Nonton Bryan Adams di Amsterdam

06

Salah satu bagian paling baik dari sebuah perjalanan ke tempat jauh adalah kesempatan menyaksikan pertunjukan-pertunjukan yang agak tidak mungkin kejadian di tempat asal kita. Amsterdam memberikan saya Bryan Adams.

Bersamanya, saya merayakan tiga puluh tahun album Reckless yang aslinya dirilis tahun 1984. Saya lahir tahun 1983, setahun sebelum album itu dirilis. Yang membuat saya merasa punya koneksi dengan album ini adalah lagu Summer of ’69, salah satu single dari album itu yang kemudian menjadi lagu favorit saya sepanjang masa dari Bryan Adams.

Ngomong-ngomong, ini cover album Reckless. Saya punya dua copy, yang ini dapat di Camden Town, London:

Bryan Adams - Reckless

Summer of ’69 adalah sebuah balada yang sangat indah. Liriknya berhasil menggambarkan sebuah kejadian di masa kecil di mana bermain di sebuah band menjadi pilihan yang menarik. Karena ala Amerika, maka settingnya harus garasi milik salah satu orang dari personil band itu. Kemudian, waktu menguji kesetiaan mereka satu sama lain dengan komitmen untuk berada di dalam sebuah band itu. Tentu saja, komitmen menjadi isu utama di mana kenyataan untuk gagal menjadi probabilitas yang harus diperhitungkan.

Dan ketika sebuah baris penting berbunyi “Those were the best days of our life” mengakhirinya, balada itu berhasil menjadi perwakilan banyak manusia di muka bumi ini, termasuk saya.

Ketika sebuah komitmen berakhir, manusia seringkali menghibur diri dengan melihat ke belakang lalu mengenang dalam-dalam bahwa apa yang baru saja berakhir adalah momen terbaik dalam hidup mereka. Padahal, kehidupan itu berjalan maju ke depan. Tentu saja, sulit untuk mengulang sebuah momen yang meninggalkan kesan –baik atau buruk, tidak jadi soal— di dalam hidup kita. Tapi, membiarkannya tetap menyala juga merupakan sebuah dedikasi yang menarik untuk diikuti, bukan?

Summer of ’69 mengajarkan saya tentang hal itu. Dan karenanya, saya menyukai Bryan Adams. Amsterdam membiarkan saya bertemu dengannya. Kami menghirup udara yang sama di Ziggo Dome, di kawasan ArenA, pusat seni pertunjukan kontemporer kota itu berada.

Sebelum memutuskan untuk membeli tiket pertunjukannya, saya mengecek dulu apa yang akan dimainkan Bryan Adams di setlist.fm. Ternyata, untuk Reckless 30th Anniversary Tour ini, rata-rata ia memainkan dua puluh tujuh lagu. Durasi pertunjukannya panjang, sekitar dua jam lima belas menit. Lagunya tidak banyak berubah dari satu ke konser lainnya. Jadi, pilihan terbaik adalah memilih kursi duduk. Bukan menempatkan diri di ruang festival yang sudah pasti berdesakan dan berdiri dalam waktu yang lama.

Pilihan saya benar. Malam itu, Ziggo Dome menyaksikan lebih dari 12.000 orang yang datang untuk Bryan Adams. Saya memilih untuk duduk di tribun yang posisinya langsung menghadap ke panggung. Jadi, saya tidak akan kehilangan aksi-aksi yang ditampilkan si band di sana.

07

Bryan Adams punya tim yang solid. Formasi panggungnya di tur ini, telah bertahan sejak 2002. Yang paling menarik disaksikan tentu saja aksi Keith Scott, kawan setia yang terus menerus bersama Bryan Adams sejak tahun 70-an. Ia seolah diberikan porsi yang sama dengan si aktor utama.

Saya selalu tertarik dengan konsep band yang seperti ini. Bruce Springsteen, idola saya yang lain, juga punya kondisi yang sama di atas panggung layaknya Adams-Scott. Steve van Zandt, kolaborator panggung utama Springsteen, selalu punya porsi khusus di dalam penampilan Bruce Springsteen and the E Street Band. Pembagian porsi seperti ini menunjukan bahwa yang sedang bermain di atas panggung adalah band yang interaksinya memang sama kuat. Jika kemudian mereka memainkan lagu-lagu milik si penyanyi utama, itu sudah menjadi soal yang lain.

