Lari (Lagi, dengan Angle yang Beda)

Setelah enam bulan absen, saya mulai berlari lagi. Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa saya sudah berhenti berolahraga berbulan-bulan. Padahal, di dalam sejarah hidup saya, ini merupakan sebuah kebutuhan.

Di bangku sekolah, olahraga membuat saya ketagihan. Tapi, jadi manusia dewasa itu selalu sulit, ada banyak kepentingan yang beradu dan membuat segala sesuatu yang sifatnya sekunder cenderung terlupakan. Termasuk olahraga.

Nah, libur lebaran kali ini, saya tidak pergi kemana-mana dengan berbagai alasan. Ini kejadian pertama dalam tujuh tahun terakhir. Biasanya, saya sudah punya rencana banyak; mau ke sana, mau ke situ. Tapi kali ini tidak. Jadi, agendanya memang menikmati Jakarta.

Saya sedang punya sebuah proyek menyenangkan yang harus diselesaikan. Dan pilihan lokasi untuk menyelesaikannya ada di Jakarta; lebih tenang, hemat ongkos dan karena kotanya sedang sepi, maka unsur kesunyian bisa didapatkan dengan mudah.

Jadi, selama libur panjang ini, agenda saya tetap lumayan terstruktur; bangun pagi, mengerjakan proyek dan menyudahinya di sore hari. Rasanya tetap mirip dengan agenda kantoran tapi kali ini untuk proyek pribadi. Kedisplinan untuk mengerjakan proyek ini tetap terjaga.

Nah, di tengah proses mengerjakannya, saya tiba-tiba mendapatkan link untuk menyaksikan video brengsek ini:

Video ini lumayan bikin mikir dan memprovokasi. Jadilah, coba diterapkan. Hitung-hitung mencoba hal baru yang lucu juga kalau dipraktekan. Intinya adalah membangun interaksi dengan banyak orang.

Hari Minggu kemarin, atau pas malam takbiran, saya makan malam dengan Lucia Nancy, seorang teman yang karakternya lumayan unik; dia merupakan seorang guru renang, aktivis social media dan perempuan yang mau menukar tatapan mata ketika berbicara panjang lebar. Unik karena punya dua jendela kehidupan; satu di social media dan satu di dunia nyata.

Perempuan ini sangat energik. Salah satu bagian yang menyenangkan adalah ketika kami berbicara tentang olahraga. Saya bilang betapa merindu akan kehadiran olahraga di dalam kehidupan sehari-hari. Saya juga cerita bahwa olahraga sendiri di gym kantor, rasanya kurang ok. Pernah dicoba lalu kemudian kehilangan selera.

Dia lalu, menceritakan interaksi dengan sejumlah murid kecil yang ia asuh sehari-hari. Membagi kisah tentang cara mereka berlatih renang, ribetnya mengasuh anak yang tiba-tiba grumpy karena urusan rumah dan beberapa hal lain.

Dan tiba-tiba tercetuslah sebuah kalimat penting, “Apa besok kita lari aja, Cy?”

Kami tertawa. Tidak menganggap kalimat itu serius. Kami kebetulan tidak merayakan Idul Fitri, tapi kebagian libur panjangnya. Oleh karena itu, tidak ada agenda silaturahmi ke rumah saudara atau berkunjung ke rumah teman-teman. Dengan sendirinya, ada banyak waktu harus dihabiskan.

Malam berakhir dan kami pulang. Kalimat tadi masih tidak dianggap serius sampai kemudian keesokan harinya ia meninggalkan pesan di ponsel saya.

“Lix, jadi kepikiran. Apa kita lari aja sore ini?” begitu ucapnya.

Karena membacanya sebangun tidur, saya perlu waktu untuk sedikit mencernanya. Beberapa waktu kemudian, saya membalasnya, “Ayok. Sore aja ya. GBK?”

Akhirnya kami sepakat berjanji untuk bertemu sore harinya. Dengan catatan, ia tidak boleh menggunakan standar atletnya. Harus mengikuti cara saya berlari dan santai. “Supaya tidak terintimidasi,” pikir saya dalam hati.

Perempuan ini sudah pernah ikut lari yang serius berkilo-kilometer itu. Plus, pekerjaannya di bidang olahraga. Jadi, sudah pasti kondisi fisiknya jauh lebih baik ketimbang saya. Saya harus memastikan bahwa ia tidak akan mengintimidasi saya dengan target pribadinya. Haha. Dan ia menyanggupi.

