Tantangan Atas Nama Inspirasi

Kelas Inspirasi - Warm Up

Semua orang pernah kecil. Dan semua orang pernah (dan semoga selalu) ada di dalam fase mengawali mimpi dan menghidupinya. Kadang bisa berhasil, kadang jadi angan-angan kosong di siang bolong. Tapi kalau proses itu tidak pernah dimulai, maka jangan pernah berharap bagian mimpi itu akan terjadi.

Idenya klasik. Tapi sama sekali tidak sederhana. Sebuah tweet dari seorang teman, Wendi Putranto, di sebuah malam benar-benar menggugah saya untuk mencoba sebuah hal yang sebenarnya tidak baru-baru amat; mengajar.

Wendi membagi kisahnya menjadi seorang relawan pengajar di Kelas Inspirasi, sebuah inisiatif yang digagas oleh gerakan Indonesia Mengajar. Idenya adalah membawa profesional kembali ke bangku sekolah dasar dan membagi kisah mereka kepada anak-anak. Tujuannya untuk menyebarkan inspirasi tentang berbagai macam tipe pekerjaan yang mungkin dihadapi di masa depan.

Mungkin, masa depan jaraknya jauh untuk mereka, tapi pengenalan dini akan membantu jaringan-jaringan impian terbangun. Wendi dan pengalamannya menggoda saya untuk mencoba tantangan ini.

Kenapa saya menyebutnya tantangan?

Di dalam sesi briefing yang dilakukan sebagai perkenalan sekaligus pembekalan minggu lalu (11 Oktober 2014), seorang pemateri bilang kurang lebih begini:

“Ini sebenarnya bukan tentang bagaimana kita mengajarkan anak-anak itu, tapi yang berlaku adalah hal sebaliknya; bagaimana kita belajar tentang hidup dari anak-anak itu.”

Saya sepakat dengan si pemateri itu.

Sebelumnya saya sudah punya beberapa pengalaman mengajar. Kebanyakan bicara pada anak kuliah yang memang pola pikirnya relatif sudah terbentuk. Sesi jadi tamu pengajar itu setidaknya membuat saya paham bagaimana dimensi perasaan ketika ada di depan orang-orang banyak yang punya beberapa ekspresi ketika menyimak seluruh omongan yang keluar dari mulut ini.

Tapi bagaimana kalau faktor non teknis jadi bicara lebih banyak ketimbang teknis? Itu yang jadi tantangan.

Dari jadwal yang sudah diberikan, saya kebagian mengajar anak kelas satu dan lima. Yang akan diberikan adalah ide dasar tentang profesi penulis, sesuatu yang lekat dengan diri saya. Di sinilah tantangan dimulai.

Yang kelas lima, mungkin tidak begitu bikin takut. Yang kelas satu yang bikin takut. Proses bikin takut itu levelnya lumayan dalam. Saya sempat sedikit hilang akal karena ada banyak faktor non teknis yang melekat pada sosok saya.

Pertama, wajah saya tidak begitu ramah bagi anak kecil. Saya memelihara jenggot dan berambut sedikit panjang plus karakternya agak seram bin tua. Kelemahan pertama.

Kedua, saya belum punya pengalaman mengasuh anak kecil secara konstan. Selama ini, kalaupun ada kisah interaksi dengan anak-anak di usia kecil, itu pasti sifatnya sporadis dan biasanya ditemani oleh orang dewasa yang sudah mereka kenal.

Ketiga, ada pertanyaan besar di dalam kepala yang sedikit bernada ketakutan itu tadi; apa ya kira-kira yang bisa menempel di diri anak-anak yang celakanya harus bertemu dengan saya nanti?

Yang akan dibagi bukan tentang kisah seorang Felix Dass. Tapi kisah seorang penulis yang merupakan sebuah profesi yang mungkin bisa menjadi pilihan ketika mereka dewasa nanti. Jadi, ini bukan perkenalan tentang sudah sejauh mana saya melangkah, tapi tentang profesinya.

Itu juga sulitnya minta ampun kalau dipikir-pikir. Ok, mungkin saya sedikit overthinking tentang tantangan ini. Tapi, ini benar-benar berat.

Kalau mau berpikir sedikit positif, saya akhirnya menggunakan jasa seorang teman yang kebetulan merupakan guru sekolah dasar. Saya memutuskan untuk menelepon Aprimela Prawidyanti, si guru itu. Beberapa tahun terakhir ini, ia memang berkarya sebagai seorang guru. Saya menceritakan tantangan ini kepadanya.

Awalnya, dari koneksi telepon di seberang sana, ia semacam menyiratkan kebingungan tentang kenapa saya mau melakukan hal ini. Setelah diceritakan, barulah ia sedikit paham. Saya mengorek seluruh informasi yang mungkin berguna dari pengalamannya berurusan dengan anak-anak sekolah dasar itu, terutama tips dan trik untuk mengurus anak kelas satu.

“Gila, Mel, ini sih mendingan gue bikin presentasi buat presiden deh,” ujar saya di tengah-tengah obrolan itu. Karena memang sesungguhnya keadaannya seperti itu; lebih mudah menyusun presentasi untuk orang-orang dewasa ketimbang menyederhanakan kehidupan untuk anak-anak yang belum tahu banyak hal.

Obrolan dengan Mela, lumayan memberi sedikit kisi-kisi tentang kehidupan anak sekolah dasar.

“Elo harus cari sesuatu untuk jadi media komunikasi lo, Lix,” ujarnya. “Mereka nggak bisa dikasih tahu langsung, harus lewat sesuatu yang sifatnya main.”

Kegiatan Kelas Inspirasi yang saya ikuti akan berlangsung di Depok, kota tempat saya bertumbuh besar. Saya kebagian sekolah dasar yang lokasinya tidak begitu sulit untuk dijangkau. Aksinya akan terjadi hari Senin, 20 Oktober 2014, persis di hari Indonesia punya presiden baru.

Sekarang, ada banyak ide sedang bermain di kepala saya. Termasuk di dalamnya ide-ide bermain tentang dunia tulis-menulis. Masalahnya, ide-ide itu harus diuji dalam waktu yang singkat, punya guna tidak untuk anak-anak yang akan saya temui nanti?

Semoga saya punya guna untuk mereka. Fingers crossed. (pelukislangit)

Kedai Tjikini
18 Oktober 2014
20.10
Terima kasih untuk Wendi Putranto untuk inspirasinya
Terima kasih untuk Aprimela Prawidyanti untuk tips dan triknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s