Value, The Other Festival, Holaspica, The Bedroom Gigs, Lalala

Di dalam sebuah kotbah minggu, ada sesuatu yang menempel. Gereja mengingatkan saya (dan jemaat yang lain yang hadir di situ) untuk berkarya di bidang apapun dengan value. Sesuatu yang digenggam di dalam kepala adalah jangkar yang membuat banyak hal yang terjadi. Pengingatan itu kemudian menjelma menjadi refleksi, akan apa yang terjadi di akhir tahun ini.

Sejak bekerja mandiri mulai Agustus 2015, rasanya akhir tahun ini jadi yang paling padat untuk kehidupan pribadi saya. Sebelumnya, akhir tahun adalah waktu yang enak untuk liburan, memandang ke belakang atas apa yang telah terjadi. Sedikit mengambil jeda dari kehidupan yang riuh. Dan tentunya berpikir apa yang harus dilakukan di masa yang akan datang. Semuanya dipicu oleh rejeki yang biasanya sepi.

Meninggalkan gaji bulanan di korporat adalah tentang mengubah cara pikir kita terhadap keadaan. Saya beruntung sudah fasih bernapas di alam yang baru. Tidak lagi biasa memandang bahwa rejeki akan datang teratur setiap bulan, tapi bisa jadi datang dalam jumlah banyak di satu bagian lalu kemudian akan sepi di bagian berikutnya. Kalau dirata-rata, ya tetap stabil. Lalu, di situlah bagian di mana paham kepercayaan bahwa rejeki tidak lari ke mana berlaku. Kemungkinannya bertalian begitu.

Wah, agak melantur ceritanya. Jadi, begini. Malam ini, tepat sebelum tulisan ini dibuat, saya jadi terpikir sesuatu tentang nilai itu. Semuanya dipicu oleh proyek The Other Festival yang melibatkan saya lewat Siasat Partikelir. Siasat Partikelir (dan juga British Council di bagian lain), meminta saya untuk berkontribusi menentukan sejumlah talenta yang akan main di The Other Festival. Festival ini, menjalankan tahun debutnya di Hotel Monopoli di Kemang, sebuah hotel gaya eropa dengan beberapa potensi venue di dalamnya.

Saya menggarap dua buah meeting room yang akan disulap. Juga diberikan beberapa slot untuk menampilkan band dengan bendera Future Folk (ngomong-ngomong, Future Folk pertama kali digunakan dan tidak Seri Bermain di Cikini, saya yang memilih). Proses yang datang cepat, untungnya menemukan ide yang lumayan ciamik. Di dua kemungkinan itu, saya ternyata mencoba menerapkan value yang dipegang erat di dalam kepala; Membuat sesuatu yang bisa menjadi alasan untuk didatangi orang serta kemudian melibatkan nama-nama baru yang sebelumnya tidak banyak diketahui orang.

Value terakhir, tanpa disadari terus bergulir sejak pertama kali bereksperimen dengan Silampukau tahun 2015 yang lalu. Mengajak orang-orang yang tidak sering bermain di kota sendiri, adalah upaya untuk memperkaya khasanah. Daripada harus ke luar kota untuk jauh-jauh menyaksikan mereka, kenapa tidak buat di kota sendiri? Tentu, idenya tidak sesederhana itu ketika diimplementasikan. Terutama berkaitan dengan logistik.

Tapi toh, proses bergulirnya seperti itu. Di setiap kesempatan, rasanya saya selalu punya keinginan mempraktekkan protokol untuk membawa band dari luar kota main di Jakarta. Kebanyakan diawali alasan untuk ingin menyaksikan mereka main dan kemudian merekamnya dengan memori. Lalu kemudian, bisa diartikan sebagai proses menyebarluaskan musik-musik bagus untuk publik kota sendiri.

