Dari Malam yang Panjang – Tentang Indonesia yang Ringsek

Saat ini waktu menunjukkan pukul 01.07 pagi. Ini dini hari. Biasanya, saya sudah terlelap. Tapi, malam ini pikiran berat mampir ke dalam kepala dan hidup yang telah larut ini. Kekecewaan mengambil tempat yang sempurna untuk menyerang dan memaksa saya untuk terus terjaga.

Saya adalah seorang beramunisi kecil yang nyaris tidak mungkin mengubah rasa kecewa ini. Yang bisa saya lakukan adalah menunggu dan membiarkan hari ini berlalu untuk kemudian sebisa mungkin dilupakan seolah ia tidak pernah terjadi.

Tim nasional Indonesia baru saja kalah 10-0 dari Bahrain. Pertandingan terjadi di kandang Bahrain. Itu adalah pertandingan terakhir di Kualifikasi Piala Dunia 2014 di Brasil.

Sedari awal, saya memang sudah berhasil mengatur ekspektasi. Omong kosonglah kalau kita pada akhirnya bisa lolos ke Brasil. Nyaris tidak mustahil. Kelas kita sebagai sebuah tim sepakbola, belum sampai level piala dunia.

Empat pertandingan pertama saya ikuti. Termasuk menyaksikan dua laga di kandang sendiri –melawan Qatar dan Bahrain— langsung di Gelora Bung Karno. Pertandingan away melawan Iran dan Qatar saya saksikan lewat layar internet dan kaca.

Laga kelima adalah protes personal untuk saya ketika lebih memilih untuk berada di Hotel Sultan menunggu Titus Bonai untuk sebuah agenda jurnalistik. Laga melawan Iran itu sudah tidak menentukan lagi dan saya kadung sudah kecewa sama kelakukan Wim Rijsbergen –pelatih Indonesia saat itu— yang bodohnya minta ampun.

Dan sejujurnya, tidak ada harapan menggantung lagi ketika laga keenam dimainkan beberapa jam yang lalu.

Pada saat daftar pemain inti beredar di dunia maya, saya sudah kehilangan selera. Sudah bisa menebak bahwa kans Indonesia untuk bahkan mencuri satu poin saja pun sulit.

Yang dimainkan adalah pemain-pemain asal kompetisi legal versi PSSI, Indonesian Premier League (IPL). Banyak pemain melakukan debut mereka pada kesempatan ini.

Pro dan kontra menyeruak masuk. Yang kontra tentu saja menyayangkan kenapa pemain yang bermain di Indonesian Super League (ISL) dipanggil. Padahal, secara nyata mereka adalah anak-anak terbaik bangsa ini untuk urusan sepakbola. Yang pro berlindung pada asas legalitas yang mengatasnamakan pembinaan.

Saya ada di pihak yang kontra.

Buat saya, walaupun secara hitungan Indonesia sudah tidak lolos lagi ke fase berikutnya, tapi tetap ada harga diri yang harus dijaga. Apapun hasilnya, kita harus masuk ke lapangan dengan status yang prima.’

Tapi kenyataan tidak semanis normal ideal yang saya pegang. PSSI sebagai otoritas tertinggi sepakbola Indonesia, memutuskan untuk mengirimkan pemain yang berlaga di IPL. Pemain yang main di ISL tidak dianggap ada.

Mereka berlindung pada aturan FIFA yang terjemahannya juga masih ambigu. Intinya menurut mereka, pemain-pemain yang ada di ISL tidak punya hak untuk mewakili Indonesia di pertandingan keenam Kualifikasi Piala Dunia 2014 ini.

Jadilah nama seperti Aditya Putra Dewa atau Slamet Nurcahyo masuk ke dalam jajaran pemain inti. Tahu mereka berasal dari mana? Hehe. Nama pertama berasal dari PSM Makassar sementara yang kedua berasal dari Persiba Bantul.

Satu-satunya yang saya syukuri masuk adalah salah seorang bek kanan favorit saya, Hengky Ardilles dari Semen Padang. Kebetulan timnya bermain di IPL musim ini.

Nama-nama itu jelas punya beban berat. Mereka tidak salah. Mereka hanya ada di saat yang tidak tepat. Dan secara kualitas pun, ada beberapa yang belum layak masuk tim nasional.

Intinya, ini bukan tim terbaik yang dimiliki oleh Indonesia.

Wim Rijsbergen yang bodoh itu, juga sudah didepak dari tampuk pelatih kepala. Ia sekarang hanya menjabat sebagai direktur teknik yang mungkin kerjaannya tidak jelas. Mungkin hanya menghabiskan sisa kontrak ketimbang dibayar gaji buta tapi tidak melakukan apa-apa.

Aji Santoso juga ada di tempat yang salah. Ia, yang ditunjuk sebagai caretaker, tidak bisa berbuat banyak dengan pilihan yang tidak banyak.

