Dari Angkasa Asia, Setelah Inggris Raya

Saya dua jam lagi tiba di Kuala Lumpur. Yang berarti empat jam dari Jakarta, rumah saya. Perjalanan liburan paling panjang yang pernah saya jalani akan segera berakhir.

Angkasa mulai membuat dirinya cerah. Bahkan, ini sebenarnya sudah tengah hari di tempat kedatangan. Pukul segini di zona waktu saya dua minggu terakhir ini masih jadi milik sang pagi. Tantangan yang kemudian menanti ketika tulisan ini sudah naik tayang di blog saya, adalah bagaimana berurusan dengan jetlag.

Itu akan jadi jetlag kedua saya, setelah setibanya saya di Inggris Raya dua minggu yang lalu. Waktu itu, saya hanya perlu satu hari untuk membuat segala sesuatunya normal. Orang bilang, itu karena zona waktu yang saya masuki mundur. Jadi badan lebih mudah beradaptasi. Sementara yang sekarang ada di hadapan saya, zona waktunya maju. Yang harusnya masih pukul enam pagi tapi tiba-tiba sudah pukul dua belas siang.

Kebiasaan buruk saya kalau terbang juga masih saja terjadi, sulit untuk tidur. Entah mengapa, selalu begitu.

Padahal, besok Rabu, saya sudah harus kembali beraktivitas dengan normal mengikuti waktu kerja yang juga normal. Tantangan ini namanya.

Manajer saya di kantor sewaktu saya mengajukan cuti beberapa pekan yang lalu bahkan sempat memastikan, “Eh, elo beneran mau langsung masuk hari rabu?”

Dia lebih berpengalaman untuk urusan jetlag. Lalu saya mengiyakan saja. Karena memang ide awalnya seperti itu. Saya mengambil cuti duluan sebelum orang cuti –padahal lebaran juga tidak— dan masuk kerja kembali belakangan. Lumayan tidak enak sih jadinya sama sekitar. Makanya saya memilih untuk menekan diri sendiri dan berkompromi dengan batasan waktu tersebut; saya mulai kerja hari Rabu.

Dari sekian banyak kota yang pernah saya datangi, entah kenapa perasaan saya akan London, Manchester dan Liverpool –tiga kota yang saya sambangi dalam perjalanan liburan ini— lumayan positif. Dalam artian, saya akan berkunjung lagi ke kota-kota ini. Saya selalu punya feeling kuat bahwa kalau memang kotanya menyenangkan, maka saya akan kembali lagi ke sana satu hari nanti.

Itu berlaku untuk Bangkok, Phuket, Krabi, Penang, Delhi, Shimla, Seoul, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Sydney, Gold Coast, Bali, Lombok, dan beberapa kota lainnya. Tapi, misalnya tidak untuk Mumbai dan Saigon. Saya percaya bahwa saya akan menginjakkan kaki lagi di tanah Inggris Raya.

Kenapa? Karena memang liburan saya yang kemarin ini sangat menyenangkan. Saya melihat tempat baru yang jadi cikal bakal peradaban manusia modern. Melihat beberapa kota dengan karakter masing-masing yang khas –well, Manchester membuat saya cukup kaget dan kemudian terkagum-kagum dan London agak mengecewakan di awal karena ternyata hanya merupakan versi lebih modern dari Singapura yang begitu plural— dan meninggalkan kesan mendalam.

Tapi, mari sedikit bernostalgia dan membaca apa yang saya pikir tentang masing-masing kota tersebut.

Liverpool


Kota ini selalu ada di mimpi saya. Sepakbola membawanya hadir dalam wujud John Barnes dan Steve McMahon. Karena alasan itulah saya selalu berangan untuk bisa menginjakan kaki di sini. Saya mendukung Liverpool dan perlu merasakan sebuah ikatan emosi yang luar biasa nyata di dalam genggaman saya. Itu terjadi ketika saya nyaris sesunggukan –well, untungnya hanya berkaca-kaca— di monument Hillsborough di salah satu sudut Stadion Anfield Road. Silakan dicari lebih lanjut di internet tentang peristiwa tersebut dan sejujurnya, tidak perlu dimengerti. Kalau kamu bukan penggemar Liverpool yang membagi hasrat yang besar, mungkin agak susah mencerna kenapa kadar emosinya bisa sedemikian besar.

Liverpool adalah sebuah kota sederhana yang hangat. Kota kecil yang dulunya punya peran penting di jaman kolonialisme Inggris; ia adalah gerbang invasi besar-besaran Inggris terhadap dunia lewat kultur maritimnya yang sangat terjaga hegemoninya.

Liverpool juga, tentu saja, rumah abadi The Beatles dan dua tim sepakbola yang jadi duta besar paling dihormati kota ini: Liverpool dan Everton.

Saya menikmati kesederhanaannya dan bagaimana mereka satu sama lain berhubungan erat lewat gang-gang bangunan bernuansa Victoria yang bertebaran. Juga logat Scouser –julukan etnis lokal yang berkuasa di kota ini— yang sulit dimengerti awalnya. Lihatlah cara Jamie Carragher dan Steven Gerrard berbicara. Nah, kurang lebih begitulah Scouser bicara.

Manchester


Awalnya, saya punya sedikit gegap budaya ketika menginjakkan kaki di Manchester. Dari Liverpool yang hangat, yang santai, lalu tiba-tiba masuk ke sebuah kota yang ritmenya cepat dan cukup materialistis. Kalau di Liverpool, makanan cukup murah lalu hostel tempat saya menginap menawarkan fasilitas wifi gratis, Manchester mendadak membuat saya harus bayar ini dan itu.

