Sepuluh Tahun Album Matraman Milik The Upstairs: Review Lama yang Terlupakan

Tulisan ini dipost ulang untuk ikut merayakan dirilisnya versi vinyl album Matraman milik The Upstairs, sekaligus memeriahkan ulang tahun ke-10 album yang sangat personal ini. Review ini sedianya akan dipost di webzine saya yang tidak pernah menjadi kenyataan sampai hari ini. Saya ingat menulisnya ketika tinggal di Bandung dan berusia dua puluh satu tahun. Masih sangat muda dan review ini sudah berumur.

Ketika menulis, saya ingat, Matraman ada di liga yang berbeda dengan Antah Berantah, EP pertama The Upstairs. Saya, awalnya, lebih menyukai debut mereka ketimbang album ini. Tapi kemudian, sepanjang perjalanan waktu, dengan berat hati, pilihan itu harus diralat. Matraman berhasil menjadi soundtrack esensial untuk perjalanan hidup saya.

Dan ia menancapkan cengkeraman yang sangat kuat pada penanda jaman Jakarta di era itu. Silakan datang ke pesta peluncuran albumnya hari Selasa besok. Dan selamat membaca review yang sudah berumur ini.

The Upstairs Matraman - Release Party

Reviewnya begini:

Pernah mendengar ada sebuah artis yang namanya Jimi Multhazam? Nah, dari nama yang tidak komersil itu, hadirlah sebuah konspirasi setan yang sangat menjanjikan kenikmatan. Namanya: The Upstairs. Band new wave yang sangat-sangat berbakat. Dan tentunya, representasi sisi kesenian lain dari Jimi. Materi album ini sebenarnya lebih banyak dipenuhi oleh materi lama mereka yang pernah dirilis dalam bentuk mini album dua tahun lalu. Juga materi-materi yang sangat indah. Bariskan saja: Antah Berantah, Modern Bop, Mosque of Love, dan Nilai Nilai Nilai. Tapi, marilah kesampingkan materi-materi lama. Hanya ada 3 lagu baru di rekaman ini. Matraman adalah yang paling menonjol. Jauh lebih bagus ketimbang lagu jagoan Apakah Aku Ada di Mars Ataukah Mereka Mengundang Orang Mars. Jika pernah melihat mereka manggung, bayangkan bagaimana Jimi mengoceh panjang lebar bin sompral untuk mengintroduksi satu demi satu lagu-lagu mereka. Lalu, kali ini yang dapat kita rasakan adalah nuansa bersenandung yang sangat syahdu, bersama lagu-lagu The Upstairs. Hahahaha… Sangat tidak mungkin, bukan? Yang harus disayangkan, adalah kualitas rekaman yang terlalu lembut. Itu menurut saya yang sangat awam teknik bermusik. Bagi saya, dengan rendah hati dan tanpa maksud untuk membanding-bandingkan, saya lebih menyukai suara kasar yang mereka hasilkan di mini album dulu. Lebih absurd, gitu. Tapi, sekali lagi, kalau mengingat ini adalah The Upstairs, suatu kali saya pernah menulis begini: The Upstairs adalah konspirasi tangan setan yang sangat menjanjikan kenikmatan. Dan Jimi? The Messiah, himself! Tapi album ini, sungguh sayang untuk dilewatkan begitu saja. (pelukislangit)

*) Tulisan asli ini ditulis sekitar pertengahan Februari 2004. Saya mengirimkan email tulisan ini ke sejumlah orang pada tanggal 18 Februari 2004. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s