2015 yang Bergelora

Tahun 2015 adalah catatan penting untuk perjalanan scene independen Indonesia. Begitu banyak rekaman bagus dirilis. Masing-masing menganut cerita yang menarik. Daftar ini disusun serampangan, tidak berdasarkan peringkat. Tercatat setidaknya ada tiga puluh album manis yang dirilis tahun ini. Yang ditayangkan di #LOKALwisdom adalah lagu-lagu yang menjadi favorit personal. Tidak melulu single yang dirilis oleh artis bersangkutan. Kalau dihitung rataan, itu berarti tiga album setiap bulannya. Angka yang luar biasa menarik untuk dicatat. Couldn’t be happier than this. (pelukislangit)

Efek Rumah Kaca – Jingga
Album: Sinestesia

Sinestesia

Album penuh ketiga yang menyaksikan bagaimana Efek Rumah Kaca berubah menjadi monster yang menakutkan dengan karya mereka. Sangat dalam dari segi materi tulisan, panjang-panjang dan mungkin mengecewakan bagi kamu yang mencintai lagu singalong Efek Rumah Kaca. Yang ini, mendeskripsikan bagaimana mereka layak dikenang sebagai salah satu band Indonesia paling baik yang pernah dihasilkan generasi kita.

Silampukau – Malam Jatuh di Surabaya
Album: Dosa, Kota dan Kenangan

Kalau boleh memilih, ini adalah album terbaik tahun 2015 menurut saya. Ia mengembalikan keseruan mendengarkan sebuah album secara utuh dari depan sampai belakang. Terlebih, ia membawa banyak gerbong kisah menarik dari Surabaya, kota tempat mereka berasal yang selama ini lebih dikenal sebagai kota konsumen ketimbang produsen musik bagus di scene independen. Senang menyaksikan band ini berjalan jauh sepanjang 2015. Konon, mereka sedang menyiapkan sesuatu yang baru untuk tahun depan. Video oleh Giri Prasetyo.

Don Lego – Nyamuk
Album: Melaju Perlahan

Ska tidak pernah mati. Album Melaju Perlahan adalah salah satu pembuktian yang paling mutakhir. Don Lego berasal dari Bandung dan merajai berbagai macam pertunjukan ska di kota itu beberapa tahun terakhir. Mereka trengginas dan sangat bertenaga.

Ramayana Soul – Jayaraga Jiwa Mirangga Bhineka Tunggal Ika
Album: Sabdamantra

Pendekatan musik yang jarang mampir di sekitar saya. Belum menemukan format terbaik, tapi ini debut album Sabdamantra milik Ramayana Soul sangatlah menjanjikan. Tugas kita semua, tinggal menyimak konsistensi perjalanan mereka untuk mencapai titik yang lebih baik. Salah satu indikatornya adalah penampilan live yang makin baik dari hari ke hari. Bermain di ranah perkawinan musik tradisi dan kontemporer, tidaklah mudah. Terlebih merekamnya. Album ini adalah percobaan yang bagus.

Sungai – Kelabu
Album: Arus

Salah satu artis yang paling membekas dari petualangan saya di Soundcloud tahun ini. Menyaksikan mereka main langsung di salah satu seri Lelagu di Jogjakarta yang ciamik. Jatuh cinta pada pandangan pertama dengan single Kelabu yang kemudian dirilis di album Arus ini. Sungai, adalah cinta berikutnya dari tanah Jogjakarta yang tidak pernah berhenti memberikan pesona magisnya. Folk yang unik; tiga vokalis, gitaris, pemain bas yang malu-malu dan pemain perkusi/ drum yang terlihat kelebihan energi. I am a fan!

Doyz – Distrik 21 (with Blakumuh)
Album: Oblivion

Setelah tiga belas tahun tidak merilis karya, Doyz kembali ke arena. Mulutnya sompral dan apa yang ia teriakan punya tempat spesial untuk tahun ini. Saya selalu punya hormat untuk mereka yang terus secara sadar berkarya dalam durasi waktu yang panjang. Doyz ada di dalam kumpulan orang-orang itu. Bagaimanapun, melakukan sesuatu yang kamu senangi dengan kecepatan penuh, menunjukkan bahwa selalu ada hasil manis di balik seluruh dedikasi dan pengorbanan.

