Mengurus Visa India

Sekarang saya akan bercerita tentang bagaimana visa untuk masuk ke India bisa didapatkan.

Untuk orang Indonesia, visa adalah sebuah keharusan. Celakanya, orang Indonesia juga tidak bisa mendapatkan visa India yang sifatnya on arrival. Jadi harus mengurus di Kedutaan India di Jakarta sebelum keberangkatan.

Kalau mengurusnya dari luar Indonesia juga bisa sepertinya. Hanya saja, memang perlu waktu khusus untuk menyiapkan ini.

Visa India cukup mudah untuk didapatkan. Prosesnya juga tidak makan waktu lama.

Normalnya, visa India akan keluar dalam waktu tiga hari kerja. Tapi, entah mengapa, kemarin saya cukup beruntung, satu hari sudah keluar.

Mekanismenya seperti ini:

  1. Datang ke Kedutaan India pada hari kerja pukul 09.00-11.00
  2. Wawancara di loket
  3. Membayar uang visa
  4. Menyerahkan berkas-berkas (termasuk paspor)

Prosesnya tidak lebih dari lima belas menit. Lalu, nanti ketika mengambil juga persis seperti mengambil SIM di kantor polisi. Akan ada orang yang menyebutkan nama pemohon visa dan si pemohon tinggal memberikan resi yang diberikan oleh petugas pada saat pendaftaran.

Resinya seperti ini:

Resi Embassy India

Lalu, apa saja syaratnya? Syaratnya seperti ini:

  1. Paspor yang masih berlaku minimal enam bulan
  2. Dua (2) pas foto ukuran 4×6
  3. Formulir pendaftaran yang bisa didapatkan di kedutaan
  4. Kopi tiket ke India
  5. Rekening koran

Nanti akan ditanya oleh petugas di loket, apa tujuan ke India? Di India mau kemana saja? Atau, di India tinggal di mana.

Sebaiknya sudah dipelajari terlebih dahulu mau kemana saja. Cuma untuk bisa menjawab pertanyaan saja.

Nanti, visanya akan keluar seperti ini:

Visa India

Kalau sudah pernah pergi ke India, tentunya pasti akan lebih mudah proses pengurusannya.

Lalu tentang biaya. Yang diperlukan untuk pembuatan visa India adalah uang sebanyak Rp.472.000,00. Entah kenapa angkanya tidak bulat.

Biaya itu berlaku untuk sekali masuk ke India. Kalau berpikir untuk mengusahakan visa multiple entry, tarifnya lebih mahal lagi.

Kalau tidak mau repot, bisa juga mengurus pembuatan visa India di sejumlah biro perjalanan wisata. Tapi tarifnya sekitar Rp.700.000,00. Jasa ini termasuk kemampuan untuk membuat anda tidak perlu pergi ke kedutaan. Ringkas, tapi mahal.

Sebelumnya, sudah dua kali saya menggunakan jasa ini. Pengalaman mengurus visa kemarin ini merupakan pengalaman pertama.

 Tidak repot kok, mending urus sendiri saja.

Advertisement

Bersahabat Baik Dengan Om Air Asia

Saya merasa perlu untuk menulis tentang Air Asia. Entah kenapa, kami sepertinya ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi sahabat yang sangat baik. Cinta kami sangat tulus sehingga hubungan kami begitu mutual. Semuanya saling menguntungkan.

Haha.

Seperti sudah diketahui oleh dunia, hanya ada satu nama yang patut dicari kalau ingin berurusan dengan penerbangan budget di Asia Tenggara, Air Asia.

Beberapa tahun terakhir, perusahaan ini berhasil membangun image yang sangat bagus di seluruh penjuru dunia. Salah satu yang paling keren menurut saya adalah mensponsori English Premier League dan meraih gelar Official Low Cost Carrier untuk Manchester United.

Sekilas, strategi promosi penuh biaya besar itu memang tidak ada gunanya. Tapi, mereka bisa menancapkan brand image mereka dengan sangat baik di mata orang Eropa. Kalau orang-orang itu ingin bepergian di Asia Tenggara, sudah pasti situs pertama yang dicek adalah www.airasia.com.

Air Asia menghubungkan puluhan kota di Asia Tenggara.

Saya sendiri adalah sahabat baik Air Asia. Sekarang, saya ingin membagi kepada orang yang membaca blog ini, kenapa Air Asia perlu digauli dan bagaimana menggaulinya dengan baik agar keuntungan mutualnya sangat bisa dimaksimalkan.

Pertama-tama, banyak orang merasa bangga dan super antusias ketika mengetahui bahwa Air Asia melakukan big sale. Ratusan orang merasa perlu untuk mengabarkan teman mereka dan memasang status bahwa mereka akan pergi ke satu tempat dengan menggunakan fasilitas Air Asia.

