Slank Nggak Ada Matinya (Film): Gagal Memperlakukan Slank dengan Sebagaimana Mestinya

Slank Nggak Ada Matinya (1)

Tahun 2013 yang lalu, Slank menginjak usia 30 tahun. Perjalanan panjang untuk sebuah kelompok musik. Usianya sepantar dengan saya, hanya beda beberapa bulan. Saya bisa membayangkan ada sekian banyak fragmen kehidupan yang mampir berkunjung. Dan itu, sudah cukup untuk membuat sebuah cerita jadi kaya.

Hanya ada satu orang yang masih bersama Slank sejak awal sampai sekarang, Yang Mulia King Bimbim. Sisanya, adalah orang-orang yang datang di pertengahan cerita. Formasi yang sekarang dikenal luas ini, adalah formasi ke-14. Tentu, bukan deretan nomor yang pendek.

Slank, di tahun 2014, adalah band paling populer di tanah Indonesia Raya. Tidak ada yang bisa menyanggahnya. Kalau ia mau mendebat, orang itu gila.

Untuk merayakan ulang tahun ke-30, salah satu monumen yang didirikan untuk orang banyak adalah film Slank Nggak Ada Matinya. Namanya sama seperti judul album terkini milik mereka.

Film Slank Nggak Ada Matinya masih berputar di sejumlah bioskop di Indonesia. Saat tulisan ini dibuat, sudah memasuki pekan ketiga. Film ini dirilis 24 Desember 2013. Ini merupakan cobaan ketiga mendokumentasikan kisah Slank dalam medium film. Yang pertama adalah film super njlimet Garin Nugroho berjudul Generasi Biru dan dokumenter mantap yang kepanjangan berjudul Metamorfoblus milik Dosy Omar.

Cobaan ketiga ini mengambil kerangka publik yang sangat luas, sebuah karya populis yang menampilkan sosok Slank bertahan dari badai yang terjadi setelah era Minoritas di 1995 sampai dengan cerita usang tentang kesembuhan mereka dari narkoba di awal 2000-an.

Lima orang personil Slank tampil sebagai cameo di film ini. Sementara, sosok mereka diperankan oleh lima orang pemuda ganteng yang terlalu manis untuk sosok visual lima anggota Slank yang asli.

Slank Nggak Ada Matinya (5)

Ricky Harun dan Adipati Dolken terlalu ganteng untuk memerankan sosok Kaka dan Bimbim. Pemeran Ivanka tampak begitu putih untuk memainkan Ivanka. Wig pemuda yang jadi Abdee Negara terlalu palsu. Dan yang terakhir, laki-laki yang jadi Ridho Hafiedz terlalu pantas untuk jadi pemain utama Take Me Out Indonesia. Haha.

Maafkan karena saya lupa siapa nama asli tiga orang lain yang jadi anggota Slank selain dua nama selebriti ganteng yang disebut pertama tadi.

Slank yang ditampilkan di sini, benar-benar terlalu manis. Padahal, sosok Slank itu adalah representasi laki-laki Indonesia yang sesungguhnya; ia tidak manis, tapi kuat karena tempaan banyak elemen waktu yang menguji secara konstan.

Slank Nggak Ada Matinya (4)

Rasanya, hanya Slank yang bisa menebas batasan sosial, mulai dari kaum marjinal, kelas menengah ngehe sampai eksekutif muda di bawah 40 tahun. Tapi secara visual, sosok mereka yang ada di film ini, tidak menggambarkan fakta itu.

Itu kekurangan mendasar film ini. Bahkan untuk sebuah kemasan hiburan pun nampaknya tidak begitu appealing. Karena tidak bisa mendekati hal yang real.

Coba bandingkan misalnya dengan cara Cameron Crowe memotret kehidupan band di dalam Almost Famous. Tidak perlu bicara eksekusi yang sudah jelas kalah kelas, tapi bagaimana sebuah band hidup saja rasanya tidak kena.

Misalnya, kisah si groupie yang terus menerus mengejar sosok Kaka dengan agresif. Keagresifannya itu –terlepas dari cantiknya minta ampun—, tentu saja membuat lawan jenis tidak tertarik. Saya saja yang 1000x kalah menarik ketimbang Kaka, tidak mau didekati perempuan seperti itu. Bagaimana dengan Kaka yang biasa ada di pusaran magnet ketertarikan perempuan? Sosok itu, tidak natural.

Itu kelemahannya.

Slank Nggak Ada Matinya (2)

Persoalan untuk tidak menjadi senatural mungkin dengan kisah aslinya, memang jadi momok yang tidak mudah ditaklukkan. Itulah yang tidak nyambung dengan kenyataan. Tampak jelas, ada banyak titik kompromi yang dilakukan dan penambahan drama yang membuat kening mengernyit karena tampak terlalu dramatis.

Kisah Slank ini bicara tentang sejarah soalnya, jadi selalu akan ada orang-orang seperti saya yang bersedia menggugat kalau ia nampak butut. Saya membela sosok Slank, band yang menyertai saya tumbuh sampai ada di titik ini. Tidak rela rasanya digambarkan seperti ini.

Kalau boleh memilih, lebih baik perlakuan Garin Nugroho yang njlimet di Generasi Biru ketimbang si sutradara ini pada kisah Slank di film ini. Pilihan paling juara kelas, tentu saja Metamorfoblus yang lebih mudah dinikmati 1000x karena merupakan film dokumenter.

Bagian paling bodoh dari film ini adalah ketika lima personil Slank digambarkan lari di pinggir pantai dengan kecepatan dan koreografi yang sama. Tanya sama semua laki-laki normal yang sosoknya mirip seperti Slank, apakah mungkin adegan itu mereka lakukan?

Slank Nggak Ada Matinya (3)

Jawabannya 99,9% pasti tidak. Kalau pun ada yang jawab ya, pasti itu juga sampling error. Haha. Berlebihannya parah.

Film Slank Nggak Ada Matinya ini tidak ok. Tapi, saya sudah menunaikan kewajiban saya sebagai seorang Slankers. Anggap saja ini seperti album Too Sweet Too Forget yang butut dan saya harap dihapus dari katalog Slank. Toh, dengan tidak sempurnanya Slank, itu membuat saya dan jutaan Slankers di luar sana tetap waras; bahwa Slank tetaplah manusia yang bisa punya momen jelek dalam kisahnya. (pelukislangit)<a

7 Januari 2014
16.48
Kantor Dharmawangsa

*) Terima kasih kepada Yelika yang sudah mau menemani suaminya dan saya –yang penggemar berat Slank— untuk nonton.

Slank Nggak Ada Matinya (6)

One thought on “Slank Nggak Ada Matinya (Film): Gagal Memperlakukan Slank dengan Sebagaimana Mestinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s