Catatan untuk #BeraniBerubah di Jakarta

Kota Jakarta sedang menjalani salah satu fase penting di dalam sejarah panjangnya. Perubahan budaya wajib menjadi fondasi. Cara pandang dari dalam dan kolektivitas menggerakan roda yang segar jadi kewajiban semua, ternyata.

Sebagai orang yang memilih untuk tinggal di Jakarta, bagi saya, Gubernur Ahok –dengan segala kelebihan dan kekurangannya— adalah patron yang menarik untuk diikuti. Terobosannya, harus diakui, membawa semangat baru.

Capek rasanya membaca kisah pejabat yang selalu mengaku mengusung perubahan tapi sebenarnya hangat-hangat tahi ayam saja. Perwujudan jargon –yang celakanya memang disukai oleh orang Indonesia— yang nol besar, jadi cerita basi yang malah membuat antipati pada geng pemerintahan.

Dalam cerita Ahok, perubahan itu bisa dirasakan. Paling dasar ada di sisi aparat pemerintahan. Cara mereka bekerja berubah; penuh pressure, berpindah sisi jadi melayani dan dalam beberapa kasus mendapat imbalan remunerasi yang sangat baik.

Felix with Wise Jakarta Smart City, Andri Ansyah Kadishub, Isnawa Aji KadisKebersihan, Iqbal Lurah Semper Barat (3)

Seorang teman pernah bilang, “Tahu nggak lo, kalau sekarang camat di Jakarta itu bisa beli iPhone 6? Nggak pakai korupsi. Emang gajinya masuk kalau dia mau pakai iPhone paling baru.”

Teman yang lain juga bilang, “Tuh, kalau mau punya gaji gede, sekarang jadi pejabat publik di Jakarta aja. Konon gajinya bisa tembus 30 juta sebulan.”

Gaji yang besar adalah imbalan. Tapi keseharian mereka sekarang benar-benar penuh warna; datang pagi, buka layanan sesuai jam operasi dan penuh pressure dari atasan. Kalau macam-macam, ganjarannya dipecat. Jadi, ya memang harus bekerja.

Reformasi birokrasi ini adalah sebuah proses panjang. Gayanya pengelolaan pemerintah kota sekarang menjelma menjadi gaya korporasi. Kadang memang tidak manusiawi, tapi selama ini pejabat publik memang sudah terlalu enak menjalani hidup mereka. Jadi, biarlah mereka belajar.

Masyarakatlah yang mendapatkan efek positif dari perubahan ini. Memang, yang namanya perubahan, kadang memakan banyak korban. Tidak sepenuhnya pemerintahan yang ini baik, tapi setidaknya ada banyak hal yang bergerak ke arah yang lebih baik.

Hari Sabtu (19 Januari 2015) kemarin, saya diundang oleh Qlue, sebuah aplikasi social media yang menjadi rekanan DKI Jakarta untuk mendukung program Smart City mereka. Terutama yang berkaitan dengan pengelolaan kota.

Saya menjadi moderator diskusi tentang kampanye #BeraniBerubah yang mulai mereka gulirkan. Yang menjadi panelis diskusi itu adalah Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Kebersihan, Lurah Semper Barat dan perwakilan UPT Smart City Jakarta. Semuanya elemen pemerintahan. Lokasi diskusi ada di Balaikota.

Saya tidak perlu membungkuk ketika salaman dan masih bisa menggunakan kaos oblong, celana jins dan sepatu Vans. Mentalitas mereka telah berubah. Puji Tuhan.

Isnawa Aji, Kadis Kebersihan, Share #beraniberubah dgn menggunakan socmed QLUE

Diskusinya tidak berat, hanya sharing standar tentang perubahan yang telah terjadi di lini tugas masing-masing orang ini. Dinas Perhubungan dan Dinas Kebersihan adalah dua dinas yang paling populer karena sorotan masyarakat pada mereka begitu ketat. Sementara Lurah Semper Barat adalah contoh pejabat yang berhasil mengubah paradigma komunikasi bagi seluruh stakeholder di wilayahnya. Ia berhasil mengadaptasi teknologi dengan cara yang massal dan kemudian digunakan untuk menjalankan keseharian kontrol operasi wilayah. Sementara perwakilan dari UPT Smart City menjelaskan beberapa inisiatif yang sedang dikembangkan untuk Jakarta.