“Udah lama nggak lari gini sih. Ada kali sebulan,” ujarnya. Buset! Sebulan dibilang lama. Apa kabar dengan saya yang sudah lebih dari enam bulan?

Akhirnya, kami siap berdiri di salah satu pintu masuk Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Menu pertamanya jalan santai keliling di perimeter luar. Sembari jalan, kami ngobrol ngalor-ngidul.

Tiba-tiba, saya menemukan sebuah adegan yang seru. Adegan di mana pembicaraan dengan seseorang sama menariknya dengan jalan santai yang dilakukan. Ketika kami berlari pun, kami masih sembari ngobrol. Memang, lebih menguras energi, tapi kok larinya jadi menyenangkan ya?

Tanpa terasa, saya mencatat sebuah pencapaian penting: Lari satu kilometer tanpa berhenti. Gila! Ini belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir kayaknya. Biasanya paling hanya beberapa ratus meter lalu break. Lalu kemudian lari lagi. Begitu seterusnya berulang.

Poin pentingnya terekam: Ngobrol jadi menu utama. Namanya, ngobrol sambil lari. Bukan lari sambil ngobrol.

Lari sama Sesa

Ini sebenarnya bergantung pada obyektifnya apa. Kalau saya kan hanya cari napas panjang dan gerak, harusnya tidak menjadi masalah. Tapi beda obyektifnya kalau misalnya mau mencatat rekor personal tentang kecepatan dan jarak tempuh. Cara ini tentunya tidak obyektif. Jadi, harus tanya sama diri sendiri dulu, mau yang mana? Toh, olahraga efeknya selalu personal. Sudah tidak lagi untuk dibanding-bandingkan untuk saya.

Sesi kami malam itu dibubarkan oleh hujan deras yang tiba-tiba muncul. Hanya dapat tiga putaran –dua jalan santai, satu lari santai—. Ada suatu yang tinggal di dalam diri saya dan menanti untuk diseriusi lebih dalam lagi di hari-hari berikutnya: Lari itu ternyata lebih penting ‘dengan siapanya’ ketimbang ‘bisa semananya’.

Eksperimen berlanjut. Selang sehari setelah recovery, saya mengontak dua orang teman saya yang lain, Berry Muchtar dan Kurniawan Bambang.

“Eh, lari yuks sore-sore. GBK aja,” ajak saya kepada mereka.

Setelah beberapa jam, bertemulah kami di rumah saya sekitar pukul enam sore lalu kemudian bertolak ke GBK lagi. Nah, geng ini obyektifnya agak beda. Wawan sedang menyiapkan diri untuk ikut maraton beberapa bulan lagi. Jadi, dia agak ambisius karena punya target sendiri.

Sementara Berry, mirip sama saya, yang penting gerak. Dia tapi lebih reguler ketimbang saya dalam hal frekuensi berlari. Akhirnya, kami memulai skenario yang sama dengan jalan kaki santai dulu sembari membiarkan Wawan berlari lebih kencang mengejar targetnya.

Lagi, saya dan Berry malah lebih asyik mengobrol. Semacam catch up tentang hidup masing-masing dan bercerita tentang banyak hal yang kalau diingat-ingat jadi susah untuk diceritakan kembali –maklum, tipe pembicaraan dengan teman-teman baik yang selalu berakhir dengan keadaan seperti ini—.

Setelah lari satu kilometer, saya berhenti. Sementara Berry lanjut. Wawan, entah sudah ada di mana. Anyway, saya lebih suka berlari melawan arah. Jadi, akan berpapasan dengan banyak orang.

Tanpa sengaja, saya bertemu dengan Mya Santosa. Ia juga merupakan seorang teman lama yang kalau ngobrol seru. Saya sedikit memaksanya untuk balik arah dan jalan mengikuti pola saya. Kami kemudian ngobrol ngalor-ngidul tentang kebutuhan untuk olahraga dan berlari. Tidak berapa lama, teman berolahraganya –yang memilih untuk bersepeda— datang dan kami malah sempat ngobrol lagi. Sayang, mereka harus segera beranjak pergi. Maklum, sudah cukup dan mungkin punya agenda lain. Saya jalan lagi.

Tidak berapa lama di depan, Berry dan Wawan sudah menepi sambil jalan santai. Saya menghampiri mereka. Dan kami bertiga jalan santai lagi.

