Belajar Jadi Media yang Lebih Cerdas

Untuk SalingSilang.com 

Saya bukan orang yang suka perayaan. Tapi, dari apa yang terjadi hari ini, ada baiknya sedikit melakukan perenungan. Selamat hari pers!

Bertahun-tahun saya punya passion yang besar dengan urusan pers. Saya menjadi penulis dan melakukan apa yang saya cintai sepanjang waktu, bahkan di dalam pekerjaan sehari-hari pun skill menulis saya masih berperan penting mengisi tantangan-tantangan pekerjaan.

Tapi saya tidak mau menjadi wartawan. Untuk saya, menjadi wartawan itu pekerjaan yang sulit karena harus berurusan dengan kewajiban yang sifatnya mengikat untuk menulis dalam sebuah kurun waktu tertentu guna memenuhi tengat yang ditentukan di sebuah kapasitas media. Saya tidak bisa bekerja seperti itu. Karena menurut saya, menulis adalah sebuah perayaan kemerdekaan bercerita saya sebagai seorang manusia.

Antusiasme saya akan dunia pers masih terjaga dengan baik sampai hari ini, ketika wajah pers sendiri sudah berubah banyak ketimbang, misalnya, 10 tahun yang lalu.

Sekarang, media online, punya peranan penting. Mereka punya kemampuan untuk menerabas batasan waktu dengan menyajikan berita yang nyaris mendekati real time. Begitu juga social media yang menjamur, terutama Twitter. Semuanya punya kapabilitas yang menyeramkan; mereka mampu menyajikan segala sesuatunya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Ada sisi jelek, kadang proses dasar jurnalistik yang menjadi dasar sebuah media, terabaikan. Alasannya sederhana, momen harus dikedepankan ketimbang akurasi. Target membuat media online berlomba menyajikan berita. Yang penting, jangan sampai ketinggalan dari lapak sebelah.

Hari ini, di pekerjaan, saya mengalami ujian penting sebagai seorang pegawai. Ada kasus yang menggelundung dengan kencang yang berkaitan dengan pekerjaan saya. Ini bukan tentang bagaimana kasus tersebut. Tapi, hari pers ini mengajarkan saya dan (semoga) juga sebuah media berpotensi bernas untuk tetap berpegangan erat pada yang namanya prinsip-prinsip jurnalistik.

Ini tentang saya yang mengoreksi SalingSilang.com. Silakan masuk ke situs mereka untuk mengetahui dengan lebih baik seperti apa itu SalingSilang.com. Situs ini merekam banyak fenomena social media yang terjadi di –mungkin pasar paling unik sedunia— Indonesia.

Kisah di pekerjaan itu masuk dalam monitor mereka sehingga kemudian ditulis. Linknya bisa dicek di sini:
http://salingsilang.com/baca/niat-tulus-ida_baik-dan-proses-berbelit-dari-airasiaid

Paragraf terakhir dari tulisan itu, aslinya berbunyi begini:

Saya tahu dengan pasti, kalau itu adalah sebuah kesalahan besar. Kenapa? Coba lihat link ini:

https://twitter.com/#!/AirAsiaId/status/167446703530713088

 

Pihak brand merespon keluhan si penumpang yang merasa dirugikan hanya dalam tempo 50 menit setelah tweet terakhirnya, dilakukan pukul 10.16 WIB.

Ada proses yang salah dalam penulisan awal perekaman aktivitas social media yang dilakukan oleh SalingSilang.com. Dan celakanya, kesalahan itu elementer sekali.

Situs ini, hanya menambahkan intro dan outro yang celakanya, mengubah persepsi orang banyak yang memang sudah menjelma menjadi jalanan satu arah terhadap si brand. Ini bukan masalah apakah si brand benar atau tidak. Menurut saya, pemaparan si penumpang sudah sangat komprehensif. Siapapun yang membaca tulisan itu, tentu saja punya pemahaman yang cenderung seragam.

Akan tetapi, SalingSilang.com –dengan kesalahan fatalnya yang menihilkan proses check and recheck—seperti memperkeruh suasana. Saya terusik, karena memang yang mereka sajikan di tahap awal adalah sebuah kesalahan fatal yang mungkin bisa membuat banyak orang punya pengertian yang berbeda terhadap masalah yang sedang terjadi.

Media, menurut saya, memang tidak akan lepas dari kepentingan. Mereka bisa dengan mudah memutarbalikkan fakta atau menggiring opini publik ke banyak arah. Tapi, ketika sebuah media melakukan kesalahan fundamental, kredibilitasnya jadi pertanyaan.

Itu yang terjadi pada Detik.com di dalam hidup saya. Begitu juga untuk 12paz.blogspot.com. Tapi, saya tidak ingin ini terjadi pada SalingSilang.com. Mereka, sebenarnya punya guna positif bagi scene social media Indonesia yang perilaku pasarnya sangat sulit ditebak ini.

Tapi, sebuah penyajian artikel, tetap harus diramu dengan baik. Ada proses jurnalistik yang harus dihormati. Bukan berarti kalau anda penggiat social media, pemerhati social media, atau sekedar pemantau social media, bisa dengan mudah menafikan prinsip dasar jurnalistik ketika menulis untuk orang banyak.

Saya mencari kontaknya dan ingin langsung mengoreksi kesalahan ini. Karena, buat saya pribadi, ini merugikan. Saya menemukan Twitter si penulis tapi lebih memilih awalnya untuk menulis komplain resmi via email. Pada akhirnya, saya dipertemukan kepada sejumlah nama yang sudah pernah saya kenal sebelumnya. Akhirnya arah penyelesaian sedikit diubah, coba berkomunikasi dengan Twitter.

Maka, ini yang saya tweet pada mereka yang terlibat pada SalingSilang.com:

https://twitter.com/#!/felixdass/status/167515472949030912

Lalu dibalas seperti ini:

 

Saya balas lagi seperti ini:

 

Si penulis melakukan kesalahan. Ia mereply tweet saya seperti ini:

 

Dan saya, yang masih perlu menyampaikan pendapat saya, membalas panjang lebar seperti ini:

 

Tidak ada komunikasi lanjutan dari penulis. Tapi Motulz, orang yang saya kenal lebih dulu, merespon bahwa keadaan akan segera diperbaiki.

Gambar di atas dan tweet saya adalah yang sebenar-benarnya saya harapkan secara pribadi pada SalingSilang.com. Mereka punya potensi dan rasanya bisa mengemban tanggung jawab untuk menjadi pintu besar ilmu pengetahuan untuk orang banyak. Apa yang terjadi hari ini, seharusnya pembelajaran bahwa menangkap trend bukanlah sekedar menggenggamnya erat di dalam pelukan lalu kemudian merilisnya semudah membalikkan telapak tangan.

Pada akhirnya, saya salut pada keberanian mereka melakukan revisi berita. Itu modal bagus. Saya selalu percaya institusi itu hebat ketika orang-orang di dalamnya berpikir terbuka dan mau mengakui kalau mereka salah.

I salute you. Terima kasih atas respon komunikasi yang enak. Semoga kalian jadi lebih baik di masa yang akan datang. Cheers!

Sekali lagi, selamat hari pers! (pelukislangit)
Kantor Cengkareng, 9 Februari 2012
20.22

 

One thought on “Belajar Jadi Media yang Lebih Cerdas

  1. 🙂 terimakasih mas, saya sangat belajar dari postingan ini. Dengan kelalaian saya kemarin, dan seperti yang saya sudah ungkapkan lewat tweet, saya akan jadi lebih baik karena masukan yang sangat membangun..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s