Nonton Komunal di Limunas

Komunal - Felix Dass (Large)

“Di sini uang dan politik tak ada artinya…”
– Gemuruh Musik Pertiwi

Lagu perlawanan itu membahana dengan begitu kencang. Saya menempatkan diri di sudut sebuah ruangan yang begitu familiar dengan seorang yang pelan-pelan mulai menggoyangkan ruas kepalanya. Sebelumnya, orang ini sama sekali belum pernah mendengarkan musik Komunal. Mendengar namanya saja belum, malah. Tapi, lagu perlawanan itu berhasil membuatnya sedikit larut. “Lumayanlah,” katanya selepas konser.

Komunal memainkan pertunjukan paling panjang sepanjang sejarah musik mereka. Total ada 20 lagu yang dimainkan plus 2 lagu yang diulang karena permintaan penonton. Hampir semua familiar dengan musik Komunal, kecuali orang-orang seperti tandem nonton saya tadi atau segelintir polisi yang sedikit salah kostum dan masuk ke dalam ruang pertunjukan.

Liga Musik Nasional (Limunas) menjadi tuan rumah dengan kategori terbaik untuk Komunal. Terlepas dari memang punya keterkaitan sejarah dengan band ini, malam itu Limunas berjalan dengan luar biasa. Teramat luar biasa.

Komunal - I Gusti Ngurah Krisnu Maruti 1 (4)

Saya dan si tandem tadi datang khusus dari Jakarta, saya mengambil cuti dari pekerjaan di kantor. Karena memang memindahkan diri dari Jakarta ke Bandung di sebuah hari Jumat dengan ruang waktu pulang kantor adalah sebuah kemustahilan. Harapan fana namanya kalau memaksakan diri. Bisa jadi, waktu 3 jam hanya membawa orang Jakarta dari tengah kota ke Bekasi. Jadilah, sekalian saja saya mengambil cuti. Supaya tidak terbebani dengan aransemen waktu yang gila itu. Niatnya hanya satu: Menyaksikan Komunal bermain dengan set panjang.

Sesampainya di IFI, sekitar 20 menit sebelum pukul 20.00, waktu yang tertera di jadwal pertunjukkan, saya berpapasan dengan sejumlah orang yang sudah kehabisan tiket. Mereka mengantri alokasi waiting list untuk tiket yang sudah dibook tapi belum diambil oleh si pemilik. Wajahnya asing, bukan mereka yang biasa ditemui di acara-acara sejenis. Bukan juga massa metal atau rock yang biasa hilir mudik di konser-konser musik cadas Bandung.

Komunal - I Gusti Ngurah Krisnu Maruti 1 (2)

“Massanya beda, Lix,” kata Boit, teman dekat yang juga salah satu orang yang terlibat penyelenggaraan acara ini.

Bermain di pusat kebudayaan asing yang ramah –tidak seperti At America yang penuh dengan paranoia— rasanya sedikit mengendurkan urat ketegangan di dalam diri saya. Selepas bertegur sapa dengan sejumlah orang teman, saya segera mengarahkan diri masuk ke dalam ruang pertunjukan.

Komunal - I Gusti Ngurah Krisnu Maruti 1 (3)

“Cepetan, Lix, ada seremoni pembukaannya,” kata Boit lagi. Boit hari itu terlihat seperti ibu asrama yang menggiring siswanya untuk masuk ke dalam ruang pengarahan penting. “Gue cuma pengen semua nggak kelewatan openingnya, seru deh,” tambahnya lagi.

Saya menuruti. Begitu juga dengan puluhan orang yang masih ada di luar. Nonton musik di IFI (dahulu CCF), itu sedikit tricky. Ruangan konsernya bagus, lumayan bisa memberikan kondisi intim antara mereka yang main di panggung dan mereka yang menonton. Tapi, saking sempitnya itu, membuat kita harus memilih mau apa; apakah ingin sedekat mungkin dengan panggung atau melihat dari kejauhan.

