#newadventuresinhifi

Jadi editor majalah

01

Sampai kurang lebih dua bulan yang lalu, tanya-jawab idealisme akan pertanyaan itu masih sama.

Tanya: Mau nggak jadi penulis full time?
Jawab: Nggak.
Tanya: Kenapa?
Jawab: Karena takut nggak merdeka ketika nulis kalau harus terus menerus.

Tapi kemudian, sebuah peluang emas mampir ke dalam hidup saya. Kantor punya majalah inflight sendiri, khusus untuk pasar Indonesia. Dua layer bos di kantor memanggil saya, memberi penugasan baru untuk berkubang di dalam tantangan ini.

Saya dianggap punya bekal paling mantap di kantor untuk urusan tulis-menulis. Mungkin karena orang-orang di kantor tahu pekerjaan sampingan saya menulis di mana-mana. Tapi, posisi yang ditawarkan adalah editor. Tugasnya mengelola majalah yang akan lahir itu. Whoa!

“Waduh, ini tantangan besar,” ucap saya di dalam hati. Bukan apa, saya memang punya latar belakang dunia tulis-menulis, tapi jadi editor? Belum pernah sebelumnya dan sekarang ditawari kepercayaan untuk mengelola majalah inflight kantor.

NewAdventures (7)

Majalah ini, akan dicetak 10,000 kopi untuk awalan. Karena akan ada di tiga puluh pesawat yang dimiliki oleh kantor saat ini. Sebulan, akan naik dua kali; biasanya di tengah bulan akan dimasukkan lagi yang baru karena yang lama rusak dibaca orang atau dicorat-coret atau dijadikan suvenir untuk dibawa pulang. Di akhir tahun, proyeksi pesawat kantor akan jadi tiga puluh enam. Berarti tiras majalah ini akan naik 20%.

Gila!

Itu bukan main-main. Yang bikin sedikit lebih mudah adalah fakta bahwa majalah ini tidak dijual untuk umum. Jadi, saya tidak bermain dengan target jualan yang kadang menghantui dan jadi momok untuk sebuah bisnis penerbitan.

NewAdventures (6)

Majalah ini akan hidup dari pengiklan yang pasarnya sudah pasti; orang-orang yang terbang bersama kantor dengan kapasitas maksimal. Jadi, hitungan bisnis ini lumayan menarik dan resiko agak minimal ketimbang bisnis penerbitan biasanya.

Dari situ, mulailah saya bergerilya. Coba ngobrol dengan beberapa teman yang memang lebih punya pengalaman untuk jadi editor dan mengelola sebuah sirkulasi penerbitan. Tidak mudah, karena ini ibaratnya mengurai jaringan informasi; saya sudah tahu bisnisnya seperti apa, flownya gimana, tapi bagaimana menjadikannya satu jaringan besar yang punya sinergi tinggi.

Kami memilih vendor untuk melakukan penulisan. Fungsi saya, hanya mengawasi beberapa faktor yang harus berjalan sembari menulis sekitar 15% konten di dalamnya. Maklum, kadang-kadang mental penulisnya masih ingin ambil bagian langsung.

Misalnya saja, saya memilih untuk mewawancarai langsung Walikota Bandung Ridwan Kamil untuk edisi ini. Sisanya, mengedit seluruh tulisan yang ada. Ini, sesungguhnya lebih melelahkan ternyata ketimbang menulis yang bisa mengalir begitu saja.

NewAdventures (4)

Kenapa? Karena ada banyak faktor yang harus diperhatikan. Misalnya saja, majalah ini harus bisa masuk ke mereka yang gila traveling sekaligus juga ibu-ibu yang tidak pernah membaca. Kebetulan, di kantor karakter model gini ada. Jadi, mereka bisa jadi teman diskusi yang enak untuk menentukan arah majalah ini mau jalan kemana.

Menentukan jiwa majalah ini jadi tantangan sendiri. Bagaimana ia bisa senapas dengan apa yang kami semua inginkan di kantor dan bisa jadi sebuah bacaan yang bermanfaat. Harus diingat bahwa orang tidak punya niat khusus majalah ini, jadi memang sifat informasinya harus dikirim dengan level yang sangat sederhana.

