Pertama Kali Pameran

Dunia grafis adalah salah satu ketertarikan yang terus menerus dipelihara sejak bertahun-tahun yang lalu. Ia belum begitu diseriusi sampai hari ini. Hanya saja, kok tiba-tiba ada dorongan kuat untuk belajar lebih serius ya?

Penyebabnya adalah keikutsertaan saya di pameran #MereklamekanPelem yang dihelat oleh Oomleo dan APA Space yang terdapat di dalam area The Goods Dept. Plaza Indonesia. Awalnya, ini hanya sebuah keisengan belaka.

Oomleo, suatu kali, memblast informasi open call untuk proyek ini. Saya membalas, “Gan Oomleo, gue ikutan dong!” Satu kalimat itu mengawali segalanya. Jadilah saya dikirimi beberapa dokumen yang harus diisi lengkap dengan segala macam konsekuensi syarat dan ketentuan yang berlaku di proyek ini. Saya menyanggupi dan jadi pusing tujuh keliling harus bikin apa.

Awalnya, mau cuek saja. “Ah, tidak ada obligasi untuk menyelesaikan tantangan itu kok,” pikir saya dalam hati. Namanya juga iseng, sudah barang tentu komitmennya tidak besar.

Merek1

Tapi, itu berubah drastis ketika suatu hari menghabiskan waktu di ruangrupa, menunggu waktu siaran #LOKALwisdom, program mingguan yang saya asuh di sana. Saat itu, proyek #MereklamekanPelem sedang jadi trending topic. Semua seniman grafis dan senirupa yang ditemui di situ, sedang sibuk memikirkan karya apa yang akan mereka sertakan di proyek tersebut. Melihat mereka bekerja dari dekat, membuat saya berpikir.

“Ah, masa saya jadi nggak ikutan sih? Coba ah, lebih serius,” ucap saya dalam hati. Kekuatan saya ada di kata-kata, maka sudah sepatutnya berkonsentrasi di sana. Peduli pada kemasan visual perlu, tapi menyampaikan pesan yang ingin dikabarkan jauh lebih penting. Jadilah, saya mulai memikirkan ide apa yang akan disampaikan lewat tantangan ini.

Selain musik, ada satu ide yang ingin saya seriusi dalam waktu dekat; merekam mereka yang terhalang pulang ke tanah air karena peristiwa 1965. Konsep-konsep di dalam kepala sudah pelan-pelan makin terasah. Jadi, menengoknya untuk kemudian meminta inspirasi, tidak pernah menjadi proses yang makan waktu lama. Pondasinya sudah menempel, jadi tinggal dibangunkan saja.

Saya mulai membangun cerita. Kebetulan, ada sesosok Tiyana dan Gembala yang juga sudah lama bersemayan di dalam kepala. Sama-sama tinggal dibangunkan.

Dari serakan ide itu, tercetuslah sebuah ide. Hasil masaknya kelar sekitar pukul dua pagi di suatu hari menjelang deadline yang selalu dimundurkan oleh Oomleo. Judul yang tergambar adalah 1967.

Sinopsis yang saya tulis untuk ide ini adalah sebagai berikut:

“1967 merekam hidup Tiyana dan Gembala, sepasang anak muda asal Paseban, Jakarta, yang tersesat di Moskow Selatan. Paspor mereka dicabut, negara menganggapnya tiada. Perjalanan waktu menguji kesetiaan dan keyakinan. Kendati terhalang pulang, negeri tercinta selalu di hati. Mereka kemudian mengembara melintasi dunia yang berputar dengan begitu lambat. Tujuannya: Mencari rumah.”

Dan karyanya jadi begini:

1967_Draft2_TerhalangPulang_40X60CM_KECIL

Proses pengerjaan teknisnya menggunakan Microsoft Power Point, satu-satunya software desain yang ada di komputer saya. Untung lumayan familiar dengan program ini. Jadi, ia digunakan hanya karena perkara familiar saja.

Yang lebih brengsek dari pengalaman ini adalah tiba-tiba saya diwawancarai tiga pihak terkait dengan karyanya di malam pembukaan kemarin. Kayak orang bener kan? Baru sekali ikut pameran, tiba-tiba sudah diwawancara untuk menceritakan karyanya.

Merek2

Ini pengalaman yang seru. Semoga bisa lebih dalam satu hari nanti di medium-medium yang lain. Anyway, pamerannya sendiri masih akan berlangsung di APA Space, The Goods Dept., Plaza Indonesia sampai 15 Februari 2016. Waktu eksebisi adalah 11.00-23.00 WIB. Sempatkan datang ya. Ada banyak karya lain yang seru.

Yang paling penting dari pameran ini, berdasarkan obrolan dengan beberapa teman di malam pembukaan kemarin, adalah perluasan cakrawala bahwa ada banyak orang yang bisa menginterpretasikan film. Bahwa yang sekarang ada, perlu terus ditantang untuk membuktikan bahwa mereka masih relevan di dalam bisnisnya. Memang, ada rumus-rumus standar yang telah terbukti. Tapi, keberadaan alternatif, selalu menyegarkan untuk sesuatu yang telah mapan dan ada bertahun-tahun.

Merek3

Pesan itulah yang ingin dikirim secara kolektif lewat pameran ini. Senang bisa ikut serta. Senang bisa mengukir pengalaman baru. (pelukislangit)

Rumah Benhil
8 Februari 2016
Kepsir untuk Gan Oomleo yang sudah mengajak
Foto oleh Agung Hartamurti dan Koroisthebest

Merek4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s