Percaya dan Berfestival

“Saya akan melakukan ini sampai saya mati.”

Kalimat itu begitu kuat. Meluncur dari mulut Takuro Mizuta Lippit alias DJ Sniff di dalam sesi diskusi South East Asia Music Network: A Brief Look at Festival in Asia yang berlangsung hari Sabtu, 26 September 2015 kemarin di rangkaian RRREC Fest in the Valley 2015.

IMG_9171

Udara Tanakita Camping Ground tidaklah begitu dingin hari itu. Saya mengawal diskusi itu sebagai moderator.

Di balik penampilan kalemnya, DJ Sniff punya banyak kedalaman hasrat yang menarik untuk diikuti. Ia banyak bermain di ranah eksperimental. Kalau di Indonesia, bergaulnya deng geng noise yang bertebaran di sejumlah kota.

Selain menjadi musisi, ia juga pernah menjadi kurator untuk festival atau event musik. Saat ini berkecimpung di dunia akademis dan berbasis di Hongkong setelah sebelumnya sempat tinggal di Belanda.

IMG_5832

Yang membagi panggung dengannya ada tiga orang lagi; Kok Siew-Wai, seorang pekerja seni yang membagi wilayah karyanya di musik, pengorganisasian festival film dan sejumlah pertunjukan panggung yang membuatnya bereksperimen banyak. Lalu ada juga Hardinansyah atau yang akrab dipanggil Ardy, Festival Director Rock in Celebes serta dikenal luas sebagai penggiat aktivitas anak muda di Kota Makassar. Yang terakhir adalah David Karto dari deMajors. David dan perusahaannya berhasil membangun sebuah jaringan distribusi karya yang luas di Indonesia. Belakangan, ia juga mulai merambah pasar internasional untuk mendukung pencapaian sejumlah artis yang bekerja sama dengan deMajors.

Orang-orang ini punya cerita. Mereka berdiri untuk apa yang dipercaya dan musik menjadi kanal utama yang menjadi jalur perjalanan mereka.

IMG_5837

Kami berdiskusi di bawah pohon besar yang rindang, di sebuah pinggiran tebing tanah miring yang disulap menjadi satu titik cantik menikmati alam semesta.

Tema yang mengikat menjadi benang merah yang rasanya cukup ideal. Orang-orang yang menjadi narasumber saya punya pengalaman untuk mengorganisir festival dan ukurannya berbeda-beda. Ada yang skalanya ribuan dan bahkan puluhan ribu orang, puluhan atau bahkan ratusan.

Berfestival, sejatinya adalah pengalaman bertukar energi. Ukuran tidak harus besar, tapi selalu ada kisah untuk dibawa pulang kemudian. Untuk selalu dikisahkan kepada orang lain.

Berfestival, sejatinya bukan hanya menikmati pertunjukan yang berlangsung. Ia memberi kita ruang untuk memberi bumbu pada pengalaman itu lewat interaksi yang berseliweran tanpa pernah bisa ditebak arahnya akan lari kemana. Tidak jarang bahkan, ia membuka peluang-peluang baru untuk para pelaku seni di dalamnya.

Kalimat DJ Sniff itu menjadi kunci saya untuk mencatat pembicaraan kami.

Dengan berbagai macam angle dan motif, bahasan diskusi bisa jadi lumayan lengkap. Proses tarik-ulur untuk mencari bentuk ideal terjadi dengan sendirinya sepanjang kisah mereka.

Ardy, misalnya. Mulai tahun ini, festival yang ia asuh, Rock in Celebes, memasuki babak baru. Mereka akan menjalani tur lima kota di Pulau Sulawesi. Jika sebelumnya hanya terjadi di Makassar, maka mulai tahun ini, Rock in Celebes akan menjangkau Manado, Gorontalo, Palu dan Kendari.

IMG_5847

“Pasarnya ada. Dan menariknya, kemarin kita melakukan survei untuk menentukan line up. Yang keluar namanya ya band-band rock yang biasa kita dengarkan. Bukan mereka yang ada di jalur mainstream,” terangnya. Survei itu juga yang membuatnya yakin bahwa festival ini bisa keliling menyebarkan virus perubahan dalam tatanan hiburan musik bagi orang banyak di kota-kota yang relatif jarang dikunjungi band bereputasi nasional.

Rock in Celebes punya potensi menjaring ribuan orang di setiap penyelenggaraannya. Jadi, ini festival yang tidak bisa dibilang kecil ukurannya.

Kisah lainnya datang dari DJ Sniff. Paradoks membuat pertunjukan besar atau kecil selalu ada di sekitarnya.

“Dalam cerita saya, bikin festival itu sebenarnya bisa jadi ajang fund raising yang ok. Dengan festival, semuanya jadi lebih mudah. Meyakinkan funding untuk membiayai kegiatan kita pun lebih gampang kalau dibandingkan dengan one off show,” katanya.

Kalau Ardy bergantung pada sisi komersial festival yang muncul dari kapasitas penonton yang besar, hal sebaliknya berlaku dalam kasus DJ Sniff. Untuk menjalankan sebuah festival atau pertunjukan, ia mendapatkan funding dari berbagai lembaga donor internasional yang punya minat besar pada pengembangan budaya.

“Musik yang saya mainkan tidak punya crowd yang besar. Oleh karena itu, harus pintar-pintar bersiasat,” tambahnya lagi.

Siasat, juga jadi aspek penting yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja dalam kasus Siew-Wai.

IMG_5840

“Di tahun-tahun terakhir, kami harus bekerja sama dengan kampus untuk menjalankan festival film yang kami helat,” terangnya.

