Orang Asing dan Ingat Madrid

Dua tahun yang lalu, di Madrid, saya diundang untuk makan besar bersama sejumlah orang yang statusnya asing. Ruang dan waktunya intens; orang-orang berkumpul membawa makanan masing-masing, tuan rumah mendominasi menu dan mengatur siapa harus makan apa dan bagaimana gilirannya.

madrid_silva

Silva Gracia Simanjuntak, seorang perempuan Batak dan teman baik, berjasa banyak membawa pengalaman ala bule ini masuk ke dalam hidup saya. Makanan jadi punya peran sekunder. Tapi menghabiskan waktu bersama orang-orang berstatus asing itu, jadi punya cerita tersendiri. Pengalaman yang seru. Budaya hidup di Jakarta, tidak mengijinkan kejadian-kejadian model begini terjadi sering-sering.

Kota ini memaksa orang untuk mengagungkan individualisme. Sulit dibantah bukan? Jadi, bertemu orang asing dan kemudian menghabiskan waktu bersama mereka –kalau bonus, jadi berteman kemudian— bukanlah hal populer yang bisa dilakukan untuk mengisi kegiatan di sebuah hari Minggu.

Dengan latar belakang yang sama –kebetulan pula sama-sama hari Minggu—, perempuan Batak yang lain, Ruth Amerina Marbun, mengembalikan romantisme pengalaman itu. Dia partner saya sejak beberapa bulan ke belakang.

Di sisi kehidupan yang paralel, ia punya sekumpulan kolega penuh talenta yang biasa berinteraksi di Coworkinc. Coba cek situsnya. Komunitas ini, menjadi titik temu banyak orang dengan irisan profesi yang nampaknya menyenangkan.

cilandak_ruth

Sebelum mengenalnya, Eunice Nuh, seorang kawan yang lain, pernah mengajak saya nongkrong sore di sini. Tempatnya menyenangkan tapi waktu itu, belum pernah ketemu dengan isinya. Orang-orang di dalamnya, maksud saya.

Ruth banyak bercerita tentang beberapa aktivitas dan irisan profesi yang sangat mungkin bersisian di sana. Intinya, bisa ketemu banyak kepentingan yang mungkin sangat mendukung. Nampaknya seru. Belakangan ini, ia tidak banyak menghabiskan waktu di sini, tapi kontak masih terjaga dengan baik.

Kurang lebih seminggu yang lalu, ia mengajak saya untuk menghadiri undangan makan dari seorang teman di Coworkinc, Sean Bunyamin. Sebenarnya undangan ini, cenderung sifatnya berkumpul bersama, bertemu banyak orang dengan sejumlah irisan. Sean akan masak –salah satu keahliannya, menurut Ruth— beberapa menu dan kami harus patungan untuk menanggung biayanya. Masuk akal.

Setelah memastikan tidak punya agenda penting di hari Minggu –yang memang biasanya selalu dikosongkan untuk berbagai macam hal tidak penting tapi membawa kedamaian—, saya mengiyakan ajakan ini. Kami memilih menu apa yang ingin disantap dari dua pilihan yang diberikan.

img_9959

Di hari kejadiannya, semua berjalan sesuai dengan rencana kecuali adegan salah belok ke arah Jalan Pangeran Antasari selepas Jalan Tahi Bonar Simatupang. Maklum, namanya juga kurang familiar ke daerah itu. Haha.

Kami tiba di lokasi sedikit lewat dari waktu yang ditentukan. Sudah ada beberapa orang. Pemandangan yang ada di depan mata, langsung menggugah selera. Cilandak yang masih hijau, rumah besar dan teras samping yang bisa menampung banyak kegiatan. Meja sudah tersaji dengan baik, pengaturan piring telah dilakukan hidangan sedang masuk tahap finalisasi.

Kemudian, kami berkenalan dengan sejumlah orang yang sudah hadir duluan di tempat itu. Jadi makin menarik, karena ternyata Ruth hanya mengenal sekitar tiga puluh persen dari orang-orang yang datang.

img_9358

Sean punya lingkaran irisannya sendiri. Lalu, ada beberapa teman yang mengajak temannya juga plus ada satu keluarga yang benar-benar terasing karena semua orang baru mengenalnya hari itu. Seketika, saya ingat Madrid.

Pola interaksinya jadi menarik karena semua orang membuka diri untuk berkenalan satu sama lain. Normal-normal saja, tidak perlu sok akrab. Ceritanya bisa ngalor ngidul kemana-mana.

Malah, saya bertemu dengan adik seorang teman baik di makan siang bersama ini. Kebetulan, irisannya nyambung. Lumayan absurd. Tapi, ya begitulah.

Misalnya saja, ada orang yang bertanya tentang kaos Tenholes yang saya pakai –walaupun ternyata tidak segitu ingin tahunya, yang tentu saja normal-normal saja— atau pembicaraan tentang Darwin ketika masih bergabung bersama AirAsia Indonesia beberapa tahun yang lalu, atau bahkan cara berkomentar sok asyik tentang rasa yang tanggal setelah menyantap dua porsi es krim coklat yang enak.

img_1972

Karena normal-normal saja dan tidak perlu sok akrab ini, kami jadi bisa tertawa bersama-sama dan menyimak banyak seliweran hal yang mungkin baru. Termasuk juga mengomentari cara menyetir seorang kenalan baru yang lumayan berani untuk ukuran operasi jalan-jalan kecil di Cilandak.

