003: CB. Takarbessy

Obituari untuk Kristian Takarbessy dari Cozy Street Corner

Kemarin, 3 April 2020, Kristian Takarbessy meninggal dunia. Ia adalah vokalis sekaligus penulis banyak lagu trio Cozy Street Corner. Kabar itu, sampai pagi hari tadi. Postingan Boby Priambodo, teman sebandnya, di Instagram adalah moda yang dipilih semesta untuk memberitahu saya.

Saya yakin, sekarang tidak banyak orang yang mengetahui siapa itu Cozy Street Corner. Bandnya sudah tidak aktif lagi. Tapi buat saya, Cozy Street Corner adalah salah satu pilihan belajar musik berdikari yang sangat-sangat inspiratif. Trio ini –ada satu anggota lainnya, PB Adi atau Adoy, yang juga dikenal sebagai personil Bonita and the HUSband— mungkin tidak pernah sukses secara komersil. Namun, dari praktek bermusik, jelas punya sumbangsih besar untuk banyak orang.

Mereka mungkin sama sekali tidak relevan untuk orang muda di era ini. Tapi jangan salah, ada banyak orang yang disinggahi musik sederhana yang mereka punya.

Saya berkenalan pertama dengan Cozy Street Corner lewat Astrid Leoni Jonatan, teman baik saya di Kolese Gonzaga dulu. Waktu itu, kalau tidak salah tahun 2000. Kami di Kolese Gonzaga, masih kelas dua SMA. Saya menjadi ketua divisi acara Gonz Vor Aders, pensi Kolese Gonzaga –sekarang bertransformasi menjadi Gonz Fest— tahun 2000. Sejarah pensi menjadi alasan penting saya beli formulir Kolese Gonzaga dan kemudian sekolah di sana dan mengalami tiga tahun terbaik dalam hidup untuk urusan belajar jadi manusia. Waktu itu, kami punya beban untuk menyusun program yang seimbang untuk berbagai macam kepentingan.

Sesungguhnya, pengalaman itu masih membekas. Astrid, dalam sebuah obrolan pribadi, bilang, “Lix, coba deh itu band temennya kakak gue, Cozy Street Corner. Mereka punya massa anak kuliah yang lumayan kata si Babam.” Babam adalah panggilan Abraham Jonatan, juga anak Kolese Gonzaga yang kebetulan adalah teman kuliah Boby.

Saya dan Astrid punya minat yang mirip dengan musik ketika kami SMA. Dia lebih ke rock 90-an, sementara saya punya banyak ketertarikan pada scene independen yang begitu merdeka sedari awal. Saya belum pernah nonton Cozy Street Corner, tapi percaya sama omongan Astrid.

Akhirnya, Cozy Street Corner menjadi salah satu pengisi Gonz Vor Aders. Selain mereka, ada Burgerkill, Koil, Naif dan sejumlah band lainnya. Kla Project, di ujung-ujung waktu menjelang acara dimulai menarik diri karena alasan yang tidak jelas. Kami menghubungi mereka lewat orang lain dan orang lain itu menginformasikan bahwa bandnya membatalkan keikutsertaan mereka di acara kami. Pelajaran besar buat sekumpulan anak SMA, bukan?

Cozy Street Corner pun main. Sejujurnya, saya tidak menyaksikan mereka beraksi. Itulah sisi tidak menguntungkan orang yang bikin acara, sudah milih capek-capek, boro-boro bisa nonton. Hehe.

Pengalaman itu begitu saja. Tapi, ia kemudian menjadi simpul lanjutan ke pengalaman berikutnya bersama Cozy Street Corner.

Tahun 2001, saya pindah ke Bandung, sekolah di Universitas Parahyangan (Unpar). Lagi-lagi karena musik. Sekolahnya apa saja, yang penting di Bandung. Untuk anak-anak Kolese Gonzaga, pergi ke luar kota dan memulai hidup baru itu, kadang bisa lebih mudah dihadapi karena ada jaringan sesama anak Kolese Gonzaga di kota tersebut. Saya juga mengalaminya. Di sebuah sore di Ranca Bentang, saya sedang main di rumah tempat tinggal Willy Jonathan, kakak kelas yang kebetulan ketua divisi acara ospek di kampus. Dia angkatan 1998, saya angkatan 2001.

