Tur Rembol Rabu

Processed with VSCOcam with g3 preset

Perasaan itu datang lagi. Tepat di momen perkenalan saya dengan dua orang personil Rabu, duo asal Jogjakarta yang baru saja memulai rangkaian tur beberapa kotanya untuk merayakan dirilisnya versi cd debut album Renjana. Perasaan itu datang ketika Gufi Asu, teman lama saya, mengucapkan kata “Rembol” yang begitu familiar dengan sebuah bagian masa lalu.

Kejadiannya terjadi di Coffeewar, sebuah kedai kopi super menyenangkan di bilangan Kemang Utara, Jakarta Selatan. Sebuah tempat kecil yang mungkin hanya berkapasitas 50 orang, tidak lebih.

“Ini kenalin, Judha sama Wednes,” katanya.

“Saya Felix. Oh, iki tho asune?” jawab saya sambil setengah bercanda kepada Gufi, juga dengan Judha dan Wednes.

Judha dan Wednes adalah dua otak brilian di balik nama Rabu, duo yang hanya berisikan perkawinan dua gitar listrik dan vokal ajaib milik Wednes. Debut album mereka, Renjana baru diperbanyak dalam bentuk cd. Sebelumnya, album ini hanya tersedia dalam versi download gratis dari Yesnowave Music dan versi kaset yang kurang bisa diakses oleh orang banyak.

Malam tadi, Kamis, 19 Juni 2014, mereka baru memulai sebuah langkah besar untuk mengawali karir musikal di luar Jogjakarta; sebuah mini tur yang singgah di Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, Solo dan ditutup dengan sebuah pertunjukkan di kampung halaman Jogjakarta.

Tidak banyak band baru yang punya nyali untuk menyelenggarakan tur kecil dengan hanya menyertakan tiga orang di dalam rombongan perjalanannya itu; Judha, Wednes dan Gufi.

“Mereka harus ngerti ‘Rembol’, Su. Sudah lama kan nggak ada yang kayak gini?” kisah Gufi. Ia benar, sudah cukup lama rasanya tidak ada band independen pemula yang bekerja keras untuk album mereka dengan memainkan pertunjukkan kecil di sejumlah kota untuk berkenalan dengan orang-orang setempat dan mempromosikan sesuatu yang baru saja mereka rilis itu.

‘Rembol’ adalah termin yang biasa dilakukan oleh teman-teman di Jogjakarta untuk menggambarkan sebuah perjalanan nirlaba ke kota lain guna mempromosikan sebuah karya. Dulu, sewaktu masih bersama Ballads of the Cliché, saya beberapa kali melakukan perjalanan model begini. Di mana setiap merchandise yang kami jual di jalanan menjadi amunisi untuk perjalanan ke kota berikutnya. Atau sesederhana untuk ongkos mabuk dengan sejumlah teman baru yang kami temui di sebuah kota.

Spiritnya ada di level yang sama, dengan skala yang lebih kecil, dengan apa yang dilakukan oleh Begundal Lowokwaru, band punk senior asal Malang, yang sedang bekerja keras mempromosikan album baru mereka dengan melakukan tur sporadis ke banyak kota di Indonesia.

Poster Tour

Rabu sedang melakukan perjalanan menyenangkan ini. Seminggu ini, hidup mereka pasti akan penuh cerita.

“Mana kaos tur saya?” tanya saya kemudian kepada Gufi. Rabu mencetak kaos tur terbatas untuk merayakan tur ini. Jumlahnya hanya 20, semuanya sudah dipesan habis jauh sebelum mereka memulai tur ini.

“Ini kaos kamu. Lumayan, Su, buat modalin naik travel ke Bandung,” kelakar Gufi. Kaos tur ini disumbang oleh sebuah produsen lokal, sebagai bentuk kontribusi mereka untuk mendukung tur ini. Lalu, uang penjualannya digunakan untuk memodali perjalanan pindah kota yang harus dilakukan oleh mereka bertiga.

Tadi malam, yang hadir di Coffeewar adalah mereka yang benar-benar punya niat untuk datang menyaksikan Rabu bermain. Sebelum malam tadi, mereka juga sudah pernah bermain di Jakarta, di rangkaian RRREC Fest 2013.

Pertunjukkannya sendiri memang menyenangkan. Rasanya musik Rabu memang cocok untuk dimainkan di tempat-tempat kecil nan hangat seperti itu. Termasuk juga bumbu bau kemenyan yang memang sengaja dibakar.

photo 2

Judha dan Wednes tidak terlalu komunikatif. Entah tidak atau memang belum. Tapi, apa yang mereka sajikan bisa menembus kekakuan komunikasi yang terjadi. Ini semua didukung oleh materi album yang memang bagus. Cara Wednes menulis lirik terlihat begitu menarik, begitu pula kekuatan vokalnya; kalau melihatnya berdiri, pasti tidak akan menyangkan bahwa ia punya vokal yang begitu gelap dan powerful. Judha pun punya peran yang sama besar lewat isian-isian gitarnya yang nampak begitu pas.

Oh ya, di gambar di atas, yang sebelah kiri adalah Judha dan sebelah kanan adalah Wednes.

Rabu rasa Kamis semalam menyenangkan. Sukses untuk turnya. Dan selamat mengukir cerita yang lebih baik di masa yang akan datang. Kalau membaca tulisan ini sebelum 26 Juni 2014, semoga bisa melihat mereka bermain di kota kamu.

Album Renjana sudah beredar. Tapi, itu bahasan lain kali saja. (pelukislangit)

Kantor Tangerang
20 Juni 2014
15.40

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s