Polka Wars – Lovers
Album: Axis Mundi

PolkaWars_AxisMundi_itunes

Saya masih ingat salah satu momen terbaik di Joyland Festival 2013. Pelakunya adalah Polka Wars. Sejak saat itu, karya mereka ada di daftar yang harus disimak. Tahun ini, dua tahun kemudian setelah pertemuan pertama itu, akhirnya Axis Mundi, debut album Polka Wars, tiba. Anak-anak muda ini punya energi besar dan bisa menerjemahkan apa yang mereka mau dari sebuah negosiasi musik antar personilnya. Lovers adalah sesuatu yang beda di Axis Mundi. Pemain drum, Giovanni Rahmadeva, mengambil alih posisi vokalis utama di lagu ini.

Navicula – Merdeka
Album: Tatap Muka

Ketika memutuskan untuk menjadi pekerja independen bulan Agustus 2015, lagu ini menjadi pengiring setia. Belakangan, albumnya juga disantap beberapa kali. Single Merdeka ini diambil dari Tatap Muka, sebuah album yang dirilis dalam bentuk dvd oleh Navicula, band lawas asal Bali. Pendekatan musikalnya berbeda, mereka memainkan musik akustik. Empat orang personilnya punya kesepakatan bermusik yang menarik untuk disimak. Ada yang segar, kendati amarah yang mereka bawa selalu sama.

Stars and Rabbit – You Were the Universe
Album: Constellation

Tidak mudah punya album yang bocor ke orang banyak sebelum waktu edarnya. Tapi, kalau memang musiknya bagus, rasanya tetap akan dikonsumsi dan dirayakan orang banyak. Tidak masalah kadaluarsa atau tidak. Kasus ini terjadi pada album Constellation milik Stars and Rabbit yang materinya telah bocor sejak beberapa tahun sebelumnya. Akhirnya mereka bisa merilisnya dalam format album penuh yang baik. Vokal magis Elda adalah peluru paling depan yang akan membombardir pendengar. Sulit untuk tidak kagum pada karya mereka.

Barasuara – Hagia
Album: Taifun

Band paling panas di scene independen lokal Indonesia tahun ini. Memulai segala sesuatunya secara organik; bermain di tempat kecil, membuat orang menggemari mereka dan memaksa menghafal lagu-lagunya kendati belum dirilis. Persis seperti romantisme mencintai band di 90-an akhir. Begitu album dirilis, ledakan yang dahsyat tidak bisa dihindari. Hagia adalah single favorit yang begitu personal. Pilihan yang selalu akan diambil ketika harus menentukan lagu terbaik dari album Taifun.

AriReda – Di Restoran
Album: Menyanyikan Puisi

CD ARIREDA

Sampai hari ini, di tahun ke-33 mereka bersama, AriReda beru menghasilkan dua buah album penuh. Tidak produktif, memang. Tapi keduanya penuh sihir. Album ini adalah bukti paling baru bahwa vokal dan gitar memang bisa mengubah cerita banyak orang. Di usia yang tidak lagi muda, mereka masih menggenggam etos DIY yang kental. Bisa jadi contoh tentang perjuangan membela musik sampai ke usia dewasa. Di Restoran adalah puisi karya Sapardi Djoko Damono yang dilagukan dan punya efek menyihir sampai ke tulang sumsum.

The Kuda – Hantu Laut
Album: Satu Aku, Sejuta Kalian

Made in Bogor. And proud. Duta besar punk rock Bogor yang selalu cuek dengan apa yang ingin mereka katakan lewat karya-karya mereka yang singkat, jelas dan padat arti. Hantu Laut adalah salah satu satunya. Etos DIY mereka panutan.

Vague – 23
Album: 23/ Nothing 7”

Band rock yang unik. Tiga jurus penuh amarah dari mereka yang terlihat tidak punya masalah dengan hidup. Diambil dari 7” yang harganya sudah meroket, padahal baru pre-order. Lagu 23 menandakan eksplorasi Vague ke arah yang sedikit berbeda dengan apa yang telah mereka rekam di album Footsteps yang keren itu. Menyimak mereka secara konstan adalah kesenangan tersendiri. Coba deh.

