Bangun Pagi Bagian 899

Secangkir kopi diseduh pukul tujuh pagi. Kriyep-kriyep suasananya. Harus dihadapi, karena sesungguhnya hidup dimulai ketika langit masih pagi. Banyak yang bergegas. Petualangan mencari dimulai.

Di dalam kasus domestik ini, membaca di pagi hari menjadi tantangan setelah sebelumnya bicara pada diri sendiri bahwa menjauhkan diri dari suplemen-suplemen digital adalah sebuah keharusan. Untuk sementara.

Jadi, inilah bangun pagi yang kembali.

Bangun Pagi 899

Pemutar yang kehabisan baterai sejak beberapa minggu terakhir dibangunkan lagi. Ia harus ikut bekerja, jangan hanya memantau tanpa berkontribusi aktif.

Joan Baez yang menyanyikan Bobby Dylan pun dikeluarkan dari rak. Celakanya, ia punya perpaduan komplit; provokasi, kresek-kresek yang seksi, menyayat dan lirik jahanam milik si empunya lagu yang sudah tidak perlu digugat lagi keabsahannya.

Ketika komputer diambil dan ruas-ruas ketiknya disentuh, ia menjelma menjadi proses memanaskan mesin yang harus berputar dengan ideal; efektif guna, mengerjakan banyak hal, mengelola ambisi harian, mengetik tagihan yang tidak kunjung selesai dibuat serta menghabiskan kuota internet bulanan yang akan berganti hitungan dalam hitungan belasan jam.

Kopi yang tadi diseduh, mulai kehilangan volume aslinya. Kresek-kresek semakin mendominasi, saatnya rekaman itu diputar ulang. Menengok ke derajat perempatan, ada Ali Sadikin sedang menunjuk dengan tangan kanannya. Ke sisi seberangnya, ada Gitanyali yang baru dijelajahi.

Kadang, di saat-saat seperti ini, perasaan menjadi Jerman muncul. Padahal, konsepnya juga tidak dipahami sama sekali. Jerman yang sepakbola; mesin diesel yang panas belakangan tapi harus melalui proses berkembang yang organik.

Ia tidak perlu cepat layaknya mesin pemburu yang kebingungan mencari apa yang diburu. Ia hanya perlu berjalan normal dan menyapa episode-episode baru yang muncul satu demi satu. Supaya tidak lupa menikmati setiap detik yang berganti jadi menit dan kemudian berubah jadi hitungan jam.

Selamat menjalani cerita. Salam dari Jakarta Pusat yang sepi. (pelukislangit)

Rumah Benhil
30 Juni 2016
08.32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s