Tentang Dewa Budjana yang Berpameran

Akhir pekan kemarin membuat saya berpikir panjang. Topiknya tidak serius, tapi penting juga dirasa-rasa: Dewa Budjana.

Nama yang satu itu mungkin tidak lagi asing untuk dunia musik Indonesia. Dewa Budjana adalah salah satu gitaris paling penting di era pop Indonesia dua puluh tahun terakhir ini. Ia, sehari-hari, adalah gitaris band panggung paling beken Indonesia, Gigi.

Dewa Budjana adalah pendiri sekaligus satu sosok penting yang tidak pernah mengangkat kaki dari Gigi. Ada banyak kisah mampir, tapi ia tetap ada di sana.

03

Cerita ini, yang mampu berjalan melintasi banyak partikel sejarah, membuatnya layak berada di posisi yang sangat disegani. Orang ini, penting sekali untuk musik Indonesia.

Yang sebenarnya menarik adalah kiprahnya sebagai pribadi. Bukan sebagai gitaris band kesohor yang kran rejekinya mengalir deras.

Tidak banyak orang menyadari bahwa kisah Dewa Budjana jauh dimulai sebelum Gigi berdiri. Ia sudah mengukir namanya di sirkuit Jazz Indonesia dengan bermain bersama banyak musisi penting di akhir 80-an dan awal 90-an. Sentuhannya kekalemannya menjelma kepada pilihan nada yang membuatnya dikenal sebagai seorang gitaris yang punya banyak wajah, semuanya sesuai dengan kebutuhan.

Gigi adalah wajahnya yang bernuansa pop, tapi sosok pribadinya sebagai Dewa Budjana adalah sebuah petualangan menarik yang tidak pernah bisa dilewatkan begitu saja.

Saya pertama kali berkenalan dengan karya solonya lewat album Nusa Damai yang rilis di tahun 1997. Album itu begitu jumawa kemasan visualnya; menampilkan Dewa Budjana dengan sekumpulan koleksi gitarnya. Yah, namanya juga gitaris, pasti hartanya ya gitar.

Album Nusa Damai itu memberikan sebuah kesan perkenalan yang bagus. Saya menemukan sosoknya yang berbeda terbalik dengan apa yang biasa saya temukan di Gigi. Dewa Budjana berhasil menjelajah kesukaan pribadinya dan mengembangkan apa yang menjadi selera personal.

Mungkin, itu adalah album instrumental pertama untuk koleksi rekaman saya. Album itu menghadirkan beberapa komposisi bagus yang sangat bisa dinikmati oleh orang dengan kuping standar seperti saya; mereka yang mengutamakan kenikmatan nada ketimbang pemilihan sound, notasi rumit atau tingkat kelihaian memainkan alat musik.

06

Sejak album itu, saya mengikuti kiprah Dewa Budjana sebagai seorang musisi solo. Sebagai seorang yang memilih gitar sebagai senjata dan bersuara dengan nada, bukan kata-kata.

Beberapa album solo menyusul di tahun-tahun berikutnya. Produktivitas itu menyusun sebuah pola indah di mana kenyataan menghadirkan Dewa Budjana sebagai artis rekaman dengan berbagai macam wajah, seperti sudah diutarakan di atas.

Gigi tetap menjelma menjadi sebuah entitas bisnis musik yang menarik kendati punya sejarah buruk dengan album rekaman yang tidak laku di pasaran. Sementara, kiprah solonya melewati banyak ruang eksperimen yang seolah membuka kenyataan kepada publik bahwa ia berkembang menjalani hidup dan menyentuh ruang-ruang baru yang nuansa artistiknya pekat.

Buat saya, seorang artis yang punya dunia seperti ini adalah sebuah pameran keberhasilan intelektual untuk menjalani kondisi kompromi yang membuat musik terus menerus hidup. Ia berhasil memilah mana sisi komersil untuk kemudian membiayai sisi non komersil yang memang mungkin saja juga sangat menarik untuk dijalani.

02

Pengalaman hidup membuat saya berpihak pada kenyataan seperti ini. Bahwa segala ruang kreativitas di tanah Indonesia ini memang perlu kompromi untuk bisa menemukan sisi nikmat. Dewa Budjana adalah panutan untuk saya, sekaligus jadi salah satu inspirasi besar di luar lingkungan main musik saya. Ia adalah penegasan bahwa musik bagus, sebaik apapun atau senyeleneh apapun, tetap perlu sisi bisnis pendukung dan layak dibela sampai dengan tetes keringat terakhir yang mungkin keluar.

Dan akhir pekan kemarin, ia memainkan lagi aksi magisnya.

Dewa Budjana baru saja merilis sebuah buku dan menyelenggarakan pameran untuk memperingati ulang tahun ke-50-nya.

04

Usianya sudah setengah abad, tapi wajahnya tidak juga menua digerus waktu. Ia masih sosok visual Dewa Budjana yang sama ketika berakting di dalam video klip Angan di tahun 1994. Rasanya ia tidak bertambah tua.

Yang seru adalah pamerannya. Dewa Budjana memamerkan koleksi gitarnya yang diperkosa massal oleh sejumlah artis dengan lintas disiplin seni.

Dan kolaboratornya itu juga bukan main-main reputasinya. Ada nama legendaris seperti Soenaryo, Nyoman Gunarsa, Nasirun dan Jeihan. Tapi ada pula nama seniman kontemporer seperti Bob Sick dan Syagini Ratna Wulan. Dan, secara visual, yang tersaji luar biasa indah.

Gitar, dijadikan kanvas. Dan masing-masing artis diberikan kebebasan untuk menginterpretasikan gagasan yang mereka inginkan.

Berdiri di dalam ruangan besar di ruang pamer Museum Nasional kemarin itu membuat saya bersyukur pernah menjadi saksi seniman besar yang memang mengoyak garis kemapanan model Dewa Budjana.

Tidak habis-habisnya saya berpikir, “Kok bisa ya dia gini?” Ada banyak gitar terpamerkan dan semuanya punya pesonanya masing-masing.

Kalau boleh memilih, maka saya akan menetapkan karya Bob Sick sebagai favorit. Bukan dari segi visualnya saja, tapi lebih pada perkawinan lintas genre yang membuat sebuah perpaduan baru yang cakap. Bayangkan saja, gitar seperti gambar di bawah ini, dimainkan oleh Dewa Budjana. Ideologi visualnya tidak masuk dong? Tapi ya, ini interpretasi yang sama sekali tidak mengubah karakter masing-masing senimannya.

01

Saya menikmati sekali pameran ini. Gambar-gambar di halaman ini adalah mereka yang berhasil dan menurut saya cukup seru untuk dibagi. Tidak sabar untuk menulis sesuatu yang lebih serius tentang Dewa Budjana, salah satu artis musik dengan ideologi paling penting di generasi saya. (pelukislangit)

Kalibata
23.04
2 September 2013

05

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s