Di kampus sih, sok iye bengisnya. Giliran di rumah, ganti status jadi anak Kolese Gonzaga yang setara. Dia mengoper sebuah kaset hijau tua, milik band yang namanya Cozy Street Corner, judulnya #1. Di geng Kolese Gonzaga, Willy dipanggil Wilbib, di Unpar ia dipanggil Jonjot. Saya memanggilnya dengan panggilan yang kedua.

“Jot, ini mah main nih pas gue bikin acara di Gonz waktu itu,” ujar saya.

“Canggih tuh band. Coba elo denger,” katanya seraya tidak menggubris tapi ingin meyakinkan untuk mendengarkan musiknya.

Hari itu, kasetnya saya bawa pulang dan hidup saya berubah. Persentuhan musikal pertama saya dengan karya Cozy Street Corner ternyata begitu dalam. Di album itu, track terakhir side Bnya adalah versi yang diisi lagu Pulang (Live at Erasmus Huis 1997). Di bagian tengahnya disisipi potongan lagu Free Fallin’nya Tom Petty and the Heartbreakers. Lagu itu, berantakan karena direkam dalam format live. Saya memutarnya berulang.

Memutar musik berulang, adalah tanda gandrung dalam hidup saya. Album #1 itu heavy rotation berminggu-minggu. Di sleevenya, ada satu format yang tidak familiar yang disajikan; band ini menggunakan konsep music publishing yang diadaptasi dari hal sejenis yang merupakan praktek lazim di industri musik di luar negeri.

Jadi, di kredit akhir masing-masing lagu, selain dicantumkan nama penulisnya, mereka juga mencantumkan nama publisher musiknya. Waktu itu, PT. Aquarius Pustaka Musik. Bayangkan, mereka sudah melakukan ini sejak tahun 1999 ketika #1. Sebelumnya, saya tidak tahu bahwa PT. Aquarius Pustaka Musik juga bisa menjadi publisher musik bagi artis-artis yang bukan berasal dari label Aquarius Musikindo.

Beberapa tahun setelah kejadian kaset yang dibawa pulang (dan tidak pernah dikembalikan itu), tiba-tiba Cozy Street Corner muncul dengan kabar baru. Mereka merilis Nirmana, album baru dalam bentuk cd. Produser album itu Abang Edwin SA. Itu kalau tidak salah, tahun 2002, cd dibandrol Rp.50.000,00. Jumlah yang mahal untuk sebuah album rekaman. Saya jadi bandar acara lagi.

Di kampus Fisip Unpar, ada tradisi musik juga. Namanya Pasar Malam Kampus Tiga (PMKT). Angkatan saya kebagian menggelar tahun ketujuh di tahun 2003. Saya jadi ketua panitia. Wakilnya Dimas Ario yang kemudian jadi teman seband di Ballads of the Cliche dan sekarang jadi manajer Efek Rumah Kaca dan kerja di Spotify Indonesia. Selera musik kami juga mirip. Ketika menentukan artis yang ingin diajak main, kami tiba kembali ke nama Cozy Street Corner. Selain itu, ada Superman is Dead (yang pertama kali main di Bandung) dan Cherry Bombshell.

Kami cari uang untuk menyelenggarakannya. Karena duit dari kampus sedih, dan kurang segudang. Tapi, hasrat tidak mau kalah sama keterbatasan uang. Terobosan yang dilakukan adalah buka lapak buku di selasar kampus Fisip Unpar. Di lapak buku itu, juga dijual cd Nirmana. Kami dapat konsinyasi 25% juga kalau tidak salah.

Pelajaran nomor dua, anak kuliah tahun kedua disuruh cari duit dengan jalan jualan cd band yang akan main. Selain belajar dagang di level kampus, di level personal, ketertarikan saya pada Cozy Street Corner makin dalam lewat album Nirmana.

Referensi yang makin banyak akan pengalaman mendengarkan musik, menimbulkan daya analisa yang juga makin dalam. Album Nirmana, buat saya cult karena bisa menyajikan sisi pop yang tidak industri. Yang fokus pada cerita dan punya efek membuai begitu pekat. Tiga orang personil Cozy Street Corner masing-masing memainkan perannya dengan baik. Penulis lagu utamanya Kris dan Adoy, tapi Boby menyanyi dan memainkan melodi dengan level signature yang tidak bisa dibilang main-main.

Di Nirmana, lagu favorit saya adalah track Cinta yang panjang dan begitu elegan. Selain itu, ada lagu Katakan yang ditulis oleh Kris. Juga Kira di Dada yang dangdut. Semakin sering saya mendengarkan Nirmana, semakin sering pula saya mencari tahu aksi Cozy Street Corner.