Makanan yang disajikan Sean enak. Saya makan Lamb Shank yang sangat lembut. Rasa mediterania dengan anggur merah sebagai salah satu bumbunya. Eksperimental sedikit karena jelas melanggar norma haram-halal di daerah asalnya. Maksudnya, inspirasi yang diambil bisa jadi tidak menggunakan anggur merah sebagai bahan olahan masakannya. Tapi, oleh Sean, dicampur saja bahan ini. Dia bintang hari ini, selain interaksi dengan orang asing yang ternyata mudah-mudah saja untuk dijalani.

img_8867-copy

Pengalaman model begini, lumayan seru untuk dijalani. Membuka sedikit wawasan. Kami pulang beberapa jam kemudian. Lengkap dengan memori yang menempel. Rasanya, harus sering dilakukan yang model begini. Kalau mau mengajak, saya (dan Ruth) rasanya bersedia. Yuks? (pelukislangit)

Rumah Benhil Kedua
19 Februari 2017
22.49

Advertisement

Dialog

*) Buat Jakarta

Dialog adalah menulis ide di dalam kepala menjadi serangkaian bentangan visual yang bisa dipahami di level pengartian. Tidak perlu dengan mudah, tapi setidaknya tersampaikan. Boleh saja ditambah bumbu dentuman suara yang tidak berhenti bernyanyi di telinga. Tanpa terdengar orang banyak, tanpa mengganggu sudut-sudut lain yang harus bersisian.

dialog

Ideologi bisa berbeda. Pengertian juga tidak perlu diseragamkan. Supaya ada variasi antara memberi dan menerima.

Dan Jakarta sedang pelan. Seperti biasa di periode waktu yang seperti ini. Tengah kota kosong, nyaris melompong. Sisi pinggir, tidak perlu dipedulikan. Toh, masing-masing punya porsinya. Tunggu giliran saja untuk padat.

Sekarang kita bicara tentang sisi tengah. Apa yang bisa disemai dari serangkaian diam yang ternyata semarak; ada kehidupan lain di layar-layar digital. Suatu yang privat tapi menyangkut banyak isi kepala orang. Mereka beririsan. Terkadang menuai perdebatan. Terkadang menjaring kesepahaman. Tapi, diam.

Ada pula kesunyian. Yang bisa berhenti kapanpun tanpa perlu tanda-tanda. The Specials menyeruak di satu potong bagian. Semuanya harus diakhiri untuk saat ini.

Tunggu sebentar indikator biru penuh, saatnya mencari saus dan kemudian pulang. (pelukislangit)

Jalan Sabang, 8 Januari 2017
18.13

Cikini Folk Festival 2016

cikini-folk-festival-2016_clean

Teater Kecil Taman Ismail Marzuki
Sabtu, 17 Desember 2016
14.00 – 22.00 WIB

Tiket: 125.000
Pemesanan: seribermaindicikini@gmail.com
Tiket on the spot hanya tersedia apabila tiket presale tidak habis

Sisir Tanah
Iksan Skuter
Marjinal
Vira Talisa
Adrian Yunan
Sir Dandy
AriReda
Gabriel Mayo
Jason Ranti
Harlan Boer
Junior Soemantri

Informasi: 08119208475

Informasi line up:
http://www.felixdass.com/cikinifolkfestival2016-1

Menyelenggarakan Cikini Folk Festival 2016

Akhirnya akan kejadian. Mimpi untuk membuat festival sendiri, ada di depan mata. Namanya Cikini Folk Festival.

Tahun lalu, tanpa sadar, saya mencanangkan sesuatu niat yang perlu untuk diwujudkan di tahun 2016 ini. Secara khusus, saya ingin berkontribusi pada scene musik tempat saya berkarya dengan cara membuat sebanyak mungkin pertunjukan.

Kelasnya diset: Gedung pertunjukan. Bukan apa, tapi ingin membuat bermain di gedung pertunjukan menjadi kebiasaan untuk banyak orang. Bukan lagi hal yang spesial. Karena itulah, Bermain di Cikini dan Future Folk diset. Dengan bantuan banyak orang.

Yang Bermain di Cikini, dilangsungkan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Yang Future Folk dimainkan di Auditorium IFI milik Kedubes Prancis di Jalan Thamrin.

Di perjalanannya, kemudian muncul peluang-peluang kecil untuk mengembangkan apa yang sudah ada. Salah satunya adalah membuat festival sendiri.

Dari sebuah peluang manis yang disambar, jadinya Cikini Folk Festival. Ada tanggal kosong di akhir pekan yang mendadak datang, seminggu sebelum natal. Teater Kecil Taman Ismail Marzuki yang kapasitasnya tidak besar itu, akan menjadi tuan rumah. Di sana, akan ada dua panggung untuk memainkan dua belas nama yang akan tampil. Kita akan masuk ke bagian materi festivalnya nanti.

img_4206

Festival adalah sebuah konsep yang menantang. Interpretasinya bisa macam-macam. Ekspektasinya juga bisa macam-macam. Tapi, dalam kasus apa yang akan saya buat, bisa dijamin, semuanya berkemasan sederhana.

Saya sejujurnya tidak (atau mungkin belum) punya kemampuan untuk membuat sesuatu yang besar dari segi pertunjukan. Besar dalam artian ada kemegahan produksi, menanggung ribuan orang di satu lokasi pertunjukan dan segala sesuatu yang jadi omongan orang banyak karena kemewahan dan kecanggihan teknologi yang menyertainya. Tapi saya percaya bahwa festival sesungguhnya adalah kepercayaan orang akan sebuah ide yang diusung dan bisa dialami secara komunal nantinya.

Jika beberapa kali saya menulis bahwa Bermain di Cikini idenya disusun oleh pengalaman menyaksikan Bryan Adams dan Glenn Fredly yang sederhana, maka saya berhutang pengalaman pada Ngayogjazz dan Pesta Boneka-nya Papermoon Puppet Theater untuk Cikini Folk Festival.

Di kedua festival yang disebut terakhir itu, saya menemukan bahwa sesungguhnya ide berfestival adalah keberanian untuk merayakan kesenian bersama-sama. Tidak perlu sesuatu yang megah; dua festival ini malah akrab dengan hujan. Yang penting menu yang disajikan menjadi garis merah yang membatasi berbagai macam ekspektasi yang mungkin muncul. Bahwa datang ke sebuah pergelaran hanyalah untuk menyaksikan menu utamanya. Bukan yang lain.

