Dari Inggris

Sudah terbukti dan teruji: Yang namanya keinginan itu bisa jadi kenyataan. Bahkan ketika ia pelan-pelan sudah dilupakan dan diletakkan di dalam kepingan memori yang jauh dari permukaan.

Saya ingat peristiwa itu: Di kantor FFWD Records, Bandung. Kejadiannya sekitar pertengahan 2000-an. Kalau tidak salah 2006. British Council pada waktu itu menyelenggarakan International Young Creative Entrepreneur, sebuah program yang memang menjaring orang-orang kreatif di berbagai belahan dunia untuk digabungkan dalam satu network besar, salah satu sub bahasannya adalah musik.

Achmad Marin, bos saya di FFWD Records waktu itu, ikut terjaring. Ia pergi ke Inggris Raya dan membuka jaringan.

Diam-diam, saya memendam keinginan untuk mendapatkan kesempatan yang sama. Waktu itu, mimpi saya kendaraannya Ballads of the Cliche. Sembari bekerja di FFWD Records, saya juga menjadi manajer band itu. Bukan Inggris Rayanya yang menarik perhatian, tapi keinginan untuk membuka mata lebar bagaimana industri musik dijalankan dan bisa menampung banyak kemungkinan. Tidak hanya yang besar, tapi menjadi yang kecil pun perlu diperjuangkan.

Titik tolaknya berbeda. Menjadi independen di Inggris Raya adalah sesuatu yang bisa dijalani lengkap dengan infrastruktur yang menunjang. Bukan hanya semangat fana, tapi juga bisa dijejaki dengan baik karena memang sudah ada pagar untuk membuat permainan itu berlangsung dengan baik. Berlangsung dengan baik, tentu saja bisa diartikan sebagai hidup yang dipilih.

Waktu itu, program tersebut punya koridor usia. Usia saya masih panjang untuk tetap eligible di sana. Keinginan dipancang.

Tapi kemudian, hidup berbelok. Ada prioritas penting yang kemudian menyeruak; pulang ke Jakarta. Saya rindu rumah, karenanya hidup di Bandung perlu ditutup. Saya berpisah dengan FFWD Records dan program British Council itu perlahan hilang. Ada banyak hal bisa terjadi di dalamnya. Singkat kata, keinginan itu terlupakan.

Saya menjalani hidup normal, mencoba berbagai macam hal baru, keliling ke banyak tempat di dunia dan kemudian mencatat banyak kisah baru. Hingga kemudian sesuatu memanggil untuk mendedikasikan hidup untuk scene musik independen. Kejadiannya dimulai tahun 2015. Ada ekspansi baru yang dilakukan.

Jika sebelumnya saya hanya menulis tentang musik, maka sekarang daya jangkaunya dibuat lebih lebar; serius menggeluti bisnis merchandise musik, menjadi konsultan konten untuk sebuah kanal musik dan –ini yang terpenting— mengorganisir pertunjukan musik. Kendati yang terakhir itu bukan hal yang baru.

Dulu, saya merupakan salah satu orang yang menginisiasi We Are Pop!, seri independen di pelataran Hey Folks! di Jalan Bumi. Di sana, saya belajar banyak tentang kesungguhan yang tidak transaksional untuk menjalankan proses bersenang-senang bernama musik. Fondasi saya sekarang, tentang pengorganisasian musik, salah satunya ya ditajamkan karena pengalaman itu. Selain tentunya bagian di Kolese Gonzaga dan Fisip Unpar.

Nah, sejak 2015 itu, segala sesuatunya jadi lebih serius; Silampukau di Kedai Tjikini, SORE, Polka Wars, Mocca as Comma, Future Folk 1 dan 2 di IFI Jakarta serta Seri Bermain di Cikini. Nama yang terakhir, merupakan mainan utama saya sekarang. Dan itulah pula yang membawa saya masuk radar British Council Indonesia.

Mulai beraktivitas dengan intensitas yang meningkat bersama kawan-kawan di ruangrupa pun perlu dicatat. Berbagai macam dimensi pengorganisasian acara di sana, membuat saya belajar. Yang paling penting adalah obrolan super panjang di sebuah malam –yang berakhir dengan makan bubur ayam di pagi hari— dengan Indra Ameng, tentang pengorganisasian acara dan segala tetek bengeknya.

Jalannya panjang.

Tidak pernah terasa ketika dijalankan. Saya selalu berpikir bahwa segala macam yang tertulis di atas itu harus dijalankan dengan senang-senang. Tidak perlu tekanan berlebihan yang membuat alis mata mengernyit, tidur tidak nyenyak atau bahkan pusing tidak jelas karena hitungan angka. Semua yang pernah datang ke acaranya Seri Bermain di Cikini pasti paham bahwa santai adalah salah satu DNA utama yang ada di sana. Bahkan ketika kami dimaki orang karena isu double seating pun, saya dan sejumlah teman tetap berusaha santai.

Prinsip saya sederhana: Orang datang ke pertunjukan musik kan ingin bersenang-senang, apapun motifnya. Lantas, kenapa perlu memberi tekanan berlebihan pada keadaan yang seharusnya punya mood menyenangkan tadi?

Dua tahun terakhir ini berlangsung dengan sangat menyenangkan. Untuk saya yang membuat dan semoga untuk mereka yang mau terlibat di dalamnya.