Bedchamber – Frowning
Album: Portside (Split EP with Cotswolds)

Portside

Indiepop tengtongtengtong generasi baru yang agak gagap bicara Sarah Records tapi fasih dengan Wild Nothing. Generasi penuh cahaya yang merdeka. EP Portside adalah rilisan mereka yang kedua. Senang menemukan mereka berkembang dan menjelajahi banyak hal baru setelah merilis Perennial EP yang jadi omongan banyak orang itu. Bakal jadi tinta tebal untuk scene independen lokal. Tapi, proses memang harus dinikmati. Saya, cinta setengah mati sama Bedchamber. Awas salah tulis, tidak pakai “S”; Bedchamber, bukan Bedchambers.

Orkes Moral Pengantar Minum Racun – Mengadili Persepsi
Album: Orkeslah Kalo Begitar

PMR

“Intisari merdeka” bukan “Individu merdeka”. Frase keren milik Seringai diubah aura suaranya menjadi mengalun. Sebuah reka ulang yang efektif untuk kembali ke arena setelah berpuluh-puluh tahun absen. Tipe musik tongkrongan yang pasti mengundang tawa lancang. Come on, siapa bisa menolak goyang karena dangdut yang menyenangkan?

Banda Neira | Gigih Gardika | Layur – Langit dan Laut
Album: Kita Sama-Sama Suka Hujan

Diambil dari dokumentasi resmi proyek konser Kita Sama-Sama Suka Hujan yang sama sekali jauh dari kata sempurna. Tiga musisi ini berkolaborasi menghasilkan sebuah album live yang mengajak orang merekonstruksi kedua konser mereka. Sesekali sambil membuat orang yang tidak bisa datang ke konser tersebut, termasuk saya, menyesal setengah mati. Andaikan waktu bisa diputar ulang, hanya untuk bernyanyi bersama dan bertepuk tangan.

Kelompok Penerbang Roket – Anjing Jalanan
Album: Teriakan Bocah

Kelompok Penerbang Roket adalah paket lengkap musik rock. Fuck you attitude yang kental, permainan panggung yang tidak perlu penjelasan saking bagusnya dan materi album yang enak untuk diteriakkan bersama-sama. Tahun ini, mereka merilis dua album sekaligus. Teriakan Bocah merupakan album yang tertunda. Rasanya, tidak ada yang bisa menghentikan laju mereka. Oh, mungkin terali besi bisa. Baik-baik ya. Main cantik aja.

Garna Ra – Mahluk Dini Hari
Album: Benua yang Sunyi

Garna Ra - Benua yang Sunyi

Gitaris grindcore yang punya proyek folk, indie rock dan album instrumental. Lengkap. Berbagai macam sisi referensi yang ia santap berhasil keluar kembali dalam sejumlah karya musik yang fenomenal. Kebanggaan Semarang, putera terbaik yang tidak pernah berhenti bereksplorasi. Benua yang Sunyi menegaskan bahwa album instrumental bukan hanya punya musisi klasik atau jazz saja. Anak metal juga bisa bikin.

Sore – 8
Album: Los Skut Leboys

Sore

Musik bagus adalah sesuatu yang menempel dalam diri Sore untuk menuju keabadian. Kendati banyak joki terlibat di dalam perjalanannya. Identitas mereka tetap kental. Suara Ade Paloh dan Awan Garnida berpadu-padan dengan kompak di single 8 ini. Menandakan bahwa mereka akan ada di sini untuk waktu yang lama.

Sajama Cut: Bloodsports
Album: Hobgoblin

Sajama Cut - Hobgoblin

Judul album yang sulit untuk dilafalkan, bukan berarti isi yang juga sulit untuk dicerna. Malah sebaliknya, album ini lumayan bisa dipahami dengan mudah. Karya pertama Sajama Cut dalam beberapa tahun terakhir. Mungkin, Marcel Thee menemukan tim kerja yang ajeg kali ini. Beberapa orang dari album sebelumnya bertahan dan masih masuk di daftar musisi yang mengerjakan album ini. Formula sudah enak, semoga bisa bertahan lama yang ini.

