Sembilan Hari, Enam Gigs

Jakarta sudah kembali ke kondisi yang sebagaimana harusnya, jadi kota kelas dunia untuk urusan musik. Di 2019-2020, kondisinya di lapangan model begini.

Waktu itu, di beberapa kesempatan yang kecil, saya sering melontarkan ide ke teman bicara yang beragam. “Eh, Jakarta tuh statusnya kota kelas dunia tau, apalagi kalo tolok ukurnya jumlah pertunjukan musik. Hampir setiap hari ada gig. Itu yang urusannya indieshit. Belom yang perkara mereka-mereka yang ada di sirkus yang lebih besar,” kurang lebih begitu ucap saya.

Tentu saja, pandemi mengubah semuanya. 2023 semua mulai bergeliat, banjir antusiasme ada di mana-mana. Di 2024 ini, malah makin kenceng putarannya. Efeknya malah bisa macam-macam, mulai dari organiser susah jual tiket sampai penonton yang mesti milih karena duit modal nonton, fisik dan waktu gerak terbatas. Itu bahasan untuk lain kali deh.

Saya ingin mencatat sebuah pencapaian pribadi. Bahkan di periode ramai-ramainya dulu di 2019-2020 itu, tidak pernah sedahsyat ini. Mungkin juga, ini rekor personal.

Pada periode 22-30 Juni 2024, dalam sembilan hari, saya menghadiri enam pertunjukan musik di Jakarta. Mungkin jadi tujuh, sebenarnya. Tapi karena hujan deras dan konsekuensi yang mengikutinya (atau pilihan lain yang lebih penting saat itu), tidak kejadian.

Ringkasannya begini:

22/6 – Pesta di Barat, Jakarta Barat
24/6 – Zeke and the Popo di Duckdown Bar, Jakarta Selatan
26/6 – Priadi Kind of Show oleh Sal Priadi di Lucy in the Sky, Jakarta Selatan
27/6 – Tur Berjalan oleh Bernadya di Krapela, Jakarta Selatan
29/6 – Artificial Life di Cipinang to the Ska 5, Jakarta Timur
30/6 – Batavia Collective and co. di Launching Primasuara, Zodiac, Jakarta Selatan

Yang ketujuh tapi tidak kejadian ada pada 28/6, Sal Priadi main di Taman Literasi, Blok M, Jakarta Selatan. Tadinya, bisa diselipin, tapi karena hujan deras dan molor beberapa jam, waktunya jadi tidak ketemu.

Itu juga, masih ada beberapa pertunjukan lain yang bentrok. Terutama pada 26/6. Ada konser tunggal .feast dan The Adams, keduanya juga di Jakarta Selatan.

Jadi, ini kisahnya masing-masing.

Sabtu, 22 Juni 2024
Krowbar di Pesta di Barat, Westwew Coffee, Jakarta Barat

Magnetnya ada di nama terakhir. Semenjak Galaksi Rima Sakti, album keduanya, yang dirilis pada akhir 2023, saya belum pernah lagi menyaksikan Krowbar main live. Malah sudah bertahun-tahun kalau dipikir. Terakhir nonton di salah satu rangkaiannya Archipelago Festival di Kompleks Gedung Aksara, Kemang. Dulu panggungnya ada di Twilo Skatepark, di bagian belakang gedung. Tadi sempat google, itu kejadiannya 12-13 Oktober 2019. Lama banget kan?

Di hari yang sama, Polyester Embassy juga main di Toba Dream, Jakarta Selatan. Harus milih, mau nggak mau. Jamnya bentrok. Dan rasanya super ambisius kalau mesti gerak dari satu tempat ke tempat lainnya di dua bagian Jakarta yang berseberangan.

Krowbar main dengan format hemat, tanpa band. Cuma DJ E dan seorang MC tambahan yang gagal teridentifikasi. Seru banget, sompralnya bisa dirayakan bersama-sama. Ada pengalaman yang terekam dengan baik di kepala.

Materi-materi Galaksi Rima Sakti, sejak pertama kali didengarkan, memang bayangannya bakal seru banget untuk dimainkan live. Ada ruang-ruang untuk singalong yang bertebaran di mana-mana. 

Racunkota dan Joe Million juga penuh tenaga. Satu hal yang ok banget tentang nonton pertunjukan di Westwew Coffee ini adalah dekatnya ia dengan salah satu restoran nasi uduk favorit di Jakarta, Hj. Ellya di Kembangan.

Senin, 24 Juni 2024
Zeke and the Popo di Duckdown Bar, Jakarta Selatan

Hari Senin, hari yang padat. Pertunjukan Zeke and the Popo jarang terjadi. Karena personil-personilnya terpisah jarak. Tapi, hari itu ada bookingan untuk narik sama Stage ID, jadi moderator untuk diskusi bulanannya di SAE Jakarta yang lokasinya di Pejaten, Jakarta Selatan.

Kalau diskusi sama Stage ID, pasti molor. Namanya juga diskusi, masa dibatasi waktunya? Kurang greng kan kalo begitu. Akhirnya, mesti bersiasat. Begitu selesai, langsung was-wes-wos cabut ke Duckdown Bar. Jaraknya nggak jauh, tapi kena banyak lampu merah di Buncit Raya. Konon katanya, kalau sekali kena lampu merah di ruas ini, bakalan kena terus sampai ke ujung. 

