Lagi-Lagi Ubud: Tentang Ubud Writers & Readers Festival 2014 dan Serangkaian Cerita di Sekelilingnya

Salah satu tempat favorit di muka bumi, pembahasan maraton tentang tulis menulis. Kunjungan ke Ubud kali ini, memulai sebuah tradisi tahunan dalam hidup saya.

IMG_1329

Di blog ini, ada satu tulisan tentang Ubud. Di situ, saya bilang bahwa tempat ini merupakan salah satu tempat paling indah di dunia bagi saya. Paketnya komplit, karena seolah-olah daya magis yang ada itu muncul dari perpaduan seluruh elemen yang ada di sekitar.

Tulisannya bisa dicek di sini: https://pelukislangit.wordpress.com/ubud2013

Maksudnya, tanpa harus melakukan pencarian yang cukup dalam, Ubud sudah mampu menghadirkan sebuah pengalaman baru yang memberikan kedamaian untuk pengunjungnya. Itu kenapa saya menyukainya.

Misalnya saja, di Ubud, kehidupan berhenti pukul sebelas malam. Usianya tidak tua, tapi ia bisa berkata cukup untuk sebuah hari. Tanpa perlu perpanjangan waktu atau kegiatan tambahan yang dilakukan sembunyi-sembunyi.

Kota besar –kendati saya cinta mati sama Jakarta— terkadang membuat mesin manusia model kita semua soak lebih cepat. Jadi, tidak salah untuk melakukan sedikit penyegaran dengan hidup beberapa hari di suasana yang berbeda. Itu lumrah.

IMG_1355

Saya baru saja menghabiskan waktu nyaris seminggu di tanah Ubud dan mengikuti Ubud Writers & Readers Festival 2014, festival literasi tahunan yang sudah memasuki tahun kesebelas. Festival ini menghadirkan banyak sekali diskusi simultan yang punya topik macam-macam. Ada berbagai tipe ketertarikan yang difasilitasi di festival ini.

Dalam kasus saya, beberapa topik yang menarik dan menarik perhatian ketika program resmi dirilis adalah surfing, adiksi pada substansi tertentu, bahasan tentang Indonesia, makanan atau romantika menjadi travel writer. Membayangkannya saja, sudah lumayan menyenangkan. Apalagi menjalani kenyataan di dalamnya?

IMG_1388

Duduk dan menyimak diskusi maraton itu luar biasa serunya. Apalagi kalau kemudian terjadi pertukaran pikiran yang konstruktif setelahnya. Mungkin termin yang cocok bernama masturbasi pikiran di mana banyak orang dengan berbagai macam latar belakang mengutarakan pandangan mereka terhadap sebuah isu. Ada yang cocok dan banyak yang tidak.

Yang dituntut ada di semua orang adalah kemampuan untuk menerima kenyataan bahwa tidak ada keseragaman dalam proses berpikir dan menyikapi sebuah keadaan.

IMG_1418

Itu adalah oleh-oleh paling bagus yang bisa saya bawa pulang ke Jakarta. Bersama sebuah pertanyaan besar yang bunyinya, “Kalau acara seperti ini terjadi di langit Jakarta, apakah mungkin mendapatkan respon yang kurang lebih sama?”

Pengalaman saya bernama, “First cut is the deepest.”

Selain mengalami berbagai proses diskusi yang efeknya juga macam-macam, saya juga pulang membawa sejumlah buku yang harus dibaca setelah menghadiri diskusi dengan si penulis. Yang paling menonjol adalah pengalaman simultan mendengarkan seorang penulis asal New York bernama Rayya Elias.

Ia punya buku berjudul Harley Loco: A Memoir of Hard Living, Hair, and Post-Punk, from the Middle East to the Lower East Side. Ini adalah buku biografi, genre favorit saya. Ia bercerita tentang jalan hidupnya yang penuh liku dan sejumput usaha keras untuk membuat kisah itu berjalan teguh dalam koridor hidup yang disukai oleh seseorang.