Jadwal yang sudah disusun sejak jauh hari pun seolah menjadi hal yang terlupakan. Jeda antara pertandingan kelima dan keenam lumayan panjang. Tapi persiapan yang dilakukan oleh tim nasional hanya beberapa pekan dengan lawan ujicoba yang tidak berkelas. Itu juga kalah.

Intinya juga, persiapan tidak bagus.

Tapi 10-0 adalah hasil yang tidak bisa diterima akal sehat. Saya jadi membayangkan, inikah rasanya jadi orang Kamboja yang pernah kena bantai oleh Indonesia lebih dari satu dekade yang lalu?

“Oh, ini toh rasanya kena bantai 10-0?” ujar saya dalam hati. Rasanya, kalau boleh diterjemahkan, sungguhlah tidak enak.

Saya sudah mengambil sikap yang jelas, menurut saya yang jadi masalah adalah gonjang-ganjing di level atas.

Pemecatan Alfred Riedl tanpa sebab yang jelas adalah awalnya. Memang, Riedl belum membawa prestasi, tapi ia meletakkan sepakbola yang membuat orang kepincut, sepakbola yang menghibur.

Lalu datanglah penggantinya, si bule bodoh yang kebetulan masih punya kontrak dengan konsorsium LPI bernama Wim Rijsbergen. Kebodohannya jelas sudah tidak perlu dijabarkan lagi.

Selanjutnya, masalah pemain yang tidak bisa dipilih karena bermain di liga ilegal yang penontonnya ternyata lebih banyak ketimbang yang resmi.

Tiga runutan peristiwa ini, jelas harus dibebankan kemana. Rezim Djohar Arifin ada di belakang tiga keputusan penting ini. Mau dicari apapun alasannya, mereka yang mengambil keputusan dan fakta membuktikan bahwa semuanya salah. Semuanya tidak memberikan solusi yang membawa keadaan menjadi lebih baik.

Bukan masalah saya tidak sabar atau tidak. Bukan masalah juga ini adalah proses instan atau tidak. Yang jadi masalah, kesalahan fatal tiga kali berulang itu sudah tidak bisa diterima.

Kalau anda bekerja di dalam sebuah perusahaan, melakukan kesalahan fatal tiga kali, itu ganjarannya SP3, alias dipecat.

Hanya beberapa jam setelah kejadian memalukan ini terjadi, apa yang kemudian terjadi?

Lewat beberapa media, di tengah malam ini, saya memantau bahwa petinggi PSSI yang berurusan dengan tim nasional, cenderung mengambil posisi menyalahkan wasit.

Ada yang bilang bahwa pertandingan tadi dirusak oleh wasit. Ada yang bilang bahwa Samsidar dan Aji Santoso tidak perlu dikartu merah. Ada yang bilang bahwa kita dikerjai di kandang lawan.

Tapi, apa fakta yang ada di lapangan?

Digelontor sepuluh gol tanpa balas adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dibantah atau dijadikan perdebatan dari sisi apapun. Coba anda hitung sendiri satu sampai sepuluh. Ada berapa fase yang harus dilalui?

Penampilan sekumpulan orang yang mengatasnamakan Indonesia di lapangan tadi, benar-benar jelek. Mereka, memang, hanya pion. Sutradaranya yang buruk.

Ibarat sebuah pertandingan, Indonesia sudah jauh kalah telak sebelum bermain. Keadaan di lapangan memperburuk semuanya. Lalu, kenapa masih harus menyalahkan orang lain ketika semua pendukungnya tahu dengan persis bahwa masalah ada di dalam diri sendiri?

Tidak ada yang bisa dibenarkan dari keadaan yang tadi terjadi. Secara absolut, kita jelek. Dan kita kehilangan harga diri di kandang lawan.

Persetan dengan pembinaan, persetan dengan menegakkan aturan. Persetan dengan wasit yang berat sebelah. Dan persetan dengan kamu yang hanya mencari alasan.

Saya lelah dengan keadaan ini di mana elite politiknya malah meminggirkan apa yang ada di luar lapangan ketimbang yang ada di dalam. Rasanya, jutaan orang di luar sana juga punya pendapat yang sama.

Ada yang salah ketika kamu masih terbangun di dini hari memikirkan bagaimana rasanya hidup dengan kekalahan 10-0 di dalam rekor.

Tadi saya sempat bilang bahwa ini lebih memalukan dari kejadian sepakbola gajah buatan Mursyid Effendi dan kawan-kawan tahun 1998 yang lalu. Itu emosi, tapi bisa saja benar.

Ini malam yang panjang. Saya tidak akan dengan mudah melupakan ini. Semoga rezim yang sekarang mampus semampus-mampusnya. (pelukislangit)

 

Kalibata City
02.02
1 Maret 2012
Kepada Indonesia yang ribet

One thought on “Dari Malam yang Panjang – Tentang Indonesia yang Ringsek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s