Tidak ada yang salah dengan hal itu. Hanya saja, perlu didasari bahwa dengan membantu mereka menyebarluaskan berita itu, dengan sendirinya juga mengurangi kesempatan kita untuk mendapatkan tiket.

Terlebih, terlalu banyak orang yang mengetahui bahwa Air Asia melakukan big sale dari koran nasional model Kompas.

Padahal, bisa dipastikan ketika iklan di Kompas naik, tiket favorit pada waktu favorit dengan harga paling murah sesuai dengan iklan sudah habis terjual.

Seringkali proses yang membuat banyak orang kehilangan kesempatan adalah terlalu lama berunding dengan calon teman perjalanan mereka. Harga tiket bisa berubah dalam hitungan detik. Saya pernah kecolongan juga kok dulu.

Banyak orang juga lantas merasa kecewa. Menurut mereka, Air Asia berbohong. Padahal tidak juga. Air Asia adalah maskapai penerbangan paling fair yang pernah ada di muka bumi ini, menurut saya. Mereka bahkan bisa mengatur kursi pilihan, makanan yang dibeli di muka, sampai kelebihan bagasi yang bisa diprediksi. Semuanya ada harganya.

Saking baiknya, mereka bahkan memberikan tips dan trik bagaimana mendapatkan tiket murah pada sebuah periode promosi secara vulgar. Semua orang bisa membaca tips dan trik itu.

AirAsia1

Permasalahannya, banyak orang merasa tidak perlu untuk berpikir dengan pola pikir si Air Asia. Untuk bisa mendayagunakan tawaran Air Asia dengan benar-benar maksimal, kamu harus berpikir dengan cara mereka.

Beruntunglah saya karena punya satu ras yang sama dengan si pemilik Air Asia. Bangsa India, terkenal dengan kecerdikannya memerlakukan sebuah persoalan.

Kalau ada yang bertanya dari mana untungnya Air Asia, jawabannya sederhana. Mereka bisa memaksimalkan pendapatan dengan kebijakan mereka yang sangat keras dan minim kompromi. Semua aturan dibuat secara tertulis dan tidak menyisakan celah sama sekali untuk keluhan penumpang.

Rumus pertama untuk berurusan dengan Air Asia, silakan teliti. Baca semua klausul penjualan tiket. Memang melelahkan pada awalnya, tapi kalau semuanya diganjar dengan kesempatan untuk terbang murah kemanapun, sebanding dong?

Prinsip mereka, semua titik harus bisa jadi pemasukkan.

Ah, banyak teori saya jadinya lama-lama. Biasanya, ini trik standar yang diberitahukan oleh Air Asia:

1. Waktu terbaik mendapatkan tiket adalah pukul 3-7 pagi.

2. Hindari terbang pada saat libur panjang atau akhir pekan.

3. Pilih kota-kota alternatif untuk perjalanan anda.

4. Pilih penerbangan pagi atau malam hari.

Ini pembahasannya:

Pembukaan tiket murah dibuka pada tepat tengah malam pukul 12.00. Itu juga diawali oleh pembeli-pembeli di Malaysia yang waktunya lebih cepat satu jam. Jadi, sekitaran pukul segitu, sudah pasti situs Air Asia akan dibanjiri pengunjung. Tidak ada gunanya mengantri di waktu itu.

Lebih baik menunggu sebentar dengan tidur dan kemudian bangun sekitar pukul tiga pagi. Kembali ke rumus, “Mau murah? Ya harus ada pengorbanan dong.”

Saya punya tiket ke Singapura dan Yogyakarta dengan harga yang fantastis lewat pengorbanan bangun dini hari ini.

1. Saya punya tiket sekali jalan untuk empat hari senin di bulan Maret 2010 ke Singapura, harganya Rp.0,00 alias gratis-tis-tis.

2. Saya punya tiket dua kali jalan ke Jogjakarta di bulan November dan Januari dengan masing-masing perjalanannya berharga Rp.12.000,00.

Haha.

Pilih waktu yang tepat. Untuk bepergian dengan fasilitas murah Air Asia, kamu sebaiknya menciptakan liburan kamu sendiri. Bukan mengikuti akhir pekan panjang atau hari libur nasional. Sudah pasti orang akan mengincar itu semuanya.

Bukannya tidak mungkin mendapatkan tiket untuk masa-masa itu, tapi peluangnya lebih kecil. Saya, contohnya, sampai hari tidak pernah mendapatkan tiket murah untuk tujuan Bali dari Jakarta pada saat akhir pekan panjang.