Interaksi orang dan menu yang ciamik, rasanya menjadi titik utama yang harus diperjuangkan. Budget bisa diakali, yang penting terbuka dan percaya bahwa di luar sana, masih banyak orang yang peduli bahwa musik bisa dimainkan di level yang paling sederhana. Ada gelembungan senyum yang tidak terhingga yang siap dibagi dan diambil. Ada proses take and give di dalamnya.

Membuat banyak pihak bertemu di satu kesempatan dan membuka banyak pintu yang kemudian bisa ditindaklanjuti sesungguhnya adalah esensi dasar dari ide festival yang ada di pikiran saya.

Dan dengan berani, Cikini Folk Festival 2016 diselenggarakan.

Nantinya, akan ada dua panggung di dalam lingkungan Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, satu di dalam dan satu di lobi. Secara maraton, band-band akan tampil dari pukul 14.00-22.00 WIB. Seluruh band bisa dilihat, berarti tidak ada waktu yang bentrok antar satu penampil dengan penampil lainnya.

Yang akan tampil, semuanya merupakan kesukaan pribadi. Ada yang obsesi lama, ada yang baru berkenalan, campur aduk. Ok, di bawah ini dijelaskan satu demi satu siapa penampilnya. Tidak disusun berdasarkan alfabetikal, karena saya terlalu malas. ☺

Sisir Tanah

Sisir Tanah adalah Bagus Dwi Danto. Dalam waktu dekat, ia akhirnya siap mereka debut albumnya. Materi-materinya sudah berserakan di internet. Saya pertama kali mengajaknya bekerjasama di Future Folk vol. 01 yang diselenggarakan di IFI Jakarta pertengahan tahun ini. Cerita musiknya begitu tulus, enak untuk didengarkan sambil merenung. Saya penggemar berat.

Iksan Skuter

Diimpor dari Malang. Saya baru berkenalan dengan musiknya, lewat Shankara, albumnya yang paling baru. Ketika memutuskan untuk mencari tahu lebih jauh, saya langsung menyalahkan diri sendiri; kenapa baru berkenalan dengan musiknya sekarang. Ya sudah, diupayakan saja untuk diajak main ke festival ini. Modalnya cuma gitar sama vokal.

AriReda

Kerjasama saya dengan AriReda berjalan jauh. Tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Ini merupakan kali ke-4 AriReda main di Teater Kecil tahun ini. Tapi, yang kali ini, biarlah main di luar. Supaya ganti suasana. AriReda juga akan bermain di sore hari. Hari Minggu keesokannya, Ari Malibu punya agenda khusus di Bandung.

Junior Soemantri

Ia paman saya. Jadi, alasan nepotisme, sudah pasti di atas segalanya. Tapi Kelik, panggilan akrabnya, punya debut album yang sangat menarik. Ia menafsir ulang musik lawas milik Indonesia. Dengan sentuhan yang tidak dipaksakan.

Bin Idris

Haikal Azizi dari Sigmun. Ini proyek solonya. Baru merilis album dan dimensi beda yang ia miliki di dalam karya-karya solonya membuatnya menarik. Saya selalu punya respek besar pada orang-orang yang mengutamakan eksplorasi di dalam proses pengkaryaannya. Itu perlu keberanian yang tidak main-main. Dan ketika ia memutuskan untuk bermain di festival ini, saya merasa senang betul.

Sir Dandy

Sir Dandy Harrington dari Teenage Death Star. Kasusnya sama dengan Haikal Azizi, keluar dari pakem bandnya. Bedanya, Haikal punya skill, Sir Dandy pas-pasan. Tapi, siapa yang perlu skill hari begini? Sir Dandy Harrington menampilkan pelajaran penting untuk orang banyak; siapapun bisa main musik dan bersuara kalau memang mereka mau. Bisa jadi, ia lebih berguna sebagai pendidik ketimbang si calon gubernur yang kutu loncat itu. Haha.

Jason Ranti

Nah, kalau Kelik tadi nepotisme, yang ini harus ada. Wajib hukumnya. Salah satu penulis lagu berkategori jenius yang saya sukai. Jeje, panggilan akrabnya, sudah terlibat di beberapa kerja sama bersama saya. Menyaksikannya berkali-kali, dengan berbagai macam tipe penonton, seolah tidak pernah cukup. Ia salah satu nama yang paling atas ada di daftar pengisi Cikini Folk Festival 2016 ketika baru dirancang beberapa bulan yang lalu.

Gabriel Mayo

Merantau dan memperjuangkan nasib lewat musik. Lagi-lagi orang berani memutuskan untuk mengiyakan tawaran main di festival ini. Mayo mengembara dari Surabaya dan menulis sendiri jalannya di Jakarta. Menjadi salah satu musisi yang jadwal mainnya padat merayap. Segala tawaran dihajar. Sedang mempersiapkan album penuhnya.

Harlan Boer

Pemuda Tebet yang selalu berjiwa segar. Dihimpit problema, tapi selalu bisa menggambarnya dengan indah. Gitar dan seorang kawan yang bernyanyi akan membantunya unjuk gigi. Folk at its best.

Vira Talisa

Pendatang baru. Baru merilis mini album awal bulan ini. Bisa jadi, ini kesempatan perdana buat banyak orang untuk bisa menyaksikannya bermain langsung.

Adrian Yunan

Saya punya rasa hormat yang sangat besar padanya. Karena keberaniannya melawan keadaan dan tidak menolak tunduk pada kondisi tubuh yang sakit. Adrian Yunan –juga merupakan salah satu bagian penting dari Efek Rumah Kaca— kembali ke panggung dan mulai menampilkan lagu-lagu dari album solonya yang sedang direkam. Saya menyaksikannya bermain di suatu tempat kecil di Kemang dan tiba-tiba membuat janji untuk mengajaknya bermain di panggung yang lebih besar. Festival ini adalah upaya untuk memenuhi janji itu.

Marjinal

Yang ini masuk paling belakangan. Tapi, pada akhirnya, saya berhasil mengajak Marjinal untuk main di Cikini Folk Festival 2016. Yang pertama dan tentu saja bukan yang terakhir. Tidak banyak yang tahu kalau mereka punya Free Spirit of All Nation, sebuah album akustik yang dirilis khusus untuk pasar Jepang. Nah, format akustik adalah apa yang akan ditampilkan di festival ini. Punk rock, tapi akustik. Sudah biasa sih, dalam kasus mereka.