Kerja sama itu dimaksudkan untuk menarget sasaran festival dengan lebih intens. Supaya tepat sasaran audiensnya. Selain punya peran sebagai musisi, Siew-Wai juga punya minat yang sama besar pada dunia film.

Bertemu banyak orang di festival-festival juga punya guna banyak. Jaringan jadi melebar. Dengan jaringan yang berkembang, otomatis perayaan akan keunikan berbagai macam orang dengan festival-festival yang mereka usung jadi terkoneksi satu sama lain.

“Saya bertemu kawan-kawan baru di festival ini,” kata DJ Sniff.

Pertemuan fisik bisa jadi masih memegang peran penting dalam penyebaran karya dan membuka jaringan baru untuk bisa bertukar kesempatan main dan dimainkan. Maklum, kebanyakan artis yang bisa berkeliling memainkan pertunjukan mereka, biasanya juga punya kemampuan untuk mengorganisir pertunjukan di tempat asal mereka. Jadinya, semua mutual.

Koneksi ini, biasanya memang perlu dibangun dalam obrolan-obrolan melihat mata yang uniknya, masih belum bisa diterabas oleh internet.

“Mengirim email panjang tidak pernah berhasil meyakinkan saya,” kata Siew-Wai.

DJ Sniff menambahkan, “Waktu pertama kali datang ke Indonesia, saya bertemu sejumlah teman baru di Jogjakarta. Salah satu yang saya temui adalah Wok the Rock. Dia bilang, ‘Kita tuh nggak percaya kamu ada kalau kamu nggak menunjukan muka kamu di kota ini.’ Untungnya akhirnya saya datang ke Indonesia dan bisa bertemu banyak talenta bagus.”

Melakukan kunjungan, ternyata bisa menjadi proses penting dalam kurasi artis yang mereka lakukan.

“Internet membuat banyak orang bisa memanipulasi apa yang mereka tampilkan. Kadang bagus rekamannya, tapi mainnya jelek banget. Kadang yang jelek banget, bisa jadi menarik. Itu kenapa kita perlu meluangkan waktu untuk datang langsung ke sini,” tambahnya.

Pertemuan lintas batas ini, kadang-kadang juga menjadi titik hulu dari sebuah perjalanan internasional artis. Di dalam koridor penyebaran karya, David Karto punya contoh bagus.

IMG_5846

“Kami membantu Adhitia Sofyan dan Marco Marche melakukan deal internasional mereka. Awalnya dari orang-orang yang lihat Youtube lalu mengontak kami untuk mendapatkan rekaman, mereka sekarang sudah menjadi licensor untuk album-album yang mereka suka,” terangnya.

Pasar Jepang yang unik, kini telah diselami oleh Adhitia Sofyan. Marco Marche akan menyusul dalam waktu dekat.

“Kalau kami percaya bahwa internet menjadi titik penting untuk penyebaran karya. Oleh karenanya kita selalu mendorong artis yang punya kerja sama dengan kita untuk aktif di internet dan menjadi corong untuk dirinya sendiri,” lanjutnya.

Memang, berdasarkan cerita-cerita lalu, pengalaman membuktikan bahwa begitu karya tersebar luas, potensi berkeliling di festival-festival luar jadi besar. Walaupun, cara yang sebaliknya juga masih bisa memberikan peluang yang mungkin sama besar.

Diskusi kami berjalan positif dan menarik. Keterlibatan audiens juga lumayan. Beberapa orang ikut berdiskusi ketimbang hanya mendengarkan. Rasanya, semua punya kesepakatan yang tidak terucap bahwa perubahan selalu diperlukan untuk membuat keadaan jadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Dari ceritanya, orang-orang yang saya pandu untuk berdiskusi kemarin itu punya api yang sangat besar. Mereka sangat paham tentang apa yang mereka lakukan. Skalanya tidak penting, tapi merajut koneksi dan membangun jaringan diperhatikan dengan sangat. Semuanya berbalut niat yang besar.

Melakukan hal yang disukai, adalah berkah yang luar biasa. Mengutip Tan Malaka, “Kemewahan adalah idealisme terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”

Orang-orang ini hidup bermewahan dalam idealisme mereka. Mereka mengubah paham standar bin dangkal bahwa idealisme harus dikubur habis di dalam diri jika ingin bertahan hidup menghadapi dunia. Mereka beda dari yang biasa.

IMG_9169

Mereka berfestival dan karenanya melihat hal baru yang bisa diterjemahkan dalam bentuk karya. Dan karenanya juga, saya jadi percaya apa yang dibilang oleh DJ Sniff di awalan tulisan ini.

Menarik, bukan? (pelukislangit)

Rumah Benhil
28 September 2015
29 September 2015

Foto oleh Agung Hartamurti/ iRockumentary

5 thoughts on “Percaya dan Berfestival

  1. Tulisannya bagus Bung.

    cuma ada yang mengganjal: sepertinya ada kata yang tertukar posisinya di kutipan ini:

    “Kemewahan adalah idealisme terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”

    Silakan dicek kembali, mungkin saja saya yang keliru.

  2. padahal festival musik juga perlu ada ketika radio sudah tidak mendukung adanya keadaan band independen . masih ada tp di jakarta sudah agak kurang kecuali oz radio substereo dan hitz fm segmen indinesia. padahal band independen juga punya reputasi bagus makanya festival musik juga ngasih tahu masih ada band-band independen yg punya reputasi baik . ex java jazz dr sisi festival mereka gak menayangkan artis barat maupun indo dr sisi main stream jd sidestreamnya juga oke jd mereka bisa mengetahui oh masih ada musik bagus gak cuma itu-itu aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s