Penyebabnya ada dua; pertama kuota tiket murahnya memang sedikit –bukan tidak ada ya, hanya sedikit—. Kedua, ya si Air Asia tentunya ingin menangguk keuntungan sebesar-besarnya dong? Balik lagi ke rumus semua titik harus jadi pemasukkan.

Siapkan juga beberapa alternatif tanggal. Jadi ketika satu tanggal sudah kandas, ada cadangannya. Dengan demikian, proses berunding antara kamu dan teman-teman rombongan kamu tidak makan waktu lama.

Data-data juga harus disiapkan. Sampai hari ini, saya menyimpan dengan baik data-data teman-teman baik saya yang kira-kira bisa diajak jalan-jalan. Begitu juga sebaliknya.

Jadi ketika harus membagi proses pembelian tiket, tidak susah untuk mengumpulkan data-data mereka lagi. Semakin banyak orang yang ada di dalam rombongan, semakin ribet tentunya.

Sejauh ini, ‘prestasi’ saya adalah mengatur perjalanan murah untuk anak-anak Ballads of the Cliche. Total rombongannya sekitar dua belas sampai lima belas orang.

Lalu, pilih kota alternatif untuk perjalanan kamu. Misalnya kamu ingin pergi ke Bangkok. Penerbangan Jakarta-Bangkok hanya sehari sekali. Cuma kalo ingin sedikit capai dan tetap mendapatkan tiket murah, kamu bisa memilih Jakarta-Kuala Lumpur dulu, lalu lanjut lagi dengan Kuala Lumpur-Bangkok. Tujuan akhirnya tetap Bangkok kan?

Kenapa begitu? Air Asia terbang tujuh kali ke Kuala Lumpur dari Jakarta setiap harinya. Dari Kuala Lumpur ke Bangkok, kalau tidak salah juga ada sekitar tujuh kali penerbangan tiap harinya. Lebih besar dong peluang mendapatkan tiket murahnya ketimbang terbang langsung dari Jakarta yang hanya sehari sekali?

Ada satu contoh juga. Untuk bulan April 2010 mendatang, saya bersama beberapa teman memutuskan pergi ke Hongkong. Tapi, Hongkong adalah tujuan panas yang diburu ribuan orang yang antri di situs Air Asia. Saya dan teman-teman saya itu akhirnya memilih untuk masuk ke Hongkong lewat Macau yang hanya berjarak empat puluh lima menit menggunakan kapal feri. Intinya sama, tetap pergi ke Hongkong kan?

Lalu bulan Oktober nanti, saya juga menggunakan metode yang sama untuk pergi ke Bali. Saya terbang ke Bali bukan dari Jakarta, tapi dari Bandung. Bandung masih bisa dijangkau dengan perjalanan darat dari Jakarta selama dua atau tiga jam, bukan?

Ribet ya kedengarannya? Tapi, bandingkan dengan fakta ini:

1. Jakarta-Kuala Lumpur-Macau PP = Rp.650.000,00

2. Jakarta-Bangkok PP = Rp.365.000,00

3. Bandung-Denpasar PP = Rp.155.000,00

Semuanya cukup masuk akal untuk dibela dong?

Saya sampai hari ini berlangganan newsletter Air Asia di tiga negara; Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Jadi, saya selalu tahu ada promo apa di tiga negara itu.

Yang saya belum punya adalah kartu kredit Air Asia HSBC. Dengan kartu tersebut, si pemegang kartu bisa mengakses promo Air Asia sehari lebih awal.

Oh saya lupa, waspaladah sekitar bulan Februari dan Oktober. Biasanya sale gila ada di bulan itu. Tapi tahun ini sudah keluar program sale beberapa hari yang lalu. Kecil peluang sepertinya ada sale lagi di bulan Oktober nanti.

Lalu, jaringan Air Asia yang menggurita di Asia Tenggara ini juga semacam menjadi pintu untuk bisa berkeliling dunia.

Perjalanan saya ke India bulan depan, misalnya. Saya membeli tiket Jakarta-Bangkok terlebih dulu untuk kemudian mencari tiket Bangkok-Delhi secara terpisah. Penghematan budgetnya luar biasa hebat.

Jadi, misalnya kamu ingin pergi ke Jepang atau Eropa, bisa juga menggunakan Air Asia ke Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok untuk kemudian menyambung dengan penerbangan jauh ke tempat-tempat itu.

Lumayan loh hematnya, kalo dipikir-pikir bisa sekitar US$ 100. Kalau kamu bermasalah dengan budget, angka segitu layak untuk dibela dong.

AirAsia2

Sekali lagi, semua penjabaran panjang lebar ini harus dibalikkan lagi dengan paham, “Ada harga, ada barang.” Kalau mau enak, ya bayar lebih mahal. Jangan sudah dikasih kesempatan murah, banyak maunya.