Nah, dua belas band ini, akan menjadi artis-artis yang mengisi Cikini Folk Festival 2016 edisi perdana pada 17 Desember 2016 nanti di Teater Kecil. Nantinya, akan ada dua panggung yang membagi penampilan menjadi dua kutub; satu di dalam, teater yang biasa digunakan, satunya ada di luar di bagian lobi teater. Tidak ada waktu yang bentrok antara satu panggung dengan panggung lainnya.

Ini bagian jualannya: Tiket akan dilepas seharga Rp.125.000,00 dan bisa dipesan langsung via seribermaindicikini@gmail.com.

Besar harapan, kamu yang membaca tulisan ini, bisa datang ke Cikini Folk Festival 2016. Tentunya, untuk berbagi kebahagiaan yang sama. ☺

Sampai jumpa di Cikini! (pelukislangit)

Future Folk vol. 02: 15 Oktober 2016

Future Folk kembali lagi. Future Folk vol. 02 berlangsung hari Sabtu, 15 Oktober 2016. Venuenya masih sama: Auditorium IFI Jakarta yang terletak di kompleks Kedutaan Besar Prancis di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat.

future-folk_vol-2

Seri ini, merupakan seri khusus yang baru diinisiasi beberapa bulan yang lalu. Idenya adalah membuat pertunjukan yang kompleksitasnya lebih sederehana ketimbang Bermain di Cikini yang perlu persiapan lebih ribet. Penjelasan tentang Future Folk dan kenapa ia ada, bisa diklik di link ini.

Saya menggunakan kesempatan yang terbentang lewat seri ini untuk membawa talenta-talenta favorit naik panggung. Kebetulan memang dukungan dari pihak IFI Jakarta sangat besar. Mereka menyediakan panggung dan ruangan cantiknya untuk dijadikan tempat pertunjukan.

Secara khusus, dari berbagai macam kemungkinan ekonomi yang muncul, saya juga ingin mengajak sejumlah talenta dari luar Jakarta untuk main di kota ini.

Di Future Folk vol. 01, saya mengajak Sisir Tanah dari Jogjakarta dan Mr. Sonjaya dari Bandung. Begitu juga Oscar Lolang yang sebenarnya asli Jakarta tapi selalu menyebut dirinya berasal dari Jatinangor. Nama lainnya waktu itu adalah Jason Ranti dan Junior Soemantri.

Ide itu, diteruskan. Karena saya percaya bahwa memberikan kesempatan untuk mereka yang percaya pada musik mandiri di luar kota ini, bisa menambah referensi sekaligus memperlebar khasanah orang-orang di Jakarta. Musik bagus, selalu perlu untuk dikabarkan.

Di Future Folk vol. 02, saya mengajak Sungai, sebuah band folk asal Jogjakarta untuk main di Jakarta dan mempertontonkan musik mereka yang sangat menarik. Ini contohnya:

Dan ini:

https://soundcloud.com/sungai/merah-muda

Mereka sudah menghasilkan sebuah album yang sangat-sangat-sangat bagus. Judul Arus. Bisa didengarkan di sini:

Sekarang, bandnya sedang memproses album kedua mereka. Tapi, tidak menolak ketika ditawari untuk mengisi slot Future Folk vol. 02. Mereka akan membawa cd dan merchandise untuk dijual di venue nanti.

Untuk mengisi slot lainnya, saya mengajak tiga orang penuh talenta lainnya. Domisili mereka semua di Jakarta. Labelnya penyanyi solo, tapi mungkin tampil dengan format berbeda.

Yang pertama adalah Gabriel Mayo. Beberapa waktu, saya menulis profilnya di link ini. Kalau ingat, Mayo adalah drummer band asal Surabaya, Vox. Beberapa tahun terakhir, ia merantau ke Jakarta dan memutuskan untuk menjadi penyanyi solo. Ia sudah menghasilkan beberapa karya dan debut album penuhnya sedang dimixing. Prosesnya sudah mendekati akhir dan bisa jadi akhir tahun atau awal tahun depan, kita semua bisa mendengarkannya.

Contoh musiknya seperti ini:

Yang kedua kemudian adalah Harlan Boer. Bin, begitu ia akrab dipanggil, sudah menghasilkan empat buah mini album. Ia secara konstan bermain dari satu panggung ke panggung lainnya bertemankan gitar kopong dan kadang-kadang satu-dua orang yang menemaninya di lagu-lagu tertentu.

Sudah lama saya ingin mengajak Bin main di acara yang saya buat. Future Folk kemudian menjadi kendaraan pertama yang pas. Kekikukan dan kenyataan pahit tentang Jakarta mungkin bisa membuat kita terhibur dan lantas bersama-sama menertawakan hidup di kota ini. Refleksi, kadang memang muncul dalam wajah yang paling ironis.

Ini contoh musiknya Bin:

Dan ini:

Yang terakhir adalah Sir Dandy. Ya, Sir Dandy yang vokalisnya Teenage Death Star itu. Ia yang suka semena-mena bermain di atas panggung; kadang lupa lirik, kadang mengulang lagu. Tapi, ia sanggup mengocok perut kita dengan lawakan-lawakan jeniusnya.

Ia baru kembali ke Jakarta setelah berburu mamah-mamah muda di Inggris Raya. Ini penjelasannya tentang kenapa ia menghilang. Nah, kali ini, sampai hari ini, ia belum mengonfirmasi akan main bersama siapa nanti di Future Folk vol. 02.

Tapi, ini beberapa bagian dari musiknya yang jenius itu:

Ini juga:

Nah, itulah yang bakal main di Future Folk vol. 02. Acara ini hidup dari kontribusi tiket yang dibeli penonton. Termasuk kamu yang tertarik dan mengubah ketertarikan itu menjadi pembelian tiket. Semuanya swadaya dan mandiri. Dibagi rata, tentu tidak sama rata karena bebannya dibagi berdasarkan kebutuhan dana masing-masing penampil.