Saya memilih posisi favorit, di sekitar mixer front of house. Bukan apa, tidak ada niatan untuk terlibat di dalam moshpit malam itu. Saya menyukai Komunal sejak album pertama mereka, tapi tidak begitu punya hasrat untuk larut jingkrak-jingkrak dan membagi energi dengan orang-orang yang mungkin lebih punya tenaga.

Komunal - I Gusti Ngurah Krisnu Maruti 1 (5)

Benar saja, adegan pembukanya seru. Layar turun dan ada intro sedikit sebelum kemudian raungan gitar mulai berbunyi. Konser dimulai.

Doddy Hamson, Sadath, Ai dan pemain bas tamu Arief Snik membakar malam itu dengan sinergi dahsyat yang mereka punya. Semua umpan dari atas panggung dimakan oleh penonton yang memang mencintai mereka sepenuh hati.

“Wah, ini yang datang kenal semua. Komunal nggak punya fans, tapi Komunal punya teman,” kata Doddy Hamson di suatu masa malam itu. Tapi, apapun namanya, tidaklah penting. Yang paling penting adalah kesediaan untuk mau bernyanyi dan membagi energi.

Semua lagu dari Gemuruh Musik Pertiwi dimainkan. Begitu juga beberapa lagu dari Panorama serta Hitam Semesta. Permainannya sendiri luar biasa hebat. Tipe musik pake elemen hati yang besar. Dan karena cairnya komunikasi antara Komunal sama penontonnya malam itu, semuanya jadi semakin sempurna.

Komunal - I Gusti Ngurah Krisnu Maruti 1 (1)

Bagian interaksi Doddy Hamson yang kikuk menjadi highlights dan sedikit adegan menarik napas berulang yang efektif. “Sebentar ya, kita ambil napas dulu,” ujarnya beberapa kali di antara jeda lagu.

Atau ketika ia dengan cuek bilang, “Katanya di sini nggak boleh ngerokok. Tapi saya boleh ya? Supaya mantap nyanyinya.” Ia mencari pemakluman dari penonton untuk melakukan ritual standarnya itu.

Dan menyaksikan pertunjukan seperti itu selalu menyenangkan. Scene independen Indonesia selalu punya ruang untuk menghadirkan keintiman model begini, kita semua hanya perlu giat bekerja keras untuk mampu melakukan pengulangan terhadap apa yang sudah terjadi ini.

Komunal - I Gusti Ngurah Krisnu Maruti 1 (6)

Dan juga, Limunas akan jadi salah satu agenda penting untuk saya. Mungkin sudah mulai menyamai tarafnya Superbad di Jakarta.

Komunal memainkan 22 lagu total malam itu. Malam berakhir anti klimaks karena keinginan penonton untuk mendapatkan lagu tambahan tidak dipenuhi. Pasukan Perang dari Rawa, anthem andalan Komunal mengakhiri malam itu. Di depan saya beberapa orang polisi mengawasi gerak-gerik orang yang keluar dari ruangan untuk mencari udara segar.

Adegan selanjutnya, saya menemukan diri saya di posisi yang sama dengan beberapa puluh orang yang masih tersisa di dalam; mengambil foto untuk mengabadikan malam hebat yang disajikan Komunal. Terima kasih untuk konser yang sangat bagus, Limunas dan Komunal. Waktu berjalan begitu cepat. (pelukislangit)

14 Oktober 2013
22.20
Rumah Depok
Thanks for the good weekend opener, Komunal!
Foto konser diambil oleh I Gusti Ngurah Krisnu Maruti dicuri dari http://ligamusiknasional.wordpress.com
Foto bass drum diambil oleh Felix Dass

KOms

Dan ini sedikit video yang direkam oleh ponsel saya ketika Komunal memainkan Gemuruh Musik Pertiwi:

One thought on “Nonton Komunal di Limunas

  1. Pingback: Nonton Komunal di Limunas | Liga Musik Nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s