White Shoes and the Couples Company – Live at Superbad #60

WSATCC (1)

Udara Jakarta Pusat dini hari ini mengajarkan saya untuk bersyukur atas kondisi yang ada di dalam genggaman. Saya baru saja mandi di tengah malam, menghilangkan bau rokok dan menetralisir sedikit pengaruh alkohol di dalam diri. Rambut panjang yang basah dibalut buntelan handuk membantu saya untuk lebih khusyuk menulis. Maklum, harus menunggu kering untuk bisa tidur sedikit lebih nyenyak.

Saya tahu bahwa kondisi saya di kantor Senin ini akan sedikit lemas karena kurang tidur. Tapi, hidup buat saya selalu merupakan benturan berbagai macam kepentingan. Negosiasi dengan keadaan senantiasa hadir dan perlu dengan apik dimainkan, supaya seluruh kepentingan bisa diakali dan dijalani.

Ok. Sebelum rambut panjang ini bau rokok dan saya terlalu banyak minum bir malam tadi, ada Superbad edisi ke-60. Perjalanan yang sangat panjang untuk seri musik paling ciamik milik Jakarta ini. Ada 3 band yang main tadi: Stars and Rabbit, White Shoes and the Couples Company dan Empat Lima, band asal Australia yang statusnya sebelum main adalah band antah berantah.

Mereka kebetulan baru memulai turnya di Indonesia dan dikabarkan sangat terpengaruh oleh Dara Puspita yang namanya kesohor tapi musiknya misterius itu untuk generasi sekarang. Tapi, saya enggan membahas Empat Lima. Musik mereka bagus, menarik kemasannya dan tidak punya isu jelek. Tidak ada masalah, mereka bagus. Kalau kamu punya waktu menyaksikan mereka main di kota kamu, silakan datang.

Yang tidak bisa dilupakan malam ini adalah penampilan salah satu anak kandung Jakarta yang paling manis: White Shoes and the Couples Company.

Processed with VSCOcam with g3 preset

Sepanjang berlangsungnya seri Superbad, sudah 60 malam menyenangkan bergulir. Banyak sekali band yang berkali-kali main di seri ini. Karena memang suasananya luar biasa hebat, kebanyakan dari mereka ketagihan dan mengukir banyak kenangan.

Di level personal, masing-masing orang di White Shoes and the Couples Company seringkali terlihat seliweran di seri ini. Manajer flamboyan mereka, Indra Ameng, adalah salah satu dari 2 orang di belakang seri ini. Satu yang lainnya adalah Keke Tumbuan yang juga beberapa kali terlibat dalam dokumentasi visual White Shoes and the Couples Company. Tapi sebagai band yang main?

Mereka, tentu saja, sudah beberapa kali main. Masing-masing punya kenangan, tapi yang baru terjadi beberapa jam yang lalu benar-benar luar biasa.

“Kayaknya kita terakhir kali main pas baru rilis Album Vakansi deh, Lix,” kenang Saleh Husein yang kebetulan ada di dekat saya beberapa saat sebelum naik panggung.

Suasana The Jaya Pub malam itu sedikit berbeda. Saya tiba sekitar pukul 21.05 WIB, Berry Muchtar, teman baik saya yang khusus ingin menyaksikan White Shoes and the Couples Company mengabarkan langsung ketika dikontak, “Gila, sudah penuh nih. Tumben bener.” Biasanya, kalau datang pukul segitu, suasana belum ramai. Pertunjukan normalnya akan dimulai pukul 21.30 WIB.

Benar saja, begitu menuju pintu masuk untuk membayar cover charge, antrian sudah dimulai. “Ini aneh,” pikir saya dalam hati. Tidak biasanya Superbad punya crowd sebanyak ini. Hampir bisa dipastikan, nama White Shoes and the Couples Company yang tertera di pengisi acara jadi alasan utama.

“Parah, ini penuh banget,” kata Rio Farabi yang kemudian menyusul Saleh Husein masuk ke pinggir panggung tempat saya berdiri dan mengamankan spot untuk malam tadi.

Teman saya yang lain, Rudolf Dethu, juga mengaku kaget melihat antrian yang lumayan panjang di pintu masuk. “Gila, nggak nyangka bisa panjang gitu antrian,” ujarnya singkat.

“Gue harus nyetop orang masuk, Lix,” kata Keke Tumbuan, si tuan rumah. Kalimat itu seolah menjadi konfirmasi bahwa lalu lintas orang yang datang di luar kebiasaan. Pencapaian baru, rasanya.

Stars and Rabbit membuka malam. Mereka juga sudah punya pengikut loyal yang fasih bernyanyi di beberapa komposisi karangan sendiri. Menyenangkan rasanya menyaksikan band yang model begini; belum punya rekaman penuh, tapi sudah bisa menarik perhatian orang secara konstan.