Tiketnya, sampai hari ini, sudah terjual sekitar 40-an. Masih ada 100-an tiket lagi. Pemesanan bisa didapatkan via seribermaindicikini@gmail.com. Atau kalau mau tanya-tanya, bisa juga hubungi saya di 08119208475.

Pertunjukan dimulai pukul 18.00 WIB. Nah, jangan khawatir, belajar dari Future Folk vol. 01 lalu, kali ini saya mengundang Sulung Koesuma yang punya bisnis kuliner baru bernama Panggangin. Ia akan mengurus catering yang bisa disantap di jeda-jeda antar band yang berlangsung sekitar lima belas menit. Jangan khawatir kelaparan. Makanannya pun, ada yang halal dan tidak halal. Pilihannya beragam. Konsumsi, aman.

Ok. Sampai jumpa di Future Folk vol. 02. Semoga setelah membaca tulisan ini dan melihat deskripsi band-bandnya, kamu tertarik untuk datang. Tiket di hari pertunjukan baru dijual apabila pemesanan tidak habis. Saya sih berharapnya habis. Hehe. Ditunggu ordernya. ☺ (pelukislangit)

Di perjalanan – 10 Oktober 2016
11.22 pagi

Sepuluh dan Dua Belas

Di kota ini, kita tidak menggunakan satuan jarak, melainkan waktu. Ia lebih akurat. Karena jarak seringkali tidak masuk akal. Terlalu banyak faktor yang bisa memengaruhi hitungan akhir. Seringkali pula, membuat bebal dan kesal. Di Jakarta, hidup perlu untuk diakali. Ia tidak pernah biasa.

sepuluh-dan-dua-belas

Jadi, ketika sebuah hari Minggu datang dan ada ruang kosong yang bisa dijelang atas nama satuan waktu, mari dikejar. Dibuat berarti dan berkesan. Mengunjungi kegiatan yang telah lama ditinggalkan hanya semata-mata.

Kita bisa memulainya di pagi hari dan mengakhirinya sedikit lewat tengah hari. Esensi sama, hanya mempermainkan waktu (dan juga jarak yang tidak lagi jadi penting).

Setelah selesai, semua jadi hal yang menyenangkan.

Tapi tunggu dulu.

Ketika sudah berdamai dan sadar, ada hitungan waktu yang masuk. Jadinya kombo. Hari ini, ia telah pergi sepuluh tahun. Dua belas tahun yang lalu, ada orang-orang yang menangisi perpisahaan. Walau mungkin, untuk sebagian, sudah diprediksi.

Sabda-sabda penguatan masih terngiang. Adegan duduk di tangga itu pun kembali pula terbayang. Ketika diingat, menyakitkan, tapi toh bisa dilalui.

Hitungan waktu, membawa semua berjalan ke depan. Meninggalkan yang di belakang. Baik yang kisahnya terjadi dua belas tahun yang lalu atau sepuluh kilometer yang lalu.

Waktu, menjadi alat ukur yang paling relevan. Ternyata. (pelukislangit)

Rumah Benhil
18 September 2016
15.43
Buat RM dan AGD yang mengajarkan bahwa waktu adalah pengalaman penting (untuk hidup)

Metronom

Ia datang lagi. Kenangan lama beralih wujud. Kembali. Sedari pagi lalu kemudian menyentuh malam. Waktu tidak terasa. (Menemani) rekaman.

IMG_8314

Hal-hal bagus memang menghampiri, untuk kemudian bisa kembali ke titik ini.

Melihat dan mendengar dari dekat adalah keberuntungan. Bahaya memang kalau kualitas sudah dipendam dan dipupuk sejak puluhan tahun yang lalu. Sekalinya keluar, cenderung tidak bisa dihentikan apinya.

Ya dinikmati saja. Toh, bisa memainkan banyak peran di dalamnya. Perjalanan masih banyak, ini baru dimulai. Majulah beberapa langkah sejak titik awal beberapa bulan yang lalu.

Ini konstan. Semoga tidak pernah melambat. (pelukislangit)

26 Agustus 2016
19.25
Kua Etnika Studio
Untuk: AriReda

Bintaro

Jarak dan waktu memang menantang. Untuk tidak menjadi orang kebanyakan, perlu putaran otak ekstra untuk mengakalinya. Tapi, selalu bisa.

IMG_8232

Jakarta ada untuk ditaklukan, bukan untuk dikeluhkan. Selalu seperti itu.

Bentangan jarak yang ‘hanya’ dua belas kilometer itu, bisa selalu ditempuh dalam durasi perjalanan yang normal.

Berangkat kencan pukul 18.00. Naik motor, parkir di stasiun. Lanjut Commuter Line yang padat dengan mereka yang sudah kehilangan bau sehabis mandinya. Tiba di tujuan 18.30-an. Dijemput. Makan malam. Berbicara memandang mata sepuasnya. Pukul 22.00 atau 22.30, sudah di depan stasiun kembali. Perlu waktu ekstra? Tenang, yang pukul 23.00 juga masih ada. Menuju kota. Pulang.

IMG_8229

Cepat, ringkas, padat dan murah. Bayar kereta dua ribu kali dua, bayar parkir tujuh ribu.

IMG_8235

Yang paling penting: Bisa bertemu di koridor waktu paling sibuk milik kota. Tiada halangan berarti selain kereta yang padat. Tapi, sepadat-padatnya, juga hanya berumur sepuluh menit. Tidak lebih.

IMG_8236

Dan padanya kita percaya, bahwa Jakarta adalah kota dunia. (pelukislangit)

Tegal
25 Agustus 2016
12.42
Di Taksaka Pagi menuju Jogjakarta
Buat RM dan Bintaro

Pertunjukan Dua Malam Merayakan Sapardi Djoko Damono bersama AriReda

Yose Riandy 06

Di akhir Juli 2016 kemarin, saya mengikuti workshop penulisan yang dibuat oleh Teater Garasi. Acara itu menjadi salah satu mata rangkaian tur mereka di Jakarta. Di salah satu sesinya, nama Bambang Bujono, seorang kritikus teater senior dijadwalkan memberikan materi.

