Tentang Jakarta Bag. 225

Tentang Jakarta

Jakarta membuat saya berpikir keras tadi. Lagu lama sih, tapi mungkin karena momennya pas, jadi baru terpikir sekarang. Di sebuah sudut Jalan Pierre Tendean, kalimat ini meluncur begitu saja di dalam kepala:

“Di Jakarta, cinta, kehilangan dan harapan punya rumah permanen.”

Entah apa maksudnya. Bisa jadi karena tiga elemen ini ada di sekitar saya tadi. Ada orang bergandengan di atas motor, ada yang sedang sibuk misuh-misuh lewat ponsel yang terpasang di dalam helm.

Lampu-lampu jalanan mengiringinya keluar. Malam sudah naik, kepulan asap mesin kendaraan bergumul. Hujan sudah pergi. Sebelumnya, ia bersuara dengan sangat lantang untuk minta diperhatikan. “Jakarta sedang seksi-seksinya,” ucap saya kemudian.

Kata seksi itu bisa diterjemahkan sebagai hidup di mana ada banyak manusia bergerak dengan sebab-musababnya sendiri untuk kemudian mengukir ceritanya masing-masing. Ada yang mau pulang ke rumah, ada yang mengeluh menghadapi hari berat di kantor atau bahkan ada yang bergegas mengejar waktu shift kerja yang sebentar lagi akan dimulai. Semuanya tumpah ruah di satu ruas jalan.

Tapi, Jakarta adalah rumah. Dengan segala romantikanya. Dan saya, adalah salah satu anaknya. Entah kandung atau tiri. Tidak penting juga apa statusnya.

Di bagian selatannya, hari ini saya kembali disadarkan pada besarnya cinta pada Jakarta. Sekelibat angan-angan berlari; bagaimana rasanya jika saya keluar dari sini (lagi)? Masih teringat dengan jelas bagaimana Jakarta selalu memanggil setiap akhir pekan tiba ketika saya tinggal di Bandung beberapa tahun yang lalu. Itu yang jaraknya hanya 2-3 jam. Bagaimana kalau jaraknya jauh?

Seorang teman bilang, “Suka kangen sama teman-teman dan keluarga di Jakarta. Atau kangen sama adrenalin yang ditawarkan oleh Jakarta.” Mungkin itu juga yang akan terjadi pada saya jika keluar lagi dari Jakarta.

Kota ini perlu disiasati. Bukan untuk ditaklukan. Karena, memang sudah untuk menundukkannya. Ia terlalu kompleks dengan segenap problematikanya. Itu menjelaskan kenapa, misalnya, beberapa akhir pekan terakhir, saya memilih untuk naik kereta Commuter Line ke sejumlah tempat.

Jakarta mengajarkan bahwa kita tidak boleh kalah sama keadaan.

Pembicaraan atau tulisan tentang Jakarta mungkin tidak akan habis dibahas. Kota ini terlalu seksi untuk dijadikan latar belakang kehidupan. Saya selalu jatuh cinta. Dan karenanya, berani menyebutnya sebagai rumah. (pelukislangit)

8 November 2013
22.51
Untuk Jakarta dan romantisme kelar hujannya
Rumah Kalibata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s