Mari Kita Memulai Cerita di Halaman Ini: India

India!

Tahun ini, saya akan mengunjungi India untuk kali ketiga. India, entah mengapa, selalu punya pesona lebih untuk saya. Itu juga kenapa saya selalu punya alasan untuk berkunjung ke negara ini. Kasarnya, bisa dijamin kalau sepanjang hidup ini, pasti akan ada banyak sekali visa India tergores di berbuku-buku paspor yang akan saya punya.

Blog ini dibangun untuk mendokumentasikan perjalanan khusus ini. Saya merasa, India menyimpan banyak pesona yang rasanya terlalu saya untuk dipendam sendirian.

Saya punya alasan emosional, kultural, dan ‘darah’ sendiri yang harus saya simpan juga sendiri. Tapi di luar itu, India terlalu menarik untuk hanya dijelajahi sekali saja seumur hidup.

Ok, saya tidak akan membicarakan tiga faktor itu di blog ini. Mencobalah setidaknya. Karena saya pada dasarnya adalah orang yang suka bercerita dan berbagi. Jadi sudah pasti sedikit banyak akan menyentuh ranah pribadi yang pada awalnya tidak ingin saya bagi di blog ini.

Sekarang adalah saatnya saya menuturkan jawaban atas pertanyaan yang saya buat sendiri, “Kenapa harus India?”

Pertama kali datang ke India tahun 1999 yang lalu, saya punya yang namanya cinta pada pandangan pertama. Ketika dilihat dan dirasakan untuk pertama kali, India adalah negara kotor yang baunya sangat khas. Saya kebetulan datang pada musim panas dan pemerintah negara ini punya kebijakan khusus untuk menebarkan disinfektan di segenap penjuru negeri.

Disinfektan itu baunya tidaklah ramah. Saya mendarat di Bandara Indira Gandhi International di kota Delhi, pada sebuah hari di musim panas 1999. Indonesia saat itu sedang bersiap untuk menyambut pemilu paling demokratis yang pernah dialami sejak tahun 1955, pemilu pertama semenjak kejatuhan Orde Baru.

Dibandingkan dengan bandara rumah saya, Soekarno-Hatta, Indira Gandhi International tidaklah modern. Terlalu banyak orang di bandara itu. Settingnya pun kurang lebih mirip seperti datang di timur tengah menurut film-film barat.

Yang memperburuk keadaan adalah musim panas. Musim panas India bisa dibilang gila. Delhi waktu itu punya cuaca di kisaran 45 derajat Celcius.

Saya, yang waktu itu masih duduk di kelas satu SMA, tentu saja merasa super kaget dengan kondisi ini. Tidak pernah terbayangkan suatu kondisi panas yang luar biasa panas. Angin saja rasanya panas kok.

Tapi, saya sudah tahu bagaimana saya akan menikmati India ke depannya.

Cinta pada pandangan pertama itu benar-benar mengalir ketika saya menumpang sebuah taksi keluar dari bandara. Waktu itu, Metro di Delhi belum terbangun. Jadi, transportasinya masih konvensional.

Delhi, dan India pada umumnya, bisa dibilang telat mengenal globalisasi. Kendati mereka secara bangsa punya karakter yang sangat kuat, faktor-faktor globalisasi sangatlah datang terlambat. Sekedar anekdot, di tahun 1999 itu mereka bahkan belum punya McDonald’s! Haha.

Kunjungan pertama tidaklah panjang. Tapi, tidak lupa saya (dan keluarga saya) mengunjungi Taj Mahal yang terletak di kota Agra, sekitar dua ratus kilometer dari Delhi. Kalau di Indonesia, ya ibaratnya dari Jakarta ke Bandung deh.

Taj Mahal adalah representasi karakter India yang sangat khas. Kemiskinan boleh membumi di mana-mana. Keterbelakangan secara internasional boleh ada di mana-mana. Tapi, yang jelas, bangsa ini tahu betul bagaimana menghargai budaya mereka.

Alasan itulah yang membuat saya cinta akan India.