Di awal sesinya, alih-alih membuat sebuah pengantar yang kontekstual, ia membukanya dengan permohonan maaf. “Saya mohon maaf tidak menyiapkan materi karena harus menemani Sapardi Djoko Damono (SDD) di Rumah Sakit Fatmawati. Beliau tidak berhasil mendapatkan kamar sejak semalam. Baru tadi pagi dapat kamar. Jadi, saya tidak membuat presentasi sebagaimana seharusnya,” ujarnya.

Tentu saja, beberapa orang kaget mendengar penjelasan ini. Bambang Bujono dikenal luas sebagai salah satu sahabat paling dekat SDD.

Sesi itu berantakan untuk saya pribadi. Bukan karena materinya tidak siap, tapi mendengar fakta bahwa SDD terbaring di rumah sakit karena kondisi kesehatannya menurun sesungguhnya membuat pikiran juga ikut lari kemana-mana.
***

Dalam hitungan detik, saya mengirim pesan singkat pada Reda Gaudiamo, setengah bagian dari AriReda. Yang pertama harus dicari tahu, apa yang sebenarnya terjadi sehingga SDD harus tinggal untuk observasi di rumah sakit. Setelah tahu, pikiran langsung mengembara kembali.

Yose Riandy 05

AriReda merasa perlu untuk memimpin sebuah upaya guna mengembalikan semangat SDD agar kembali ke kondisi yang prima. Bagaimanapun juga, kami sedang menempuh sebuah perjalanan baru yang seru. SDD selalu akan menjadi bagian penting dari kisah duo ini. Tidak bisa dilepaskan begitu saja. Hubungannya abadi.

AriReda adalah anak kebudayaan Sapardi Djoko Damono.

Kendati mulai menjelajah ke banyak penyair lain di dalam karya-karyanya, puisi-puisi SDD masih (dan mungkin akan selalu) mendominasi set pertunjukan yang dimainkan oleh AriReda.

Sangat wajar apabila kami memimpin sebuah upaya besar untuk memberikan semangat kepada yang bersangkutan. Jadilah, kami berpikir dengan cepat.

Yose Riandy 07

“Rasanya bikin pertunjukan enak sih ini, khusus untuk beliau,” ujar saya di grup internal kami di Whatsapp.

Reda mengecek jadwalnya. Ari Malibu yang sedang punya banyak proyek musik melihat agendanya yang mendadak padat bulan ini. Saya mengecek ketersediaan gedung. Satu setengah hari, ketemu jadwalnya. Kami akan membuat sebuah pertunjukan dua malam untuk merayakan karya-karya SDD.

Judulnya AriReda untuk Sapardi Djoko Damono.

Yose Riandy 09

Menurut rencana, beberapa teman baik akan ikut naik panggung. Jadi, teman penampilnya mirip-mirip model AriReda with Special Guests. Kurang lebih seperti itu. Siapa saja kawan-kawan itu, masih difinalisasi. Semoga dalam beberapa hari ke depan sudah bisa diumumkan.

“Kita harus ajak sejumlah kawan nih, Lix,” kata Reda di dalam salah satu rangkaian pembicaraan itu. “Gue pengen ajak beberapa nama yang beda generasi. Supaya memang jadi variatif line upnya,” tambahnya.

Karakter sejumlah kawan itu memang berbeda. Beberapa sudah dikenal luas membawakan karya-karya SDD. Beberapa dipaksa khusus untuk berkolaborasi karena kami menyukai mereka.

Yose Riandy 12

Semuanya akan bergabung di set AriReda. Jadi, kami akan bermain set panjang di dua malam pertunjukan dan kawan-kawan itu mengisi sejumlah lagu di dalamnya.

Merayakan harus dilakukan dengan gegap gempita. Supaya gemanya bersuara besar ke sekitar. Semakin banyak orang yang mengirimkan doa dan harapan mereka, semakin besar kecepatan recovery yang berlangsung. Itu yang kami harapkan.

Sampai sejauh ini, upaya ini diberkahi oleh alam raya. Kami mendapatkan dukungan yang luar biasa besar dari PKJ TIM dan Dewan Kesenian Jakarta. Mereka dengan murah hati mempercepat seluruh proses perijinan agar pertunjukan dua malam ini terjadi sesuai rencana yang disusun kilat tadi.

Yose Riandy 01

Berikut adalah detailnya:

AriReda untuk Sapardi Djoko Damono
(AriReda with special guests)

Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki
22-23 Agustus 2016
Pertunjukan dimulai 20.00 WIB

Harga tiket: Rp.150.000,00
Pemesanan tiket: seribermaindicikini@gmail.com
Tiket on the spot hanya tersedia apabila penjualan via email tidak terjual habis
Informasi: 08119208475

Akan ada beberapa detail tambahan yang dirilis untuk melengkapi pertunjukan dua malam ini. Diantaranya, AriReda bekerja sama dengan sejumlah perupa untuk memproduksi merchandise khusus bertema SDD yang akan dijual di venue pertunjukan. Kami juga sedang mengusahakan untuk menyediakan sejumlah buku SDD yang pernah dirilis secara swadaya untuk dijual di kedua malam itu.

Bunga Yuridespita 09

Kami ingin perayaan ini berlangsung dengan maksimal.

Anyway, ini beberapa foto AriReda bermain di seri Bermain di Cikini yang diselenggarakan di tempat yang sama pada bulan Januari 2016 yang lalu:

Video-videonya bisa dicek di sini, sini dan sini.

Dan ini adalah video SDD berbincang dengan Joko Pinurbo dan Najwa Shihab di ASEAN Literacy Festival 2016.

AriReda sangat-sangat familiar dengan Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Dan kami senang bisa merayakan inspirasi terbesar AriReda bersama kawan-kawan sekalian. Tentunya sembari terus berharap SDD mendapat berkah luar biasa untuk menjaga kesehatannya.

