Fatherhood

*) Untuk Michael Waterkamp

Sejujurnya, mengawali blog dengan tulisan pertama di tahun 2012 ini, punya banyak harapan untuk diri sendiri. Saya sekarang menjadi realistis dengan keadaan sekitar di mana menulis untuk blog sendiri tidak lagi menjadi prioritas penting.

Sepanjang tahun 2011 kemarin, banyak hal menarik dalam hidup saya yang tidak berhasil terdokumentasikan dengan baik. Sayang, tapi semoga saya punya tenaga –harapan klise— untuk menuliskannya.

Dari sekian banyak topik yang seliweran di kepala, yang saya pilih adalah kisah teman baik saya, Michael Waterkamp. Pertemanan saya dengan Tuan Waterkamp, tahun ini memasuki usia ke 14. Kami teman SMA.

Dia baru membentuk sebuah keluarga baru bersama istrinya. Akhir pekan lalu, tepatnya pada Jumat, 13 Januari 2012 (Ya, Friday the 13th!), ia dianugerahi seorang putri cantik berperawakan mirip dengannya bernama Michaela Cristabelle Waterkamp.

Michaela adalah bayi sehat harapan semua orang tua di dunia ini. Dia punya masa depan yang terbentang luas di dunia yang makin hari makin kejam ini –untuk orang 20-an akhir—. Di antara lingkungan dekat kami,  Michael adalah orang pertama yang memiliki anak. Dia adalah orang kedua yang menikah di antara kami.

Kunjungan pertama saya berakhir dengan kegagalan untuk bertemu Michaela. Waktu itu, ia mendadak kuning sehingga harus masuk inkubator untuk disinari. Pertemuan kedua, berhasil. Kendati ia banyak terlelap ketika pertemuan itu terjadi.

Di kunjungan kedua, saya datang bersama Silva Gracia, yang sedang punya kunjungan singkat di Jakarta. Silva lebih dulu menikah ketimbang Michael. Tapi, ia belum punya anak sampai tulisan ini dibuat. J

Michael yang saya kenal adalah sosok yang flamboyan; ia punya caranya sendiri menjalani hidup, berdiri pada kakinya sendiri dan sosok yang cenderung ‘humoris’. Cara kami berinteraksi mungkin terlihat sedikit aneh untuk orang lain –maaf mendadak internal—.

Di kunjungan itu, ada satu adegan yang membekas untuk saya. Saya duduk di sisi Michael dan di seberang berjejer Silva dan Winda, istri Michael.

Kejadiannya lumayan aneh, ada pembantu rumah tangga menyajikan minuman dingin di gelas yang diperuntukkan untuk tamu dan kemudian tuan rumah mempersilakan kami –saya dan Silva— untuk memakan cemilan yang tersedia di meja ruang tamu itu.

“Gila, gue nggak pernah berpikir adegannya akan seperti ini,” ujar saya dalam hati. Hidup bergulir.

Lalu, pembicaraan kami mengalir. Mungkin karena Silva memang baru pulang ke tanah air. Kami semua sudah terlalu lama tidak bertemu. Tanpa disadari, pembicaraan mengarah ke bagaimana hidup setelah kedatangan Michaela.

“Dia tidur di kamar luar dan gue gentian ngawasinnya,” kata Michael tentang kamar si anak yang berwarna merah muda.

“Gue nggak bisa bayangin punya anak sekarang,” ucap Silva sambil menepuk jidatnya. Entah apa yang ada di pikirannya. Kalimat itu, saya amini.

Michael, yang sudah tidak berada di dalam fase berangan seperti kami berdua, tertawa kecil. Tapi, tawa itu membuat saya punya pemahaman baru tentang teman saya ini.

Ia berhasil menghadapi fase hidup yang lama dan mengucapkan selamat datang pada sebuah keadaan baru di mana tanggung jawab menggelembung dan menghadirkan tantangan yang baru. Kehadiran Michaela tentu saja membuat ia (dan Winda) punya sebuah pengikat yang lebih dalam.

Dengan segala macam atribut yang sudah ia gali dalam-dalam dengan bantuan Google, Michael punya informasi lengkap tentang bagaimana seorang anak yang baru lahir menjalani kehidupannya. Tentu saja, dibekali oleh sebuah kemampuan untuk bekerja sama dengan sang istri mengganti popok si anak yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan menangis keras.

Kemampuannya untuk bahu-membahu mengganti popok juga membuat saya kagum pada teman saya yang satu ini. Ia ada di fase baru dan tampak begitu menikmatinya.

Mungkin bisa jadi, ini adalah tahapan wajar dari usia beberapa hari menjadi ayah. Mungkin, saya tidak bisa mengkonfirmasinya sekarang karena memang belum ada di tahap itu.

Pandangan yang saya punya beberapa hari kemarin membuat saya berpikir betapa indahnya hidup mengalir dari hulu mencapai hilir. Di dalamnya ada potongan-potongan bahagia yang punya penafsiran dalam banyak bentuk wajah.

Saya berbahagia untuk si Tuan Waterkamp. Yang juga saya ingat dari teman ini adalah kalimat ini: “Begitu lewat hitungan Sagitarius, gue bersyukur kalau anak gue Capricorn.” Yang ini, adalah keahliannya; menilik alur kehidupan berdasarkan rasi bintang. (pelukislangit)

Cipete, 19 Januari 2012 – 23.27 WIB. Michael tampak sangat bahagia, bukan?

2 thoughts on “Fatherhood

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s