ditutup oleh Efek Rumah Kaca yang bermain tanpa setlist. Karena waktu banyak, mereka menambah sejumlah lagu. Termasuk memainkan Lagu Kesepian, salah satu lagu favorit yang sepertinya baru pertama kali saya lihat versi livenya.

Semaraknya Jogja membuat sebuah optimisme menguak; bahwa tur ini akan berlanjut ke kota-kota lainnya. #RadioOfRockTour bisa menjadi cetak biru untuk sebuah rangkaian tur berbayar yang mandiri dari segi ekonomi.

Tidak henti-hentinya mengutip Efek Rumah Kaca, “Pasar bisa diciptakan.” (pelukislangit)

GA421 – 7 September 2015// 20.28
Rumah Depok – 9 September 2015// 12.22

*) Tanggal 1-4 September 2015 kemarin, saya menjadi bagian dari #RadioOfRockTour yang digagas oleh RURUradio. Leg pertama ini mengunjungi Semarang dan Jogjakarta. Sebelumnya, rangkaian yang sama telah berlangsung di Jakarta. Menurut rencana, seri ini akan dibawa ke beberapa kota lainnya. Doakan kejadian. Beberapa tulisan di situs ini kemudian didedikasikan untuk merekam sejumlah hal menarik dari perjalanan ini.

*) Foto oleh Agung Hartamurti dari iRockumentary.

One thought on “Jogja Jogja Jogja

  1. Pingback: Pergi Tur, #radioofrockserial2 Dimulai | Felix Dass and his journeys to see the world.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s