Memberi Nyawa pada Ruang

Setiap jengkal sisi DIY Space for London (DSFL) memberikan inspirasi luar biasa pada pemanfaatan ruang. Ia tidak bombastis, tidak canggih. Masih dikendalikan dengan nilai-nilai luhur kehidupan bernama hati nurani.

Memberi nyawa pada ruang tidak pernah mudah. Apalagi menjalankannya dengan kolektivitas tanpa perlu mengedepankan kepentingan personal. Ada banyak ruang alternatif mampir ke dalam kisah saya. Ada yang ok, ada yang sudah bisa diduga penuh kepentingan atau bahkan dirasa tidak bakalan berumur lama sejak pertama kali melihatnya. Tapi yang ini, benar-benar meninggalkan kesan di hati.

Di sebuah hari Minggu, saya dan Wok the Rock mengagendakan untuk datang ke Decolonize Fest, festival punk of colours (POC) di London. Festivalnya tiga hari, tapi jadwal kami hanya memungkinkan untuk datang di hari terakhir.

Di hari ketiga, hanya ada agenda band-bandan. Tidak ada diskusi. Tadinya juga ada piknik di taman, tapi kami terlambat datang.

Mencari DSFL tidaklah mudah. Letaknya di satu sudut kota yang tidak begitu populer. Walau sebenarnya dekat dengan The Den, kandang Millwall FC, klub sepakbola paling rusuh di Inggris Raya. Daerahnya menghadirkan ketegangan tersendiri. Bisa jadi karena asing. Ada banyak pendatang yang tinggal di daerah itu. Lumayan anomali isi penghuninya.

Buat Wowok, kunjungan hari itu adalah perjalanan kedua. Sebelumnya, ia sudah melihat sebuah pertunjukan kecil di situ bersama Andreas Siagian, kawan yang lain. Jadi, ia sudah familiar dengan gedung itu. Ia menjelaskan banyak hal tentang DSFL dari kunjungan pertamanya. Saya membeli idenya, makanya dengan mudah langsung memutuskan untuk mengunjunginya untuk mengisi agenda sebuah minggu.

Untuk pengantar dan membaca manifestonya, silakan cek situs mereka di sini.

DSFL pada dasarnya merupakan sebuah ruang alternatif yang menampung berbagai macam kegiatan anggotanya. Iya, ini klub dengan biaya keanggotaan tahunan. Murah, hanya 2 Poundsterling per tahun. Uang itu dianggap sebagai mahar untuk membantu tempat ini hidup. Yang bisa datang ke perhelatan yang digelar hanya anggota dan temannya. Jadi, setiap pengunjung baru memang diharapkan untuk mendaftar menjadi anggota.

Oh iya, walaupun sudah menjadi anggota, orang musti membayar tiket masuk untuk mengikuti acara yang sedang berlangsung. Jadi, membayar tiket masuk dan biaya keanggotaan tahunan merupakan dua hal berbeda. Tiket masuk dialokasikan untuk talent yang bermain, sementara biaya keanggotaan masuk untuk si ruang.

Ruang ini benar-benar membuka pintu mereka untuk banyak kemungkinan dan irisan orang. Hari itu, kami datang untuk festival yang 95% pengisi acaranya adalah POC. Festivalnya memang ditujukan untuk kampanye orang-orang itu. Lalu, di bagian pintu masuk ada sebuah toko rekaman yang menjual beraneka ragam album dalam berbagai bentuk; kaset, cd dan vinyl. Si penjualnya menggunakan pin bertuliskan British Railways, bukan National Railways –namanya sekarang—. Menurutnya, ia adalah seorang nasionalis. Yang menginginkan Inggris dijalankan dengan cara Inggris, bukan penuh kompromi yang seperti sekarang. Tentu, sambil tidak melintasi batas superioritas ras.

Mereka, bisa berdampingan. Dan itu menarik.

Di DSFL juga ada manifesto. Bisa dilihat sendiri di bawah ini.

Jadi, memang tempat ini dibangun atas berbagai macam kepercayaan. Satu yang pasti, kolektivitas diperlukan untuk menjalankan segala macam kegiatannya.

Selain toko rekaman, DSFL juga memegang sendiri pengusahaan bir dan minuman lainnya. Mereka menjualnya dengan harga yang sangat masuk akal. Satu pint bir kaleng Red Stripe, misalnya. Dijual hanya dengan 2.5 Poundsterling. Untuk ukuran London dan masuk di dalam bar, harga itu luar biasa murah. Untungnya sedikit, karena memang keinginannya untuk memenuhi kebutuhan minum pengunjung. Kalaupun ingin membuat untung, paling sedikit. Dan itu langsung digunakan untuk menghidupi tempat.

Sistem tugas juga volunteering. Masing-masing anggota, bisa dengan mudah memberikan kontribusi mereka untuk menjadi sukarelawan. Misalnya saja di suatu masa menjadi penjaga tiket, lalu di saat berikutnya menjadi pedagang merchandise. Atau kalau yang punya kemampuan spesifik, bisa menjadi sound engineer atau ya bartender seperti tadi.

Satu yang paling penting dan sangat terasa adalah, orang-orang di sini percaya untuk menghidupi tempat ini. Jadi, tidak transaksional hubungan satu dan lainnya. Kalau misalnya ada keluhan, mereka bisa dengan mudah untuk datang ke pertemuan mingguan dan langsung mengusulkan ide apa yang bisa diimplementasikan untuk memperbaiki ruang itu.

Tidak menggunakan email, tidak menggunakan whatsapp group. Jadi, datang sumbang saran lewat buah pikiran yang dikeluarkan dalam bentuk suara dari mulut dan dicatat. Kemudian dirundingkan. Jadi, komunikasinya terjadi di satu tempat, tidak multi tafsir dan cenderung tidak politikal karena salurannya sudah diciptakan. Kalau tidak bisa datang ke waktu yang telah disepakati bersama, ya jangan memberikan usul.

Idenya mungkin utopis, tapi tempat ini telah berjalan selama dua tahun. Dan masih akan terus berjalan. Ia hidup dari kontribusi orang-orang yang menjadi anggota.

Lalu, masih berhubungan dengan kepercayaan, barang-barang yang ada di sana semuanya dipergunakan untuk kepentingan bersama.

“Aku perhatiin deh, semua tulisan atau flyers yang nempel di sini, punya makna. Semuanya emang benar-benar ditujukan supaya tempat ini jalan. Kalau kamu macam-macam, ya kamu akan kehilangan kepercayaan dari orang. Ya, selesai kamu,” ucap Wowok sedikit menganalisa. Yang ia bilang, benar.

Misalnya saja, ada kursi milik bersama yang dibawa pulang saja, berarti ya pencurian itu dengan sendirinya menukar kepercayaan yang sudah diberikan secara kolektif ke si pelaku. Dan itu nilainya baru berasa di masa yang akan datang. Ketika kepercayaan hilang dari tangan, ya berarti selesai juga kisah di DSFL.

Bicara program, tempat ini juga punya banyak variasi. Tidak hanya musik, tapi juga memutar film, diskusi dan sejumlah hal menarik lainnya. Jadi, tidak ada fokus massa di satu bidang seni. Semuanya diberikan hak untuk berkarya.

Menarik ya? Saya jadi berpikir keras, kalau di Jakarta, jalan nggak ya? (pelukislangit)

Wilhelminaplantsoen
9 Juni 2017
18.51

Ini ada bonus si Wok the Rock jadi model.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s