Yang dimainkan oleh Bryan Adams dan band pengiringnya malam itu di Ziggo Dome, Amsterdam, bisa dilihat di sini:

http://www.setlist.fm/setlist/bryan-adams/2014/ziggo-dome-amsterdam-netherlands-7bcdc674.html

Panjang kan? Di bagian pertama konser, ia memainkan seluruh lagu dari album Reckless. Termasuk beberapa lagu yang terbuang dari album itu. Ada satu bagian yang lumayan satir ketika ia berkomunikasi dengan penonton. Kurang lebih seperti ini:

“Well, waktu saya membuat album ini tiga puluh tahun yang lalu, saya punya banyak sekali lagu untuk dimasukkan. Dulu kita mengedarkan musik dalam bentuk vinyl atau kaset. Tapi kemudian, kota ini membawa sebuah inovasi yang mengubah musik, sebuah compact disc. Bentuknya memang ok, benar-benar praktis dan hanya cukup untuk sepuluh lagu. Seorang eksekutif rekaman dari label saya datang dan ia bilang, ‘Bryan, kamu harus potong album kamu.’ Jadi, yang sekarang kamu dengar dan kenang, adalah album yang dipotong dan malam ini, saya akan mainkan sejumlah lagu yang dibuang dari album ini. Bahkan beberapa belum pernah saya mainkan sebelum tur ini.”

04

Tentu saja penonton tertawa dan keheranan dengan dialog ini. Lagu-lagu dari era album Reckless memang ketinggalan jaman kalau dibandingkan dengan beberapa karya terakhir Bryan Adams. Tata rekamannya mewakili era itu dan sulit untuk diduplikasi ke gaya masa kini. Jadi, ketika dimainkan di atas panggung dengan musisi baru dan aransemen yang cocok dengan gaya musik Bryan Adams yang hari ini pun, masih terdengar kuno.

Nostalgia menjadi pembeda dan alasan utama kenapa orang tidak memiliki masalah dengan pilihan memainkan Heaven dan Summer of ’69 di awalan konser.

Ini Summer of ’69:

Toh, Bryan Adams tidak perlu takut penonton kecewa. “Saya punya dua belas album. Jadi, janganlah kamu khawatir. Punya waktu sampai pagi, kan?” tanyanya kepada penonton setelah repertoir Reckless selesai dimainkan.

Tentu saja, setelahnya, sekumpulan lagu hits lain berturut-turut dimainkan. Artis sepertinya, jelas tidak punya masalah memilih lagu apa yang ingin dimainkan untuk penonton yang sudah membeli tiket dan meluangkan waktu datang ke konsernya.

Dan ini Heaven:

Amsterdam dan Eropa pada umumnya, memang masih menjadi pasar yang lumayan basah untuk artis model Bryan Adams. Saya membayangkan, rasanya agak tidak mungkin untuk dirinya melakukan tur di kota-kota Asia Tenggara macam rumah saya di Jakarta.

Tapi, bener deh, jadi bertanya beneran; Apakah Bryan Adams masih punya pasar di pasar Asia Tenggara?

Kalau atas nama nostalgia, rasanya masih bisa. Toh, karya barunya juga hanya sekedar album cover. Jadi, tidak akan ngetop-ngetop banget juga. Mungkin saja crowdnya tidak akan sampai 12.000 orang seperti di Amsterdam. Rataan penonton di sepanjang tur ini juga masih lumayan tinggi; ribuan mendekati sepuluh ribu atau sekitarnya. Treatmentnya juga seperti tur dunia, lengkap dengan cetakan buku program dan booth merchandise yang banyak dan punya varian barang yang lebih dari cukup.

01

Anyway, tidak banyak anak muda 20-an di sekitar saya duduk. Yang lebih banyak adalah mereka yang ada di kisaran umur 45-50. Pangsa pasarnya menunjukan siapa yang masih mengkonsumsi Bryan Adams. Haha.

Ini membuat konsernya juga tidak begitu spektakuler dari segi tata cahaya dan panggung. Karena memang tidak perlu. Orang tetap datang untuk musik dan suara khas Bryan Adams. Tidak perlu efek visual yang canggih pun semuanya sudah cukup. Musik di era ini, memang mampu berdiri kuat tanpa perlu dibantu efek lain. Cara menikmatinya cukup sederhana; dua gitar, bas, kibor dan drums. Plus suara latar yang tidak perlu menghasilkan harmoni pecah suara dalam kuantitas yang ultra banyak.

Dan efek Bryan Adams, untuk saya, ya memang sesederhana itu. Jadi, ketika diberkahi waktu yang cocok untuk bertemu, sudah bersyukur. Tidak minta banyak, tapi diberi saja cukup.

I am a happy fan. (pelukislangit)

Kedai Tjikini/ Rumah Benhil
13-14 Desember 2014
Selesai 02.34.

Bonus. Ini video encore, All for Love:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s