Tulus dan Perjalanan Menjadi Besar dengan Gajah

Tulus CD

Di pertengahan tahun 2012, nyaris dua tahun yang lalu, saya menyaksikan Tulus bermain di Gedung Kesenian Jakarta. Gedung itu tua dan arogan, dikenal luas –meski sekarang sudah punya ruang sedikit— lumayan meradang dengan musik kontemporer yang tidak masuk kategori ‘seni’. Tidak semua orang berkesempatan untuk memainkan karya mereka di gedung itu.

Ketidakfamiliaran itu seolah memberikan kesan angker dan sudah pasti akan menimbulkan banyak elemen gugup kepada orang-orang yang menampilkan pertunjukkan mereka. Tulus waktu itu baru punya satu album –yang kebetulan brilian— dan masih jadi pendatang baru. Ia menaklukkan panggung penuh prestis itu dengan kesederhanaan. Saya masih mengingat dengan jelas pertunjukkan itu dan di dalam padamnya lampu gedung, saya menyimpan sebuah harapan besar untuknya.

Di artikel yang saya tulis untuk The Jakarta Post beberapa waktu kemudian, ada bagian ini:

“It was a night full of joy and the man’s showmanship really stole the limelight. For a newbie in the industry what he played that night could be interpreted as a sign that a star is born. Controlling a high profile stage in his sole hands was an ability he displayed that night. Tulus, with his backup band really made GKJ their temporary playground.”

Link lengkap tulisannya bisa dicek di sini:
http://www.thejakartapost.com/news/2012/06/10/big-stage-here-comes-tulus.html

Waktu itu, saya sudah percaya bahwa ia akan jadi seorang penyanyi yang makin hebat dari hari ke hari. Ada banyak pengalaman menyenangkan mampir dan terekam setelahnya; main di Java Jazz dan mencuri perhatian serta membuat hall pertunjukan sesak, main di Jazz Goes to Campus dan sejumlah panggung penting lainnya. Ia melaju kencang di karir musiknya.

Beberapa waktu lalu, di tahun 2014, ia merilis album kedua berjudul Gajah.

Gajah adalah album yang menyenangkan dari depan sampai belakang. Digarap dengan kematangan sekelompok musisi pendukung dan produser bernas bernama Ari Renaldi –salah satunya dikenal luas karena keterlibatannya di seluruh album Mocca—.

Karirnya lumayan sesuai prediksi; album perdana yang mencuri perhatian dengan single-single bagus serta kemudian diikuti album kedua yang membuatnya naik kelas dari segi kualitas. Ada banyak monumen perjalanan karir yang tersirat secara jelas dari hasil produksi Gajah. Pengalaman-pengalaman yang dikumpulkan berhasil menjadi tabungan kematangan yang tebal di album ini.

Kemampuan penulisan Tulus meningkat drastis, ia berhasil menajamkan kemampuannya memotret kisah sederhana dengan sudut pandang yang tidak sederhana. Itu membuatnya berbeda dan tetap punya lacakan jejak yang khas.

Tulus 2
Foto oleh Ardianto/ Fotokonser.com

Contohnya lagu berjudul Gajah yang merupakan lagu favorit saya di album ini. Liriknya begini:

Besar dan berani berperang sendiri
Yang aku hindari hanya semut kecil
Otak ini cerdas kurakit perangkat
Wajahmu tak akan pernah kulupa

Waktu kecil dulu mereka menertawakan
Mereka panggilku gajah, ku marah
Kini baru ku tahu puji di dalam olokan
Mereka ingatku marah
Jabat tanganku panggil aku gajah

Kau temanku kau doakan aku
Punya otak cerdas aku harus tangguh
Bila jatuh gajah lain membantu
Tubuhmu di situasi rela jadi tamengku

Lagu ini, menurut penafsiran saya, bercerita tentang devosi yang bisa muncul dalam sebuah kerangka persahabatan. Lihat caranya memotret kisah ini; terlihat sangat khas, bukan?