Kaget karena ternyata banyak printilan yang harus dibayar lagi. Tapi hanya perlu waktu beberapa jam saja untuk saya memahami bahwa Manchester adalah kota yang sangat indah. Kemarin, Manchester sedang memulai kampanye I Heart MCR yang diinisiasi secara kolektif untuk menanggapi buntut kerusuhan yang meluas dari London.

Kampanye ini menunjukkan betapa cintanya orang-orang yang tinggal di sini akan kota mereka. Sepanjang mata memandang, pasti poster ini terpampang kokoh di jendela gedung.

Manchester juga punya kultur kreatif yang seru. Bayangkan saja, Noel Gallagher dan Ian Brown bisa jadi duta kampanye kota, yang resmi dibuat oleh tourism board lokal. Mereka menghargai yang namanya seni, apapun bentuknya.

Bisa dilhat dari banyaknya galeri yang bertebaran di pusat kota atau bahkan setidaknya sebelas toko musik independen yang bertebaran di kota ini.

Kotanya cocok untuk saya.

London


Nah, yang ini agak berat untuk diceritakan. Menemukan sebuah kenyataan mendasar bahwa terlalu banyak orang dengan logat asing yang berusaha keras untuk berbahasa Inggris, membuat saya benar-benar kaget. Pikir saya, “Oh, ternyata segini pluralnya ya, London?”

Saya tidak mengharapkan ini terjadi. Tapi kepluralan yang ada tersebut malah membuat saya menangkap impresi yang sama tipenya dengan Singapura; kehilangan identitas klasiknya. Mungkin saya salah dan harus tinggal lebih lama lagi di sana.

Kota ini materialistis, semuanya harus dinilai dengan uang. Bahkan untuk sebuah kantong plastik di convenience store bandara. Tidak heran, budget tinggal di kota ini hampir sama dengan budget yang saya habiskan untuk dua kota sebelumnya.

Ada baiknya sih, urutan perjalanan saya lumayan benar. Dari yang paling murah sampai ke yang paling mahal. Jadinya grafik pengeluaran juga meningkat sehingga saya tidak memiliki kondisi kehabisan uang di awal perjalanan.

Ada juga satu bagian London yang berkesan untuk saya, Camden Town. Auranya mirip dengan Liverpool. Orang-orangnya masih hangat dan atmosirnya cukup nyeni. Banyak musisi yang tumbuh di sini. Salah satunya adalah almarhum Amy Winehouse yang melewati masa populernya sampai mati dengan hidup di Camden Town.

Saya hanya memandang kota ini sebagai tempat singgah saja. Untuk kemudian saking materialistisnya mengerti kenapa airport tax London Stansted bisa sampai MYR 537 –padahal tiket consession pegawai saya hanya MYR 400 sekali jalan—.

Itu tadi gambaran singkat tentang tiga kota yang saya kunjungi. Percaya atau tidak, saya melewatkan kesempatan untuk pergi ke banyak tempat turisme utama London. Bukan apa, saya cenderung malas dan percaya bahwa kesempatan seperti itu pasti akan datang lagi satu hari nanti. Hehe.

Jadi, saya tidak punya foto diri di Buckingham Palace, Hyde Park, Tower of London, London Eye, dan banyak tempat sejenis. Liburan adalah pilihan dan saya tidak bisa memaksa diri untuk melakukan hal yang tidak diinginkan, bukan?

Perjalanan liburan sendiri ini berhasil membawa saya menemukan banyak batasan baru yang ternyata menempel di dalam tubuh saya. Semacam menemukan kembali diri saya sendiri, mengenalnya lebih dalam dan melihat seberapa jauh saya sudah berjalan sebagai seorang manusia.

Dua tahun yang lalu, saya menemukan hal ini di India. Sekarang, Inggris Raya mengajarkan hal yang sama. Rasanya, fungsi liburan yang model begini akan terus menerus saya lakukan. Menyenangkan di satu sisi.

Tentu saja, memendam rindu kepada kekasih itu tidak enak rasanya. Dua minggu lebih sedikit saya tidak berjumpa dengan pacar saya. Sekarang, ketika tulisan ini dibuat, dia sedang ada di Bangkok. Juga untuk alasan liburan. Dia sedang mencoba sebuah petualangan baru –juga sendiri— yang sebelumnya bahkan belum pernah ada di dalam pikirannya.

Wajah liburan yang ternyata bisa membawa fungsi lain untuk lebih mengenal diri sendiri itulah yang selalu saya nikmati beberapa tahun belakangan ini.

Saya masih ingat sebuah bag tag seorang bule yang saya lihat bersama Adit Vampir di Singapura beberapa waktu yang lalu. Tulisannya begini, “See the world, come home for love.”

Ia benar adanya. Pesawat saya satu jam lagi mendarat di Kuala Lumpur. Rumah sudah dekat. Oh, dan saya akan langsung meletakkan barang di Gandaria barang sebentar. Lalu mengarahkan diri ke Senayan. Indonesia akan melawan Bahrain dalam beberapa jam. Saya harus ada di stadion. Lumayan untuk melawan jetlag.

Terima kasih sudah membaca. Push your limit, go get your dream destination fulfilled. I just did mine. Selanjutnya? Argentina.

6 September 2011 – Langit Asia

4 thoughts on “Dari Angkasa Asia, Setelah Inggris Raya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s