Cukilan Pagi: Sisa Semalam

Sebuah pagi.
Jogja National Museum.
09.09 WIB.

Saya duduk di ruang tengah tempat penginapan rembol rombongan Interconnection semalam. Rembol adalah istilah yang sering digunakan teman-teman di sini untuk kondisi di mana kondisi apapun di depan mata bisa diterima dan dijalani.

Seluruh penginapan ini, tidak mampu menampung jumlah rombongan yang ikut. Bukan apa, rombongannya memang membengkak. Saya sendiri, statusnya numpang, tidak ikut bayar apapun dan tidak ikut bertanggung jawab apapun. Makanya, cenderung menunggu kisah di bagian akhir, apakah bisa tidur atau tidak tadi malam.

Saya bisa tidur lumayan nyenyak selama kurang lebih empat jam di sebelah Dimas Pratama yang sekarang ikut mengawal Bangkutaman. Dulu, saya banyak bekerja bersamanya di Ballads of the Cliché.

Menjadi bagian kecil dari perjalanan tur seperti ini, adalah pengalaman yang seru. Masa saya untuk melaju kencang maksimal, memang telah berlalu, tapi untuk masa lalu? Bolehlah sepotong kenangan masuk menyeruak.

Jogjakarta dan Solo adalah tujuan tur ini. Sementara, saya hanya ikut bersenang-senang nonton band di Jogjakarta saja. Awalnya ingin ikut ke Solo, tapi pilihan lain rasanya lebih baik diperjuangkan di Jakarta. Jadinya memutuskan untuk pulang awal.

Kota tempat saya menulis tulisan ini, selalu punya tempat spesial untuk saya pribadi sebagai seorang yang cinta mati sama musik. Terlebih karena menu utama malam tadi adalah Bangkutaman yang kembali ke kota ini dan memainkan sejumlah katalog lama.

Kalau boleh balik ke masa lalu, saya berhutang banyak sama Bangkutaman dan orang-orang di sekitarnya di masa lalu. Mereka memberikan banyak inspirasi untuk berjuang dan sebisa mungkin berdiri di atas kaki sendiri. Menjadi minoritas bukanlah kekurangan, tapi justru kelebihan yang pisau tajamnya lebih punya kemampuan menusuk ketimbang pisau generik yang dimiliki si mayoritas. Untuk saya, Bangkutaman di awal karirnya punya analogi seperti itu.

Tentu saja, orang berubah dan jaman mengikuti kehidupan mereka. Sekarang, Bangkutaman, bukan lagi sekumpulan laki-laki penentang arah yang mau melakukan apa saja. Mereka sudah punya fase baru yang harus dijalani; dua dari tiga orang personilnya membawa istri mereka ke pertunjukkan ini.

Tapi, musiknya tetaplah sama. Jika menyaksikan mereka main di Jakarta, pasti menu yang disajikan adalah materi dari album Ode buat Kota. Sementara main di Jogja? Tentu saja lagu-lagu lama harus dimasukkan ke dalam menu.

“Wah, saya suruh mereka main lagu lama. Kalau nggak, percuma,” kata Gufi Asu, teman saya yang jadi salah satu penyelenggara acara ini.

Ia benar. Sebenar-benarnya.

Beberapa kawan lama yang kebetulan datang ke acara ini semalam, rasanya berhasil membawa gerbong memori lawas datang kembali barang sebentar. Terutama ketika lagu model Solomon Song, Kabut atau –single paling favorit saya— Satelit dimainkan. Beberapa orang tampak melakukan crowd surfing, satu hal yang mungkin agak mustahil bisa disaksikan di kota lainnya.

Di satu momen, saya menemukan Ojie Adrisubroto, sound engineer mereka di masa lampau termenung di dekat mixer pengatur tata suara. Mungkin ia melihat masa lalu yang muncul sekilas ketika hampir tanpa letih –karena kebanyakan mengganti letih dengan alkohol—mereka bersama-sama bersahabat akrab dengan kereta ekonomi membelah jarak.

Lalu ada juga kawan lama bernama Joko Problemo yang kebetulan ketemu di penginapan ini kemarin, ia membuat acara musik di kawasan ini.

“Wah, Acum mana?” tanyanya pada saya sewaktu bertemu. “Nuki ikut nggak?” belum sempat dijawab pertanyaan pertama, yang kedua sudah meluncur.

“Nuki di Jakarta, sudah tidak sama anak-anak lagi dia. Acum baru dateng nanti sore,” jawab saya. Acum adalah panggilan akrab Wahyu Nugroho, pemain bas sekaligus vokalis Bangkutaman. Sementara si Nuki itu adalah Nuki Nugroho, bekas manajer Bangkutaman.

Dulu, Joko Problemo hampir nyaris absen mengawal Acum dari pinggir. Ia adalah teknisi basnya. Mengawal dalam artian, memastikan bahwa alatnya berfungsi baik sekaligus asupan alkohol juga memainkan peran penting di dalam pertunjukkan Bangkutaman.

Orang-orang lama ini, dengan sendirinya membuat saya ikut-ikutan punya partikel sentimentil yang harus dikeluarkan. Oh lupa, Dimas Widiarto yang dulu pernah jadi salah satu produser mereka di Blossom Records, juga muncul malam itu.

Yang paling saya rindukan malam tadi adalah kehadiran Widi Nugroho. Orang paling banyak omong yang ternyata punya peran penting untuk membawa Bangkutaman ke fase yang sekarang sedang mereka jalani. Entah ia sekarang berada di mana.

Widi biasanya akan duduk sekaligus bercanda cemas tentang berapa tiket yang sudah terjual di dekat pintu masuk. Dulu, ia punya misi untuk membuat band-band indiepop Jogjakarta bisa berdiri sama tinggi dengan band-band dari kota lain. Rasanya, di masanya, ia cukup berhasil.

Orang-orang ini dan kisah mereak masing-masing membuat saya berhasil menemui masa lalu untuk sebentar saja dan menikmatinya sampai tegukan terakhir. Kunjungan singkat ini jadi punya arti penting untuk awalan tahun ini.

Yang saya ingat, saya bilang begini sama Ojie, “Harusnya si Widi Bangsat ada di sini nih.”

Mungkin. Satu hari nanti.

Rombongan berlanjut ke Solo di mana mereka akan memainkan pertunjukkan berikutnya. Sementara, saya bertolak ke Jakarta siang ini. Kembali ke kota saya dan menikmati melankolia ini. (pelukislangit)

*) Interconnection di Jogjakarta semalam menampilkan Brilliant at Breakfast, Leonardo, Answer Sheet, Bangkutaman dan L’alphalpha.


One thought on “Cukilan Pagi: Sisa Semalam

  1. Slmat Siang,maaf ad yg tau info LowKer as Flight Attendant ga? Prefer Air Asia..kasi tau ya kl ada…makasiii:*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s