Dr. Martens: Selalu untuk Selamanya

Klaus Martens, mungkin tidak pernah bermimpi kalau keterbatasannya akan jadi sarana pujaan untuk orang banyak berpuluh-puluh tahun kemudian. Ia menciptakan Dr. Martens, merk sepatu yang melintasi perjalanan waktu dan selalu keren.

Cerita singkat tentang sejarah Dr. Martens bisa dicek dari halaman Wikipedia ini:
http://en.wikipedia.org/wiki/Dr._Martens

Mari bicara sedikit tentang keberadaannya di Indonesia. Merk sepatu ini termasuk salah satu yang paling populer dan jadi indikator cerita seru di sejumlah geng pergaulan. Biasanya, mereka yang berbatasan pengaruh dengan musik, akan melibatkan merk sepatu ini sebagai salah satu penanda jaman. Anak motor juga tidak jarang terlibat dalam diskusi-diskusi tentang keberadaannya.

Yang lucu, sejarah toko resmi merk sepatu ini tidak stabil. Di awal 90-an, rasanya ada beberapa toko yang secara resmi memasukkan merk sepatu ini. Kemudian, baru ada lagi setahun-dua tahun terakhir. Tapi, selalu ada cara untuk mendapatkan sepatu ini di tanah Indonesia.

Mau yang asli ada, yang palsu juga lebih banyak. Beli bekas juga jadi salah satu alternatif untuk mendapatkannya. Yang jelas, sepatu Dr. Martens yang asli punya kualitas yang menjadi pembeda paling jelas. Semakin lama malah semakin ok penampakannya.

Ada beberapa hal menarik yang beredar di sekitar kebudayaan menggunakan sepatu yang satu ini. Idenya muncul dari sebuah malam perayaan ulang tahun yang digelar cabang Dr. Martens di Indonesia minggu lalu (2 April 2015) di Jakarta.

IMG_8856

Dengan kesadaran penuh, hari itu saya keluar rumah menggunakan sepatu Dr. Martens tipe Manton dengan warna navy blue dan sol merah. “Karena ini acara Dr. Martens, pake ah sepatunya,” ucap saya dalam hati ketika memilih sepatu untuk keluar rumah hari itu.

Orang seperti saya tidak sedikit. Anehnya, masing-masing nampak bangga menggunakan sepatu Dr. Martensnya. Padahal, masuk ke konsernya harus bayar lumayan dan acara molor keterlaluan. Loyalitas ada di sana.

Berkaca pada diri sendiri, kata loyalitas itu jadi kunci untuk banyak orang. Konser ulang tahun itu malah jadi ajang gathering orang-orang yang mencintai sebuah produk massal. Ada banyak cerita personal yang layak dibahas.

Beberapa orang yang diundang maju ke panggung bisa dengan mantap menceritakan jenis sepatu mereka apa, lalu dapat di mana, dll. Beberapa juga tidak paham jenis sepatunya apa yang penting ada alasan untuk menggunakannya.

Belum lagi sejumlah Dr. Martens snob yang masih menganggap ada kasta penting sepatu dibuat di mana dan berapa jumlah lubangnya. Semakin klasik, semakin tampak lebih ketimbang yang lainnya. Tidak salah, tapi malah memberi warna lain.

Saya beruntung menganut paham “Shoes are made to walk”, jadi pendekatannya lebih ke pengalaman digunakannya seperti apa. Itu jauh lebih penting ketimbang lubangnya berapa, sudah disemir atau belum, dsb.

Rasanya 80% orang yang datang ke acara itu menggunakan sepatu Dr. Martens mereka. Hebat juga ya kalau dipikir? Ini semacam gathering Vespa atau Lomography rasanya. Brand yang levelnya sudah segini, kayaknya punya cerita yang dalam dengan penggunanya.

Paling ‘aneh’ menurut saya adalah keberadaan komunitas yang berkumpul dalam jangka waktu tertentu hanya untuk membahas merk sepatu ini. Udah gila.