Si Om Air Asia ini juga banyak jeleknya kok. Salah satu kejelekannya adalah tidak bisa diandalkan untuk mengejarkan ketepatan waktu. Kalau punya urusan mendadak, sangat tidak disarankan terbang menggunakan Air Asia.

Saya pernah sedikit ‘panas’ sama sejumlah orang dalam penerbangan pulang dari Bangkok menuju Jakarta bulan September lalu.

Ada seorang bapak yang maunya banyak, padahal dia membayar murah. Masa sih, di penerbangan budget yang bayarnya murah, masih merasa punya hak untuk banyak tuntutan? Kalau tidak salah, masalahnya gara-gara rebutan kursi.

Air Asia itu pintar. Kalau mau terbang dan duduk dekat dengan anggota rombongan kita, ya beli dong fasilitas pilih kursi. Yang satu rencana perjalanan saja bisa jadi terbagi-bagi kok duduknya. Itu dia tujuan mereka menjual kursi sesuai dengan pesanan.

Waktu itu, saya sedikit berteriak dari belakang. Untung wajah saya yang brewokan dan terlihat tua ini mendukung aksi itu. Haha.

Hmm.. Sudah terlalu panjang nih. Semoga mendapatkan tips dan trik yang konkrit bagaimana bergelut dengan Air Asia selepas membaca tulisan ini.

Saya sih cinta mati sama si Om.

Felix Dass

16 Agustus 2009

Rumah Depok, 2.06.

Banyak Jalan Menuju Manapun

Jakarta, a sleepy morning.

Beberapa teman pernah bertanya, “Kok bisa sih, Lix?”

Kok bisa untuk apa? Kok bisa untuk menemukan jalan ke suatu tempat dengan budget yang murah. Untuk hal ini, saya berhutang banyak pada grup band favorit saya, Bangkutaman.

Saya ingat suatu masa di era awal perkenalan saya dengan mereka. Waktu itu mereka masih berdomisili di Jogjakarta. Karena keterbatasan, mereka selalu berpindah dari kota itu ke Jakarta atau Bandung dengan menggunakan kereta kelas ekonomi. Motifnya sudah barang tentu budget.

Suatu kali, mereka pernah cerita bahwa mereka masuk ke Jakarta dengan uang Rp.7.500,00. Masuknya legal pula! Kalau tidak salah, cerita itu berlangsung sekitar tahun 2004 atau 2005.

Duit segitu bisa buat masuk Jakarta? Tidak masuk akal dong. Sudah begitu, legal lagi masuknya, pakai tiket resmi.

Gimana caranya? Orang-orang di band ini berangkat dengan kereta ekonomi tanpa tiket. Di atas perjalanan, mereka dua kali menyogok kondektur. Masing-masing Rp.2.500,00. Ketika sudah sampai Cikampek, mereka mengaku tidak punya duit dan dipaksa untuk turun di stasiun Cikampek.

Nah, setelah diturunkan, mereka naik KRL yang menuju Jakarta dan membeli tiket resmi seharga Rp.2.500,00. Jadilah mereka keluar Rp.7.500,00 dan resmi berhak keluar dari pintu stasiun.

Cerita ‘gila’ itu terus saya pegang sampai sekarang. Inspirasi itu benar-benar melekat dan sekarang giliran saya bagi ke orang lain.

Untuk permulaan, silakan cari harga normal tiket dari Jakarta menuju Delhi. Bisa menggunakan Malaysia Airlines (www.malaysiaairlines.com), Singapore Airlines (www.singaporeair.com), atau Thai Airways (www.thaiairways.com).

Pasti yang akan kamu temukan adalah tiket dengan harga berkisar dari US$800 – US$1000. Wow. Mahal ya kalau dipikir-pikir?

Secara geografis, Delhi memang membutuhkan waktu sekitar enam atau tujuh jam untuk dijangkau dari langit Jakarta.

Tapi, percayakah kamu kalau secara total, saya hanya memerlukan US$350 untuk menjangkau Delhi?

Haha. Pasti sulit dipercaya dong? Cara saya sangatlah mudah, siapapun bisa melakukan ini. Yang perlu diubah adalah pola pikirnya. Dibanding kerugiannya, tentu budget yang jauh di bawah 50% budget normal itu layak untuk diperjuangkan, bukan?

Yeah!

Pertama, saya mencari data, maskapai penerbangan apa saja yang mendarat di Indira Gandhi International. Dari situ, saya menulis daftar maskapai mana yang mungkin membawa saya untuk pergi ke kota itu.