Kekuatan musik menjadi hal penting yang selalu perlu dibela. Puncaknya, adalah Cikini Folk Festival 2016. Saya berlagak gila; menginisiasi festival dengan dua belas penampil yang semuanya percaya pada ide festival ini yang mengedepankan kesederhanaan dan bersenang-senang tadi. Dari kapasitas yang ‘hanya’ 240 orang, kami hanya berhasil menjual 160 tiket. Hanya ada satu sponsor penggarapan video dan memberikan sedikit uang tambahan.

Hitungan: Sudah pasti merugi.

Tapi untung, bulan itu, saya banyak rejeki dari tempat lain. Jadi, yah, anggap saja itu bagian memberi dari apa yang saya dapatkan secara umum. Sianying, jadi riya. Haha.

Yang paling penting, bukan perkara hitungan. Tapi seluruh energi yang ada di festival itu. Orang-orang yang ada di sana adalah mereka yang percaya bahwa scene independen itu perlu dihidupi; yang main tidak mencharge ongkos honorarium yang tinggi, yang datang mau membayar tiket dan semuanya mendapatkan malam yang menyenangkan.

Ada tenggang rasa di sana. Memang, masih ada perkara transaksional, tapi semuanya membawa keinginan untuk berkompromi ke dalam persoalan. Jadinya, semua kepentingan bertemu.

Misi dasar dari berbagai macam hal yang saya ceritakan di atas adalah membawa kesadaran bahwa ada hal mendasar dari seluruh hal besar yang terjadi di sekeliling kita.

Dan misi itu ingin disebarkan ke seluruh orang dengan berbagai macam peran yang mereka mainkan.

Misalnya saja untuk penonton, saya ingin menghadirkan pengalaman menonton di gedung-gedung pertunjukan atau venue-venue yang segala sesuatunya bisa disulap menjadi sebuah ruang untuk mempertontonkan musik.

Atau dari kacamata musisi, mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk bertukar energi dengan mereka yang benar-benar ingin menyaksikan mereka main. Bukan dalam perkara commisioned work –baca: dibayar normal dan menghasilkan rejeki ideal untuk seluruh orang— tapi dalam urusan mengenal lebih dalam siapa yang mendengarkan musik mereka. Pertunjukan-pertunjukan yang intim itu, selalu menarik untuk dijalani. Walaupun tidak bisa bermain musik, tapi beberapa kali saya berada dalam posisi band –sebagai manajer, seringkali sekarang terjadi bersama AriReda— yang bertemu dengan para pendengar yang penuh tenaga dan hasrat. Seringkali pula mengirimkan energi yang tidak bisa ditakar kadarnya kepada mereka yang main. Sehingga malam-malam ajaib tercipta.

Semua rangkaian kejadian itu menjadi lingkaran yang saling mengikat simpul-simpulnya. Ia bertalian dan jadi sebab akibat kenapa saya menulis tulisan ini dari Inggris Raya. British Council menangkap seluruh upaya yang dilakukan kemarin itu dan mereka memutuskan untuk mengundang saya melakukan sejumlah kunjungan yang akan menambah referensi.

Jalannya aneh kan? Mengingat kejadian pertama di atas tadi, rasanya saya jadi merinding. Memang, alam raya ini tidak pernah diam merancang apa yang perlu terjadi atas manusia. Pakai disusun secara personal lagi. Masing-masing punya cerita menarik.

Saya diberi kesempatan untuk menghadiri dua buah festival yang berbeda tipe; satu showcase festival, satu lagi festival biasa. Keduanya beda tujuan. Kalau showcase festival, tujuannya untuk pamer aksi, tapi dipirit durasinya. Tujuannya untuk orang-orang industri. Sementara yang festival biasa, ya festival musik biasa saja. Hanya, ada sesi konferensi yang sangat seru untuk diikuti.

Kalau mendetail, rasanya harus ke situs British Council Indonesia saja nanti. Saya berjanji untuk menulis secara detail bagaimana kesan atas dua festival yang dikunjungi. Oh iya, yang showcase festival namanya The Great Escape, yang festival biasa namanya Liverpool Sound City.

Tulisan ini diselesaikan di salah satu kota favorit saya di dunia, Liverpool. Kali ini, saya mencoba untuk tinggal di wilayah residensial dan sedikit lebih panjang tinggal. Ingin merasakan kehidupan biasa yang jauh dari riuh rendah city center dan menyelesaikan proyek menulis yang memang perlu diselesaikan.

Musik membawa saya keliling ke banyak tempat dan melintasi banyak kemungkinan. Yang paling ‘menyebalkan’, ia selalu bisa menghadirkan cerita-cerita menyenangkan seperti ini. Sekaligus menjawab, bahwa keberanian meninggalkan kehidupan korporat yang nyaman ternyata bisa dibela. Menjadi independen dan mengerjakan apa yang disuka, bisa dijalani. Selama berani juga bertanggung jawab.

Tidak sabar untuk membagi hal-hal menyenangkan yang saya alami di Inggris Raya tahun ini. Terima kasih sudah membaca. Saya berhutang pada mereka yang percaya pada ide-ide yang dijalani bersama itu. (pelukislangit)

London/ Brighton/ Liverpool
19-29 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s