Mulai: Catatan untuk Buku Exile

Processed with VSCOcam with c1 preset

Rosa Panggabean, seorang fotografer muda, memulai sebuah upaya mulia untuk meretas satu sisi sejarah yang terlupakan; mendokumentasikan kehidupan sejumlah eksil yang kini bermukim di Amsterdam, Negeri Belanda.

Dalam sebuah perjalanan singkatnya, ia menguak tabir kisah di masa lalu yang penuh misteri dan lika-liku.

Negeri Belanda, seperti yang ditemukan oleh Rosa Panggabean di dalam perjalanannya, kini menjadi salah satu kantong eksil Indonesia yang menjadi korban pergolakan politik di tahun 1965.

Eksil adalah sebuah terminologi yang padat bersayap. Bunyinya tidak enak. Ada banyak belokan kemungkinan di dalamnya. Cerita-cerita tidak masuk akal dalam peradaban manusia berseliweran tanpa pernah bisa diprediksi. Mereka yang terhalang pulang, dengan berbagai macam caranya bertahan hidup dan sekuat tenaga mencoba menerima kenyataan yang ada di genggaman.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Tentu saja, ada banyak ketidakadilan dan kemarahan yang berserakan. Dan di dalamnya juga bertebaran kisah perjuangan manusia menaklukan hidup dalam level yang sederhana dan jauh dari hingar bingar sorotan politis orang banyak; dari sekedar hanya bertahan sampai mencari secercah harapan yang lebih baik.

Mengurai cerita-cerita personal adalah sebuah perjalanan panjang yang perlu diselesaikan dengan energi banyak. Belum tentu bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Belum tentu pula punya guna untuk diurutkan. Sama sekali tidak mudah.

Rosa Panggabean, lewat gambar-gambar sederhananya, bisa memotret keseharian dengan cara bertutur yang mudah dipahami. Sesekali ada guratan emosi berdosis tinggi yang nampak tersirat dari raut wajah tokoh di dalam gambarnya. Dan itu menimbulkan pertanyaan lanjutan.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Ada banyak hal yang bisa dipertanyakan. Tapi mari disederhanakan; ia sedang memotret manusia. Sudah sepantasnya, paradigma kemanusiaanlah yang jadi corong untuk melihat luka yang ditinggalkan. Luka kolektif yang muncul akibat berbagai macam simpangan kisah yang justru tidak bisa dilihat dengan sederhana, sesederhana hitam dan putih yang bedanya begitu berjurang.

Ada banyak tembok besar yang harus ia hadapi. Kerasnya tekanan waktu produksi yang tidak punya durasi lama, juga menambah tantangan. Yang paling berarti adalah menguak kisah lama yang bisa jadi sudah dikubur dalam-dalam atau masih disajikan hangat di meja makan. Tembok-tembok itu membuat karya ini punya keterbatasan dan ‘tidak dalam’.

Dan karenanya, kita tidak perlu membuang tenaga untuk menyelam lebih jauh mencari tahu hal-hal yang lebih serius dari kemanusiaan itu sendiri. Toh, fakta menjelaskan bahwa memisahkan seseorang dari kebudayaan dasarnya tanpa persiapan dan waktu yang berarti itu lebih keji ketimbang pengeroyokan, adegan main hakim sendiri atau bahkan penusukan di tengah malam.

Seluruh kekerasan fisik, rasanya tidak ada apa-apanya ketimbang kekerasan mental yang dialami oleh banyak orang yang terhalang pulang ini. Itu juga mungkin menjelaskan kenapa tembok yang harus dihadapi Rosa Panggabean begitu tinggi.

Ide tentang Indonesia, yang sekaligus merangkap sebagai rumah, tetap dipegang sampai hari ini. Kendati secara fisik pula, sudah berjarak sedemikian jauh. Dan di situlah kue terbesar eksplorasi masa lalu harus dilakukan. Supaya bisa dihindari di masa yang akan datang.

Tiba-tiba pula saya teringat lagu Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki yang punya lirik seperti ini:

“Tanah airku Indonesia, negeri elok yang amat kucinta. Tanah tumpah darahku yang mulia, yang kupuja sepanjang masa…”

Processed with VSCOcam with c1 preset

Indonesia, adalah negeri asal mereka yang terhalang pulang ini. Tempat mereka membentuk kisah sejak dini untuk menikmati setiap hembusan napas yang diberikan alam raya. Dan negara, karena alasan apapun, tidak berhak mengambil memori itu apalagi menghalangi warganya untuk pulang guna menjalankan hidup, beraktivitas dan menutup mata di negeri tempat mereka berasal.

Mari mengarungi perjalanan panjang ini dan terima kasih Rosa Panggabean, karena telah berkontribusi memulainya. (pelukislangit)

Rumah Benhil
20 Januari 2015 // 11.30
24 Januari 2015 // 10.56

Buat: SP dan NP

2 thoughts on “Mulai: Catatan untuk Buku Exile

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s