Kembali ke Arena, Pulang

Hari Jumat lalu, 29 November 2013, saya kembali lagi ke dunia yang sudah empat tahun saya tinggalkan: Stage management. Saya, secara on-off, bergabung dengan SRM (Satria Ramadhan Management) dan menjadi road manager Rumahsakit untuk pertunjukkan di PPKI, Epicentrum.

Ceritanya dimulai beberapa minggu yang lalu. Satria Ramadhan, si pemilik SRM, bilang bahwa ia perlu orang untuk menjadi road manager Rumahsakit tanggal 29 November 2013. Ia dan Bayu Gustian, orang kepercayaannya, harus mengawal Sore pergi ke Hongkong untuk bermain di Glockenflap Festival.

Kebetulan juga, di periode yang kurang lebih sama, saya merasa kangen akan aktivitas ini. Kembali ke sekitar bulan Agustus 2013, saya melihat dari dekat bagaimana SRM memainkan bisnisnya di sebuah festival anak kuliah di Salihara. Rasanya, enak sekali kembali mengerjakan apa yang sebenarnya selalu saya nikmati.

Jadilah, saya memberanikan diri untuk bicara padanya. “Sat, pengen dong gue kembali lagi sekali-kali jadi road manager. Kangen,” ujar saya suatu kali.

Memang kalau alam raya merestui, segala sesuatunya bisa terjadi. Rumahsakit sendiri, adalah nama legenda yang memang selalu ada dalam hidup saya. Saya beruntung. Persoalannya, bagaimana menerapkan batas antara profesionalitas dengan kesenangan pribadi.

Jaman dulu, yang namanya road manager itu sebenarnya bukan pekerjaan yang mudah. Ada banyak hal yang harus diawasi dalam sebuah kerjasama pertunjukkan yang terjadi. Pada dasarnya, yang harus dijaga adalah kenyamanan si artis dan keseluruhan tim produksi melakukan pekerjaan mereka masing-masing.

Syukur juga, belum banyak yang berubah. Kalaupun ada perubahan, itu lebih kepada sistem kerja yang lebih cair. SRM punya cara kerja yang sangat efektif; orang bisa datang dan pergi tapi semua benar-benar paham apa yang harus dikerjakan.

Rumsak (1)

Tim produksi untuk mengurus sebuah pertunjukkan, misalnya. Kemarin itu, jumlah teknisi panggung hanya dua orang ditambah saya dan seorang operator. Semua hubungan dipusatkan di diri saya sementara, bisa jadi mereka satu sama lain tidak punya nomor kontak. Hanya berhubungan karena urusan pekerjaan ini. Itu menyenangkan rasanya. Level profesionalitasnya meningkat ketimbang beberapa tahun yang lalu ketika saya memutuskan untuk berhenti dari dunia ini.

Rasa gugup tentunya menyergap dengan mudah untuk seorang yang baru datang (lagi) seperti saya. Pada dasarnya, masih banyak ilmu masa lalu yang bisa diterapkan. Tapi, tetap saja keabsenan itu membuat saya sedikit kikuk.

Perkenalan personal dengan orang-orang di dalam rombongan membuat semuanya lebih mudah. Dan itu membuat semua proses jadi agak gampang dijalani.

Pada saat check sound dijalankan hari Kamis tengah malam, sejumlah orang kaget melihat saya ada di lapangan bersama Rumahsakit. Absen empat tahun bukanlah waktu yang sebentar.

“Loh, ngapain di sini, pak?” tanya David Karto, bos deMajors yang jadi organizer acara ini.

“Gue jalan sama Rumahsakit, Pak David. Gantiin Satria sama Bayu yang harus jalan sama Sore ke Hongkong,” balas saya.

“Wah, ok, pak. Semuanya aman ya?” balasnya. David Karto ini orangnya memang super ramah kepada orang lain. Dia ingin memastikan seluruhnya terpenuhi dengan baik malam itu.

Arivson, soundman yang bertugas mengawal Rumahsakit malam itu juga menunjukkan keheranannya.

“Gila, Lix. Waktu dikasih tahu Satria kalau nanti road managernya Felix, gue bingung. ‘Ini Felix Dass bukan?’ Pas Satria bilang iya, gue kaget aja elo ngurusin ginian,” katanya.

Yes, it’s been a while.

Pertunjukkannya sendiri berlangsung memuaskan. Saya senang sekali bisa ada di tengah-tengah Rumahsakit dan menjalankan tugas sebagai road manager pertama kali dalam empat tahun. Ritual lama menulis setlist merupakan sebuah hal yang selalu saya rindukan.

Rumsak (2)

Belajar kebiasaan Rumahsakit juga merupakan hal yang menarik. Rumahsakit bisa dibilang band yang tidak punya ritual macam-macam menjelang naik panggung. Karena pengalaman, mereka juga tampak sangat santai dan benar-benar paham harus melakukan apa.

Well, ada beberapa trik yang tidak bisa dibongkar ke orang banyak. Tapi semuanya masih masuk kategori standar. Tapi menyaksikan pesona Andri Lemes dari samping panggung juga rasanya luar biasa.

Saya juga menegur seorang fotografer yang naik ke atas panggung dan mengambil Miki Nayoan dari jarak dekat ketika sedang bermain. Padahal, dua orang fotografer yang bekerja untuk SRM malam itu, Adhiyatmika dan Annisa Amalia mengambil gambar dari samping panggung dan sama sekali tidak mengganggu pemandangan penonton.

Pelajaran mengusir ini berasal dari Adi Adriandi, teman baik saya yang paling anti sama fotografer yang naik panggung. Rasanya, yang ini memang harus ditegakkan, bahwa silakan mengambil gambar sepuasnya, tapi jangan sampai menganggu penampakkan panggung dan (mungkin) pemain yang sedang bermain.

Rumahsakit memainkan sebelas lagu dalam waktu sejam lebih sedikit. Di belakang panggung juga saya bertemu dengan sejumlah teman dari Bandung yang kaget kenapa saya ada di sana mengurus Rumahsakit. Hehe. Mengejutkan, mungkin.

Menyenangkan sekali bisa kembali ke arena. Rasanya, saya harus lebih sering melakukan ini di masa yang akan datang. Boleh, Sat? (pelukislangit)

Rumah Depok
1 Desember 2013
Terima kasih untuk Satria Ramadhan yang membawa saya pulang ke dunia yang saya cintai. Muah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s