Kedua, saya tahu persis bahwa kota penghubung di Asia Tenggara adalah Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok. Penerbangan ke India akan lebih mudah ditemukan jika berangkat dari salah satu kota ini ketimbang langsung dari Jakarta.

Pesawat apapun yang akan menuju India pasti akan transit di salah satu kota ini. Malaysia Airlines akan berganti pesawat di KLIA, Singapore Airways akan transit di Changi, dan Thai Airways akan melakukan transfer penumpang di Suvarnabhumi.

Beruntungnya lagi, Jakarta dan ketiga kota yang saya sebut di atas terhubung oleh Air Asia (www.airasia.com), maskapai penerbangan favorit saya.

Ketiga, saya membuat komparasi harga, berapa harga normal kalau terbang dari ketiga kota ini. Dengan asumsi, saya akan terbang ke tiga kota ini menggunakan Air Asia.

Keempat, karena jasa Air Asia, saya mendapatkan tiket promo Jakarta-Bangkok seharga Rp.365.000,00 sudah termasuk bagasi. Saya akan menulis khusus di blog ini tentang bagaimana bersahabat dengan Om Air Asia. Jadi nantilah tentang Air Asia. Tetap pikir bahwa saya adalah orang yang sangat beruntung dulu. Nanti pas kamu membaca tentang Air Asia barulah kamu tahu bahwa saya sebenarnya tidak beruntung-beruntung amat.

Karena tiket itu, berarti saya sudah punya kepastian bahwa saya akan masuk ke India lewat Thailand. Lewat kota Bangkok. Jadi, sekarang permasalahan tinggal dipersempit, bagaimana menemukan pesawat ke Delhi dari Bangkok.

Otomatis, lupakan saja Malaysia Airlines dan Singapore Airways. Sekarang pilihannya kembali ke poin nomor satu, mencari data pesawat apa saja yang mendarat di Delhi dari Bangkok. Lebih mudah dong? Oh, itu poin nomor lima.

Dari data yang ditemukan, ada tiga pesawat yang terbang ke Delhi dari Bangkok; Indian Airlines, Thai Airways, dan Jet Airways.

Indian Airlines dan Thai Airways adalah home carrier masing-masing negara. Sementara Jet Airways adalah budget airlines yang dimiliki oleh perusahaan swasta asal India.

Ketika sudah sampai pada kemungkinan ini, ketiga maskapai ini menawarkan harga di sekitar US$500. Sudah hampir setengah harga sebenarnya dari budget awal yang mahal itu. Tapi saya menunggu.

Sampai tiga bulan menjelang tanggal keberangkatan, barulah perang sesungguhnya dimulai. Jet Airways keluar dengan harga US$313!

Ini tebak-tebakan saja. Tidak didukung oleh analisa valid. Hanya feeling saja, kebetulan sudah terbukti beberapa kali. Ketika menjelang tiga bulan dari tanggal penerbangan, si maskapai sudah punya proyeksi akan seperti apa sales generalnya di masa itu.

Dari proyeksi awal itu, mereka dengan mudah akan menentukan klasifikasi promo apa yang akan dilempar ke pasar.

Tidak percaya?

Tengok saja pada masa resesi kemarin. Singapore Airways memberikan banyak sekali tiket promo dengan harga yang ‘tidak mereka banget’ hanya dengan pemberitahuan singkat. Plus jumlah minimum dua orang yang terbang untuk merasakan tiket promo itu.

Emirates dan banyak lagi maskapai penerbangan ‘mapan’ melakukan itu ketika resesi datang.

Kalau kamu terbiasa mengkonsumsi promosi maskapai penerbangan model Air Asia, maka cara yang digunakan oleh maskapai-maskapai yang sudah lebih dulu established ini sangatlah berbeda.

Seringkali, prinsip beli tiket satu tahun di depan tidak berlaku untuk mereka. Karena mereka cenderung menawarkan jasa standar yang tidak ingin dibumbui banyak elemen resiko, baik untuk konsumen ataupun si penyedia jasa.

Tiga bulan adalah masa yang ideal sepertinya. Keep it on yer mind.

Begitulah cerita saya mendapatkan tiket dengan harga di bawah budget normal. Semua perhitungannya matematis kan? Bukan keajaiban yang membuat saya bisa mendapatkan tiket murah.

Naik pesawat itu tidak jauh beda dengan naik kereta kok. Kalau mau pergi ke Surabaya, keretanya kemungkinan besar mampir di Jogjakarta. Bisa juga turun di sana. Tapi kalau beli tiket kereta yang jurusan aslinya ke Jogjakarta, sudah pasti harganya lebih murah. Begitu juga kalau kehabisan tiket ke Jogjakarta, bisa saja membeli tiket dengan tujuan akhir Solo. Nanti sambung dengan bus atau naik kereta Prameks. Naik pesawat sama analoginya seperti itu.

