Anak Merdeka di Hari Jumat Khas Jakarta

“Aku ini anak merdeka, tak berpunya tapi merasa kaya. Sebab di dunia milik bersama untuk dibagi secara adil dan merata. Kubawa-bawa matahariku, kubagi-bagi layaknya roti.” – Marjinal di Anak Merdeka

Dunia ini milik bersama. Dan karenanya kita jadi punya pilihan; menyerah atau mengakalinya. Atau pasrah. Atau mengalah. Atau yang paling sederhana, menjalaninya.

Processed with VSCOcam with m5 preset

Ujung Kemang di hari Jumat adalah neraka jahanam. Dan membenamkan diri di dalamnya adalah tantangan tersendiri. Kepadatan ada di sekitar.

Menantang adalah kata kerja yang cocok untuk menyikapinya. Sehabis bertemu dengan beberapa orang, saya duduk di sebuah kafe yang terlalu prejudis sebenarnya. Namanya Komunal 88. Letaknya di ujung gang besar Pejaten Barat, tempat Kolese Gonzaga berada.

Processed with VSCOcam with g3 preset

Ia menyandang kata yang sangat bernyawa, komunal. Tapi rasanya insan-insan di dalamnya seperti menganut pemahaman William Shakespeare, “Apalah arti sebuah nama?”

Kopi yang mereka tawarkan menarik. Terasa spesial. Tapi pelayanan yang diberikan tidak seru. Beberapa orang cenderung ketus dan lupa bahwa di dalam pajak tambahan 21% yang dikenakan bos mereka, ada kewajiban untuk memberikan pelayanan yang baik kepada pelanggan; siapapun mereka, berapapun yang dihabiskan di dalam tempat itu dan berasal dari suku bangsa apapun.

IMG_1169

Untung internetnya cepat dan mendukung proses bekerja di seperempat sisa hari tadi.

Selepas pekerjaan selesai, indikator kemacetan di ponsel saya bilang bahwa perjalanan ke rumah akan menemui banyak kemacetan. Begitu juga dengan jalur busway yang ada di bilangan Buncit Raya. Hari masih lumayan pagi.

Janji dengan seorang kawan yang bekerja di Cilandak Town Square dibatalkan karena ia harus tinggal lebih larut di lokasi pekerjaannya dan ia juga tidak membawa helm lebih untuk berkendara ke pusat kota Jakarta, tempat kami tadinya berencana menghabiskan hari Jumat.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Semalam, motor saya tinggalkan di Ruangrupa. Terlalu banyak ngobrol sehingga waktu tidak terasa berlalu. Saya ngantuk, dan jam-jam razia besar mulai beraksi. Ada alasan yang tidak bisa diungkapkan ke ruang publik untuk yang satu ini. Tapi, saya tidak menyukai razia lalu lintas yang secara reguler dilakukan oleh polisi. Motor hasil jerih payah sendiri, beli bensin pakai duit sendiri, kok diperiksa-periksa. Haha.

Kalau kemalaman, lebih baik saya pulang naik taksi. Lebih aman, mengurangi resiko kecelakaan yang bisa terjadi karena ngantuk. Dan tentu saja, bebas razia.

Tiba-tiba, saya ingin mengambil motor di Tebet, distrik tempat Ruangrupa berada. “Mumpung ada waktu,” ucap saya dalam hati. Jadilah saya kembali mengecek si indikator kemacetan. Ternyata dari ujung Pejaten Barat ke Stasiun Pasar Minggu, perlu waktu tiga puluh enam menit dengan menggunakan angkutan umum yang tidak berganti trayek.

IMG_1228

Sementara, ada sesuatu yang menarik, berjalan kaki dengan tujuan dan tempat keberangkatan yang sama, hanya perlu tiga puluh dua menit.

