2013: Catatan Kehilangan

Mbak Tiek

Malam itu panjang. Pekerjaan menyita waktu, Jakarta membuat ruang jadi semakin kecil. Perhatian diminta membagi sekat. Hari yang berat.

Saya pindah kota di akhiran hari, untuk dia. Bandung adalah tujuan, hati kecil bilang waktunya tidak lagi lama. A man’s gotta do what he has to do. Beberapa jam kemudian, saya dan dia berpandangan. Secara visual, entah ia menangkap sinyal yang saya kirim atau tidak.

Pelajaran terbaik dari momen itu adalah membebaskan diri untuk melepaskan ia pergi. Saatnya sudah tiba.

Waktu mengambil kesempatan itu dengan segera. Tidak ada jam-jam harapan yang bisa dijadikan pegangan sekaligus simpul cahaya terang. Ia, memang harus pergi.

Sepotong memori pergi. Ia belum terselesaikan.

***

Kuala Lumpur. Paketnya kombo. Agenda padat. Teringat kata-katanya di pelataran Bandara Husein Sastranegara beberapa bulan sebelumnya.

“Eh, elo sehat-sehat kan? Ieu, urang keur nganter pamajikan rek ka Bali. Teu make pesawat maneh sih,” katanya. Saya senyum-senyum saja. Kilatan masa lalu membawa saya ke malam-malam transit di Kemang. Saya menumpang di kamar kecil di sebelah kamarnya.

Kabar menyeruak masuk. Ia terbaring kaku di atas aspal. Jaket kulitnya tetap melekat, nampak sangat khas.

Gugusan kepulauan membuat kesempatan terakhir itu menguap begitu saja. Selamat jalan kawan. Terima kasih atas malam-malam tumpangannya.

***

Adegan kedua. Masih Kuala Lumpur. Kehilangan dua orang di suatu malam itu sama sekali tidak mudah. Jantung.

Binar matanya masih terekam dengan jelas. Ada pergulatan sepanjang masa melawan dunia di sana. Ketika keesokan harinya harus mampir dengan seragam penembus jarak, saya senang bisa meluangkan waktu untuk mengucap perpisahan.

Suara di seberang bilang, “Sayang, dia nggak bisa lihat ya?”

***

Langit biru. Bagi sebagian orang, ini surga. Tapi darah mendidih di dalam kepala. Bom waktu meledak. Yang bisa dilakukan adalah berdiri dan memilih kata hati. Ditinggalkan dan meninggalkan.

Ide ideal atau tidak ideal. Melintas batas atau keterlaluan dimakan batas.

Pada akhirnya, lebih baik mengalah untuk langit biru yang lebih luas.

Kata Pure Saturday, “Langit terbuka luas, mengapa tidak pikirkanku, pikiranmu?”

***

Duka itu menyatukan. Ibu suri meninggal. Semua orang menangisinya. Ia adalah dua sisi dunia, sebelah bilang ia penyelamat, sebelah bilang ia penjahat.

Buat saya, ia ada nun jauh di sana.

Kami terbang ke Surabaya. Teman baik mengucapkan candaan ulang tahun yang tiba sebelum waktunya. Semuanya bercanda. Kami juga.

Emergency leave membuat saya punya waktu. Kami melanjutkan perjalanan ke Mojokerto. Untuk pertama kalinya datang ke sana dan melihat dunia yang lebih sederhana.

Pamit. Hujan deras menerjang. Semua harus pulang dan ia pergi mendadak.

***

Lagi-lagi Surabaya membawa kabar buruk. Sebuah sesi belajar jadi tidak menarik karenanya. Angan dibangun, tapi alam raya yang memutuskan.

Lawan bicara tetap tersenyum. Itu bagian paling penting dari malam itu.

“Andai ia bisa menyaksikan semua yang sudah ia susun dengan baik beberapa bulan mendatang,” ucapnya.

Angan dibangun, tapi alam raya yang memutuskan.

***

Yang terbujur kaku di hadapan adalah orang yang lain.

“Saya senang melihatnya untuk yang terakhir kali. Ia pergi dengan keinginan untuk bertobat,” kata si paman.

Yang terbujur kaku meninggalkan memori mendalam tentang Turtles Jr. Sesuatu yang abadi.

***

2013 adalah tahun yang berat untuk saya. Setidaknya, ada tujuh kehilangan penting yang terjadi sepanjang tahun ini. Belum pernah sebanyak itu dalam satu putaran waktu. Ia memberikan ujian penting untuk tetap berdiri dan jadi orang yang lebih kuat. Semua memberikan pelajaran, beberapa masih belum terselesaikan.

Tapi kehilangan harus hadir dalam kisah manusia. Supaya hidup lebih punya warna. (pelukislangit)

29 Desember 2013
Kedai Tjikini
17.12

*) Untuk SW dan seluruh kehilangan yang mampir di 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s