Kami memerlukan kawan-kawan untuk mendukung pertunjukan dua malam ini dengan membeli tiket. Tinggal pilih, mau nonton hari Senin atau Selasa. Tiket sudah bisa dipesan.

Semoga kawan-kawan yang membaca tulisan ini, mau ikut gerbong AriReda merayakan SDD. (pelukislangit)

Delico – Kuningan
8 Agustus 2016
18.32
Foto oleh Yose Riandi dan Bunga Yuridespita

Future Folk vol. 01: 23 Juli 2016

Flyers_FINAL

Semesta memberi jalan.

Tanggal 23 Juli 2016 mendatang –ya, hari Sabtu yang akan datang— saya kembali bekerja sama dengan IFI Jakarta untuk menyelenggarakan sebuah pertunjukan musik. Ini merupakan kali keempat kami bekerja sama. Sebelumnya, menyelenggarakan pertunjukan Sore, Polka Wars dan Mocca. Yang ini, sedikit berbeda.

Saya memulai sebuah seri baru, namanya Future Folk vol. 01. Diberi tanda nomor satu karena memang ini merupakan edisi perdana. Akan ada edisi kedua, ketiga dan selanjutnya. Seri ini merupakan seri kedua setelah Bermain di Cikini mulai bergulir sejak awal tahun ini.

Nah, angle kedua seri ini berbeda. Jika Bermain di Cikini menampilkan (dan fokus) sebuah band, maka Future Folk adalah kesempatan untuk memanggungkan sejumlah band yang menarik dan disukai. Tapi belum bisa diperlakukan sefokus Bermain di Cikini.

Keduanya punya fungsi dasar, memberikan panggung kepada banyak musisi menarik yang ada di sirkulasi referensi di sekitar.

Di Future Folk vol. 01 ini, secara pribadi, ada lima musisi/ grup yang diundang untuk main. Mereka, dengan sihirnya masing-masing, berhasil mencuri perhatian lewat karya-karya mereka. Pun telah diverifikasi dengan menyaksikan permainan panggungnya lewat mata kepala sendiri.

Jadi, ketika ada kesempatan, sebaiknya memang musik bagus dikabarkan ke publik yang lebih luas.

Future Folk vol. 01 dijalankan dengan sistem tanggung renteng yang berkaitan satu sama lain. Oleh karena itu, tulisan ini dibuat. Supaya bisa dijelaskan ada apa di dalamnya. Selain tentunya untuk membuat lebih banyak orang tergerak untuk datang dan membeli tiket pertunjukan.

Kelima musisi/ grup yang diundang punya alasan untuk unjuk gigi. Mereka semuanya ada di tahap awal karir yang memang masih perlu dukungan orang banyak untuk bisa melaju. Yang jelas, secara pribadi minimal, mereka bagus dan punya karya yang menarik.

Salah satu yang coba dikejar adalah membuat dua band dari luar Jakarta untuk bisa main di episode perdana ini. Setelah dihitung dengan pasti, akhirnya Sisir Tanah dan Mr. Sonjaya bisa ada di kota ini dan mempertontonkan aksi mereka.

Sisir Tanah sudah membuat saya kesengsem sejak mendengarkan sejumlah lagu di halaman Soundcloudnya. Keinginan untuk menyaksikan mereka bermain langsung menjadi kenyataan ketika Gufi Asu, kawan baik di Jogja, mengajaknya untuk menjadi pembuka AriReda di #StillCrazyAfterAllTheseYears Tour bulan Mei lalu.

Kesengsem dan menyaksikan penampilan live merupakan tahapan yang bertalian. Harus ditempuh untuk menemukan alasan yang bulat guna menyebut sebuah band itu keren atau hanya punya materi yang keren. Itu dua hal yang berbeda.

Rumusan ini dipinjam dari Helvi Sjarifuddin, salah satu mentor saya sekaligus bos di FFWD Records dulu. Ia benar dan praktek ini terus berlangsung sampai hari ini.

Dalam kasus Sisir Tanah, tidak perlu waktu lama untuk bisa bilang mereka keren. Menyaksikan Danto, otak Sisir Tanah, bermain langsung di atas panggung sewaktu di Jogja tempo hari adalah sebuah berkah yang sangat menyenangkan.

IMG_6240

Waktu itu, saya langsung bilang sama diri sendiri, “Sisir Tanah harus main di Jakarta sesegera mungkin!”

Menurut Gufi, Danto tidak mudah untuk diajak naik panggung. Itu menurutnya, tapi dalam kasus tawaran saya ini, ia tidak berpikir lama untuk bilang iya. Itu dukungan yang sangat berarti. Apalagi menyadari bahwa kompensasi finansial yang ditawarkan kecil. Tapi rasanya kami punya kesepahaman untuk urusan ini, bahwa urusan finansial bukan segala-galanya.

Jadilah Sisir Tanah akan bermain di Future Folk vol. 01 nanti.

Nama kedua yang juga dibela benar-benar adalah Mr. Sonjaya dari Bandung. Tahun lalu, Mr. Sonjaya merilis debut album penuhnya, Laras Sahaja. Sebelumnya mereka juga sudah pernah merilis sebuah EP.

Laras Sahaja adalah album yang sangat bagus. Penampilan panggung mereka pun sudah tidak perlu diragukan lagi. Saya sudah dua kali menyaksikan mereka main, pertama di Paviliun28 di Jakarta, yang kedua di Bandung ketika berbagi panggung dengan AriReda di acara Perempatan.

Dari seluruh nama di line up Future Folk vol. 01, Mr. Sonjaya punya jumlah personil paling banyak. Musiknya, dibangun dengan banyak karakter bunyi. Bermodalkan Laras Sahaja, band ini bisa membuat kita terkesima. Semoga banyak yang sepakat dengan saya.

Sonjaya

Kalau tidak dimulai dengan mengajaknya lebih sering main di kota ini, tentu sulit juga untuk bikin orang percaya. Semakin sering pula dilihat, semakin banyak kabar beredar. Itu yang diinginkan secara personal.

