Sepakbola, Musik dan Rumah

Beberapa akhir pekan yang lalu, saya menulis sebuah tweet:

Menarik rasanya kemudian berpikir lebih lanjut dan menuliskan ceritanya. Karena memang, sepakbola, musik dan kemudian tentu saja rumah, memang memberikan banyak hal penting untuk saya. Jadi, ketika kemudian seluruh hal itu berpadu-padan di dalam waktu yang sempit, kenangan yang ditimbulkan lumayan berbekas.

Hal pertama yang terjadi adalah sepakbola. Sepakbola, dalam beberapa minggu ini, membawa saya mengembara ke banyak wilayah-wilayah yang tidak pernah berani saya bayangkan sebelumnya. Kantor tempat saya bekerja mengambil peranan penting untuk memberikan pengalaman-pengalaman ini.

Kalau kamu menebak ini tentang Piala Eropa, tidak. Salah. Yang ini tentang tim sepakbola bernama Queens Park Rangers atau disingkat QPR. QPR adalah tim sepakbola Liga Inggris yang disponsori oleh AirAsia. QPR akan bermain di Surabaya, bagian dari tur pertama kali dalam sejarah mereka ke Asia. Tentu saja lagi, kantor yang mensponsori kedatangan mereka ke kawasan ini.

Saya diberi tanggung jawab untuk mengurusi proyek ini. Setelah sejumlah persiapan tahap awal, akhir pekan kemarin ada sebuah kunjungan survei dari tim QPR ke Surabaya. Sebelumnya mereka juga melakukan hal yang sama di Kuala Lumpur dan Kota Kinabalu, dua kota lain yang juga akan disinggahi di dalam tur kali ini.

Yang datang dalam rombongan pertama ini adalah tiga orang staff klub yang ternyata berhasil membuat saya dalam posisi begitu dekat dengan sumbu sepakbola dunia. Awalnya, saya berpikir bahwa liburan saya ke tanah Inggris tahun lalu itu sudah cukup membuat saya dekat sebagai seorang penggemar sepakbola. Ternyata tidak. Dalam tempo beberapa bulan kemudian, alam raya membuat saya menjadi lebih dekat lagi.

Ketiga orang tersebut adalah Euan Inglis (commercial director), Damian Roden (head of performance club) dan Caroline Shea (PA of Mark Hughes). Awalnya, saya pikir mereka hanya staff biasa yang dikirim untuk melihat persiapan tur dan mengecek segala sesuatunya. Ternyata setelah berdiskusi dengan mereka dan kemudian berbincang tentang peran dan fungsi mereka sehari-hari, semuanya tidak sederhana.

Damian Roden adalah nama yang ternyata –setelah mengecek di Google— pernah bekerja dengan almarhum Gary Speed di tim nasional Wales. Ia juga terlibat dalam masa bakti Mark Hughes di Blackburn Rovers. Ia bisa disebut punya pengalaman banyak di dalam bidang sports science.

Nama yang juga membuat saya takjub adalah Caroline Shea. Ia asisten pribadi Mark Hughes yang sudah berbakti di QPR sejak 14 tahun yang lalu. Ia mengalami banyak perubahan rezim di dalam klub itu. Mulai dari jaman Bernie Ecclestone – Flavio Briatore sampai Neil Warnock dan Tony Fernandes.

Yang satu lagi, Euan Inglis, adalah orang yang mengurus sisi bisnis klub dan diserahi tanggung jawab besar untuk membuat segala sesuatunya menjadi kenyataan. Ia bertanggung jawab untuk seluruh deal yang berurusan dengan uang dan pengelolaan hak pertandingan. Jadi, di dalam kunjungan ini, ia lebih berurusan dengan aspek komersial seperti tayangan langsung, harga tiket, isi stadion dan banyak hal lainnya yang beririsan dengan bidang komersial.

Ada banyak faktor yang mereka cek di Surabaya kemarin. Yang paling penting adalah memilih hotel tempat tim tinggal dan kemudian melihat fasilitas lapangan yang disediakan oleh promotor.

Tugas saya sederhana, mengawal kepentingan kantor saya berkaitan dengan sisi komersil yang masuk di dalam rencana besar rangkaian tur ini. Jadi, saya tidak perlu terlalu detail mengurus teknis pertandingan karena memang itu tidak masuk di dalam rangkaian tugas yang harus saya selesaikan.

Lalu kemudian, karena satu dan lain hal, saya pun harus bertugas menjadi penerjemah untuk mereka. Kebetulan waktu dan ruang juga memungkinkan. Jadilah, saya bolak-balik ke Gelora Bung Tomo dua kali sepanjang akhir pekan kemarin.

Terlepas dari mereka bermain di sisi liga yang mana –liga yang mereka mainkan tidak kompetitif—, Persebaya Surabaya harus berterima kasih pada pemda Jawa Timur yang membangun Gelora Bung Tomo. Stadion megah itu sejatinya punya kualitas yang bagus di dalamnya. Fasilitasnya lumayan lengkap hanya saja sisi luar stadionnya masih belum sepenuhnya komplit.