Menentukan rute itu sederhana, kok! Yang penting, tahu ancer-ancernya.

Felix Dass

Rumah Cibinong

13 Agustus 2009

23.16

Setahun Sekali, Karena Hidup Cuma Sekali

Saya memilih kalimat di atas karena ingin mengemukakan secara vulgar prinsip di kepala saya untuk urusan traveling.

Keluarga saya bukanlah keluarga yang mantap dari segi ekonomi. Cukup iya, tapi kalau kaya raya, rasanya belum. Sulit malah untuk jadi kaya raya. Haha. Tapi ada satu hal yang selalu ditanamkan oleh orang tua saya, berwisata.

Sedari kecil, kami suka sekali berwisata. Datang ke tempat-tempat baru dan menyaksikan banyak hal baru.

Saya masih ingat ada lima buah seri bendera yang dibawa ayah saya ke rumah kami dulu. Seri itu membuat saya berpikir panjang bahwa saya harus bisa ke negara-negara yang ‘aneh’ bunyinya. Misalnya saja, Fiji. Atau Mauritius. Atau bahkan Kuba.

Ide dasarnya, ingin tahu, ada apa sih di sana?

Perjalanan keluar negeri saya pertama kali berlangsung tahun 1996. Waktu itu saya pergi ke Singapura, liburan sekeluarga.

Perjalanan itu adalah perjalanan perkenalan yang membuat saya seolah punya kontrak mati dengan hasrat berwisata dan berjalan-jalan.

Semenjak mulai punya duit sendiri, saya sudah mulai berani punya cita-cita di dalam diri. Setahun sekali, saya harus punya perjalanan besar.

Definisi perjalanan besar adalah mencapai tempat-tempat yang sebelumnya ada di dalam impian saya. Kebetulan saya beruntung. Kenapa beruntung, saya diberkahi persepsi dasar tentang mimpi yang cukup mantap. Mimpi menurut saya adalah hal yang bisa diangankan dengan punya dasar.

Misalnya saja, sekarang saya tidak punya mimpi untuk pergi ke Afrika Selatan. Karena memang jalannya berat. Tapi, saya punya mimpi untuk pergi ke Jepang. Karena jalannya sangat memungkinkan. Mungkin perjalanan besar berikutnya saya bisa pergi ke Jepang? Siapa tahu?

Mimpi yang terukur itu membuat saya punya alasan untuk bekerja keras memenuhi keinginan-keinginan saya.

Well, saya masih ada di fase harus membuktikan banyak hal pada diri sendiri. Jadi, sedikit atau banyak, saya dipengaruhi juga oleh hal itu.

Saya beruntung lagi untuk urusan waktu. Saya beragama katolik dan bangsa Indonesia punya waktu yang sangat lowong di bulan suci Ramadhan. Jadi, saya kurang lebih bisa punya waktu dua minggu setiap tahunnya untuk berjalan-jalan.

Sudah bisa ditebak, perjalanan besar saya pasti berlangsung di masa itu.

Sejak tahun 2008 yang lalu, saya mencoba untuk mengukuhkan tradisi diri sendiri ini. Tahun lalu saya pergi ke Thailand Selatan untuk menghabiskan liburan lebaran itu.

Sepulang dari sana, saya sudah merencanakan untuk pergi ke India tahun 2009 ini. Dan kalau tidak ada aral melintang, saya akan pergi ke India.

Caranya mudah: NIAT! Bukan duit, bukan rencana. Well, duit dan rencana sih mengikuti ya pasti. Cuma kalau sudah punya niat, pasti jalannya dilapangkan begitu saja.

Kalau kamu menyimak banyak artikel di blog ini nantinya, akan terlihat betapa fondasi paling dasar saya adalah niat, bukan duit dan perencanaan yang matang.

Hidup kamu hanya sekali. Saya percaya sepenuhnya ketika nanti saya menginjak usia 30an, pola pikir saya berubah. Saya pasti harus memikirkan banyak hal yang lebih ribet ketimbang apa yang saya pikirkan sekarang ini.

Bayangkan saja ketika kamu menginjak usia 30an nanti, kamu baru punya hasrat untuk keliling-keliling. Wah, repot pasti jadinya.

Belum harus mikirin pasangan maunya kemana, lalu akomodasi harus mantap karena tingkat ekonomi kamu sudah mulai mapan, belum lagi harus mikirin ijin dari kantor tempat kerja karena posisi juga sudah meningkat.