Qlue sendiri mengambil peranan penting. Aplikasi ini menjadi senjata pemerintah untuk menjaring laporan dari masyarakat ketika ada keluhan di lapangan. Misalnya saja, kalau kamu melihat lubang di jalanan yang punya potensi bahaya bagi pengguna, tinggal difoto lalu diupload. Sistem geotagging mereka akan langsung meneruskan laporan ini pada instansi terkait dan ia harus menindaklanjutinya segera. Kalau laporan yang belum direspon akan bertanda merah, kalau sudah ada tindakan warnanya berganti jadi hijau.

Masing-masing tipe problem punya standar waktu penanganan yang bervariasi. Tapi, sulit bagi instansi terkait untuk tidak menanggapi laporan itu.

“Tindak Lanjut (TL) warga jadi salah satu indikator koefisien penilaian mereka. Kalau kebanyakan merahnya, ya dipertanyakan sama Gubernur Ahok, Lix. Jadi memang langsung dipantau,” cerita Ivan Tigana dari Qlue suatu kali ketika memperkenalkan program ini pada saya.

Dipantau langsung oleh Gubernur Ahok berarti ya siap-siap dimaki kalau tidak bisa menindaklanjutinya. Dan kalau sudah masuk tahap maki, berarti siap juga mendengar ancaman dipecat sebagai tahap evaluasi berikutnya.

Enak juga jadi warga kalau pejabat publik yang punya reputasi buruk di masa lalu diancam dengan pemecatan. Kerja setidaknya jadi terpacu.

Pola pikir pejabat publik telah lama jadi musuh warga. Bayangkan, pejabat publik itu seharusnya melayani. Karena mereka digaji dari pajak warga. Bukan sebaliknya. Makanya, saya tidak pernah mau membungkuk kalau berurusan dengan pejabat publik. Bertemu dengan Jokowi saja saya salaman setara, memandang mata.

Jadi, ketika sekarang pola pikir pejabatnya sudah bergeser, itu adalah hal yang perlu disyukuri pertama kali.

Perubahan yang terjadi di Jakarta sekarang benar-benar nyata. Tidak lagi jargon. Dari diskusi kemarin, beberapa hal yang dipaparkan oleh pejabat-pejabat yang berbicara, nampak menarik. Mereka seperti bangga dengan pencapaian-pencapaian konkrit yang telah dicapai. Walaupun beberapa masih hobi memberi statistik. Tapi, semuanya percaya bahwa ini adalah proses panjang untuk sampai ke titik yang dianggap ideal.

Dan Jakarta masih jauh dari titik itu.

Perubahan adalah investasi waktu. Buat saya, agak kurang masuk akal kalau semuanya ingin diselesaikan dalam waktu yang cepat. Komitmen untuk berubah tidaklah semudah membalik telapak tangan.

IMG_1749

Treknya sudah mulai ketemu. Pejabat publik sudah mulai takut sama laporan rakyat. Yang mau laporan pun sudah ada fasilitasnya. Gubernur punya hotline, Qlue tersedia untuk laporan teknis di lapangan, balaikota pun terbuka untuk umum –ini juga penting—.

Pemerintah DKI Jakarta sekarang terbuka. Mereka bisa dijangkau. Janganlah grasak-grusuk, tapi. Respon mereka masih lambat, maklum baru belajar mendengarkan keluhan orang. Untuk sekarang, jangan dulu berharap banyak layaknya kamu datang ke bank swasta dan minta dilayani dengan cepat. Mereka belum sampai di sana. Sabar dulu.

Sekali lagi, ini proses.

Mungkin saya terdengar terlalu permisif. Tapi kota ini kan sedang berubah dari kondisi aparatur yang butut ke arah yang lebih baik. Kalau mau revolusioner, yang harus disikat ada puluhan ribu orang. Tidak perlulah begitu. Sekarang mereka sedang membersihkan orang-orang yang jadi hambatan. Mungkin pula, tiga tahun dari sekarang baru enak dan mencapai titik ideal.

Mereka #BeraniBerubah. Kunjungan pertama saya ke Balaikota kemarin itu punya banyak guna. Ada inspirasi yang bisa direkam. Yang paling penting sih, senang bisa jadi saksi pemerintah kota yang sedang mencoba menjangkau titik pelayanan yang baru. (pelukislangit)

21 Desember 2015
10.56

*) Kalau kamu tertarik dengan QLUE, aplikasi ini bisa ditemukan di Google Play Store dan Appstore bagi para pengguna device Apple. Menarik, bisa ikut ngawasin Pemprov DKI Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s