“Itu dipaksakan diresmikan, pak,” kata supir mobil sewaan yang kami gunakan di akhir pekan kemarin. Bisa jadi, yang ia katakan benar. Karena sepanjang mata memandang, fasilitas di luar stadion sama sekali minim. Parkir yang jauh, lalu ilalang yang tumbuh di mana-mana, belum lagi beberapa pintu yang sudah kena rusak oleh Bonek yang memaksa masuk ke dalam pertandingan tertentu. Standar Indonesia kalau dipikir; dikasih fasilitas bagus tapi selalu punya masalah mental dalam pemeliharaan dan menjaganya tetap bagus.

Semua survei yang dilakukan kemarin berlangsung lancar. Sepanjang bulan Juli 2012 ini, fokus kerja saya ada di proyek ini. Sangat menantang dan tidak sabar menunggu tanggal 23 Juli 2012 tiba.

Setelah menghabiskan dua hari di Surabaya, saya memutuskan untuk bertolak ke Bandung dengan penerbangan langsung kantor. Tujuannya konser Dear Friends Mocca di Teater Tertutup Taman Budaya Dago.

Karena weekend dan hari libur, tiket dengan maskapai lain sudah melambung tinggi. Jadi, bos saya sama sekali tidak keberatan begitu saya mengajukan rute pulang yang model begini. Karena memang menghemat waktu dan juga membuat segala sesuatunya lebih enak untuk semuanya; budget hemat dan saya juga praktis langsung tiba di Bandung.

Saya punya misi untuk menyaksikan mereka bermain kembali dan menuliskan ceritanya untuk minggu depan. Terlepas dari tugas yang menanti, menyaksikan Mocca kembali bermain itu lumayan menyenangkan.

Saya pergi bersama Anis Suryo, teman sehati saya kalau sudah berurusan dengan konser musik. Anis datang bersama salah seorang temannya dan menjemput saya di Bandara Husein Sastranegara yang tukang taksinya amit-amit cabang bayi.

Karena ada keterlambatan penerbangan, saya baru tiba satu jam setelah jadwal asli. Supir taksi yang membawa saya ke tempat konser menyebalkan. Sepertinya ia tidak punya hasrat untuk mengerjakan profesinya. Lumayan bikin mangkel sih, tapi ya namanya harus tiba cepat ke lokasi, apa boleh buat harus dinikmati.

Kami tiba di lokasi konser sedikit telat, kurang lebih tiga puluh menit. Ketika tiba, Mocca sedang memainkan Hyperballad, lagu kover yang aslinya dinyanyikan oleh Bjork. Segera setelah mengurus akreditasi, saya memasuki ruangan konser.

Mocca bermain di depan crowd mereka sendiri. Sejumlah fans fanatik ada di barisan depan. Rasanya lumayan asing untuk saya. Mocca yang saya saksikan di depan mata semalam itu, adalah band yang sudah mengembara ke banyak ranah semenjak perpisahan bisnis saya dengan mereka tahun 2008 lalu.

Sepanjang masa bakti saya di FFWD Records, saya berurusan lumayan sering dengan mereka. Termasuk di dalamnya jalan ke banyak kota untuk mengawal proses promosi yang dijalankan band ini. Interaksi yang lumayan banyak ini membuat saya lumayan paham karakter bandnya. Tapi, yang kemarin saya saksikan adalah Mocca yang berbeda.

Dari segi kualitas permainan, mereka tetap juara kelas. Yang jadi menu utama yang menurut saya hal paling penting malam itu adalah menyaksikan Arina Ephiphania bermain di posisinya.

Dalam wawancara yang saya lakukan setelah pertunjukkan, masing-masing anggota bandnya tidak punya ekspektasi banyak akan masa depan dengan nama Mocca. Arina pun akan kembali ke Amerika bulan Juli 2012 ini. Jadi, memang konsernya hanya untuk bersenang-senang.

“Ini sih hanya untuk menyenangkan Swinging Friends aja, Lix,” kata Riko Prayitno. Satu kalimat yang cukup membuat justifikasi positif kenapa saya membela diri untuk ada di Bandung malam itu.

Saya tidak menginap karena memang lebih memilih untuk pulang ke rumah. Jadi setelah beramahtamah dengan sejumlah teman lama di lokasi konser, saya langsung menuju ke pool Xtrans di Cihampelas Bawah bersama Anis. Saya pulang dengan keberangkatan pukul 23.45, sementara Anis pulang dengan jadwal berikutnya pukul 01.45.

Celakanya, saya kena delay lagi. Akrab rasanya dengan kata ini. Ternyata ada kemacetan luar biasa di jalan tol beberapa jam sebelumnya. Itu membuat jadwal berantakan. Akhirnya bus baru tiba satu jam kemudian. Supir makan malam dulu sebentar, baru kemudian lanjut ke Jakarta lagi.

Dalam kondisi letih, sudah pasti pilihan terbaik adalah tidur. Saya memilih adegan itu untuk mengisi dua jam setengah perjalanan ke Jakarta. Rasanya, mulai gerbang tol Pasteur saya sudah terlelap. Bangun-bangun sudah di depan Mampang. Haha.

Untuk sebuah akhir pekan yang padat, boleh ya ceritanya? (pelukislangit)

 
1 Juli 2012
Rumah Kalibata, 18.47

One thought on “Sepakbola, Musik dan Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s