Ketika band ini bermain, masing-masing personil White Shoes and the Couples Company merapat ke tempat saya dan Berry Muchtar duduk. Kemudian, Dimas Ario, teman baik saya yang lain juga datang. Posisi kami lumayan enak, ada di samping panggung dan di belakang speaker aktif yang bikin kuping pengang.

Saya dan Dimas sempat ngobrol dengan Sari Sartje yang malam tadi mengenakan atasan biru yang membuatnya semakin manis. “Iya, ini buatan ibu gue, Lix. Kayaknya motifnya ada India sama Padang gitu,” jelasnya kepada saya dan Dimas ketika ditanya tentang baju biru yang ia kenakan.

Orang-orang di White Shoes and the Couples Company selalu bisa memberikan kehangatan dalam obrolan-obrolan kecil. Itu adalah salah satu kelebihan mereka ketimbang banyak band lain. Keenam personilnya punya kemampuan yang setara untuk hal yang satu ini, termasuk John Navid dan Aprimela yang cenderung terkesan pendiam. Padahal sama sekali tidak.

Saya kemudian mengintip setlist yang sudah mereka susun untuk pertunjukan tadi. Shekill, salah satu kru mereka menginformasikan bahwa mereka akan memainkan 8 lagu. “Nggak banyak kok, cuma 8,” katanya pada saya.

Setlistnya seperti ini:

WSATCC (2)

Kebanyakan lagunya berasal dari album White Shoes and the Couples Company Menyanyikan Lagu Daerah. Dan ada banyak lagu keren ditinggalkan. Serunya, crowd yang ada seolah tidak peduli melihat lagu-lagu yang dimainkan oleh band ini. Yang penting goyang dan bernyanyi bersama.

Untuk selera personal, setlist malam tadi tidak diisi lagu-lagu favorit. Tapi ya itu tadi, menyaksikan White Shoes and the Couples Company bermain bukanlah barang mewah. Tapi menyaksikan yang model di Superbad semalam itu yang mewahnya bukan main. Ini contohnya:

Saya dan semua orang yang datang malam tadi beruntung, bisa menyaksikan pertukaran energi yang hebat. Tempat kecil yang pengap seolah menambah bumbu.

Padahal, ada beberapa masalah muncul tanpa diundang. Gitar Rio, misalnya, ngadat ketika dimainkan dan itu membuatnya perlu meminjam gitar milik Stars and Rabbit sebagai bala bantuan. Atau waktu menyetting alat yang lumayan lama.

Semua hambatan remeh itu rasanya bisa hilang begitu saja melihat reaksi yang dimunculkan oleh semua orang di ruangan The Jaya Pub malam tadi. Rasanya belum pernah lebih ramai dari semalam. Ketika melihat sekitar dari sisi kanan panggung, saya menyaksikan level adrenalin semua orang nampak mendekati puncak.

Masing-masing pelayan The Jaya Pub tampak super sibuk dengan order minuman yang tidak berhenti. Belum lagi upaya keras untuk menembus kerumunan orang untuk mengantarkan pesanan itu. Beberapa bahkan terlihat melepas rompi hitam mereka. Mungkin karena panas.

Semua orang di sudut-sudut The Jaya Pub juga begitu. Ada yang sibuk bernyanyi sambil memelototi penampilan Sari Sartje, ada yang bergoyang seolah tidak ada hari esok atau ada juga yang berteriak-teriak kegirangan. Semuanya karena White Shoes and the Couples Company.

Uniknya, menurut pengakuan John Navid, White Shoes and the Couples Company pernah memainkan pertunjukan yang lebih intim dari yang terjadi malam tadi.

“Dulu waktu ke Malang pertama kali, kita main di tengah tempat kecil gitu. Asli nggak ada panggung dan kita di tengah-tengah. Yang barusan ok lah, tapi yang di Malang itu lebih gila sih,” katanya kepada saya beberapa puluh menit setelah turun panggung.

Merekam memori tentang malam tadi adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Senang bisa menjadi bagian dari pertunjukan luar biasa yang selalu bisa tercipta dengan baik di langit Jakarta.

Menjelang pulang, saya mendapati ada beberapa sisa poster Superbad yang memang dijual untuk orang. Saya membelinya. Untuk melengkapi malam yang indah, saya meminta tanda tangan Indra Ameng dan Keke Tumbuan di atas poster itu. Malam super indah seperti malam tadi, tidak bisa lewat begitu saja. Harus didokumentasikan!

Hari Senin saya berlangsung baik. Kenapa? Karena saya selalu punya alasan untuk melawan segala macam tipe sickness yang mendera. Ingat, kontrol selalu ada di tanganmu. Bukan orang lain. (pelukislangit)

WSATCC (4)

9 Juni 2014 – 02.28 di Rumah Benhil
9 Juni 2014 – 16.22 di Kantor Tangerang

Gambar lain dari Superbad #60 semalam:

Superbad vol.60 Agogo : Empat Lima, White Shoes and The Couples Company, Stars and Rabbit

2 thoughts on “White Shoes and the Couples Company – Live at Superbad #60

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s