Yang juga menarik adalah cara mendapatkan sepatu-sepatu Dr. Martens. Pepatah yang bilang “Banyak jalan menuju Roma” itu betul adanya. Kalau beli normal, Dr. Martens baru itu sekarang harganya sekitar Rp.1.500.000,00 – Rp.2.500.000,00. Gila kan? Belum lagi tipe-tipe spesial yang bisa tembus Rp.4.000.000,00. Untuk ukuran sepatu, itu mahalnya minta ampun buat saya. Cenderung gila sih.

Beli di luar negeri juga tidak banyak lebih baiknya. Ongkos kirimnya juga amit-amit cabang bayi. Karena berat barangnya juga tidak bisa dikompromikan. Lantas, yang beli sepatu-sepatu itu siapa ya?

Kalau saya sih, mengandalkan diri pada diskonan yang bertebaran. Atau cicilan kartu kredit yang masuk akal hitungannya. Ada juga yang hobi berburu atau barter. Macam-macam caranya. Yang penting, Dr. Martens ada di kaki.

Cara mendapatkan banyak, alasan kenapa pakai juga banyak. Model yang mampu melintasi perjalanan waktu dan durasi pakai yang ada di sekitar delapan sampai sepuluh tahun membuat sepatu ini masuk akal untuk digunakan. Lintas musim juga berhasil sih, macam si Manton biru navy itu.

Bersamanya, kisah saya sudah melintasi beberapa musim dingin dan musim selalu panas yang ada di Jakarta. Dipakai jalan berkilo-kilo juga ok. Ada juga working boots coklat –saya lupa tipenya apa— yang enak sekali untuk kerja lapangan.

Yang masih belum enak juga ada. Si ungu yang bela-belain dibawa dari Inggris Raya. Dibeli karena warna dan harga masuk. Perlu kuantitas pakai yang lebih sering sih, supaya lebih nyaman di kaki.

Sementara koleksi paling baru, si hitam, merupakan idaman lama yang sangat praktis. Langsung ok dipakai menembus hujan dan jalan kaki jauh.

Ada banyak cerita orang dengan Dr. Martens mereka pastinya. Bisa macam-macam versi. Di sudut Foundry malam itu, saya berpikir, “Si Klaus Martens itu pasti sedang bahagia di alam sana. Yang ia ciptakan dari rasa tidak nyaman, bisa memengaruhi jutaan orang di dunia.” Penggunanya pun loyal.

Bisa begini ternyata hidup. Super menarik! (pelukislangit)

7 April 2015
Rumah Benhil – pemanasan sembari merekam
23.52

6 thoughts on “Dr. Martens: Selalu untuk Selamanya

  1. saya sendiri masih setia sama converse. brand ini, sepertinya punya loyal customer yang lebih besar dari dr martens.

  2. Saya mulai pakai docmart dari 1993 karena suka model solenya. Yang terakhir pakai buat kerja dari 2004 masih baik aja cuma sol menipis dan kulit mulai pecah. Terpaksa cari ganti yang mirip waktu pergi ke hongkong minggu lalu. Saya bukan fans merk tapi ini barang memang edan gila kuatnya hehehe.

    • Emang sebenarnya, sepatu laki-laki itu harus memerhatikan durabilitynya. Hitungnya bukan sekedar model, tapi berapa lama dia bisa tahan. Bayangin, beli sepatu dua juta kalau tahannya kayak gini; sama aja kan dengan beli sepatu sering? Malah bisa lebih murah kalau dihitung detail. Yang sekarang ada di rak sepatu saya, paling tua tahun 2008. Ini masih dipakai kerja menjelajah banyak tempat dan sangat mantap penampakannya.

    • Kalau gue sih, mendingan elo nabung agak lama tapi beli yang baru. Minimal tahan lima tahun. Angka memang agak gede, tapi coba dibagi dengan usia pakainya. Beli bekas nggak ok menurut gue, usia lebih pendek juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s