Intinya, semakin banyak yang dipikirin. Sementara, berjalan-jalan itu esensinya adalah berlibur, mencari suasana baru yang efeknya juga terasa untuk keseharian kamu berkarya. Yah, setidaknya dunia tempat saya berkarya sehari-hari ini memerlukan individu yang bisa punya ide bagus terus-menerus.

Saya hidup dengan kemampuan saya untuk beride, jadi balik lagi, semuanya ini dilakukan untuk menunjang keseharian saya berkarya.

Saya ingin ketika menginjak usia 30an, saya menulis blog seperti ini lagi tapi dengan subyek Inggris Raya. Haha.

Untuk saya yang ada di usia menjelang keduapuluh enam pun sebenarnya sudah bisa dibilang terlambat. Seharusnya di usia segini saya bisa dengan fasih bercerita tentang bagaimana rasanya memegang papan This is Anfield di Anfield Road, stadion Liverpool, tim sepakbola favorit saya.

Tapi, menyesal tidak pernah punya solusi konkrit, bukan? Lebih baik terlambat memulai ketimbang tidak sama sekali.

Ah sudahlah, saya sudah cukup meracau. Semoga dapat poin dari tulisan ini. Bisa jadi, di masa yang akan datang, saya yang akan membaca tulisan kamu.

Mengutip teman-teman di komunitas Lomography, “Don’t think just shoot.” Kalau untuk traveling, “Don’t think, just go (somewhere).”

Felix Dass

Rumah Cibinong

13 Agustus 2009

22.42

Mari Kita Memulai Cerita di Halaman Ini: India

India!

Tahun ini, saya akan mengunjungi India untuk kali ketiga. India, entah mengapa, selalu punya pesona lebih untuk saya. Itu juga kenapa saya selalu punya alasan untuk berkunjung ke negara ini. Kasarnya, bisa dijamin kalau sepanjang hidup ini, pasti akan ada banyak sekali visa India tergores di berbuku-buku paspor yang akan saya punya.

Blog ini dibangun untuk mendokumentasikan perjalanan khusus ini. Saya merasa, India menyimpan banyak pesona yang rasanya terlalu saya untuk dipendam sendirian.

Saya punya alasan emosional, kultural, dan ‘darah’ sendiri yang harus saya simpan juga sendiri. Tapi di luar itu, India terlalu menarik untuk hanya dijelajahi sekali saja seumur hidup.

Ok, saya tidak akan membicarakan tiga faktor itu di blog ini. Mencobalah setidaknya. Karena saya pada dasarnya adalah orang yang suka bercerita dan berbagi. Jadi sudah pasti sedikit banyak akan menyentuh ranah pribadi yang pada awalnya tidak ingin saya bagi di blog ini.

Sekarang adalah saatnya saya menuturkan jawaban atas pertanyaan yang saya buat sendiri, “Kenapa harus India?”

Pertama kali datang ke India tahun 1999 yang lalu, saya punya yang namanya cinta pada pandangan pertama. Ketika dilihat dan dirasakan untuk pertama kali, India adalah negara kotor yang baunya sangat khas. Saya kebetulan datang pada musim panas dan pemerintah negara ini punya kebijakan khusus untuk menebarkan disinfektan di segenap penjuru negeri.

Disinfektan itu baunya tidaklah ramah. Saya mendarat di Bandara Indira Gandhi International di kota Delhi, pada sebuah hari di musim panas 1999. Indonesia saat itu sedang bersiap untuk menyambut pemilu paling demokratis yang pernah dialami sejak tahun 1955, pemilu pertama semenjak kejatuhan Orde Baru.

Dibandingkan dengan bandara rumah saya, Soekarno-Hatta, Indira Gandhi International tidaklah modern. Terlalu banyak orang di bandara itu. Settingnya pun kurang lebih mirip seperti datang di timur tengah menurut film-film barat.

Yang memperburuk keadaan adalah musim panas. Musim panas India bisa dibilang gila. Delhi waktu itu punya cuaca di kisaran 45 derajat Celcius.

Saya, yang waktu itu masih duduk di kelas satu SMA, tentu saja merasa super kaget dengan kondisi ini. Tidak pernah terbayangkan suatu kondisi panas yang luar biasa panas. Angin saja rasanya panas kok.

Tapi, saya sudah tahu bagaimana saya akan menikmati India ke depannya.

Cinta pada pandangan pertama itu benar-benar mengalir ketika saya menumpang sebuah taksi keluar dari bandara. Waktu itu, Metro di Delhi belum terbangun. Jadi, transportasinya masih konvensional.

Delhi, dan India pada umumnya, bisa dibilang telat mengenal globalisasi. Kendati mereka secara bangsa punya karakter yang sangat kuat, faktor-faktor globalisasi sangatlah datang terlambat. Sekedar anekdot, di tahun 1999 itu mereka bahkan belum punya McDonald’s! Haha.