IMG_1455

Kalau membaca sekilas judulnya, ini memang cerita hidup orang yang tidak sederhana. Caranya bertutur penuh dengan kejujuran dan memang selalu sulit untuk bisa berkata jujur tanpa filter terhadap sebuah kejadian, bukan? Rayya adalah seorang junkie yang hidupnya terlalu penuh dengan warna; petualangan seks sesama jenis, scene punk rock, kehidupan pribadi semi arab, narkoba dan tentu saja keberanian untuk mengarungi bahtera hidup.

Inilah inti yang juga penting dari festival model begini; mendapatkan insipirasi dari orang lain untuk kemudian bisa menjalani hidup dengan bahagia.

IMG_1311

Ketika diingat, senang rasanya menemukan diri saya ada dalam kecepatan hidup ala liburan tapi setiap satu jam sekali mengganti ekspektasi di dalam kepala. Kadang juga diwarnai dengan jalan kaki santai yang mencerahkan, jarak tempuhnya bisa dua atau bahkan sampai empat kilometer setiap harinya. Berpapasan lalu melempar senyum pada orang lain yang kebetulan ada di kotak waktu yang sama juga menyenangkan.

Ubud selalu punya ruang untuk itu.

Tidak ketinggalan sejumlah obrolan penuh warna dengan sejumlah orang yang saya temui di perjalanan ini.

Saya menghabiskan beberapa jam di sebuah sore bersama teman lama dari Bandung, Tarlen Handayani dan teman baru yang baru saya kenal hari itu, Catur Ratna. Kami duduk bertiga di sebuah kedai kopi yang lumayan hangat dan tidak mahal-mahal amat kendati berada di poros utama Ubud, mencoba Kopi Bali yang lumayan keras untuk perut saya. Obrolannya mengalir membawa beberapa topik, mulai dari cara apresiasi orang Indonesia yang kikuk sampai ke Partai Komunis Indonesia yang meninggalkan drama besar untuk bangsa ini.

IMG_1445

Lalu, saya juga duduk dalam sebuah “Havana Dinner Date” bersama Liyana Fizi, teman lain yang kebetulan punya poros astrologi yang sama. Sehingga, kami tidak perlu waktu lama untuk menyesuaikan diri masuk dalam pembicaraan, karena gayanya relatif sama. Obrolan panjang itu membuka persepsi kami tentang bagaimana kehilangan bisa menjadi guru yang baik jika dirayakan dengan tepat.

Anyway, kenapa namanya “Havana Dinner Date”, karena kami melakukannya di sebuah restoran Kuba yang rasanya agak sedikit Melayu. Mereka juga memainkan musik salsa lengkap dengan sejumlah pegawai yang bisa menemani pengunjung untuk turun ke lantai dansa.

IMG_1567

Dengan Liyana juga, kami menutup malam lainnya berbincang bersama Rio Augusta, teman lama saya, dan pasangannya yang tidak sengaja bertemu selepas pertunjukkan Tribute to Lempad yang epic. Epic karena diakhiri dengan hujan deras yang menguji ketabahan untuk tetap tinggal menyaksikan pertunjukkan yang pada akhirnya harus diakhiri karena kehendak alam.

Obrolan-obrolan tanpa ekspektasi ini membuat serangkaian hari menjadi lebih berkualitas. Saya ingat sebuah kalimat milik Yang Mulia Pramoedya Ananta Toer di Bukan Pasar Malam:

“Mengobrol adalah suatu pekerjaan yang tak membosankan, menyenangkan dan biasanya panjang-panjang.”

Nah, hari-hari saya di Ubud pekan kemarin, diisi oleh hal-hal seperti ini. Tiada kata lain yang bisa menggambarkan seluruh kejadian ini selain menyenangkan.

Sekali lagi, Ubud selalu punya ruang untuk itu. (pelukislangit)

Kantor Cengkareng, Kedai Tjikini, Rumah Benhil
9-12 Oktober 2014

2 thoughts on “Lagi-Lagi Ubud: Tentang Ubud Writers & Readers Festival 2014 dan Serangkaian Cerita di Sekelilingnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s