Ngobrol lagi. Kali ini lumayan lucu karena ada Wawan, salah satu teman kami yang paling humoris. Di putaran kedua, kami menghajar lagi satu kilometer lari santai dan kemudian berjalan. Total, kalau mau dihitung, kami jalan lebih dari tujuh kilometer hari itu.

Dua sesi lari yang saya jalani, mirip tapi sedikit beda. Yang menjadi pembeda adalah orang yang ditemui di dalam sesi itu. Rasanya seperti ngobrol paralel dengan beberapa orang. Kali ini sama si situ, besok sama si itu, lusanya sama si itu. Benang merahnya adalah ngobrol dan berinteraksi dengan orang.

Dulu, ketika masih aktif berolahraga dengan dosis yang tinggi, saya selalu melakukan olahraga tim. Main sepakbola, basket, pingpong atau apalah yang sifatnya permainan. Itu perlu teman untuk berbagi. Dan setelah dipikir-pikir, itu yang dirindukan.

Kota besar, dalam suatu masa, bisa membuat saya tersesat. Interaksi langsung dengan orang, seperti yang disajikan dalam video yang saya sebut di atas sebenarnya menjadi inti dari kegiatan itu. Sembari mendayung, dua tiga pulau tercapai. Akhirnya jadi seperti itu.

Saya paham, apa yang ternyata hilang; saya memutuskan untuk malas lari sendiri. Padahal, dulu waktu kerja di SCBD, agenda lari lumayan rutin. Bahkan sempat beberapa kali lari sendiri bertemankan musik. Angle olahraga dan obyektif yang ingin dicapai itu yang selalu harus dipertanyakan. Setelah mendapatkan ide dan diseriusi, barulah ketahuan enaknya gimana.

Dan saya memasuki fase baru yang bernama ketagihan ketika saya mengajak seorang teman lain, Sesarina Puspita, untuk berlari sore-sore di Taman Suropati. Lokasinya beda dengan dua sesi sebelumnya.

Sesa ini karakternya berbeda dengan Ucy, Berry, Wawan dan Mya. Jadi, obrolan dengannya juga punya variasi yang lain. Yang satu ini, lumayan kompetitif. Jadi, ketika saya memulai lari dengan kecepatan yang sangat rendah, dia terprovokasi untuk melebihinya.

“Ah, elo tuh kalau lari gigi satu, Lix. Naik kek ke gigi dua,” katanya. Padahal trek yang kami pilih lebih kecil ketimbang GBK. Jauh lebih kecil. Jadi, kalau di Taman Suropati, setidaknya saya bisa dua-tiga putaran nonstop. Sementara, kalau di GBK, baru bisa sekali putar nonstop.

Lari di Taman Suropati juga lumayan seru untuk people watching. Sesa ini, orangnya lumayan seru kalau diajak untuk menjudge orang yang kita temui di sepanjang perjalanan. Hanya untuk sekedar bergunjing lalu tertawa. Jadi, lumayan menyegarkan.

Tiga sesi pengalaman lari saya kok jadinya menyenangkan ya? Semacam menimbulkan sebuah efek baru dari olahraga yang sudah lama tidak saya rasakan.

Benar-benar satu-dua-tiga pulau terlampaui kalau gitu; ketemu dengan teman, catch up dan berolahraga. Karena waktu, tidak pernah bisa diulang dan mungkin kita bisa kelewatan banyak hal kalau hanya menunggu sesuatu datang.

Yang juga seru kalau lari malam, seselesainya pasti letih. Jadi, sampai rumah tinggal mandi dan tidur. Besoknya bisa bangun pagi. Ritme hidup juga bisa lebih menarik. Ada alternatif cara menjalaninya. Dan itu menyegarkan.

Misi berikutnya untuk saya pribadi, adalah mempertahankan kebiasaan ini di hari kerja. Sudah ada beberapa ide, misalnya saja lari malam sepulang kerja dengan orang-orang berbeda atau lari pagi-pagi untuk mengejar fitness diri sendiri. Kita lihat, saya kalah sama kota besar atau tidak. Seperti yang sudah pernah saya bilang, Jakarta ada untuk ditaklukan, bukan untuk dikeluhkan.

Jadi, yang mau lari sambil ngobrol-ngobrol sepulang kerja, kabari saja ya. (pelukislangit)

1 Agustus 2014
Rumah Benhil

3 thoughts on “Lari (Lagi, dengan Angle yang Beda)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s