Tiga nama lainnya juga punya cerita masing-masing.

Jason Ranti ditemukan dalam sebuah obrolan di teras seberang Filosofi Kopi Melawai. Waktu itu, di sebuah malam, saya duduk bertiga bersama Eunice Nuh dan Dado Darmawan. Agendanya adalah mengunci deal merchandise OM PMR. Tapi di salah satu topik obrolan itu, Dado memperkenalkan seorang teman dan musiknya. Namanya Jason Ranti. Ia mengambil ponsel dan memperdengarkan beberapa lagunya. Menarik, mulutnya sompral. Tapi bagus.

Jason Ranti

Lalu kesempatan untuk menyaksikannya bermain langsung datang ketika ia membuka Silampukau di Borneo Beerhouse. Ternyata, dia adik kelas saya di Kolese Gonzaga. Lupa nama, ingat muka. Rasanya, dia setahun di bawah saya.

Jeje, begitu ia akrab disapa, punya modal kepercayaan diri yang sangat besar. Hanya dengan gitar dan sebuah harmonika, ia bermain. Beberapa materi yang diperdengarkan ke saya itu. Salah satunya Stephanie Anak Seni yang videonya ada di bawah ini.

Saat ini, Jeje sedang menyelesaikan mixing untuk debut album penuhnya. Semoga bisa diselesaikan segera.

Nama keempat adalah Oscar Lolang, juga anak Kolese Gonzaga. Tentu saja, generasinya beda jauh dengan saya dan Jeje. Oscar punya single yang luar biasa dahsyat dan bikin saya berantakan dibuatnya. Judulnya Eastern Man.

Ini lagunya:

Nah, dia sepertinya mengamalkan dengan baik ajaran-ajaran dasar yang diberikan sekolah kami; untuk berani bicara. Kata-kata yang ia tulis di lagu Eastern Man, begitu powerful. Tentang Papua. Tentang tentara. Keberaniannya berbicara lebih lantang ketimbang sosoknya yang seorang diri.

Saya belum pernah melihatnya bermain. Tapi, daripada menunggu kesempatan, lebih baik standar dilonggarkan sedikit dan memberinya jatah waktu untuk main. Kesempatan itu, dalam kasus menyimak musiknya, kudu diciptakan.

Oscar Lolang

Oscar juga belum punya album penuh. Semoga bisa segera menyelesaikan albumnya. Kemampuannya menulis lagu layak dipantau. Bagus, soalnya.

Nah, nama yang terakhir juga lumayan seru. Namanya Junior Soemantri, biasa dipanggil Kelik. Ia –karena hubungan yang pangkat tiga— adalah paman saya. Padahal, kami seumuran.

Kelik

Kelik telah bergerilya lebih dari setahun untuk mempromosikan debut albumnya yang berisi banyak komposisi bernada Melayu berbasis gitar. Album self released itu, dijajakannya dari satu panggung ke panggung yang lain. Militansinya tinggi.

Sebuah kehormatan untuk saya kalau energinya yang besar itu bisa dibagi ke orang banyak lewat panggung yang saya jalankan. Karena jadwal yang padat, di tanggal 23 Juli 2016 nanti, Kelik akan membuka malam.

Pertunjukan, menurut rencana, akan dimulai pukul 18.30 WIB. Supaya selesainya tidak terlalu malam. Jadwal resminya akan dirilis hari Kamis sepertinya. Tunggu ilham dulu. Haha.

Selain memilih orang-orang yang akan main, ada satu praktek komunal juga yang coba diterapkan. Seluruh sisi bisnis pertunjukan ini dibagi ke semua pihak yang ada di belakang layar. Masing-masing orang tahu persis pengeluaran uangnya untuk apa saja. Dan (nantinya) berapa uang yang didapatkan dari penjualan tiket.

Kawan-kawan baik di Kedubes Prancis via IFI Jakarta, sudah super baik menyediakan sarana pertunjukan yang berkualitas bagus, lengkap dengan engineer yang sangat kooperatif. Jadi, beban bisa sedikit lebih ringan.

Screen Shot 2016-07-18 at 10.25.43 AM

Pembagian prioritas juga berlaku. Mereka yang berasal dari luar kota dapat share yang lebih besar dan jadi prioritas biaya paling dasar. Memetakan potensi revenue membuat proyeksi finansial jadi lebih realistis. Dan membukanya, pada akhirnya menyamakan cara pandang bagi semua pihak.

Bersenang-senang akan selalu jadi napas utama Future Folk. Sama seperti apa yang saya buat dengan Bermain di Cikini dan sejumlah proyek yang akan datang di masa depan.

Kalau tidak bersenang-senang, kenapa harus dilakukan? Kan logikanya model begitu. Nah, silakan mengagendakan untuk bisa datang ke Future Folk vol. 01 apabila tertarik dengan line up yang bermain dan telah dijabarkan satu demi satu di atas.

Jangan lupa membeli tiket via seribermaindicikini@gmail.com. Pertunjukannya akan berlangsung 23 Juli 2016. Harga tiket Rp.50.000,00. Kapasitasnya 150 kursi dan saat ini sudah terpesan sekitar 70-an tiket. Prioritas memilih kursi akan diberikan pada mereka yang membeli tiket terlebih dulu.

Tiket on the spot hanya akan dijual apabila masih ada tiket tersisa di hari pertunjukan. Seluruh penjualan tiket akan dibagi kepada para penampil. Jadi, bagaimanapun juga, kamu akan berkontribusi untuk seluruh pihak yang terlibat.

Kontribusi model begitu, akan membuat semuanya punya napas lebih panjang. Rantai survivalnya seperti itu. Sampai jumpa di Future Folk vol. 01. Mari bersenang-senang bersama.

Semesta, dengan seluruh kuasanya, memang memberi jalan. (pelukislangit)

15 Juli 2016 – Rumah Benhil
16 Juli 2016 – Danau Maninjau
18 Juli 2016 – Starbucks Sarinah Thamrin