Home: Penyanggah yang Sementara

MOCCA Home (normal)

Mocca membuktikan kalau mereka bukanlah mitos masa lalu. Album Home yang merupakan album penuh keempat mereka setelah My Diary, Friends dan Colours, memberi penegasan bahwa mereka belum mati dan masih jadi salah satu andalan scene musik independen Bandung yang perkembangannya tidak menarik.

Ada fakta masa lalu bahwa Bandung pernah menjadi pusat kehidupan scene musik independen Indonesia dengan banyak talentanya. Nama-nama besar berderet kalau mau menengok lembaran sejarah. Kita mengetahui bersama bahwa itu adalah potongan masa lalu yang paling banter hanya layak hidup di level kenangan. Dalam satu dekade terakhir, rasanya hanya tinggal Mocca –tentu saja—, The SIGIT, Sarasvati, Burgerkill dan Tulus yang bisa punya tempat reguler di panggung nasional. Selebihnya, bermain di sirkuit kecilpun tidak mudah.

Sejarah, adalah serangkaian peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Buat saya, Mocca sempat nyaris terjerembab ke lubang itu ketika mereka merilis mini album Dear Friends yang tidak punya nyawa beberapa tahun yang lalu. Untungnya, mereka punya banyak energi untuk menyadarkan diri sendiri bahwa mereka adalah salah satu fenomena terbesar scene Indonesia lokal sepanjang sejarah.

Album My Diary yang laku keras lebih dari tiga belas tahun yang lalu, Friends yang kelewat canggih untuk scene musik lokal di tahun 2004 dan Colours yang menunjukkan kematangan sekelompok orang yang bermain musik beberapa tahun kemudian, menjadi pemahat prasasti Mocca untuk punya cerita di hidup orang banyak. Home, kini mengikutinya. Menegaskan status legenda yang layak disandang Mocca.

Menyimak album ini, senada dengan perasaan senang yang muncul ketika menyambut teman lama yang datang membawa kabar baru.

Melihatnya berkembang melintasi waktu, menyaksikan keberaniannya mencoba berbagai macam hal yang belum pernah disentuh sebelumnya dan mendengarkan keluh kesah yang bergulung seiring usia yang bertambah, merupakan pengalaman yang walaupun bisa diprediksi sebelumnya, tetap menarik.

Mari bicara musik. Mocca mencoba sebuah pendekatan baru yang mau tidak mau harus mereka terapkan di album ini. Arina Ephiphania, vokalis, hijrah ke Amerika Serikat dan fakta ini membuat mereka melakukan rekaman jarak jauh.

Riko Prayitno masih punya taji sebagai penulis lagu bagus yang punya konsistensi papan atas. Dia mendominasi, seperti biasa, dan lagu-lagu di Home memanjangkan status itu.

Secara personal, saya suka lagu You’re the Man yang punya aura ceria. Persis seperti sebuah pertemuan dengan teman lama yang datang membawa kabar baru tadi. Keramaian yang muncul di You’re the Man seolah memprovokasi tubuh untuk bergoyang dan mengikuti irama semi dansa yang dikandungnya.

Lagu Bandung (Flower City) juga merupakan track yang mencuri perhatian, sebuah tribute manis untuk kota yang telah mengisi hari-hari masing-masing orang di band ini. Sekedar catatan, dari empat orang personil asli band ini, hanya Arina Ephiphania yang tumbuh besar di Bandung. Riko Prayitno, Indra Massad dan Toma Pratama adalah pendatang yang kemudian menemukan kecintaan mendalam pada Bandung dan berbagai macam isinya.

Ini videonya:

Kemampuan aransemen yang brilian membuat lagu ini layak diulang-ulang dan berputar terus.

Mocca diberkahi dengan talenta besar untuk bisa merangkai nada dengan kualitas yang sangat baik. Home merupakan contoh terbarunya. Saya sudah mencobanya sejak beberapa hari yang lalu; menjadikannya soundtrack pergi ke kantor. Itu berarti, sudah membiarkannya berputar secara reguler minimal dua ronde satu sesinya.

Ada beberapa lagu lain yang mencuri perhatian. Single andalan Changing Fate yang menampilkan Cil dari The Triangle –band Riko Prayitno yang lain— merupakan sebuah lagu balada yang nuansanya sedikit berbeda dengan single-single Mocca sebelumnya. Mungkin karena karakter vokal Cil yang sedikit gelap terdengar begitu kontras dengan Arina Ephiphania yang terlalu matang dan ceria.

Ini videonya:

Sebaran lagu bagus yang merata dimiliki oleh Home. Dan itu, menjadikannya punya pengalaman seru untuk didengarkan. Karena ia jadi tidak membosankan. Dan juga karenanya, Mocca tetap ada di tempat yang sama dengan berbagai macam ceritanya.

Jauh di lubuk hati paling dalam, saya punya harapan besar album ini dan kehebatannya bisa memprovokasi scene independen kota Bandung untuk lebih produktif memproduksi karya-karya bagus atau berusaha keras membuat banyak seri musik bagus untuk dihadiri. Sungguh menyiksa untuk terus hidup di dalam kenangan dan menyimpan pikiran –yang semoga tidak permanen— bahwa scene musik independen Bandung tidak menarik.

Mocca dan segala macam kerja kerasnya untuk Home, sedikit banyak memberikan harapan yang positif bahwa saya salah besar dengan pikiran itu. Ah, tapi biarlah waktu yang menjawabnya.

Oh ya, satu lagi, Home dirilis dengan standar kualitas Mocca; kemasan cover yang ciamik dan di luar akal sehat.

Ini video tutorialnya:

Selamat mendengarkan Home! Saya menyukai album ini. (pelukislangit)

Kedai Tjikini – 17 Januari 2015 | 20.38
Rumah Benhil – 18 Januari 2015 | 11.33

Tambahan satu video lain dari Home, berjudul Imaginary Girlfriend:

3 thoughts on “Home: Penyanggah yang Sementara

  1. like when you said : Friends yg kelewat canggih untuk scene musik lokal di tahun 2004🙂
    yeah, indeed.. their music is awesome!

  2. Argh! Belom sempet beli CDnya, dan tulisan ini bikin tambah ngiler buat segera beli & dengerin sealbum. Btw, sampai sekarang (ie. sampai Colours), Friends adalah album Mocca favorit gw #1. Let’s see if it will change.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s