Untuk Kamerad Wiratmono yang sudah pergi dalam tenang sebagai Josef Wiratno.
Sebagian dari diri saya, ingin bersembunyi. Sebagian lagi, ingin berteriak kencang menggugat. Tapi kemudian, cara Senyap berdamai dengan keadaan membuat seluruh gempuran energi itu diam tercekat.
Di akhir cerita Senyap, saya terdiam. Mungkin ada lebih dari semenit. Dua sisi tempat duduk seolah menjadi bantuan tangan ekstra yang tetap membuat diri tersadar. Perasaan acak kadut; ada marah, jijik, takut, heran dan sekaligus damai. Sebuah film, mampu berbicara banyak ketika keseharian kita menyorongkan pilihan untuk bungkam dan cenderung meminggirkan fakta sejarah yang mencengangkan.
Seluruh identitas resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang saya pegang, membuat sedikit rasa malu tinggal diam. Ada satu paradoks, benda-benda kesetiaan pada negara itu sebenarnya bisa jadi alasan untuk menumpahkan kemarahan.
Tapi, untuk apa mengikuti kemarahan?
Adi Rukun menjadi sebuah pisau tajam perdamaian lewat kisahnya. Film Senyap, berkisah tentang bagaimana ia mengelola segudang perasaan yang bertempur di dalam diri untuk kemudian mengikuti naluri bersahaja milik manusia; berdamai dengan keadaan.
Ia, bisa jadi memilih cara yang barbar dengan menuntut balas. Ia bisa juga mendera lawan-lawan bicaranya dengan palu godam yang bisa meremukan muka sewaktu-waktu. Tapi ia memilih untuk menghayati ekspresi muka orang-orang yang ia temui di dalam berbagai macam fragmen sepanjang Senyap untuk kemudian mengambil serangkaian tindakan terpuji untuk mempersilakan maaf menguasai nuansa hitam yang menggelayut di peradaban manusia modern ini.
Komunis, di tanah ini, berhasil menjadi sebuah momok berbahaya yang harus ditakuti dan dihindari dalam pembicaraan warung kopi. Padahal, ideologinya sudah usang dan cenderung tidak punya taji untuk hidup bersemayam dalam sendi-sendi keseharian bangsa seperti Indonesia.
Indonesia, bukan Vietnam yang masih mengagungkan jasa Kamerad Ho Chi Minh. Atau Indonesia, juga bukan Kolkata yang berhasil memodifikasi komunisme untuk hidup berdampingan dengan budaya lokal.
Di Indonesia, komunisme adalah cerita usang tentang mimpi-mimpi utopis manusia untuk bisa menciptakan kehidupan sama rata, sama rasa. Dan tentu saja, berbeda dimensi dengan paham “Istrimu, istriku” yang seringkali diungkapkan sebagai sebuah propaganda negatif untuk menangkal mimpi itu.
Tapi paham usang nan kuno itu, berhasil dibungkus dengan sebuah pelemahan kebudayaan yang dirancang dengan sangat hebat oleh sebuah rezim. Perancangnya, siapapun ia secara personal, wajib diganjar oleh penghargaan paling agung yang bisa diciptakan umat manusia; karena ia berhasil mengendalikan kehidupan bangsa dalam sebuah kerangka teror terhadap intelektualitas. Sekaligus juga, berhasil melepaskan sisi paling buas dari sebuah organisme hidup yang sejatinya tidak pernah berani dibayangkan oleh manusia modern.
Kekerasan jadi benang merah yang harus ditelan mentah-mentah sepanjang sembilan puluh menit. Dan itu sangat menyakitkan.
Senyap membuat jantung saya berdegup kencang, beberapa kali kehilangan kata-kata dan cenderung tidak punya nyali untuk melanjutkan napas di detik-detik berikutnya.
“Kok bisa ya manusia bertindak seperti itu?” adalah pertanyaan yang mungkin muncul pertama kali.
Mengikutinya di belakang, “Apa yang bisa membuat mereka tega melakukan itu ya?”.
Pertanyaan-pertanyaan substansial seperti itu, merupakan reaksi wajar. Dan olehnya, kita sebagai Bangsa Indonesia harus merasa resah karena berhasil ditelanjangi bulat-bulat oleh rangkaian gambar gerak yang tidak perlu disanggah keberadaan faktanya.
Karena Senyap, menyadarkan kita semua; tidak ada guna menyangkal, tidak ada guna mencari siapa yang salah dan tidak ada guna menggugat alam raya.
Komunisme dan seluruh ekses di masa lalu sudah berlalu. Yang perlu kita lakukan sebagai bangsa, hanya berbesar hati mengakui sejarah kelam itu. Toh, punya catatan gelap secara kolektif, bukan sebuah dosa hina yang mengubah cerita masa depan.
Sejarah mencatat, rekonsiliasi adalah obat yang super manjur untuk menutupi luka besar yang masih menganga. Tugas manusia Indonesia sekarang, hanya mengobati luka itu perlahan-lahan sekaligus memberikan asuransi natural bahwa kisah-kisah pilu seperti ini tidak bisa diperkenankan lagi hadir di tengah kehidupan kita semua.
Kembali ke film, ada satu titik lemah yang sayangnya harus direkam oleh Joshua Oppenheimer dan kru anominnya. Di bagian terakhir ketika dua laki-laki muda dan seorang ibu tua renta memajang wajah penuh kekagetan mereka yang disikapi dengan berbagai macam bentuk emosi, ia memilih untuk meminggirkan empati dengan menyorongkan rekaman si ayah yang merupakan seorang pembunuh berdarah dingin.
Kalau perlu dicatat, inilah salah satu kekurangan Senyap. Memojokan orang yang sudah terpojok, sejatinya secara prinsip, tidak banyak berbeda dengan apa yang dilakukan si ayah yang berdarah dingin itu kepada korban-korbannya.
Kalau kamu mencari alur cerita film ini, silakan cari review lain yang mungkin lebih punya korelasi kronologis tentang bagaimana film ini dirangkai.
Dan saya, di akhir film ini, berhutang besar pada Adi Rukun atas pelajaran berdamai dengan masa lalu yang ia wariskan secara personal. Saya harus berterima kasih padanya.
Dalam gulungan yang tidak teratur, Senyap pun meninggalkan pesan manis yang mungkin dikirim oleh Kamerad Wiratmono entah dari alam raya sebelah mana; bahwa rekonsiliasi dengan amarah dan diri sendiri adalah hal terbaik yang bisa diteruskan kepada masa depan. (pelukislangit)
11 November 2014
22.17
Kopi Oey Jalan Sabang




Leave a comment