Kunjungan pertama tidaklah panjang. Tapi, tidak lupa saya (dan keluarga saya) mengunjungi Taj Mahal yang terletak di kota Agra, sekitar dua ratus kilometer dari Delhi. Kalau di Indonesia, ya ibaratnya dari Jakarta ke Bandung deh.

Taj Mahal adalah representasi karakter India yang sangat khas. Kemiskinan boleh membumi di mana-mana. Keterbelakangan secara internasional boleh ada di mana-mana. Tapi, yang jelas, bangsa ini tahu betul bagaimana menghargai budaya mereka.

Alasan itulah yang membuat saya cinta akan India.

Sebagai manusia, saya benar-benar dibuat terpukau oleh bangsa ini secara keseluruhan. Ah, bukan rahasia lagi kalau India itu dikenal banyak intrik, atau bangsa penipu, karena memang kurang lebih itu ada di dalam budayanya. Haha.

Tapi, urusan intrik dan tipu-menipu sih bisa diakali. Gampang itu.

Kunjungan kedua saya ke India berlangsung tahun 2005. Kali ini, saya datang pada saat musim dingin.

Musim dingin juga sama ekstrimnya dengan musim panas. Yang membedakan, lebih enak dingin ketimbang panas, untuk saya.

Ekstrim maksudnya, cuacanya. Saya tidak mengerti urusan geografis, yang jelas musim dingin di India disertai angin kencang dan debu. Udaranya kalau malam benar-benar menusuk tulang.

Di kunjungan kedua ini, saya –yang juga datang bersama keluarga— menghabiskan waktu yang agak panjang. Kami datang ketika liburan natal tiba di Indonesia.

Selain Delhi yang menjadi ‘markas’, kami juga mengunjungi Simla dan Mumbai. Simla adalah kota tempat perjanjian pemisahan India dan Pakistan ditandatangani. Pada masa kolonial, kota ini juga dikenal sebagai summer capital India. Bisa jadi karena cuaca di Delhi ekstrim. Jadi ibu kota pun harus dipindah ke utara, demi mengakomodir Bangsa Inggris yang berkuasa di India dulu.

Di Simla, saya mendapati snowfall pertama saya. Saya bertemu dengan cuaca minus delapan derajat Celcius dan merasakan fenomena alam yang aneh bernama salju. Yang tentunya tidak pernah ada di tempat asal saya ini.

Nah, kalau Mumbai adalah kota metropolis. Mumbai adalah kota tanpa musim. Ketika musim dingin mendera India, maka Mumbai punya iklim tropis yang ‘sama-sama saja’. Kota ini juga dikenal sebagai salah satu pusat perfilman India.

Analoginya, Mumbai adalah sebelas dua belas dengan Jakarta. Termasuk untuk urusan macet, polusi, dan semrawut. Tapi, Mumbai adalah pintu utama dunia masuk ke India.

Tahun ini, saya akan punya sekitar enam belas hari untuk berjalan-jalan. Misi utamanya sudah tentu ke Delhi. Selain itu, saya juga sudah memastikan diri untuk pergi ke Kolkatta, kota di selatan India yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Karakter India selatan sepertinya berbeda dengan India utara yang samar-samar bisa saya rekam di dalam kepala.

Kolkatta juga terkenal dengan kiprah Ibu Teresa, biarawati Katolik yang mendedikasikan diri sepenuhnya untuk orang miskin di kota itu.

Sisanya? Dalam masa kurang dari satu bulan ini, saya masih belum tahu pasti akan kemana. Sempat terpikir untuk pergi ke Nepal juga. Tapi sepertinya akan sulit untuk urusan visa. Karena dengan demikian harus punya visa multiple entry India. Yang ini agak sulit.

Jadi, doakan saya bisa menyelesaikan misi di blog ini dengan baik. Jadi, ada satu hal yang bisa dikenang dari perjalanan saya ke India tahun 2009 ini.

Selamat membaca.

Felix Dass

Rumah Cibinong

13 Agustus 2009

22.22

*Satu bulan sebelum menginjakan kaki di India untuk kali ketiga*

Akhirnya Benar-Benar Dimulai

Halo. Akhirnya saya menemukan format yang lebih baik untuk blog yang satu ini. Rencana ke depannya, ini akan diintegrasikan dengan domain yang akan saya beli.

Bukan Multiply tidak lagi menarik. Hanya saja, saya lebih perlu space yang jauh lebih liar. Saya masih belajar. Jadi semuanya akan digarap dengan perlahan.

Hidup tetap harus didokumentasikan!

Cheers!

Depok, 26 Juli 2009

2.15 PM