Benar-benar Menyimak Efek Rumah Kaca

Beberapa hari yang lalu, memori membawa kenangan saya lari ke tahun 2008 di Bandung. Waktu itu, Efek Rumah Kaca mengadakan sebuah showcase kecil di Common Room. Dengan kapasitas ruang yang kecil, sebuah gig intim terjadi. Itu tipe gig ideal versi saya di mana pertukaran energi antara yang main musik dengan yang nonton musik terjadi dengan begitu indahnya.

Tulisannya bisa dicek di sini:
http://pelukislangit.multiply.com/journal/item/834/

Dan, ini tahun 2013. Saya sudah berjalan jauh meninggalkan kenangan di tahun 2008 tadi. Begitu juga dengan Efek Rumah Kaca. Sudah begitu banyak hal terjadi di dalam karir mereka. Tapi, kami disatukan lagi di momen dan ruang yang kurang lebih sama; sebuah intimasi yang ditawarkan lewat pertukaran energi antara yang main musik dengan yang nonton musik.

Efek Rumah Kaca versi Pandai Besi

Venuenya ada di kota saya, Jakarta. Ada di Rolling Stone Cafe di kawasan Pejaten. Efek Rumah Kaca memainkan set mereka yang panjang. Bahkan jauh lebih panjang ketimbang apa yang saya rekam dalam kenangan di Common Room nyaris lima tahun yang lalu itu. Total, mereka memainkan dua puluh lima lagu. Materinya diambil dari album pertama, kedua dan album ketiga yang tidak kunjung kelar direkam –dengan berbagai macam alasan, tentu saja—.

Karena sudah tidak berada di ruang dan waktu yang sejenis dalam kurun waktu yang panjang, wajar kalau ada sedikit keterasingan antara saya yang nonton musik mereka dan mereka yang memainkan musik yang saya suka. Wajar, namanya juga lama tidak bertemu dalam momen yang pas.

Saya berkembang jauh sebagai manusia, begitu juga dengan Efek Rumah Kaca sebagai sekumpulan manusia. Perjalanan musikal mereka melintasi banyak sekali potongan adegan di mana statistik mencatat frekuensi manggung yang masih lumayan kencang. Begitu juga dengan ruang aktivisme yang masih dijaga dengan sangat baik. Akan sangat mudah mendapati Efek Rumah Kaca ada di garis depan demonstrasi anti korupsi atau serangkaian benefit gig untuk berbagai macam hal menarik yang masih bisa dirasakan kita yang hidup di dunia tua ini.

Tapi sejatinya, lagu-lagu Efek Rumah Kaca tidak pernah pergi dari mana-mana di dalam sekian banyak relung hidup saya. Ia, terutama beberapa lagu, selalu berputar ketika diminta dan tidak pernah mengecewakan. Kenapa? Ya karena, lagunya membangun hubungan yang intim dengan sendirinya antara kami berdua.

Datang ke pertunjukan khusus dengan garansi set yang panjang adalah sebuah pemuas rindu yang ideal. Saya datang bersama beberapa teman dekat yang memang juga dekat dengan musik Efek Rumah Kaca.

Panggung Rolling Stone Cafe malam itu lumayan sesak di depan. Kami memutuskan untuk mencoba peruntungan di lantai atas. Kami datang ketika Efek Rumah Kaca sedang memainkan lagu pembuka. Telat, tapi masih banyak lagu menunggu di depan.

 

Efek Rumah Kaca yang benar

Selain sosok Efek Rumah Kaca yang saya kenal, juga ada penampilan Pandai Besi di sela-sela set. Sebelumnya, saya kelewatan penampilan alter ego ini. Informasi yang saya dapat sebelum menyaksikannya langsung kemarin bilang bahwa Pandai Besi konon merupakan penyaluran kebosanan masing-masing orang di Efek Rumah Kaca akan padatnya jadwal dan materi yang itu-itu saja. Sangat bisa dimengerti.

Menjadi touring artist dengan frekuensi panggung yang lumayan banyak dan materi yang itu-itu saja, tentu saja membosankan. Ini sangat bisa dimengerti. Terlebih ketika menyadari bahwa kamu –misalkan kamu ada di dalamnya— adalah tipe musisi yang suka mencoba hal baru. Pendekatan referensi apa yang didengarkan mengambil peran penting untuk penentuan arah mana yang dituju dalam kegiatan coba-coba ini. Pandai Besi menarik perhatian saya kendati dari sudut pandang yang berbeda.