(Waktu itu) saya seperti berpikir bahwa Jakarta itu membosankan. Sekarang sih, sudah mulai terkikis pikiran itu. Tapi, ada masa-masa di mana Jakarta jadi kota yang monoton. Yang menarik itu-itu saja dan jalur jalannya begitu-begitu saja. Api yang dulu ada di kota ini, seolah pergi seiring dengan betapa mudahnya hidup (kalau dibandingkan dengan kota lain) bermusik di Jakarta; pertunjukan sempat ada tiap hari dalam seminggu, acara-acara makin besar, yang cari makan lupa memikirkan kualitas variasi line up dengan main aman mengundang yang itu-itu saja dan beberapa hal lainnya yang rasanya enak kalau dibahas dengan adegan ngobrol melihat mata.

Ada tiga nama yang pelan-pelan mengikis pandangan; Rayssa Dynta, Glaskaca dan Feast. Mereka mengembalikan fakta bahwa Jakarta itu menyenangkan.

Karena sempat berpikir bahwa Jakarta itu membosankan, jadilah interaksi saya banyak terjadi dengan orang-orang di luar kota ini. Melihat ke luar adalah melihat kemungkinan baru. Dari sana bertemu dengan Sungai, jadi intens dengan Sisir Tanah dan Iksan Skuter (dan Jason Ranti, tentunya), kenalan dengan Murphy Radio dan Semiotika, menyaksikan sekaligus menemukan tempat paling cocok melihat Soloensis main, Manjakani, Sandrayati Fay, Nostress Jon Kastella, Putra Timur dan masih banyak nama lain.

Yang paling baru, saya coba ‘karyakan’ di The Other Festival tahun ini. Jadi, ceritanya saya punya slot manggung yang harus diisi. Belum tahu siapa, tapi proses mencari dilakukan selama beberapa hari hingga pandangan masuk ke sebuah memori lama yang pada akhirnya berhasil disambungkan kembali; Holaspica.

Kami –saya dan Holaspica— sadar tidak sadar, beririsan pertama kali di Folk Music Festival 2018. Di festival itu, tahun ini, saya tidak menghabiskan banyak waktu karena di saat yang bersamaan harus ada di Jakarta menjadi tandem yang suportif –baca: pembantu umum— untuk partner saya yang pameran tunggal di sebuah art bazaar. Saya tidak sempat menyaksikan Holaspica bermain. Tapi, track yang dia submit untuk kontes Gang of Folk, sempat disodorkan oleh Alek Kowalski, bandar Folk Music Festival, ke saya. Bersama dengan Terminal Kuningan dari Medan, Holaspica mencuri perhatian.

Saya mencoba membuka kontak. Dan gayung bersambut. Saya menawarinya untuk mengisi slot yang saya punya bersama Iksan Skuter dan Adrian Yunan. Waktu cocok, ia bersedia untuk main. Bagus!

Holaspica berasal dari Bandar Lampung, ibukota propinsi begal, Lampung. Tahun 2018 ini, ia merilis sebuah mini album berjudul Naik ke Laut. Dan kemudian, punya pengalaman untuk berkeliling mempromosikan musik; sendirian, modal nekat dan menambah jam terbang main live memperkenalkan musik yang ia tulis.

Latar belakangnya seru. Dan mari kita coba. Semoga tulisan ini tidak membuat bebannya bertambah. Haha.

Holaspica akan bermain di hari Minggu, 4 November 2018 di Panggung Bloom pukul 18.00, tepat sebelum Iksan Skuter dan Adrian Yunan. Di festival dengan banyak sekali penampil itu, ia merupakan salah satu yang harus saya saksikan.

Tiketnya, pada saat tulisan ini dirilis, mungkin tidak lagi banyak. Tapi, tenang. Beberapa hari yang lalu, ia mengabari bahwa sehari sebelum pertunjukan di The Other Festival, ia akan bermain di Kiosojokeos asuhan Geng Efek Rumah Kacaw. Ia sempat menanyakan apakah saya keberatan jika ia main sebelum pertunjukan yang saya mainkan. Tentu saja, tidak. Dalam kasus ini, membuatnya bertemu semakin banyak orang, adalah kontribusi yang bisa dilakukan. Musiknya perlu didengar oleh sebanyak mungkin orang.