Sebagai manusia, saya benar-benar dibuat terpukau oleh bangsa ini secara keseluruhan. Ah, bukan rahasia lagi kalau India itu dikenal banyak intrik, atau bangsa penipu, karena memang kurang lebih itu ada di dalam budayanya. Haha.

Tapi, urusan intrik dan tipu-menipu sih bisa diakali. Gampang itu.

Kunjungan kedua saya ke India berlangsung tahun 2005. Kali ini, saya datang pada saat musim dingin.

Musim dingin juga sama ekstrimnya dengan musim panas. Yang membedakan, lebih enak dingin ketimbang panas, untuk saya.

Ekstrim maksudnya, cuacanya. Saya tidak mengerti urusan geografis, yang jelas musim dingin di India disertai angin kencang dan debu. Udaranya kalau malam benar-benar menusuk tulang.

Di kunjungan kedua ini, saya –yang juga datang bersama keluarga— menghabiskan waktu yang agak panjang. Kami datang ketika liburan natal tiba di Indonesia.

Selain Delhi yang menjadi ‘markas’, kami juga mengunjungi Simla dan Mumbai. Simla adalah kota tempat perjanjian pemisahan India dan Pakistan ditandatangani. Pada masa kolonial, kota ini juga dikenal sebagai summer capital India. Bisa jadi karena cuaca di Delhi ekstrim. Jadi ibu kota pun harus dipindah ke utara, demi mengakomodir Bangsa Inggris yang berkuasa di India dulu.

Di Simla, saya mendapati snowfall pertama saya. Saya bertemu dengan cuaca minus delapan derajat Celcius dan merasakan fenomena alam yang aneh bernama salju. Yang tentunya tidak pernah ada di tempat asal saya ini.

Nah, kalau Mumbai adalah kota metropolis. Mumbai adalah kota tanpa musim. Ketika musim dingin mendera India, maka Mumbai punya iklim tropis yang ‘sama-sama saja’. Kota ini juga dikenal sebagai salah satu pusat perfilman India.

Analoginya, Mumbai adalah sebelas dua belas dengan Jakarta. Termasuk untuk urusan macet, polusi, dan semrawut. Tapi, Mumbai adalah pintu utama dunia masuk ke India.

Tahun ini, saya akan punya sekitar enam belas hari untuk berjalan-jalan. Misi utamanya sudah tentu ke Delhi. Selain itu, saya juga sudah memastikan diri untuk pergi ke Kolkatta, kota di selatan India yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Karakter India selatan sepertinya berbeda dengan India utara yang samar-samar bisa saya rekam di dalam kepala.

Kolkatta juga terkenal dengan kiprah Ibu Teresa, biarawati Katolik yang mendedikasikan diri sepenuhnya untuk orang miskin di kota itu.

Sisanya? Dalam masa kurang dari satu bulan ini, saya masih belum tahu pasti akan kemana. Sempat terpikir untuk pergi ke Nepal juga. Tapi sepertinya akan sulit untuk urusan visa. Karena dengan demikian harus punya visa multiple entry India. Yang ini agak sulit.

Jadi, doakan saya bisa menyelesaikan misi di blog ini dengan baik. Jadi, ada satu hal yang bisa dikenang dari perjalanan saya ke India tahun 2009 ini.

Selamat membaca.

Felix Dass

Rumah Cibinong

13 Agustus 2009

22.22

*Satu bulan sebelum menginjakan kaki di India untuk kali ketiga*

6 thoughts on “Mari Kita Memulai Cerita di Halaman Ini: India

  1. expenses yg d keluarkan selama di india jg tolong d share dong.termasuk ticket pp,pokoknya semua akomodasi n tempat2 yg ekonomis but got fun nya.terimakasih banyak.

  2. Saya mau kochi n delhi jan 18,2013,tiket udh fixed,lg nunggu visa,deg2an, krn urus ke travel agent.
    Semoga dpt visa n semua lancar

  3. Tapi bagaimana dengan uang koran ny…klau lewat travel diharuskan pnya 50 juta…tapi klau di urus sendiri sebagian blang tidak dicantumkan nominal nya…jadi yang benar itu yang mana ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s