Thur

Thur_KECIL

Jarak membentang. Kadang tidak sepadan dengan waktu tempuh yang seharusnya dijalani. Wajar menjadi kata sifat yang membingungkan. Parameternya terlalu cair, kadang segini, kadang segitu.

Toh, memang ada fase-fase yang harus dijalani.

Berbagi, membagi, dibagi dan terbagi menjelma menjadi tahapan berikutnya. Ada satu kebiasaan yang sudah seharusnya dimulai. Rutinitas lama yang kemudian menjadi berstatus “disesuaikan”.

Jadilah, mixtape ini dirangkai. Isinya dipikirkan di dalam beberapa kesempatan. Tidak mudah, karena memandang perlu untuk mempertimbangkan beberapa suasana. Ia, secara keseluruhan, berbenang merah: Untuk memicu energi keluar dan beraksi.

Ada banyak partikel masa lalu yang dipanggil untuk berkontribusi pada kesatuan suara ini. Buat sebuah awal, mereka dipercaya untuk membentuk sebuah monumen yang memang dirancang berdasarkan kesepahaman akan sejumlah hal personal.

Waktu diperlukan. Tapi, sekali lagi, memang ada fase-fase yang harus dijalani.

Ini yang pertama. Dan ia akan berkelanjutan.

01. Band of Horses – Laredo
Rasa Amerika dipercaya mengawali. Ada dua kutub utama yang harus ditilik di masa depan; Amerika dan Inggris. Semoga gitar yang berlari-lari bisa membangkitkan semangat, persis seperti bangun pagi dari tidur yang cukup dan menatap matahari yang belum terlalu tinggi.

02. Polyester Embassy – The Answer Is No
Hidup di sekitar mengandung banyak kandungan fuck you attitude yang memang selalu perlu untuk dilestarikan. Sinergi, tidak perlu tunduk. Toh, hidup memang membaptis manusia untuk selalu berusaha keras. Dan itu kemudian menjadi kodrat yang harus didamaikan. Belum tentu kesepakatan terjadi, tapi kesepahaman bahwa keragaman itu diperlukan sebaiknya ada.

03. Belle and Sebastian – Sunday’s Pretty Icons
Mengalun, mengalun dan mengalun. Sesudah membiarkan matahari yang belum terlalu tinggi bersentuhan dengan cerita sebuah hari, mengambil jeda untuk menyimak sesuatu yang tidak terlalu jelas terdengar bisa jadi ujian untuk jadi lebih baik. Mengalun, mengalun, mengalun.

04. Silverchair – Emotion Sickness
Menyempil. Dari benua di luar poros awal tadi, kawasan terbuang yang menghasilkan orang-orang dengan karakter yang nyeleneh. Tapi, sulit dipahami. Ini masa lalu yang tinggal, tentang kisah bintang bersinar yang akhirnya bersepakat dengan nasib untuk duduk diam yang menggerakan pikiran ke arah yang lain.

05. Tom Petty and the Heartbreakers – Free Fallin’
Klasik. Yang tidak pernah bisa digerus waktu. Ketinggalan jaman, tapi tetap relevan.

06. The Who – Pure and Easy
Melodi yang enak dan sederhana. Presisi dengan judulnya.

07. Oasis – Stay Young
Yang Maha Mulia Noel Gallagher pernah bilang suatu kali, “Saya tahu sebuah lagu itu bagus kalau saya bisa mengingatnya dengan baik di pagi hari ketika bangun tidur.” Ia terus menerus mengulang metode yang sama. Tetap muda secara prinsip kendati organ-organ menua. “Stay young and invicible, ‘cause we know just what we are. Come what may, we’re unstoppable.”

08. Teenage Fanclub – Ain’t That Enough
Dari 90-an yang ciamik. Eksponen garda depan musik Inggris yang menjadi legenda di kaliber yang secukupnya. Tidak maha besar, tapi penting. Tidak pernah terlupakan, tapi tidak perlu selalu muncul dengan sesuatu yang baru.

09. The Raveonettes – Last Dance
Di jamannya, ini adalah definisi sahih tentang kekinian. Tentunya, kemudian ia tergerus waktu yang bergeser seiring selera yang berubah. Simpangan baik musik yang layak dibagi.

10. Mogwai – Travel Is Dangerous
Jika teman sekotanya membuat kita mengalun, ia membuat kita merenung. Menggerung dengan distorsi yang terkontrol dan orkestra musik yang teratur. Walau kasar di beberapa titik. Tapi, ia dramatis.

11. R.E.M. – It’s the End of the World (As We Know It)
Salah satu kolektif super inspiratif yang dibiarkan diam secara permanen. Ada banyak pilihan yang bisa dimainkan, tapi yang dimasukkan sisi negatif. Biar saja, supaya penuh warna. Sekali-kali mencoba memahami bagaimana melihat dunia dengan cara pandang yang tidak biasanya disentuh. Ini anthem yang harus disuarakan dengan lantang ketika keinginan tidak berjalan selaras dengan kenyataan.

12. Bruce Springsteen – Born to Run
Kisah berulang, tapi bumbunya bisa dipersonifikasi. Katanya, “Tramps like us, baby we were born to run.”

13. Pink Floyd – Wish You Were Here
Mesin, juga bisa merasa. Mesin, juga punya jeda. Dan mesin, bisa mengeluh.

14. Teenage Death Star – All That Glitters Are Not Gold
Di sebuah masa hidup, lagu ini menjadi teman baik tertawa. Dibuat dengan cara bersendagurau, tapi mengena secara serius. Ironis. Kontradiksi yang dibuat entah dengan sadar atau tidak.

15. Radiohead – True Love Waits
Disesuaikan dengan cerita tembangnya yang rumit dan perlu waktu lama untuk secara resmi dirilis. Maka ini menjadi akhir. Kisah yang bisa indah pada saatnya.

(pelukislangit)

*) Kompilasi dibuat sepanjang Juni-Juli 2016 di Wellington, Queenstown dan Jakarta
*) Buat RM

Thur bisa didengarkan langsung di:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s