Supir India

Kalau kamu merupakan seorang pengemudi aktif di Jakarta, musuh utama adalah supir Metromini atau Bajaj. Bukan begitu? Atau malah pengendara motor?

Jakarta sepertinya sudah cukup semrawut untuk urusan lalu lintas. Tapi, kalau datang ke India, terutama kota-kota besarnya, kamu pasti akan bersyukur bahwa kamu hidup di Jakarta.

Keadaan lalu lintas kota-kota besar di India jauh lebih semrawut ketimbang Jakarta.

Satu faktor utama yang benar-benar bikin kacau adalah perilaku pengemudi kendaraan bermotor di India. Dan itu sifatnya general, dalam artian, hampir semua pengendara kendaraan bermotor punya sifat ‘kacau’ dalam mengemudi.

‘Kacau’ saya terjemahkan sebagai perilaku kasar dalam mengemudi, serta tidak teratur. Keteraturan sepertinya dibuang jauh-jauh dari cara mereka mengemudi.

Saya punya beberapa contoh.

Pertama, saya sedang menumpang sebuah rickshaw –semacam becak— menuju stasiun Delhi Metro dari rumah nenek saya. Jalanan yang kami lalui waktu itu memang rusak. Lubang ada di mana-mana. Jadi, kepandaian supir rickshaw untuk mencari jalan yang ‘baik’ adalah sebuah kelebihan.

Supir rickshaw saya memilih untuk naik trotoar. Kami mengarah ke utara. Dari arah berlawanan, ada sebuah auto rickshaw –yang ini mirip bajaj di Jakarta— yang berisi sekitar empat atau lima orang.

Biasanya, auto rickshaw bisa memuat enam orang sekaligus di dalamnya. Dia berfungsi sebagai angkot di sejumlah daerah perumahan di Delhi.

Ketika satu sama lain semakin mendekati, supir saya ini sama sekali tidak mau mengalah. Begitu juga dengan supir auto rickshaw ini. Dua-duanya sama-sama pasang hidung. Begitu papasan, dua-duanya sama-sama buang arah. Keduanya buang arah ke kiri.

Sudah bisa ditebak arah ceritanya, terjadi persenggolan antara dua kendaraan ini. Untungnya, saya duduk di tengah. Rickshaw saya terbangun dari besi super kuat. Jadi benturan kerangka itu hanya menimbulkan suara yang kencang.

Selepas benturan itu, supir rickshaw saya menoleh ke belakang. Niatnya hanya untuk memastikan bahwa saya tidak apa-apa. Tapi, ia menambah senyum di wajah. Saya juga jadi tertawa. Mungkin memang cara mainnya seperti itu ya.

Tidak perlu marah juga.

Ini gambar pemandangan dari rickshaw yang saya naiki:

P1040145 (Large)

Kedua, kejadian ini terjadi di Kolkata. Suatu hari, saya memutuskan untuk menyewa mobil bersama sepupu dan tante saya. Menyewa sebuah mobil dirasa lebih menguntungkan ketimbang menggunakan kendaraan umum waktu itu. Karena pada masa itu, hampir seluruh penduduk Kolkata bersiap menyambut Durga Puja.

Saya akan menulis tentang Durga Puja satu hari nanti. Pada intinya, keberadaan Durga Puja membuat semua orang tumpah ke jalan mencari baju baru. Karena mereka harus menggunakan baju baru selama lima hari berturut-turut.

Keadaan itu membuat mencari kendaraan umum di malam hari menjadi sebuah persoalan besar yang harus dihindari.

Suatu malam, kami sudah selesai berkeliling Kolkata. Di perjalanan pulang, si supir mobil sewaan terlibat adu kencang dengan mobil sebelah. Kondisi kota yang tidak lengang, sepertinya membuat rivalitas tidak penting itu menjadi semakin menantang untuk mereka.

Di satu belokan, si mobil sebelah ingin mengambil dari kanan. Si supir mobil sewaan tidak mau mengalah dan menutup jalan itu. Akhirnya terjadilah benturan.

Dalam kunjungan sebelumnya ke India, saya juga pernah terlibat dalam sebuah tabrakan. Jadi kejadian yang mungkin terjadi setelah tabrakan sudah terbayang di dalam kepala. Tidak terlalu kaget jadinya.

Benturan rivalitas tidak penting tadi, menghasilkan efek yang cukup parah untuk si mobil sebelah. Bemper depannya copot dan sontak dia langsung mengerem mendadak.

Hebatnya, supir saya berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Dia tidak menambah kecepatan sama sekali dan tidak punya inisiatif untuk berhenti melihat kerusakan apa yang ia timbulkan.

Sepupu dan tante saya juga santai-santai saja tampaknya. Well, santai dalam artian hanya mengeluh tanpa melakukan apa-apa.

Ini gambar saya dan tante saya di dalam mobil sewaan gila itu:

P1050211 (Large)

Saya? Yah, saya hanya sekali lagi bisa tersenyum. “Ini negara gila,” pikir saya.

Dua kejadian tadi cukup menjelaskan bagaimana orang India punya gaya mengemudi yang ‘parah’. Kejadian pertama terjadi di Delhi di kota yang memang auranya sangat keras. Kejadian kedua terjadi di Kolkata, kota yang auranya berbeda dengan Delhi. Kolkata lebih ‘tenang’ dan jauh lebih nyaman untuk ditinggali.

Di Delhi, hampir sulit ditemui bentuk mobil yang utuh tanpa cela. Kebanyakan sudah penyok atau minimal tanpa kaca spion. Kalau ada kaca spion pun, biasanya dilipat ke dalam.

Skill mengemudi di India sepertinya cukup tinggi. Saya sih tidak berani mengemudikan kendaraan di India.

Jika ada pepatah lama di tanah Jakarta, “Hanya Tuhan dan supirnya yang tahu kalau bajaj mau belok,” nah di India harus dimodifikasi tuh.

“Hanya Tuhan dan supirnya yang tahu kalau semua kendaraan mau belok.”

Saya acungi dua jempol kalau ada dari kamu yang membaca tulisan ini yang punya keberanian untuk mengemudikan kendaraan di India.

9 thoughts on “Supir India

  1. Hi there, I read many of ur post about India.
    Awesome!
    Very informative.
    I’m planning to go to India this year.
    And ur blog is pursuing me to go there very soon…😄

  2. hahaha…..lucu banget mas ceritanya…..saya sampe ga bisa berhenti tertawa…..padahal salah seorang teman saya ada yang pembalap jalanan lho di india….ga kebayang bagaimana dia mengendarai motornya….hahaha
    dia bilang pernah perjalanan kantor yang harusnya ditempuh 30 menit jadi cuma 12 menit saja…..hahaha….pasti dia ngebut banget tuch…..

  3. “Suatu malam, kami sudah selesai berkeliling Kolkata. Di perjalanan pulang, si supir mobil sewaan terlibat adu kencang dengan mobil sebelah. Kondisi kota yang tidak lengang, sepertinya membuat rivalitas tidak penting itu menjadi semakin menantang untuk mereka.”

    HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAHAA…. Aku bisa ngebayangin ini pasti aneh banget dan lucu dan absurd serta serem.

    Temanku juga bilang, di sana sudah biasa orang tuh nabrak trotoar atau jalur 2 kendaraan jadi bisa untuk 5 kendaraan. Dahsyat!

  4. wahhh cool story ya🙂
    mas , saya rencana mau ke shimla next year , tapi masih buntu mengenai dana yang dibutuhkan , ada link gak yg bs sbg referensi ? thanks yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s