Efek Rumah Kaca menghadirkan Muhammad Asranur di keyboard dan Agustinus Panji Mahardika di trumpet. Sementara, Andi Hans ada di gitar kedua, berduet bersama Cholil Mahmud. Posisi bass sekarang dipegang oleh Poppie Airil yang menggantikan Adrian Faisal. Akbar Sudibyo masih setia memainkan drum.

Formasi enam orang ini menyebut diri mereka Pandai Besi. Memainkan lagu-lagu Efek Rumah Kaca yang telah melalui proses rekonstruksi yang hebat; langgam diganti sehingga membuat kamu harus mengernyitkan dahi untuk mengenali ini lagu apa, lalu dentingan dua gitar yang memberi ruang yang sangat lebar untuk kekhasan permainan Andi Hans yang sangat shoegaze dan banyak elemen papan kunci yang mengisi lini belakang penampilan mereka.

Kekaguman ada di seluruh lini impresi yang muncul setelah mendengarkan satu atau dua aransemen pertama Pandai Besi di konser dengan tiga babak itu. Tapi, setelahnya, saya merasakan ketidaksepakatan di dalam diri saya dengan impresi pertama tadi.

Pandai Besi memainkan aransemen yang sangat melelahkan untuk dicerna sisi diri saya yang mencintai Efek Rumah Kaca yang sederhana. Terlebih setelah dua lagu favorit saya yang mungkin juga sudah terlalu sering mereka mainkan ditampilkan dengan versi Pandai Besi; Lagu Kesepian dan Desember. Walau kemudian Desember dimainkan dua kali dengan versi biasa sebagai encore pertunjukkan.

Konser kemarin berlangsung sekitar dua setengah jam. Itu sudah lebih dari cukup untuk seorang penggemar berat. Hampir semua lagu mereka dimainkan, termasuk beberapa komposisi yang sudah lama ditinggalkan dari set reguler.

Dari tiga babak yang ditampilkan, ada dua sisi diri saya yang jelas-jelas mengambil jarak. Yang satu bersorak-sorai ketika lagu dengan aransemen sederhana dimainkan, yang satunya mendadak menjadi pendiam dengan tatapan kosong ketika Pandai Besi mengambil alih panggung.

Mereka yang menyimak

Di tulisan yang linknya saya berikan di atas, saya mengulas kenapa saya mencintai Efek Rumah Kaca dan kenapa saya dulu memprediksi mereka seharusnya bergabung dengan major label untuk menjadikan musik mereka lebih dikenal orang. Tulisan itu tidak terbukti dan prediksi saya salah besar. Tapi tidak dengan rasa cinta saya sama band ini. Dan, saya tidak cinta Pandai Besi.

Mungkin juga ya, ini adalah strategi mereka untuk menjadikan publik punya perkenalan awal yang cukup untuk album ketiga mereka. Konon katanya, ada banyak materi berdurasi panjang ala-ala rock progresif. Pure Saturday melakukan perubahan drastis dan mengejar apa yang mereka suka di album baru dan itu tidak memenuhi selera orang banyak. Saya takut Efek Rumah Kaca akan terjerembab di posisi yang sama.

Memang, tidak pernah menjadi masalah untuk saya dan orang-orang yang ada di scene independen di mana pendekatan artistik seringkali ada di atas permukaan, bahkan di atas segala-galanya. Tapi, penting rasanya mengingatkan mereka bahwa ada banyak orang seperti saya yang mencintai mereka dengan kemasan yang sederhana. Seperti apa yang membuat mereka dikenal luas.

Perjuangan untuk mengejar apa yang disuka dalam hidup, tidak pernah salah. Tapi, ada pertanggung jawaban yang lebih ketika itu melibatkan perasaan orang lain.

Secara umum, pertunjukan Efek Rumah Kaca yang kemarin di Rolling Stone Cafe berlangsung dengan baik. Saya menyimpan kecewa, walau hanya untuk malam itu saja. Tapi tidak untuk masa depan.

Semoga album berikutnya tetap menarik. Oh, dan jangan salah sangka, saya tetap menaruh hormat yang sangat besar atas eksplorasi seni yang mereka lakukan. Kendati karenanya saya jadi benar-benar menyimak Efek Rumah Kaca, bukan menikmatinya seperti biasa. (pelukislangit)
Rumah Kalibata
26 Januari 2013
Nyaris lima tahun setelah tulisan panjang pertama saya tentang Efek Rumah Kaca
11.02 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s