Jadi, kalau tidak dapat tiket The Other Festival, ada baiknya mengalokasikan waktu untuk datang ke Kiosojokeos di Ruko Bona Indah. Holaspica harus ditonton!

Ngomong-ngomong, di The Other Festival, saya juga akan mencoba sebuah inisiatif baru. Namanya The Bedroom Gigs. Inisiatif ini idenya datang dari hadiah ulang tahun saya dari si partner. Ia memberikan buku yang kemudian menjadi dasar terjadinya The Bedroom Gigs. Judulnya Your Song Changed My Life karya Bob Boilen.

Bob Boilen adalah seorang penyiar NPR, sesinya All Songs Considered, dikenal luas sebagai salah satu program dokumenter musik yang super ok.

Di buku ini, Boilen mewawancarai banyak pelaku musik dan membawa mereka ke era awal ketertarikan mereka pada musik. Banyak kisah ajaib di dalamnya dan rasanya lucu juga ya kalau diterjemahkan ke ranah musik lokal. Rasanya ada banyak musisi yang menarik yang bisa diajak untuk bercerita.

Di The Bedroom Gigs, saya mencabut banyak musisi dari band mereka dan memaksa orang-orang yang menarik itu untuk memainkan influence mereka dan bercerita untuk penonton. Kapasitas pertunjukannya akan jadi sangat intim, tidak banyak yang bisa menonton. Mungkin hanya sekitar 40-50 orang di dalam ruangan yang telah disulap itu.

Saya meminta Ruth Marbun tersayang untuk ikut bertanggung jawab karena telah memberikan buku itu dan kemudian memicu inspirasi. Ia akan merancang dekorasi ruangan yang bisa dialami nanti. Ruangan meeting yang kaku kayak kanebo kering akan kami ubah jadi kamar tidur. Memang, ide besarnya lebih baik disebar dari sekarang. Ada banyak detail yang kami simpan jadi kejutan.

The Other Festival, tiketnya gratis. Bisa diakses di http://www.bit.ly/theotherfestival. Yang hari Minggu, sepertinya tidak banyak lagi tersedia. Langsung dicek saja begitu baca tulisan ini.

Fokus The Bedroom Gigs adalah perekaman. Jadi, kami akan merekam seluruh pertunjukan itu. Juga sesi bincang-bincang yang saya buat sehari sebelumnya. Senang juga kalau dipikir dikasih kesempatan main-main.

Nah, yang terakhir ini, ada sesi bincang-bincang. Saya akan berbincang, merekam podcast dengan empat topik berbeda. Detailnya ada di bawah:

Kejadiannya hari Sabtu. Sesi dengan Ruth Marbun akan membahas bagaimana musik dan visual bisa saling memengaruhi. Sebenarnya, ini nepotisme. Jadi, saya memang selalu ingin mewawancarai dia dan interpretasi-interpretasi ajaibnya pada musik. Dihajar saja mumpung ada kesempatan.

Lalu, akan ada sesi dengan Joe Million yang khusus datang dari Sukabumi untuk berbincang-bincang tentang militansinya main musik. Juga ada sesi dengan Holaspica dan Pijar, band perantauan asal Medan. Kami akan membahas bagaimana mereka melihat Jakarta dan apa kegunaan menembus pasar ini. Yang terakhir, saya mengundang Akbar dan Asra dari Kiosojokeos untuk membahas bagaimana ruang alternatif bisa diinisiasi oleh sebuah kolektif yang punya basis massa baik.

Okeh, begitulah. Akan ada tiga babak yang saya mainkan di The Other Festival. Semoga kita berjumpa. Semoga juga, semua ide di kepala jadi kenyataan. (pelukislangit)

Rumah Benhil
2 November 2018
01.18

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s