NewAdventures (5)

Membuat sesuatu yang sederhana itu lebih susah ketimbang membuat sesuatu yang rumit.

Saya perlu waktu sekitar dua minggu untuk bolak-balik mencari contoh tulisan yang dianggap cocok dengan majalah ini. Ada sekitar tiga-empat kali proses penolakan yang mewarnai proses ini. Tapi, ya memang harus jungkir-balik. Kebetulan, bos di kantor itu tipenya perfeksionis yang agak realistis. Jadi, memang harus menghasilkan kualitas kerja yang sangat baik untuk bisa memuaskannya. Masuk akal, dan memang itu harus dilakukan untuk membuat produk yang keluar nantinya bagus. Lebih baik, gontok-gontokan di dalam dan bisa memuaskan sebanyak mungkin orang ketika mereka membacanya.

Tentu saja, mustahil untuk bisa memuaskan semua orang. Itu kenapa begitu ketika barangnya keluar, yang saya nantikan pertama kali adalah kritik.

NewAdventures (10)

Setelah itu, gaya penulisan didapat, mulailah pada eksekusi produknya. Saya dan tim vendor yang ada, mulai melakukan pekerjaan dasar; menulis.

Ada dua artikel yang saya tolak dan harus dikerjakan ulang untuk edisi perdana majalah ini. Karena memang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Selebihnya, puji Tuhan dikasih kesempatan untuk mengurangi drama di proses kreatif ini.

Saya juga tetap memberikan warna personal yang khas pada majalah ini. Saya memastikan bahwa sentuhan saya tetap kental di sejumlah titiknya. Biasalah, ego penulis.

NewAdventures (8)

Yang paling makan energi adalah proses cetaknya. Karena harus berlarian dengan waktu. Obyektif kami di kantor jelas: Majalah ini harus tersedia di pesawat tanggal 1 Januari 2014. Waktu tidak mau menunggu.

Jadilah, prosesnya dikebut. Termasuk di dalamnya terjadi drama warna turun dan beberapa typo yang katanya lazim terjadi di penerbitan perdana. Tapi, karena kami tidak bisa menerimanya, jadilah semuanya diperbaiki sesuai dengan keinginan.

Kami jadi klien yang sangat cerewet untuk vendor. Tapi, semuanya dimaksudkan untuk hasil yang bagus. Dan, kami tahu apa yang kami mau.

NewAdventures (3)

“Gila, ini paling ribet sih prosesnya. Paling deg-degan,” kata salah satu dari mereka yang kemudian tersenyum lebar sembari memegang majalah edisi perdananya.

Tanggal 30 Desember 2013 kemarin, majalahnya keluar dari percetakkan dan mulai didistribusikan ke sejumlah titik. Tanggal 1 Januari 2014 majalah ini akan mulai tersedia di seluruh pesawat kantor. Bertahap.

Saya menikmati peran ini. Walaupun harus membatalkan liburan akhir tahun. Tadinya, punya pikiran untuk pergi ke Melbourne, mengunjungi Obi Gordon-Smith yang tinggal di sana. Tapi, Melbourne selalu bisa menunggu. Tantangan dan kesempatan tidak datang dua kali.

Kembali ke pertanyaan di atas, mungkin saya harus meralatnya sekarang ini. Mungkin. Coba dipikirin lagi deh.

Oh iya, kalau kalian terbang bersama pesawat kantor dan membaca majalah ini, ditunggu feedbacknya ya. (pelukislangit)

Rumah Kalibata
31 Desember 2013
09.59

*) Sebelum ngalong dan memastikan seluruh proses berjalan dengan lancar nanti malam.
*) Untuk MB, AC, AD, JC, YR, AA dan AB yang memberi warna kental pada cerita perdana ini.

*) Judul diambil dari salah satu album R.E.M. yang dirilis tahun 1996. Mereka melakukan petualangan baru dengan elemen sampling dan musik elektronik di album ini. Idenya, kurang lebih sama dengan cerita saya ini.

NewAdventures (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s