Atau lirik lagu lain berjudul Jangan Cintai Aku Apa Adanya yang seperti ini:

Tak perlu lama-lama
Tak perlu banyak tenaga
Ini terasa mudah

Kau terima semua kurangku
Kau tak pernah marah bila ku salah
Kau selalu memuji apapun hasil tanganku
Yang tidak jarang payah

Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan

Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan ke depan

Kata “cinta” di serangkaian kata ini sama sekali tidak terdengar murah, malah terasa begitu indah karena memang disampaikan sesuai dengan porsinya. Ini salah satu lagu cinta yang manis sekali di album Gajah.

Tulus menambah panjang daftar penulis lagu Bahasa Indonesia yang baik di dalam cerita hidup saya. Ia mulai menapaki tangga ke atas dan menjangkau tiga orang penulis lirik Bahasa Indonesia favorit saya; Arian Arifin dari Seringai, Julius Ardy Verdijantoro dari Koil dan Jimi Multazham dari The Upstairs/ Morfem.

Kumpulan lagu-lagu dengan lirik bagus itu berhasil dirangkai dengan hasil produksi yang bagus. Tulus, dengan bantuan beberapa orang dari band pendukungnya dan Ari Renaldi, berhasil memindahkan apa yang mereka punya sehari-hari di atas panggung ke rekaman. Termasuk keberadaan dua gitaris yang memberi warna variasi yang enak untuk didengar.

Anto Arief –terkenal luas sebagai front man band Funk 70s Orgasm Club— mulai bergabung ke formasi band pengiring Tulus sejak beberapa tahun terakhir dan ia menunjukkan pengaruhnya di lagu pembuka Baru. Gaya bermain gitarnya itu, tentu saja kontras sekali dengan Topan, gitaris satunya yang memang sudah bergabung lebih dulu dengan band pengiring Tulus.

Topan mengambil peran yang sama penting di lagu-lagu yang lebih melodius dan cenderung pelan. Dua karakter yang bertolak belakang ini, membuat sebuah konstruksi nada yang enak sekali dan tidak membiarkan ruang untuk kebosanan menyeruak masuk.

Perpaduan keduanya menjadi salah satu penopang penting untuk menghasilkan aransemen musik yang kaya, persis seperti kondisi panggung-panggung pertunjukkan yang biasa dimainkan Tulus bersama band pengiringnya.

Tulus 1

Memindahkan nuansa panggung dan membuat aransemen jadi lebih kaya adalah salah satu faktor penting yang membuat Gajah menarik sebagai sebuah album. Orang-orang yang terlibat di dalam sini memberikan kontribusi yang membuat produk akhirnya sangat bagus. Kalau didengarkan dari depan sampai belakang, ini adalah album yang utuh. Sesuatu yang memang dirancang untuk jadi satu kesatuan dengan kualitas yang sangat baik.

Saya masih ingat malam-malam pertama setelah album ini dirilis beberapa bulan yang lalu di mana cd ini menjadi teman setia dan siap diputar berulang seolah tidak ada hari esok. Kondisi ini adalah keadaan standar di mana saya menyukai sebuah album musik; putar terus sampai lecet.

Tulus selalu ada di radar saya dan album Gajah ini merupakan belokkan penguat sinyal yang meneguhkan keinginan itu. Album ini sangat direkomendasikan.

Masih sama: he’s getting bigger and bigger. (pelukislangit)

Tangerang, 26 Maret 2014
13.22

*) Tulisan lain saya tentang Tulus bisa dicek di:
http://www.thejakartapost.com/news/2012/01/08/at-a-glimpse-the-world-tulus.html
http://www.thejakartapost.com/news/2012/06/10/big-stage-here-comes-tulus.html

*) Selain foto album, dicuri dari akun Instagram @tulusm

Tulus 3

One thought on “Tulus dan Perjalanan Menjadi Besar dengan Gajah

  1. Pingback: TULUS | CITA SEKAR OKTABRIAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s