Tapi, penampilan mereka di PMKT tidak spesial. Malah cenderung tidak enak. Saya ingat, di sebuah bagian di pinggir panggung setelah mereka turun, Kris emosi bertukar kata-kata dengan saya dan Dimas. Waktu itu, kami memotong waktu tampilnya karena acara berlangsung telat dan masih ada beberapa band yang masih akan naik panggung.

Beberapa minggu setelahnya, saya dan Dimas bertemu dengan Ribut Cahyono, manajer Cozy Street Corner. Sekedar ingin membuat keadaan lebih baik. Kami ngobrol panjang lebar di sebuah kontrakan di dekat Sekeloa di Bandung. Ngobrol ngalor-ngidul dan bertukar ide tentang pengorganisasian acara. Saya tidak tahu apa yang menempel pada Dimas pada peristiwa itu, tapi dari Ibut –panggilan Ribut— ada satu prinsip penting yang kemudian menempel pada diri saya; Kalau nggak dipanggil orang untuk main, ya bikin acara saja.

Secara kolektif, beberapa kali Cozy Street Corner membuat pertunjukan musik mereka sendiri. Nama payungnya Paparan Musikal Cozy Street Corner. Sebelum menulis tulisan ini, saya memutar memori. Rasanya, setidaknya tiga kali saya menyaksikan Paparan Musikal Cozy Street Corner ini. Semuanya di Bandung; satu di Geger Kalong, satu di Saung Mang Udjo dan yang terakhir di Selasar Soenaryo. Semuanya benar-benar berkesan karena isi pertunjukannya benar-benar fokus pada perayaan musik. Sederhana dan penuh canda-tawa.

Tiga sebaran cerita itu, sadar tidak sadar berkontribusi pada apa yang saya miliki sekarang sebagai orang musik; bahwa pergerakan menyebarluaskan karya itu lebih besar ketimbang karya itu sendiri. Kendali terus ada di tangan sendiri dan perkara berdaya atau tidak selalu bisa dimulai dari diri sendiri.

Sedikit banyak, paham itu dibentuk oleh berbagai pengalaman penting dengan Cozy Street Corner.

***

Tahun 2016, saya memberanikan diri membuka masa lalu; mengontak Cozy Street Corner untuk main lagi di gelaran Seri Bermain di Cikini yang saya buat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Setelah AriReda dan Silampukau, rasanya Cozy Street Corner adalah nama yang cocok. Pakai prinsip itu tuh yang diajarkan oleh mereka; daripada menunggu mending buat saja pertunjukannya.

Perlu waktu untuk meyakinkan mereka mengiyakan tawaran saya. Tiket pun sudah mulai dijual. Tapi, apa daya, semesta tidak berpihak. Ada perubahan kebijakan yang membuat izin kuratorial tidak keluar sehingga proses jadi tidak mungkin untuk diteruskan. Saya berhutang pada Cozy Street Corner dan itu tidak menyenangkan memang akhirannya.

Bayangkan saja, diajak main lagi, sudah semangat, eh acaranya tidak jadi diselenggarakan. Saya juga tidak punya pembelaan macam-macam dan mengambil posisi bersalah. Walau tahu sebenarnya bahwa semesta memang menghalangi saja.

Kejadian itu lumayan traumatis, sehingga saya memilih untuk jauh-jauh dari ide tersebut. “Sudahlah, dikubur saja,” pikir saya dalam hati. Ada tensi yang dibiarkan tumbuh, minimal dari sisi saya. Ya, karena perasaan tidak enak itu.

Saya masih mendengarkan musik Cozy Street Corner. Lagu Pulang itu, tidak pernah bisa hilang selamanya dari dalam diri.

Ketika pagi ini mendengar kabar Kris berpulang, seluruh ingatan ini keluar tanpa perlu dipancing. Saya masih ingat gondrong keritingnya, suara melengkingnya, sepatu bootsnya, omongan berapi-apinya, candaan garingnya, bandara yang sering ia gunakan dulu dan segalanya tentang Cozy Street Corner.

Selamat jalan, Kris. Tuhan berkati. Mohon maaf karena pengalaman simpangan jalan yang kita miliki sepanjang dua puluh tahun ini, kebanyakan tidak menyenangkan ujungnya. Terima kasih untuk musik yang kau tinggalkan. (*)

Rumah, 4 April 2020
22.13

CB. Takarbessy adalah kependekan dari Christian Buana Takarbessy.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.