Jadilah saya mencoba sebuah hal seru; berjalan kaki dari ujung Pejaten Barat dan Ampera Raya menuju Stasiun Pasar Minggu untuk kemudian menggunakan kereta sampai Stasiun Tebet dan berjalan kaki menuju Ruangrupa di Tebet Timur Dalam Raya.

Rutenya sedikit menantang karena ada kepadatan berarti di kawasan Pejaten Village yang membuat pejalan kaki grumpy akan ngomel di sepanjang ruasnya. Untung saya bukan tipe pejalan kaki yang seperti itu. Diakali saja, toh jalan kaki jauh lebih menyenangkan ketimbang duduk diam di dalam kendaraan tapi tidak bergerak.

Duduk diam di dalam kemacetan itu merupakan salah satu hal paling menyebalkan bagi saya. Rasanya dibodohi kemudahan. Tapi melupakan sesuatu yang lebih penting, yaitu mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Processed with VSCOcam with g3 preset

Selepas menyusuri Pejaten Barat sampai pertigaan Salihara, petualangan sesungguhnya dimulai. Ada rekomendasi peta yang memotong jarak sampai nyaris delapan ratus meter; lewat Jalan Asem dan menyusuri perkampungan khas Jakarta yang rapat, banyak warung dan masjid serta laki-laki nongkrong. Ada ruas yang sempit, ada yang lega. Berwarna sekali rutenya.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Di beberapa titik ketika peta melenceng, saya terpaksa bertanya arah pada sejumlah orang yang ditemui. Seru juga bisa ngobrol-ngobrol kecil tentang arah sama beberapa tongkrongan tadi. Setidaknya ada tiga; satu memanggil saya dengan sebutan “Bang”, yang lainnya “Mas” dan satunya, “Dik”.

Rute kelok-kelok itu berakhir di sebuah pinggiran kali yang ujungnya bau kencing dan sedikit sempit. Di penghujung gang, terbuka sebuah pandangan riuh-rendah. “Ah, akhirnya sampai di Jalan Pasar Minggu Raya,” syukur saya. Letak persisnya gang di samping pintu keluar Terminal Pasar Minggu. Stasiun Pasar Minggunya ada di seberang.

Jembatan penyeberangan ada di titik yang jauh dan akhirnya saya harus melanggar peraturan memotong kompas di tengah jalan dan menerobos pembatas jalan yang sudah dibolongi orang untuk memoloskan diri.

Processed with VSCOcam with m5 preset

Kereta tidak lama datang begitu saya memasuki pintu stasiun. Dan dalam sepuluh menit kemudian, saya sudah tiba di Stasiun Tebet. Perjalanan jalan kaki ke Ruangrupa ditempuh dalam sepuluh menit.

Total jenderal dari simpang Pejaten Barat dan Ampera Raya sampai Ruangrupa ditempuh dalam enam puluh lima menit, 80%-nya berjalan kaki.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Boleh ya untuk mengisi Jumat malam? Damage costnya hanya Rp.2.000,00. Itu juga menggunakan budget kartu kereta yang ada di dalam dompet.

Ada banyak kata kunci yang bisa dicatat di pengalaman malam ini; Belakang Unas, anti macet, murah, tidak sebal, menyapa rumah bernama Kolese Gonzaga, mentertawakan orang yang ditipu kenyamanan pendingin udara tapi tidak sebenarnya sedang menguras energi duduk diam di dalam mobil dan berinteraksi dengan orang.

Processed with VSCOcam with m5 preset

Di sini baru sekumpulan kata tulisan Marjinal yang mengawali tulisan ini relevan. Saya merasa jadi anak merdeka, mungkin tidak punya banyak hal secara material, tapi merasa kaya karena diberkahi melihat kota yang ditinggali dalam berbagai wajah. Dan karena, sekali lagi, saya berterima kasih pada Jakarta. (pelukislangit)

5 Juni 2015 – 23.02
Rumah Benhil

Processed with VSCOcam with p5 preset

2 thoughts on “Anak Merdeka di Hari Jumat Khas Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s