Saya sampai saat Zeke and the Popo memainkan lagu ketiga. Sebelumnya ada Sir Dandy yang tampil dengan bandnya. Nggak kebagian, tentu saja.

Yang datang ke pertunjukan ini, kemungkinan besar usianya sudah lewat 30 tahun. Haha. Tapi, ada bagusnya juga untuk bar, karena mereka bisa beli minum. Kondisi bisa beli minum itu jadi kunci keberlangsungan.

Secara khusus, menyaksikan Menu dimainkan lagi secara live itu memorable banget. 

Rabu, 26 Juni 2024
Priadi Kind of Show oleh Sal Priadi di Lucy in the Sky, Jakarta Selatan

Sal Priadi adalah pemain. Jadi, wajahnya bisa macam-macam. Yang ini adalah prototip dari seri khusus yang sedang dibangun. Ia memberi ruang untuk musisi-musisi yang jadi kolaboratornya. Mainnya panjang, tidak dengan band reguler yang biasa diajak untuk memainkan lagu-lagunya.

Setelah dirilis, ini pertama kali saya menyaksikan Gala bunga matahari dimainkan. Memang magis. Terutama untuk mereka yang relate.

Highlight terbaik adalah memfasilitasi beberapa orang yang sebelumnya belum pernah menyaksikan Sal Priadi bermain langsung. 

Rasanya, sebagai seorang performer, main di bar dengan kapasitas 100-200 orang adalah fitur terbaiknya.

Kamis, 27 Juni 2024
Tur Berjalan oleh Bernadya di Krapela, Jakarta Selatan

Bernadya adalah adiksi baru. Karya-karyanya adalah penjabaran anatomi patah hati yang luar biasa bagus. Dari EP berkembang jadi album penuh yang makin gelap. Kesuraman adalah bahan bakar yang abadi untuk karya. Apalagi ketika ia bisa dipresentasikan dalam bentuk live. 

Dan, pertunjukan di Krapela ini, jadi salah satu penegas bahwa yang bersangkutan memang punya kualitas bintang terang. Caranya mengelola antusiasme penonton dengan gaya yang dingin dan fokus pada presentasi karya bikin kesengsemnya makin dalam.

Dimas Ario, seorang teman baik yang sama-sama membagi cinta untuk karya-karyanya bilang, “Lix, ini materi-materinya baru tiga hari dirilis loh. Gila ini satu ruangan udah singalong kencang banget.”

Kalau orang bisa singalong, berarti sudah mendengarkan karyanya super berulang-ulang. Malam yang dahsyat. Dari enam gig yang didatangi, ini mungkin yang paling jaw dropping.

Sabtu, 29 Juni 2024
Artificial Life di Cipinang to the Ska 5, Jakarta Timur

Ketika tahu bahwa Artificial Life bakal main lagi, rindu harus dituntaskan. Band ini, sebenarnya aktif-aktif saja. Tapi, memang jarang main. Kantong-kantong Ska di Jakarta ada banyak, tapi tersebar di segenap penjuru kota. Ketika ada acara, baru deh pada keluar dari gorong-gorong.

Selalu ada cinta untuk Artificial Life, mereka yang musiknya tidak pernah pergi dari puluhan tahun yang lalu. Di sebuah malam minggu yang larut, saya menembus kota dari Jakarta Selatan ke Jakarta Timur. Berpindah moda transportasi demi mengejar waktu.

Senang ada di Cipinang malam itu. Walau pulangnya harus beradu ketahanan dengan angin kencang yang aduhai juga kalau dirasa-rasakan.

Sabtu, 29 Juni 2024
Batavia Collective and co. di Launching Primasuara, Zodiac, Jakarta Selatan

Yang menutup sembilan hari perjalanan. Jadi, Daniel Adisumarta, manajer Batavia Collective, menjadi kurator kompilasi jazz pertamanya LaMunai Records, Primasuara. Acara ini adalah launching partynya.

⅔ dari Batavia Collective, Donny Joesran dan Kenny Gabriel tampil diiringi banyak musisi. Elfa Dzulham absen. Konsep ini, beberapa kali dipraktikkan di residensi yang mereka lakukan di Krapela beberapa bulan sebelumnya. 

Penutupannya seperti hari Minggu yang liar dari segi tata suara. Beda rasa dengan biasanya ketika Dzulham bermain, tapi yang ini juga bolehlah untuk dicatat. Jazz dikembalikan ke khitahnya, sebagai ruang dialog untuk banyak orang dengan banyak kepentingan. 

Love berat sama Damo & Batavia Collective & LaMunai Records untuk upayanya merekam musik jazz lokal yang terus hidup di gorong-gorong kota. 

*** 

Kalau dipikir, pegel juga sih di ujung cerita. Tapi, ya ternyata tahan juga. Dan tetap menjaga prinsip pribadi untuk datang dan mengejar apa yang ingin dilihat. Tidak karena courtesy call diundang-undang orang semata. Mungkin, itu resep untuk ketahanan yang tinggi ini.

Bisa ada di lapangan dan melihat beragam jenis pasar juga sebuah keberuntungan untuk diri sendiri. Musik, bagaimana pun juga, adalah sebuah cabang kesenian yang hingar bingar dan selalu menyediakan ruang untuk melihat bagaimana kota dan ekspresi warganya berjalan. 

Semoga terus bisa begini. Biar nggak jadi dinosaurus. Eh. (*)

Cengkareng/Cipete
1 Juli 2024

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.