Asteriska – Distance
Album: Distance

Tidak banyak orang sadar bahwa Asteriska, seperenam dari Barasuara, memiliki album solo yang dirilis beberapa bulan sebelum bandnya mengeluarkan debut album fenomenal mereka. Ia mengejar pencapaian berbeda di proyek solonya. Lebih melodius dan enak didengarkan ketika ujung hari datang mengunjungi. Sangat direkomendasikan.

Sarasvati – Ananta Prahadi
Album: Ratimaya

Setelah absen beberapa album, akhirnya saya membiarkan Sarasvati kembali ke kehidupan saya. Sebelumnya, saya berhenti mendengarkan karya mereka karena lirik-lirik biadab yang seramnya bukan main. Saya penakut, tidak rela membiarkan Risa Saraswati masuk ke ruang-ruang hidup dengan lirik satanisnya. Haha. Ratimaya adalah album yang menyenangkan. Semoga juga, keberanian segera kembali dan saya bisa menyimak beberapa album Sarasvati setelah Story of Peter dan sebelum Ratimaya.

ATSEA – Sober
Album: Bleak Tropics

Made in Canada. Made by Indonesian. Anak Indonesia yang terdampar di Vancouver, menghasilkan sebuah album yang seru. Dirilis juga oleh label panas bernama Kolibri Rekords. Lengkap.

Taring – Nazar Palagan
Album: Nazar Palagan

Album rock yang seru. Mereka mengembalikan romantisme mendengarkan musik-musik hardcore dengan lirik penuh kritik sosial yang perlu banyak asupan kalori untuk mendengarkan atau menulisnya. Nazar Palagan adalah debut yang cantik untuk turun ke arena dan berkecimpung di dunia rock.

Kaveh Kanes – Night Shift
Album: Capital

Kaveh Kanes - Capital

Juga rilisan Kolibri Rekords yang begitu cinta akan indiepop. Kaveh Kanes adalah band yang paling tua dari segi usia dalam katalog roster label itu. Yang ini jelas mengenal Sarah Records. Haha. Berasal dari Jogja dan punya album yang menarik. Semoga bisa sering-sering melihat mereka bermain langsung dengan tata suara yang tidak begitu menggelegar.

Endah N Rhesa – Liburan Indie
Album: Seluas Harapan

Akhirnya, Endah N Rhesa menemukan format ideal untuk merekam lagu-lagu mereka. Album ini sangatlah menyenangkan. Album pertama yang seluruh liriknya ditulis dalam Bahasa Indonesia. Selain kemapanan bermusik, lirik bahasa ibu juga membuat mereka mudah dipahami. Komplit rasanya: Punya aksi panggung yang luar biasa hebat dan album rekaman yang bisa dinikmati dari depan sampai belakang tanpa harus dikunjungi perasaan bosan.

Bequiet – Corner of the Throne
Album: Age of Dinosaur

Bequiet

Bequiet

Orang-orang tua. Tapi masih punya nafsu besar pada punk rock dan hard core. Ya, hasilnya begini; sebuah cd yang seru. Punya jejak masa lalu sekaligus masa depan yang entah akan diseriusi atau tidak. Masih kuat bermain belasan lagu dalam set pendek. Tapi, entah untuk berapa sering. Nikmati saja selagi mereka masih ada di sekitar, Bequiet for life!

Sigmun – Vultures
Album: Crimson Eyes

Sigmun - Crimson Eyes cover art

Akhirnya album penuh! Album penuh yang dingin dari depan sampai belakang. Tapi sangatlah menyenangkan. Mereka berhasil menyajikan album yang begitu terkonsep dan sangat matang. Hampir tidak ada lagi sisa Land of the Living Dead yang ada di film The Raid. Yang ada adalah layer gitar yang tebal, vokal menghantui milik Haikal Azizi. Kalau ingin membuat daftar album terbaik tahun ini, rasanya wajib memasukan Crimson Eyes di dalamnya. Saya baru saja melakukannya.

Ditulis di Rumah Benhil/ RuangRupa/ Kedai Tjikini
29-31 Januari 2015
Foto-foto diambil dari berbagai macam sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s